//
you're reading...
Creativity, Human being, Kajian, Kemandirian, Pendidikan, Perubahan

Indonesia yang Produktif, Mengapa menjauh dari Matematika, Engineering dan Seni Budaya ?

Jusman Syafii Djamal

Di hari Sabtu 20 Agustus 2016 ini kebetulan saya sedang istirahat sambil menonton tv bersama isteri dirumah. Ada pelbagai berita teramati. Saya tertarik menyaksikan tayangan kunjungan Presiden Jokowi ke Nias, dan Sumatera Utara. Ada kekaguman tersendiri.

Kebetulan Saya pernah memiliki pengalaman pribadi tujuh tahun lalu. Karenanya saya bisa mengerti betapa melelahkan aktivitas kunjungan seperti ini. Menyerap seluruh energi, baik fisik maupun batiniah. Pengalaman pribadi ketika 7 tahun lalu priode 2007-2009, saya menjadi Menteri Perhubungan. Banyak kunjungan ke daerah yang sering dilakukan sebagai pelaksanaan tugas dan tanggung jawab untuk menerapkan program Roadmap to Zero Accident dan pembangunan infrastruktur transportasi, terasa amat melelahkan secara fisik akan tetapi dalam batin terasa ada rasa campur aduk, senang dan inspirasi mengalir yang tak dapat dilukiskan.

Tujuh tahun lalu , dalam perjalanan seperti itu kalau terasa melelahkan , disela sela waktu istirahat kalau sedang sendiri, pastilah kunjungan kerja ini saya selang selingi dengan membaca ulang kembali buku cerita cerita silat Api di Bukit Menoreh. Sebab dalam novel itu penulis SH Mintaredja mengisahkan perjalanan dan tingkah laku Kyai Grinsing dan Agung Sedayu yang mengembara dari satu tempat ketempat lain. Agung Sedayu seolah diajarkan Kyi Grinsing untuk menemukan diri sendiri ditengah keramaian, melalui rintangan dan kesulitan yang dihadapi. Tapa ing Rame.

Turba atau turun kebawah, Sidak atau Inspeksi Mendadak atau Safari berkunjung kedaerah daerah terpencil sebetulnya juga sering dilakukan oleh Presiden Sukarno , Suharto, Habibie, Gus Dur , Megawati dan SBY. Semua Presiden Indonesia pastilah sering dan menyenangi berkunjung kedaerah seperti yang dilakukan Pak Jokowi.

Meski tiap Presiden memiliki style dan cara yang berbeda, aktivitas bertemu dengan rakyat melakukan kegiatan bersama untuk konsolidasi semangat kebangsaan dan kecintaan pada NKRI pastilah memunculkan sumber energi dan elan vitalnya sendiri. Energi dan elan vital untuk secara sungguh sungguh berupaya sekuat tenaga membangun konektivitas antar wilayah, sinergi antar pusat dan daerah, menciptakan keamanan dan kenteraman. Elan Vital yang membangkitkan harapan tentang masa depan yang jauh lebih baik melalui proses dialog dan pencerahan adalah tupoksi utama Presiden di Indonesia.

Tentu saja Para Pembantu atau Menterinya dan Pimpinan Daerah, Gubernur, Bupati dan Walikota mengikutinya. Menurut saya program kunjungan kedaerah, turba, sidak dan blusukan ala Presiden Jokowi jauh dari tujuan pencitraan. Ini program yang merupakan perujutan kewajiban menjalankan amanah memangku jabatan publik.

Memimpin dengan cara menemu kenali persoalan rinci dilapangan untuk diolah dalam fikiran jadi solusi, adalah salah satu keunggulan Presiden Jokowi. Beliau menyebutnya dengan blusukan ke daerah persoalan. Ibarat Jendral yang terjun ke medan pertempuran untuk menemu kenali “a fog of war”, kabut yang menghalangi pandangan tentang realitas sesungguhnya. Yang menyebabkan banyak masalah lahir, tanpa solusi.Beliau kini sedang terihat blusukan untuk mengecheck kenapa listrik padam terus di Pulau Nias.Melalui kunjungan beliau, kita juga secara transparant dan terbuka dapat ikut mengetahui ujung persoalan yang dihadapi.

Di Pulau Nias Presiden Jokowi kelihatannya ingin tau apa sumber masalah mengapa dimasa lalu ada listrik padam yang bikin masyarakat terpaksa menggunakan lilin dan petromaks serta genset sendiri. PLN tak mampu menyediakan aliran listrik. Kondisi pemadaman berlangsung lumayan lama. Melalui Pulau Nias ini saya perkirakan Presiden Jokowi mendapatkan “sample” atau “preparat laboratorium”. Dengan sample ini anatomi masalah dan sumber kendala program pembangunan infrastrutur sumber daya listrik 35000 MW yang jadi fokus beliau dapat dianalisa. Beliau kini pasti memahami apa akar masalah sehingga program ini sudah dua tahun seolah tak bergerak alias jalan di tempat.

Hari Sabtu ini setelah di Nias hingga Senin beliau akan mengunjungi Danau Toba dan sekitarnya. Beliau ingin menemu kenali problema utama yang dihadapi oleh Danau Toba, kenapa keramba ikan, misalnya dianggap mengotori lingkungan dan membuat air danau tidak lagi seperti dulu. Jernih dan indah. Beliau juga ingin tau apakah rencana pembangunan jalan raya dari Medan ke Danau Toba berlangsung dengan baik. Apakah Bandara Silangit sudah siap menerima kehadiran pesawat sekelas Boeing 737 dan Airbus A320, atau cukup pesawat sejenis CN295 dan ATR serta CRJ saja. Beliau juga saya harapkan dapat ikut membangkitkan kembali upaya Revitalisasi jalur kereta api Medan Rantau Prapat dengan memodernisasikan rel kereta api, stasiun dan prasarana gerbong dan lokomotip, agar keindahan alam Danau Toba dapat dinikmati semua masyarakat.

Dengan kata lain melalui program Blusukan dan Kunjungan Kerja ini, Presiden Jokowi dapat menotok jalan darah atau urat nadi pembangunan infrastruktur Sumber Daya Listrik dan Infrastruktur destinasi Turisme di Nias, Pulau Samosir, Danau Toba dan sekitarnya , agar kemacetan pembangunan infrastruktur yang mungkin ada dapat diatasi.Sumatera Utara kini jadi fokus. Alhamdulillah.

Saya berharap di pulau Nias , Danau Toba dan Sumatera Utara Presiden juga dapat diajak menemukan keunggulan sesuatu yang tidak kasat mata. Intagible asset, berupa keunggulan murid SD, SMP dan SMA disana, dalam mata pelajaran Eksakta. Seperti Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Pelajaran IPA.Didaerah itu banyak mutiara terpendam yang selama ini tidak pernah dilirik dan sering dianggap sebagai hal biasa. Didaerah itu banyak putra puteri Indonesia yang memiliki DNA Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Tak heran diantaranya keahlian bermain catur tumbuh subur disana. Seperti di Rusia, disetiap pojok dulu sering kita temukan lapo atau warung dimana banyak pemain catur saling bertanding mengasah keterampilan secara otodidak. Dulu banyak grandmaster lahir didaerah itu. Kini sudah tak terdengar lagi ?

Dulu saya sering bertemu dengan kawan yang jago bermain catur, dan matematika , ketika ditanya dari SMA mana pasti jawabannya Nias, Danau Toba, Rantau Prapat atau Medan.

Selain itu, melalui kesibukan blusukan seperti ini, Presiden Jokowi menurut saya ingin memberi contoh apa yang beliau sebut dalam pidato kenegaraan 17 Agustus yakni agar kita bekerja keras merubah mindset. Dari Bangsa Konsumtip menjadi produktip.

Pesan sederhana merubah mindset menjadi Bangsa Produktip dari Presiden ini bukanlah sasaran strategis yang gampang dilaksanakan. Merubah mindset konsumtip menjadi produktip tidaklah mudah. Bukan pekerjaan satu hari satu malam seperti menggosok lampu Aladin. Atau mengambil tongkat ajaib Doraemon.Memerlukan upaya sistimatis, bertahap dan berlanjut. Diperlukan Sustainability and Consistency.

Diperlukan garis kebijaksanaan atau policy dan kurikulum pendidikan yang tak mudah larut dan goyah ditean perubahan zaman.Jangan seperti garam atau kerupuk yang mudah larut dan layu ditelah hujan perubahan waktu.Sebab Produktivitas selalu terkait erat dengan efisiensi. Tak mungkin ada orang produktip jika ia tak mampu bekerja lebih cepat dan hemat sumber daya. Harus dilaksanakan dalam program sistimatis, terencana dan berkesinambungan tahap demi tahap.Diperlukan keterampilan untuk bekerja lebih cerdas, cermat dan bersahaja.

Bangsa yang produktip memang harus hemat sumber daya alam , juga harus mampu mengalokasikan manusia bersumber daya iptek dan kapital yang terbatas pada sasaran yang tepat dan berdaya guna tinggi.Bangsa yang bekerja dengan tingkat Efisiensi tinggi. Berarti Bangsa yang tidak boros sumber daya. Jadi bangsa yang produktip bukanlah diartikan secara sempit sebagai bangsa yang tidak boleh belanja. Bukan bangsa yang tidak boleh mengeluarkan uang dan tidak pernah mengalokasikan dana untuk membeli barang.Sebab jika istilah produktip disalah artikan dengan kata jangan berbelanja. Pastilah semua mall, plaza dan restoran serta pasar tradisional di Indonesia akan kehilangan konsumen.

Ekonomi Mandeg, Pertumbuhan stagnant. Lapangan kerja terganggu.

Bangsa Produktip berarti bangsa yang mampu melakukan kalkulasi tentang alokasi waktu dan sumber daya. Bangsa yang memiliki keahlian manajemen.Mengelola input persatuan waktu untuk menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain. Produktip muncul jika kita dapat memahami Benefit and Cost Ratio setiap keputusan.

Karenanya dulu di tahun 70 an kurikulum SD dan SMP oleh guru fokusnya diarahkan pada tiga hal. Keahlian Berhitung/Aljabar, Mengarang dan Menggambar. Fondasi dari Hard Sciences and Soft Sciences.Kata guru saya alm pak Achmad Maulana di SMP Langsa : “Jusman kamu harus pinter berhitung, aljabar bahasa untuk mengarang dan menggambar”. Awalnya sy kurang faham apa yg ia pesan.Ia bilang :”Kalau kamu telalu pinter mengarang ngga bisa berhitung , Bahaya. Kamu bisa keliru tanpa tau duduk soal.Kalau banyak berhitung tak bisa mengarang kamu nggak kemana mana, ragu mundur maju.Apalagi kalau nggak bisa menggambar kamu bisa kehilangan imajinasi, mata air ide tak kunjung habis.

Dengan kata lain sejak awal guru Matematika SMP saya di Langsa telah meminta saya untuk mencoba belajar ilmu hidup. Ia seolah ingin berkata hidup memerlukan keterampilan berhitung, berbahasa , mengarang dan menggambar. Kini saya mengerti bahwa ada local widom dalam pesan Alm pak Maulana, guru SMP saya itu. Agar menjadi orang Produktip kita memerlukan fondasi penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Ilmu berhitung dan aljabar sebagai fondasi Matematika, Fisika Kimia. Matematika untuk penguasaan logika berfikir agar keterampilan berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris, Jerman, China dan Jepang mampu melahirkan keahlian berdebat dan bernegosiasi merebut pangsa pasar. Dan keterampilan bahasa untuk memiliki keterampilan mengarang karya sastra dan seni lainnya. Menggambar untuk menemukan sketsa engineering, sketsa seni lukis dan patung serta budaya lainnya.

Dengan kata lain, Produktivitas berarti pengelolaan rasio output per satuan input persatuan waktu. Bekerja menghasilkan Rupiah dan Dollar jauh lebih banyak dengan waktu dan biaya yang lebih sedikit.Produktktivitas memiliki pasangan nya yakni efisiensi.Arah produktivitas dan efisiensi adalah peningkatan Nilai tambah. Creating Value.Menciptakan nilai tambah dengan menguasai jam kerja yang jauh lebih besar dibanding bangsa lain dinegeri sendiri. Memproduksi barang berkualitas tinggi tepat waktu dan tepat sasaran, dengan jam kerja sendiri.

Dalam bukunya Ram Charan, The Attacker Advantage, Turning Uncertainty into breakthrough opportunitites, diceritakan bagaimana tingkat produktivitas kelompok bisnis dapat ditingkatkan dengan penguasaan matematika.Ia mengatakan bahwa “the single greatest instrument of change” dalam peta persaingan bisnis dewasa ini diawali oleh kemajuan penguasaan tingkat keahlian prasarana matematika yang bernama Algoritma dan Perangkat lunak yang menyertainya.

Meski begitu dalam hal penguasaan matematika , kini banyak orang tua dan guru masih menganggap sepele. Semua mengatakan mengapa perlu menguasai Hard Sciences.Karena yg diamati dalam hidup ternyata yang jauh lebih kaya adalah mereka yang memiliki keahlian soft sciences.Ahli matematika hidupnya seperti seniman atau pemain bulutangkis dan sepak bola. Kerakap tumbuh dibatu . Di Indonesia hidupnya bakal susah, banyak onak dan duri serta jatuh miskin.Karenanya kita sebagai orang tua, meski memahami matematika penting tetapi berupaya agar anak anak kita menjauh dari pelajaran matematika itu.

Kalau bisa kurikulum matematika itu dihapus dan diganti dengan mata pelajaran lain. Sebab katanya bikin hidup anak murid jadi tertekan dan stress. Mengapa tertekan, tidak ada yang mebahas. Semua orang hanya bertanya mengapa harus pergi belajar yang susah susah tentang segala jenis bentuk persamaan dengan banyak simbol itu. Matematika seolah menjadi hantu yang bikin anak murid menghindari untuk pergi kesana. Apalagi kini sukar bertemu guru matematika mumpuni.

Karenanya topik Mengapa anak anak Indonesia tidak menyenangi pelajaran matematika dan fisika serta kimia tidak pernah berupaya ditemu kenali. sering waktu kita dalam mengevaluasi kurikulum pendidikan dihabiskan untuk lebih membahas masalah karakter dan upaya mendatangkan banyak pelajaran budi pekerti dan hal hal yang membuat orang berprilaku jujur.Tentu tak ada orang yang tidak berpendapat bahwa kejujuran dan karakter lebih utama. Akan tetapi apakah dengan mempelajari matematika, fisika, dan kimia secara lebih baik akan melahirkan orang tidak berkarakter tentu perlu dipertanyakan. Apakah seolah belajar kejujuran semua murid harus bersekolah seharian penuh agar dapat di”contain” dari pengaruh jahat kehidupan ?

Dengan kata lain bagaimana kurikulum yang mampu membuat Bangsa Indonesia ini jauh lebih kompetitif atau tidak, juga perlu dievaluasi.

Ram Charan mendeskripsikan bagaimana melalui kemajuan penguasaan matematika dan Algoritma banyak keahlian dan proses simulasi untuk mendekontruksikan dan memprediksi pola perubahan dapat dilakukan.Mulai dari prediksi prilaku konsumen agar produk lebih disenangi dan kecenderungan model pengelolaan tingkat kesehatan dalam BPJS untuk lebih efisien dapat diketahui. Begitu juga pla jatuh tempo dan waktu semua alat peralatan utama yang dikelola dan dimiliki unit organisasi dapat diprediksi. Sehingga dengan algortima prilaku dan pola pengeluaran biaya serta tingkah laku belanja telah dapat diprediksi dan terkomputerisasi.Dalam kombinasi dengan faktor teknologi lainnya, algoritma secara dramatis mengubah baik struktur ekonomi global dan gaya hidup masing-masing orang.

Algoritma dan digitalisasi, internet, mobilitas wahana transportasi, broadband, sensor, dan kemampuan olah data angka yang lebih cepat dan lebih murah dari hari kehari telah menjadi kekuatan perubah landskap bisnis.Produktivitas dan Efisiensi meningkat tajam.Algoritma dan mesin pembantu proses pengambilan keputusan telah mendorong proses pengelolaan jumlah data yang jauh melampaui kemampuan otak untuk dapat menangani, pada kecepatan cahaya.

Dikenal dengan istilah phenomena Big Data dan Internet of Things yang berjalan melalui proses iterasi dalam jutaan, pilihan untuk menelisik dan memeriksa segala konsekuensi dari tiap pilihan.Algoritma telah membuat kita lebih mudah membangun scenario pilihan. Ada pilihan satu,kedua dan ketiga kemudian menghasilkan output yang memudahkan pikiran manusia untuk menerima, menolak, atau memiliki opsi lainnya.Melalui algoritma Mesin yang meningkatkan kecerdasan manusia yang disebut Artificial Intelligence tumbuh berkembang bersama dengan kemajuan penguasaan keahlian algoritma dan teknologi processor pengolah data.

Dalam hal ini saya berfikir alangkah indahnya kalua kurikulum SD dan SMP mampu kembali menumbuhkan kecintaan anak didik terhadap pelajaran Matematika, ibu dari ilmu pengetahuan.Bukankah dari sejarah kita mengetahui kemajuan peradaban Islam juga dulu diawali oleh ditemukan aljabar dan bilangan oleh Al Khawarizmi, ilmuwan Islam ?

Begitu juga keahlian matematika yang menyebabkan manusia bisa menciptakan pesawat ulang alik, menemukan metode statistik untuk Six Sigma mengukur produktivitas ala Deming dan kini Internet of Things. ???

Seperti kata Ram Charan :”Matematika adalah Penggerak Keunggulan Daya Saing”. Ia bilang begini “Companies that have the new mathematical capabilities possess a huge advantage over those that don’t, even those that have been highly successful in the past.They are not just digitized—they are math houses, as I call them, and they are creating structural uncertainty for all industries and the companies within them.Google, Facebook, and Amazon were created as mathematical corporations; they were, as some say, born digital. Apple became a math corporation after Steve Jobs returned as CEO.

This trend will accelerate.”

Begitu ulasan Ram Charan dalam bukunya “The Attacker’s Advantage: Turning Uncertainty into Breakthrough Opportunities.” Mohon maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: