//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan

Mantra Cerita (Seri Fatherman bag. 7)

by : bendri jaisyurrahman (twitter :@ajobendri)

Setiap super hero pada umumnya punya branding yang menjadi ciri khas masing-masing. Bisa dalam bentuk kostum yang unik, senjata pamungkas, jurus sakti ataupun kata-kata populer yang biasa diucapkan saat mereka beraksi. Ini lumrah. Sebab biar bagaimanapun super hero tetap butuh eksis agar dikenal dan diminati penggemarnya. Terlebih bahwa tidak satupun super hero yang punya akun sosmed layaknya anak gaul saat ini untuk bisa terus eksis. Gak kebayang kan kalau para super hero itu aktif di sosial media? Bisa-bisa hampir tiap hari timeline kita isinya laporan aktivitas mereka.

“Monsternya bandel amat nih. Masih muncul juga. Pake jurus apa lagi ya?” kata Ultraman.

Atau,

“Bajuku udah gak muat lagi nih yang pake logo S. Semakin bertambah umur dan berat harus ganti logo jadi XL”. Ini Superman ceritanya lagi curhat.

Belum lagi, akan banyak muncul foto-foto narsis tim power rangers yang wefie bareng sebelum beraksi. Dan akhirnya pertempuran dengan musuh pun lama-lama pindah ke timeline dalam wujud twitwar kayak bahas pilkada. Gak seru kan?

Maka, branding bagi super hero untuk tetap eksis meski tanpa sosmed adalah mutlak. Agar anak-anak tetap antusias menyaksikan aksi mereka di dunia nyata ketimbang di dunia maya. Dan di antara branding para super hero yang begitu memorable bagi penggemarnya adalah ucapan-ucapan populer di saat mereka beraksi. Ucapan ini ibarat mantra sakti yang menambah seru adegan heroik mereka. Power Rangers terkenal dengan kata-kata “HENSHIN!” yang artinya “BERUBAH!”. Dan ajaib, berbekal ucapan itu saja mereka mendadak menjadi robot yang kuat dan tangguh.

Dari sini kita juga tahu kalau ada orang yang lagi bersin dan terdengar suara “Henshin! Henshin!” berulang-ulang, jangan-jangan dia salah satu personil power rangers yang lagi nyamar. Atau perhatikan juga jurus saktinya dragon ball yang berjuang mengumpulkan tujuh bola naga dengan ucapan “Kamehameha” nya. Mendadak musuh pun lumat dan hancur terbakar bola api. Sakti kan?

“Kamehameha” ataupun “Henshin” inilah contoh mantra yang menjadikan anak-anak tersihir dan ketagihan menanti aksi mereka. Dan setiap episode penampilan mereka memberikan kesan yang bertahan lama hingga dewasa. Dari sini kita belajar bahwa sosok Fatherman sekaligus EntertainMan juga harus punya branding. Ayah sang Fatherman tak boleh kalah dengan super hero fiktif tersebut. Dua hal yang harus dimiliki oleh ayah agar tetap eksis di mata anak yaitu aksi heroik yang memikat ditambah mantra sakti sebagai branding yang memorable.

Aksi heroik ayah selaku fatherman di antaranya dengan bercerita. Ini adalah jurus jitu berikutnya selain bermain, yang akan membuat anak terpesona dan kemudian mematikan TV atau gadgetnya untuk beralih kepada ayah sang Fatherman. Sebab saat ayah bercerita, anak-anak akan melihat adegan seru dalam ekspresi wajah sekaligus body sang ayah. Apalagi kalau body ayah sangat elastis seperti kurva tak beraturan. Makin digemari oleh anak. Hal ini bisa membuat anak ketagihan berkali-kali hingga selalu berkata “cerita lagi dong yah!”. Nah agar aksi heroik ini selalu terekam dalam memori anak, ayah harus memulainya dengan mantra sakti seperti yang biasa diucapkan super hero lainnya. Dan umumnya mantra sakti yang dipakai ayah zaman dulu saat bercerita adalah kata-kata populer seperti “Pada suatu hari…” atau “Pada zaman dahulu kala…”.

Dua kata tersebut amat manjur membuat anak terkenang-kenang akan cerita dari sang ayah. Tapi ayah juga boleh membuat mantra lain yang gak biasa untuk menarik perhatian anak, semisal “Ayahema Ucer Itahe”. Maksudnya ayah mau cerita. Atau “Ayam Kukuruyukkk” alias “Ayah mau cerita, kumpul kumpul rumpi yuuuk!” Tapi plis tangan ayah jangan ikutan ngondek. Tetap macho. Ingat! Ayah itu Fatherman bukan Sissyman alias bencong.

Intinya, buatlah kata pembuka yang membuat anak tertarik untuk beralih perhatiannya kepada ayah. Jangan sering-sering ganti. Agar ayah punya branding sendiri di mata anak. Dan kata-kata ayah terekam dalam memori anak hingga dewasa. Namun mantra sakti belumlah cukup, ayah harus punya kemampuan bercerita yang mumpuni. Yang membuat anak terus bertahan menyimak cerita ayah. Agar cerita ayah bisa menjadi jurus andalan yang mampu menaklukkan hati anak, maka ayah perhatikan beberapa hal berikut ini :

1.      Pahami Isi Cerita
Sebelum ayah beraksi maka ayah harus memahami isi cerita yang akan disampaikan. Jangan sampai di tengah seru-serunya cerita, ayah nampak seperti orang linglung seperti Superman yang kena batu Kryptonite atau Spiderman yang gak mampu keluarkan jaring laba-laba. Anak malah berkurang ketertarikannya dan tak mau mendengarkan

2.      Libatkan anak
Agar cerita ini menjadi milik bersama dimana anak ikut dalam aksi ayah, maka jangan sungkan untuk melakukan role play dimana anak diajak menjadi bagian dari isi cerita. Ajak anak untuk berperan sebagai tokoh protagonis di dalam cerita. Hal ini memberi kesan mendalam bagi anak. Jika tak mampu mengajak anak bermain peran, ayah bisa melibatkan anak dengan dialog interaktif. Tidak monolog.

3.      Dinamis
Untuk membuat suasana cerita menjadi dinamis, maka ayah harus memainkan mimik wajah ataupun intonasi suara. Jika terlalu datar, anak menduga ayah bukan sedang bercerita namun sedang menjadi penyiar berita di TV lokal. Tanpa ekspresi yang maksimal. Karena itu, berlatihlah sebelum cerita bagaimana ekspresi wajah ayah saat tersenyum, sedih, marah layaknya audisi pemeran film Uttaran di layar kaca.

4.      Durasi yang pas
Jika terlalu singkat, anak tidak dapat pesan ceritanya. Namun jika terlalu lama, khawatir anak keburu bosan dan banyak kebutuhan. Maka ayah harus pandai mengatur durasi dengan melihat bahasa tubuh anak. Jika mereka sudah mulai menguap, segera closing. Jika perlu buat cerita bersambung yang mengesankan

5.      Berikan Kesimpulan
Inilah yang menjadi ciri khas sang fatherman. Di balik jurus penakluk hati lewat cerita tersimpan nilai moral yang dimengerti oleh anak. Anak tak merasa diceramahi namun memahami pesan dari cerita yang akan terekam dalam memori mereka. Maka, ajak anak untuk menyimpulkan apa pesan di balik cerita tersebut. Jika kesimpulan mereka kurang tepat, segera luruskan agar anak tak salah persepsi. Jangan sampai anak dapat kisah tentang malin kundang yang dikutuk jadi batu, begitu ditanya kesimpulannya, dia malah ingin dikutuk ibunya pakai baju warna wani agar bisa jadi batu akik yang berkilau. Parah kan?

Bekal ayah agar menjadi sosok pahlawan bagi anak memang tidaklah mudah. Butuh skill sekaligus pencitraan yang kuat. Atau yang dikenal dengan branding. Kelak ketika anak dewasa, dan ditanyakan “Bisakah kamu ceritakan tentang sosok ayah dalam hidupmu?” Ia akan menjawab dengan mantra sakti yang terngiang-ngiang, “Pada zaman dahulu kala…” (bersambung)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: