//
you're reading...
Human being, Life style, Motivasi, Perubahan, Renungan

Kita butuh Menteri urusan kebahagiaan

IHWAL urusan kebahagiaan hidup, banyak pihak tengah memperbincangkannya. Kita sedang mengamati berkelindannya benang merah tiga diskursus kehidupan manusia di dunia sekarang ini. Pertama, bangsa paling bahagia itu bukan bangsa adikuasa seperti Amerika, Rusia, atau Tiongkok, melainkan Denmark. Kedua, makin hadirnya paradigma “Jangan didik anak jadi orang kaya, melainkan didik mereka menjadi orang berbahagia.” Ketiga, belum lama ini Uni Emirat Arab memiliki Menteri Urusan Kebahagiaan, seorang wanita cantik bernama Ohood Al Roumi.

Hedonis treadmill

Uang, harta, kekuasaan kini makin tidak diniscayai bisa memuaskan manusia dalam menemukan makna hidupnya, kalau makna hidup dikungkung hanya oleh kepuasan memiliki. Mengapa? Oleh karena tanpa disadari kepuasan hidup tidak punya batas tertinggi. Awalnya cuma ingin punya satu rumah, dan satu mobil. Namun belum puas, kemudian mengejar ingin dua rumah dan dua mobil. Oleh karena kepuasan tidak ada batas tertinggi, orang merasa belum selesai dengan hidupnya.

Manusia yang tidak pernah selesai mengejar kepuasan memiliki, keadaan seperti itu yang terdiagnosis sebagai bukan orang yang berbahagia. Kalau itu terjadi pada bangsa, maka mereka bukan bangsa yang tergolong berbahagia, atau rendah saja indeks kebahagiaanya.

Singapura mendidik masyarakatnya untuk mengejar kepuasan hidup itu semua, barangkali itu maka hadir sebagai masyarakat yang takut kalah (“kiasu”), bukan kebetulan peringkat indeks kebahagiaan mereka tidak tinggi. Demikian pula halnya dengan Amerika Serikat. Mereka dididik untuk selalu menempatkan diri pada target menjadi yang paling nomor satu (to be number one), dan oleh karenanya memikul beban sosok pencemas sebagai sang juara. Mereka terjebak perangkap mengejar kepuasan yang tanpa batas itu, maka sukar untuk berbahagia.

Ada studi yang mencatat kalau tingkat kebahagiaan manusia di dunia sejak tahun 1950-an hingga kini tidak secara bermakna banyak bertambah, kendati ekonomi, dan teknologi sudah jauh meningkat. Bukti lain bukan di situ kunci untuk mengangkat indeks kebahagiaan manusia.

Orang Denmark menjadi bangsa tergolong paling berbahagia karena punya dua kunci, yakni lekas bersyukur, dan ekspektansinya dalam hidup tidak muluk-muluk. Mereka hidup di bawah penyelenggara negara yang sangat menaruh perhatian bagi kepentingan kesehatan dan pendidikan, investasi dua sektor strategis itu yang ditanamkan paling besar bagi semua anak bangsa. Hal yang sama berlangsung di Bhutan, negara yang tidak besar, namun indeks kebahagiaannya tinggi.

Bhutan tidak mengejar kekayaan, sehingga bukan produk domestik brutto yang menjadi target untuk membangun makna hidup bangsanya, melainkan bagaimana agar bangsanya bisa meraih kebahagiaan hidup tertinggi. Bukan dengan cara menargetkan raihan devisa sebesar-besarnya seperti negara kapitalis biasa melakukannya, melainkan dengan meraih happiness product brutto.

Apabila yang dikejar manusia kekayaan saja, maka hidup menjadi letih sendiri. Makin banyak kekayaan dikumpulkan, namun tetap saja kebahagiaannya lari di tempat. Makin besar penghasilan teraih, makin besar pula pengeluaran, maka terjebak dalam perangkap apa yang berjuluk hedonis treadmill. Barang tentu jebakan ini yang bikin gagal menjadikan orang merasa hidupnya berbahagia.

Logotherapy

Semakin banyak orang di dunia kini yang merasa hidupnya hampa, kendati hidup berkecukupan, salah satunya sebab keliru menyusun makna hidupnya. Mereka merasa hidupnyan tidak bermakna (meaningless life). Banyak uang, penuh harta, pernah punya kekuasaan, namun tetap merasa hidupnya kering.

Semakin banyak orang di negara kapitalis bernasib merasa hidup tak punya makna seperti itu. Mereka ini yang di mata psikologis membutuhkan logotherapy, terapi bagaimana mereparasi makna hidup. Merasa hidupnya gagal mengetuk pintu kebahagiaan, beranggapan pintu itu bagi mereka tak kunjung terbuka.

Gede Prama pernah mencatat satu hal, bahwa kebahagiaan hidup itu sudah ada di dalam, tak perlu lagi kita mengetuk pintunya. Tergantung kita yang sudah berada di dalam, apakah mau membukanya. Sekali lagi, hanya karena kita keliru menyusun dan memposisikan makna hidup, maka hidup terasa kering. Lalu orang mempertanyakan kembali, hidup buat apa? Sekolah apakah buat mencetak uang semata?

Apa arti menjadi sukses?

Saya membaca ada sebuah gerakan yang menggagas “Wealth Wisdom” bagaimana menjadi kaya yang bijak. Bukanlah ini berarti semakin banyak orang menjadi kaya yang hidupnya terasa sia-sia. Penyebabnya kini terbukti, bukan cuma kekayaan uang (tangible) yang membuat kita sungguh berbahagia, terlebih, untuk menjadi kaya yang bijak, yang paripurna, kita perlu mengejar yang tak mewujud (intangible), dalam menyikapi hidup, dan kehidupan. Yang sama pentingnya dengan harta duniawi ialah sikap terhadap keluarga, seberapa tepat makna hidup disusun, adakah punya kemampuan hidup yang berbagi, dan sudahkah berinvestasi untuk hidup sehat.

Kita melihat orang yang kaya raya, berharta, punya kekuasaan namun merasa hidupnya belum sukses. Orangtua mengejar ranking anaknya di sekolah, berupaya mencuri umur anak supaya bisa lekas masuk sekolah, seolah itu semua yang memberi jalan menuju kesuksesan hidupnya kelak. Ternyata bukan itu. Bukan hanya itu. Anak malu kalau parkir mobil Kijangnya di sebelah mobil temannya yang BMW. Pendidikan membuat anak menilai orang dari apa yang dimilikinya (packaging culture), padahal “budaya kemas” pula yang menjadikan manusia terjebak hidupnya menjadi hampa.

Ternyata bukan ranking, bukan IQ, bukan sekolah favorit, atau bukan pula tingginya nilai IPK kelulusan yang menentukan sukses tidaknya hidup seseorang. Selain itu kita melihat fakta bukan sedikit sarjana yang bekerja bukan pada bidangnya, hanya karena tidak suka. Berhasil menjadi kaya raya sebagai dokter, misalnya, namun kekayaannya tidak membuatnya merasa sukses, hampir pasti karena tidak menyukai bidang pekerjaannya. Kita lupa, untuk sukses hidup perlu ada passion pada bidang yang kita tekuni. Kompeten, dan kapabel saja tidak cukup kalau tidak ada passion.

Bukan lagi zamannya mengarahkan anak menjadi insinyur, atau dokter, untuk menjanjikan bisa jadi kaya raya, dan sukses hidupnya. Biarkan anak bebas memilih bidang hidupnya, selama sesuai dengan kemampuan (kapasitas) dan sesuai pula dengan kesukaannya (passion). Mampu saja namun tidak suka sama buruk nasib kesuksesasnnya dengan bila hanya suka saja padahal tidak punya kemampuan bidang yang dipilihnya.

Anak perlu pencerahan pandangan keindahan hidup. Bukan jadi insinyur atau dokter saja yang menjanjikan kesuksesan, sehingga terhadap calon menantu lelaki bukan lulusan eksakta, kebanyakan calon mertua memicingkan sebelah mata. Menjadi seniman, ahli musik, pelukis, kalau ditekuni sepenuh passion, bisa mengantarkan anak menaiki jenjang sukses hidupnya juga.

Paradigma pendidikan sudah perlu direkonstruksi bagaimana setiap anak juga perlu menjadi insinyur kepribadian, dan profesor kebahagiaan, supaya menjadi siapa pun mereka kelak, selama ia menjadi seseorang (somebody), dan bukan nobody, tentu akan meraih “Oscar Kehidupan” dalam hidupnya. Mereka inilah yang sebetulnya memenuhi syarat bakal memetik kebahagiaan hidup, lalu merasa sukses dalam hidupnya

Ada benarnya kita juga mulai membutuhkan seorang menteri yang mengurus bagaimana kebahagiaan hidup bisa diraih semua anak bangsa. Kalau dia seorang profesional, profesional yang berbahagia. Kalau dia seorang politikus, politikus yang berbahagia. Juga kalau seorang pengusaha, atau apa pun, tentu yang meraih kebahagiaan.

Untuk itu hiduplah sebagai “manusia yang sudah selesai”. Bukankah kita meniscayai, bahwa duapertiga kekayaan, duapertiga harta, duapertiga kekuasaan yang setengah mati kita kumpulkan, akhirnya sia-sia saja kita tidak menikmatinya. Maka hiduplah secukupnya saja, enough is enough. Tak cukup hidup yang benar arah, karena perlu pula benar cara kita menempuhnya, di mata Sang Khalik***

Salam sehat,
Dr HANDRAWAN NADESUL

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: