//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan

Kokurikuler, bukan Ekstrakurikuler

Sofie Dewayani,
Ketua Yayasan Litara dan Guru Menulis
Media Indonesia, Senin, 15 Agustus 2016

STEVE dan Miguel berbicara dengan suara pelan di sudut perpustakaan kota itu. Steve menunjuk baris-baris kalimat pada esai yang dibuat Miguel sambil memberikan komentar tentang kosa kata yang sudah baik atau yang kurang jelas.Miguel menyimak sambil mencatat pada buku kecilnya.Steve memastikan tulisan Miguel mengalir dengan baik, mudah dipahami, dan menyampaikan gagasan Miguel dengan tepat.

Steve tidak hanya membantu Miguel menulis dengan baik. Ia sedang menyiapkan Miguel, seorang remaja putus sekolah, untuk melewati ujian GED (general education development), yaitu semacam ujian persamaan setara SMA, dengan baik. Di sebuah ruangan lain di lantai dua perpustakaan itu, Leslie sedang memandu beberapa imigran Hispanik dalam permainan tebak kata. Permainan seru itu berlangsung dalam dwi bahasa; Spanyol dan Inggris, yang terbata-bata.

Steve dan Leslie bukan pekerja sosial. Mereka berdua mahasiswa program magister di sebuah kampus besar di area Midwest, Amerika Serikat, yang tengah mengambil mata kuliah kajian literasi.Tugas utama mata kuliah itu berupa pilihan; mereka boleh menulis sebuah makalah teoretis setebal 20 halaman, atau melakukan pengabdian komunitas lalu menulis esai reflektif pendek tentang apa yang mereka pelajari dari interaksi dengan komunitas itu setiap minggu.

Esai ini harus menganalisis proses konstruksi identitas seseorang ketika melakukan kegiatan literasi dalam kerangka teori literasi yang didiskusikan di ruang kuliah.Steve dan Leslie, bersama banyak teman sekelas yang lain, memilih tugas pengabdian masyarakat ini karena mereka menyenangi hal-hal praktis dan merasa lebih mudah memahami teori dengan membumikannya dalam interaksi sosial. Mereka lalu menjadi relawan literasi bagi komunitas. Ada yang menjadi tutor menulis bagi remaja putus sekolah, pengajar bahasa Inggris pada kelompok migran, tutor membaca bagi siswa berkebutuhan khusus, juga pengajar komputer untuk komunitas manula.

Kegiatan di luar kelas yang mendukung pembelajaran, atau lazim dikenal dengan aktivitas kokurikuler ini, bukanlah hal asing di banyak sekolah di Amerika. Siswa SMA atau mahasiswa menjadi relawan di panti manula, penampungan tunawisma, penampungan hewan telantar, atau komunitas sosial lainnya.Mereka membuat esai tentang pengalamannya, lalu mendiskusikannya di kelas. Pengalaman ini dievaluasi, dihargai dengan kredit nilai, dan dicatat dalam buku laporan siswa.Refleksi dari pengalaman ini menguatkan pemahaman siswa tentang materi pembelajaran yang relevan. Yang tak tercatat dari pengalaman itu tentu penghayatan dan sikap spiritual dan sosial siswa yang semakin kaya. Dua komponen ini disebut konten tersembunyi (atau hidden curriculum) yang dalam kurikulum baru disebut Kompetensi Inti (KI) 1 dan KI 2; dua komponen penting yang disebut-sebut berperan dalam pembentukan budi pekerti siswa. Salah kaprah Wacana Mendikbud tentang penguatan kegiatan kokurikuler melalui kegiatan ekstrakurikuler sehingga membuat jam sekolah bertambah (full day school) menunjukkan kerancuan pemahaman tentang kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.Penguatan kegiatan kokurikuler tidak selayaknya menambah jam pelajaran setiap hari.

Kegiatan kokurikuler dikembangkan guru sesuai de ngan kompetensi inti dan kompetensi dasar yang ingin dicapai dan bertujuan memampukan siswa memahami materi pelajaran yang relevan. Guru memerlukan kreativitas dalam mengembangkan kegiatan kokurikuler yang menyenangkan dan bermakna.Selama ini kegiatan kokurikuler di banyak sekolah hanya sebatas pekerjaan rumah/PR berupa penugasan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sangat membosankan. Apabila kebijakan full day school ini dituangkan dalam bentuk kewajiban siswa untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di luar jam pelajaran, sedikit peluang langkah ini akan efektif dalam mengembangkan budi pekerti siswa.

Kewajiban mengikuti kegiatan ekstrakurikuler banyak dicanangkan sekolah di area perkotaan di awal tahun ajaran baru.Angka partisipasi siswa di kegiatan ekstrakurikuler biasanya sangat tinggi di awal tahun ajaran karena partisipasi ini dicatat de ngan kredit poin. Setelah beberapa bu lan, jumlah peserta ekstrakurikuler biasanya akan menurun drastis, dan sekolah tak bisa berbuat banyak karena ancaman mengurangi kredit poin tak menakutkan bagi siswa. Karena, apakah kegiatan ekstrakurikuler mampu mengembangkan budi pekerti siswa dan efektif untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna?

Pertama, kegiatan ekstrakurikuler, sesuai dengan namanya, ialah ke giatan pilihan. Kegiatan ini dipilih secara sukarela sesuai dengan minat dan kegemaran siswa. Kegiatan ekstrakurikuler yang terkait hobi, keterampilan, olahraga, dan seni memfasilitasi minat siswa untuk mengeksplorasi bakat mereka dan berinteraksi dengan teman yang minatnya sama. Partisipasi dan prestasi dalam kegiatan ekstra kurikuler perlu diapresiasi dengan kredit poin; tetapi apabila siswa tidak terlibat, mereka tidak selayaknya mendapat pengurangan kredit poin.Partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler tidak dapat dipaksakan.

Kedua, menjadikan kegiatan ekstrakurikuler sebagai media untuk mengembangkan budi pekerti menegaskan dikotomi antara kegiatan intrakurikuler yang terlalu berfokus pada pencapaian akademik dan kegiatan ekstrakurikuler yang berorientasi pada kegemaran/hobi.

Kegiatan intrakurikuler seharusnya dapat mengakomodasi kesenangan siswa melalui beragam aktivitas, metode pembelajaran, dan kegiatan kokurikuler yang menarik dan bermakna serta mengeksplorasi bakat siswa dalam keterampilan, seni, olahraga, serta kecakapan hidup lainnya (kegiatan kokurikuler tidak melulu berupa pekerjaan rumah yang membosankan!). Di luar itu, tentu siswa dapat memilih kegiatan ekstrakurikuler untuk memperdalam minat mereka secara sukarela.

Ketiga, penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler memerlukan sumber daya manusia dan dana yang masih merupakan kemewahan bagi sekolah-sekolah di banyak daerah. Program-program ini umumnya belum dapat diadakan secara gratis sehingga hanya dapat diikuti segelintir siswa.

Tak dapat dimungkiri kegiatan ekstrakurikuler meningkatkan kecakapan hidup siswa, mengasah kepekaan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan kepemimpinan serta wawasan siswa. Partisipasi aktif siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler sering menjadi nilai plus dalam lamaran beasiswa atau pekerjaan. Namun, dalam kondisi daerah dan sekolah dengan keterbatasan yang beragam, pilihan yang lebih bijak ialah bukan mewajibkan kegiatan ekstrakurikuler, melainkan menguatkan pembelajaran di sekolah untuk membentuk budi pekerti dan kecakapan hidup siswa. Idealnya, sekolah mampu mengembangkan semua kecakapan hidup itu melalui kegiatan pembelajaran yang melibatkan ragam aktivitas keterampilan, kegiatan kolaborasi, riset, keterampilan, musik, seni, dan olahraga sesuai dengan kekayaan dan potensi khas suatu daerah. Sekolah dan guru perlu terus didampingi untuk menciptakan pembelajaran yang kontekstual dengan kondisi daerah dan kreatif.

Regulasi pendidikan seharusnya tidak mengontrol waktu siswa seusai jam sekolah karena ini akan mencabut fungsi pengasuhan dan pendidikan yang seharusnya melembaga dan tumbuh dalam keluarga dan masyarakat. Mari kita benahi apa yang lebih esensial; meningkatkan kapasitas guru dan sekolah dalam mengembangkan kegiatan intrakurikuler yang berkualitas sehingga mengembangkan kompetensi intelektual, sosial, dan spiritual siswa. Untuk tujuan ini, kegiatan kokurikuler di luar kelas dapat dikembangkan untuk memastikan interaksi pembelajaran yang bermakna dapat diciptakan siswa di rumah, di komunitas, dan ruang belajar lain di luar sekolah. Bukankah ini yang menjadi mandat dalam kurikulum nasional dan pelibatan publik dalam pendidikan?

http://pmlseaepaper.pressmart.com/m…#

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: