//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan

Membangun Kemampuan Kognitif

Bunda Asih
Sekolah Alam Tangerang

Kognitif atau pengetahuan adalah hal yang penting. “Sekolah alam tidak fokus sama kognisi ya bu ?” Sering saya menerima pertanyaan seperti itu. Setelah minggu lalu saya belajar critical and creative thinking, ternyata selama ini kita banyak salah dalam memaknai pengertian kognisi.

Selama ini kognisi hanya fokus pada kemampuan anak menyelesaikan soal dengan cepat dan benar. Akhirnya fokus pendidikan di sekolah adalah latihan-latihan soal. Semakin banyak latihan akan semakin mahir sehingga dianggap bisa menyelesaikan masalah.

Padahal kognisi adalah sebuah ketrampilan berfikir bagaimana menganalisa, mengolah data, mengambil kesimpulan dan merefleksikannya dengan kenyataan.

Pada fase anak-anak TK, berbeda penerapan kognisi ini dengan anak SD dan SMP serta SMA. Menurut Piaget, anak TK (2-7 tahun) berada pada tahap pra operasional. kemampuan anak menggunakan simbol yang mewakili suatu konsep. Misal, seseorang anak yang pernah melihat dokter berpraktek, akan dapat bermain “dokter-dokteran” (Sunarto, 2008:24).

Oleh karena itu semakin banyak anak mendapatkan pengalaman bermain maka ia akan memiliki banyak pemahaman akan konsep yang nantinya akan bermanfaat saat ia dewasa kelak. Kegiatan bermain adalah bentuk kegiatan untuk membangun kognisi pada anak-anak usia 2-7 tahun.

Pada anak usia 7-11 tahun (usia SD), Piaget menyebutnya tahap operasional konkret. Tahap operasi konkret ditandai dengan adanya sistem operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/konkret. Anak masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang konkret, belum bersifat abstrak apalagi hipotesis. Pada usia ini semua kegiatan main anak hendaknya menggunakan hal yang konkret. Saat anak belajar tanaman, maka ia harus belajar dengan tanamannya langsung, mulai mengamati dari perkembangan biji, biji tumbuh sampai tanaman tumbuh dan berkembang biak. Pengalaman main yang konkret ini akan sangat membantu dalam membangun kemampuan kognisi anak usia SD. Ketika belajar mencari luas suatu bangunan, anak belajar bagaimana luas itu bisa ditemukan, bukan sekedar hafal rumus.

Tahap terakhir dalam perkembangan kognitif menurut Piaget. Pada tahap ini mereka sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoretis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang diamati saat itu. Jika anak memiliki banyak pengalaman belajar konkret pada usia sebelumnya maka akan anak tidak lagi kesulitan untuk membayangkan yang abstrak. Pada fase ini anak sudah harus mampu merumuskan visi hidupnya ke depan. Merencanakan hidupnya, membuat grand desain untuk menggapai impian dan cita-citanya. Memahami resiko atas keputusan yang diambilnya sehingga selalu memiliki pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan.

Oleh karena itu, penting sekali kita meluruskan bagaimana memberikan pengetahuan kepada anak.

Anak bukanlah kertas kosong yang harus diisi dengan berbagai ilmu tanpa ia mengerti untuk apa. Anak sudah Allah berikan bekal berupa panca indranya agar mampu melihat, mengamati, menganalisa hingga nantinya ia mampu menyimpulkan dan mengambil keputusan. Tugas kita sebagai orang tua dan guru ada hanya sebagai pemantik agar anak mau belajar, cinta belajar dengan kesadarannya sendiri, bukan karena terpaksa.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: