//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Pendidikan Membaca dan Peran Perpustakaan: Menyambut Lahirnya Sistem Penjenjangan Buku Ala GLS

HERNOWO HASIM
AUGUST 11, 2016

“Guru harus mendorong peserta didik untuk membaca buku-buku yang berkualitas, karena membaca sejalan dengan proses berpikir kritis yang memungkinkan peserta didik untuk menjadi kreatif dan berdaya cipta.”
—SRI RENANI PANTJASTUTI, M.P.A. (Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemdikbud), dalam “Kata Pengantar” untuk buku Panduan GLS di Sekolah Luar Biasa, h. iii

“Keterampilan utuh yang dibutuhkan oleh anak-anak Indonesia di abad 21 mencakup tiga komponen: kualitas karakter, kemampuan literasi, dan kompetensi.”
—ANIES BASWEDAN, mantan Mendikbud, dalam “Pidato”-nya pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016

Apabila Anda sempat membaca buku-buku Panduan GLS (yang mana pun), Anda pasti akan berjumpa dengan dua singkatan yang diulang-ulang penulisannya: PIRLS dan PISA. “Dalam PIRLS 2011 International Results in Reading, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012). Sementara itu, uji literasi membaca dalam PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013),” begitulah data tentang kemampuan membaca siswa kita pada sekitar 2011 hingga 2013 (ibid., h. i).

“Data PIRLS dan PISA, khususnya dalam keterampilan memahami bacaan, menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah,” tulis Hamid Muhammad, Dirjen Dikdasmen (ibid., h. i). Itu data yang berlaku sekitar 3-4 tahun lalu. Bagaimana dengan kondisi saat ini (tahun 2016), apakah kemampuan membaca (memahami) siswa telah berubah ke arah yang lebih baik? “Hasil studi deskriptif yang dilaksanakan Central Connecticut State University, AS, yang diumumkan belum lama ini, telah menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti dalam hal literasi para warganya,” tulis Haidar Bagir, Presiden Direktur Penerbit Mizan, dalam artikelnya, “Amnesia Buku” (Kompas, 28 April 2016). “Orang bisa saja memperdebatkan validitas penelitian ini. Namun, sesungguhnya hal ini tak terlalu mengagetkan kita. Sebelum ada penelitian ini pun kita sudah merasakan banyak indikasi yang mengarah ke sana. Misalnya, dalam angka proporsi jumlah judul buku yang terbit terhadap jumlah penduduk.”

Marilah kita berhenti sejenak di sini. Ketika mengikuti FGD 3 perumusan sistem penjenjangan buku pada 1-3 Agustus 2016 di Jakarta, saya sempat melontarkan sekilas tentang pentingnya pendidikan membaca untuk masyarakat Indonesia. Waktu itu saya hanya dapat membayangkan kondisinya seperti ini: perpustakaan-perpustakaan di seluruh Indonesia menjadi tempat untuk mendidik warganya—siapa saja—secara sangat praktis dan mudah dalam meningkatkan kemampuan membaca. Terus terang, waktu itu saya tidak sempat berpikir bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan membaca (dan juga menulis). Literasi sudah berkembang—merujuk ke Deklarasi Praha dan UNESCO serta referensi lain—ke arah yang lebih kompleks dan menjadi sangat canggih! Ada kata informasi dan teknologi, sebagai salah satu contoh, yang disematkan dalam kosakata literasi yang baru. Namun, saya merasakan sekali bahwa ketidakberdayaan kita dalam membaca ini—khususnya para siswa di sekolah—akan dapat segera diatasi dengan penyediaan buku-buku yang memiliki penjenjangan secara baik. Memang, saat ini ihwal penjenjangan buku itu baru dalam bentuk rumusan. Prosesnya masih panjang untuk menjadikan rumusan itu berbentuk buku-buku yang berjenjang yang siap digunakan. Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI) dan Room to Read (RtR) Indonesia memang sudah memulai menyediakan buku berjenjang tersebut dan menggarap perpustakaan sebagai tempat mendidik masyarakat Indonesia agar mau dan mampu membaca. Tetapi itu masih dalam skala kecil—mungkin sangat kecil!

Nah, pendidikan membaca yang saya bayangkan kira-kira begini: Pertama, buku-buku yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak sekolah (dari tingkat PAUD/TK hingga SMA) akan memiliki label atau tanda secara sangat jelas. Label itu berjenjang dan disesuaikan dengan usia anak—konten buku, kosakata dan gambar, serta kemasan akan diukur betul agar nyaman dan nikmat dipahami oleh setiap anak sesuai dengan usia dan kemampuan membacanya. Misalnya label hijau atau buku yang bertanda A adalah buku yang tepat untuk anak usia PAUD hingga usia sekian tahun. Buku berlabel biru atau B untuk anak usia sekian, dan seterusnya. Jadi, nanti para guru dan—terutama para orangtua—tinggal mengambil saja buku-buku itu di perpustakaan. Kalau punya anak usia X, ambil label C. Kalau usia Z, ambil label E—misalnya.

Kedua, semua buku itu tersedia lengkap di perpustakaan dan dapat dipinjam kapan pun diperlukan oleh orangtua dan guru. Selain perpustakaan akan menyediakan secara lengkap buku yang berjenjang tersebut, para pustakawan dan pustakawati juga terlatih dalam soal teknik dan strategi membaca. Mereka kemudian dapat mendemonstrasikan, misalnya shared reading (membaca bersama: bagaimana orangtua atau guru diajak membaca buku secara nyaring bersama-sama dengan anak atau anak didiknya dan meneruskannya dengan diskusi untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap bacaan) atau guided reading (bagaimana orangtua atau guru diberi kemampuan khusus untuk membimbing anak atau anak didiknya untuk membaca, baik secara individual ataupun dalam kelompok kecil, untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap bacaan).

Ketiga, ini tentang persoalan yang muncul dan sempat saya lontarkan di acara FGD 3 (tetapi belum mendapatkan jawaban hingga sekarang): bagaimana mengukur bahwa anak sudah mampu berpindah dari level membaca A ke B? Atau bagaimana caranya agar anak benar-benar dapat menikmati bacaannya? Apakah itu bisa kita ketahui? Sebab bisa jadi ada anak yang usianya sudah mencapai 7-8 tahun tetapi kemampuan membacanya masih berada di usia 5 tahun. Juga, mungkin ada anak yang usianya masih 5 tahun tetapi kemampuan membacanya sudah seperti kemampuan membaca anak yang usianya 7-8 tahun.

Literasi memang tak hanya berhubungan dengan membaca. Namun, menata dan meningkatkan reading skill—literasi dalam makna yang sangat sempit ini—sendiri sudah akan menguras energi siapa saja yang terlibat di dalam meningkatkan kemampuan membaca masyarakat Indonesia, khususnya anak didik kita di sekolah dari PAUD/TK hingga SMA.[]

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: