//
you're reading...
Human being, Leadership, Lingkungan, Motivasi, Perubahan

Ayah Pendidik Visioner

Oleh School of Fatherhood

Selama ini, saat memasuki bulan Dzulhijjah, hanya selalu terbayang suasana haji di Mekkah dan ibadah qurban di semua belahan bumi. Jarang sekali ditemukan di mimbar khutbah Idul Adha tentang bahasan yang sangat relevan dengan pendidikan anak di bulan ini. Padahal, sang pelaku utama dan peletak dasar ibadah haji maupun qurban adalah TELADAN PILIHAN DALAM PENDIDIKAN ANAK.

Marilah kita simak lebih cermat ayat-ayat al-Qur’an, misalnya QS. 3:33.
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran atas manusia seluruh alam”.

Dalam ayat tersebut jelas sekali Allah memilih keluarga Ibrahim menjadi TELADAN untuk SEMUA MANUSIA khususnya terkait PENDIDIKAN ANAK.

Diantara teladan terbaik Ibrahim dalam pendidikan anak tergambar pada bagaimana komunikasi yang beliau lakukan dengan Ismail ketika beliau mendapat wahyu untuk melakukan penyembelihan. Dengan kalimat indah “… fandzur maadza tara…” Ibrahim menyampaikan maksudnya pada anak yang lama dinanti kehadirannya. Simak juga QS. 37:102.

Hari ini, banyak kita temukan kasus yang sangat terkait PENDIDIKAN ANAK yaitu PARENTS DISTRUST atau TEACHERS DISTRUST. Anak sudah tidak percaya lagi pada kedua orangtua ataupun gurunya. Jika disimak dari berbagai kajian tentang pengasuhan anak, ternyata akar masalahnya berawal dari KOMUNIKASI DUA ARAH yang TIDAK SEHAT. Akhirnya, anak lebih memilih berkomunikasi atau ngobrol atau curhat kepada orang di luar rumah daripada orang di rumah termasuk juga sulit berkomunikasi dengan guru di sekolah.

AyahBunda dan Bapak Ibu Guru yang bijaksana, harus diakui bahwa sebagai AyahBunda dan Guru, memang tidak selalu dididik dengan kemampuan komunikasi yang tepat. Untuk itu, AyahBunda dan para Guru memang memiliki kewajiban moral belajar secara terarah dan meningkatkan kemampuan komunikasi sehingga kualitas komunikasi dalam pendidikan bisa sampai pada tingkatan yang optimal dan efektif.

Kisah Ibrahim dan Ismail diatas bisa dijadikan acuan. Jangan sampai kita ditinggalkan anak karena cara komunikasi kita yang salah. Jangan sampai nanti anak hilang rasa sayangnya kepada kita karena kita sering salah ucap. Na’udzubillah min dzaalik.

Selain itu, salah satu hal yang paling penting yang perlu kita ketahui adalah Visi Pendidikan Nabi Ibrahim untuk dua orang putranya yang menjadi para nabi pembawa risalah untuk umat. Selamat Idul Adha dan mari serukan panggilan Allah (labbaik… Allahumma labbaik…), mari berqurban, dan mari meneladani Ibrahim dalam berkomunikasi dengan anak kita dan mendidik mereka menjadi generasi pembangkit peradaban.
.
Visi Pendidikan Nabi Ibrahim AS

Dua orang anak Nabi Ibrahim as, yaitu Ishaq dan Ismail, adalah dua bapak moyang dari agama samawi (agama yang diturunkan dari langit). Ishaq yang juga seorang Nabi, yang menurunkan bangsa Israil yang kita kenal, diberikan risalah berupa kitab Zabur (Daud as), Taurat (Musa as) dan Injil (Isa as). Ketiga risalah itu turun dalam periode serial dan spesifik untuk bangsa Israil.

Sementara Ismail as, menurunkan bangsa Arab, dan tiada Nabi lagi dalam jalur keturunan ini kecuali Nabi terakhir, yang diutus setelah masa panjang dari Nabi-nabi pada garis keturunan Ishaq as, yaitu Muhammad SAW. Beliau diamanahkan untuk menyampaikan risalah penutup sampai akhir zaman, karenanya risalah ini tidak khusus untuk bangsa Arab, namun untuk ummat manusia seluruhnya. Kita mengenalnya dengan risalah agama Islam.

Al-Qur’an menyebut Ishaq as dengan kata Ghulamun ‘Alim, atau anak yang memiliki kecerdasan intelegensia, maka tidak aneh jika dari garis keturunan Ishaq as, kita banyak menemui ilmuwan yang berpengaruh pada sepanjang abad abad tertentu. Sebutlah semisal Leonardo Da Vinci, Ishaq Newton dstnya.

Sementara al-Qur’an menyebut Ismail as, dengan sebutan Ghulamun Halim, atau anak yang memiliki kelembutan jiwa atau kehalusan emosional. Tidak ada penemuan yang spektakuler dari bangsa Arab kecuali bangsa petani atau pedagang dengan sastra yang tinggi. Secara tradisi ilmiah bangsa ini bisa dikatakan terbelakang, terutama sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Jarang ditemukan dialog-dialog antara Ishaq as dan Ibrahim as, namun kita banyak menemukan ayat atau hadits yang menceritakan dialog antara Ismail as dan Ibrahim as. Dalam kisah-kisah Ismail as, kita jumpai betapa Ibrahim as banyak berdialog dengan bahasa kiasan atau juga perintah yang sangat halus hampir tidak terasa sebagai perintah. Dan kita temui betapa pekanya Ismail as menangkap pesan pesan bukan “perintah” itu sebagai perintah.

Tradisi “dialektika kelembutan pesan” ini barangkali kemudian berkembang menjadi tradisi merangkai syair dan puisi yang indah pada bangsa Arab. Bahkan para pemimpin mereka paska diutusnya Nabi Muhammad SAW, misalnya Umar bin Khattab ra dan Khalid bin Walid yang dikenal kejantanannya dan keperkasaannya sekalipun, adalah para pencinta dan penggemar Syair. Bahkan Umar ra, mengkaitkan sastra dengan keberanian, “jika ingin mengajarkan keberanian pada anak, maka ajarilah sastra”.

Keberanian, keteguhan, pengorbanan, sensitifitas bahasa, penghormatan kepada yang lebih tua (orangtua) juga ditunjukkan ketika peristiwa Qurban, sebagaimana yang telah kita ketahui. Peristiwa ini kental sekali dengan pendidikan tauhid, ketaatan, penghormatan, ketegasan kepada segala bentuk kesesatan, keberanian dan keteguhan menerima amanah dstnya.

Jejak-jejak pendidikan Nabi Ibrahim as begitu terlihat pada tradisi ilmiah dan tradisi sastra pada bangsa Arab, sebuah bangsa yang memang dipersiapkan untuk yang pertama kali menerima Nabi dan risalah akhir zaman serta alQur’an yang bersastra tinggi. Berbagai kajian masa depan tentang pentingnya pemaknaan di era pemaknaan (conceptual age) setelah intelligence age, semakin menyadarkan kita bahwa peran peran mereka yang bekerja dengan hati dan perasaan lebih diutamakan dalam pendidikan.

Jejak pendidikan Nabi Ibrahim as juga terlihat pada tradisi ilmiah atau tradisi belajar bangsa Israil. Dalam sebuah makalah lama diceritakan bahwa bangsa Israil memiliki tradisi belajar di tempat ibadah mereka. Tempat ibadah bukan sekedar beribadah khusus namun juga menjadi sarana belajar banyak hal.

Anak bangsa Israil mulai dikenalkan kitab Taurat pada usia 7 tahun, diajarkan cara membaca dan menghafalkannya. Pada usia di atas 10 tahun secara bertahap anak-anak mereka diajarkan kemandirian dan menjalankan kewajiban “syariah” mereka. Namun memang porsi intelegensia nya lebih besar dibandingkan porsi emosional dan performance. Apalagi perjalanan sejarah menghendaki mereka untuk survive dan banyak menggunakan intelegensia karena berbagai tekanan peradaban untuk hidup di Palestina, Mesir dan sekitarnya.

Berbeda dengan bangsa Arab, yang dulunya “miskin” dan tidak dihiraukan oleh para expansionist manapun. Bangsa digdaya ketika itu, Persia dan Romawi lebih tertarik menginvasi Yaman, wilayah yang justru lebih jauh ke selatan di semenanjung Arabia. Kemiskinan dan gurun pasir nampaknya menjaga bangsa Arab lebih otentik dan indigenous (murni) di banding bangsa Israil saudaranya yang harus bertemu dan berbenturan dengan berbagai peradaban.

Nabi Ibrahim as kita kenal juga seorang “explorer” , “analyzer”, “discoverer” dan “philosopher”, seorang penjelajah, perenung, analis dan pemikir logis, lihatlah perjalanan ruhaninya dalam mencari Tuhan dan berdebat konsep dengan ayahnya. Namun sekaligus seorang “emphatizer”, “synthesizer”, “honor keeper” dan “performer”, peka perasaannya, sangat menghargai kehormatan, suka sintesa, dan memiliki unjuk kerja, lihatlah bagaimana beliau mencoba memahami perasaan istrinya, menolak menjual kehormatan sekaligus di sisi lain berani menghancurkan berhala.

Tidak perlu diragukan lagi, Nabi Ibrahim memiliki VISI PENDIDIKAN PERADABAN, sebagaimana kita lihat Nabi Ibrahim as menyadari bahwa kedua orang keturunannya itu akan mewariskan peradaban peradaban besar di kemudian hari. Pendidikan yang beliau tanamkan jelas yang utama adalah Tauhid. Berikutnya adalah konsep pembebasan peradaban dan kepemimpinan, yang kemudian disesuaikan dengan talenta kedua anaknya, ghulamun ‘alim dan ghulamun halim.

Mari simak doa Nabi Ibrahim alaihisalaam untuk keturunannya, yang divisikan sebagai PEMIMPIN ORANG-ORANG yang BERTAQWA, sehingga doanya untuk diutus Nabi yang ummi dari keturunannya yang mendahulukan pensucian jiwa sebelum proses ta’limul (mempelajari) Kitab. Pentingnya BAHASA IBU sebagai syarat apresiasi yang mendalam terhadap proses pembacaan (tilawah) pesan-pesan atau tanda-tanda atau ayat-ayat yang terlihat dan tidak terlihat.

Inilah MODEL PENDIDIKAN Nabi Ibrahim untuk dua orang anaknya, dalam VISI PERADABAN yang sama. Visi Pendidikan seorang Bapak Para Nabi (Abul Anbiya’, Ibrahim alaihisalaam). Bapak yang menurunkan generasi yang mewariskan peradaban-peradaban besar, sepanjang sejarah. VISI PENDIDIKAN seperti inilah yang sejatinya kita jadikan hikmah dan teladan serta kita kontekskan dengan kekinian.

Sesungguhnya pernikahan, membesarkan dan mendidik anak adalah peristiwa peradaban. Anak-anak dan keturunan kita akan menjalani peradabannya sendiri, peran apa yang akan mereka jalani? Tergantung bagaimana visi kita tentang pendidikan peradaban.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: