//
you're reading...
Human being, Kemandirian, Motivasi, Perubahan

Responsibility vs Intelligence

Pagi ceria Ayah dan Bunda, “semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin”.
Pasti doa Ayah dan Bunda menyertai langkah kami rangmuda/i.

Tidak ada peristiwa yang tidak sarat makna. Hampir setiap kejadian yang menyertai kita, dipastikan ada maksud dan tujuan. Kalaupun merasa tidak disengaja ada aktivitas kita saat ini, banyak kebermungkinan yang bisa kita ambil. Dan itu sesungguhnya adalah pendidikan langsung dari Allah Rabb Seluruh Alam Semesta.

Seperti program rantau SM Sekolah Alam Tangerang saat ini. Yang tanpa ragu memberangkatkan kelas perdananya untuk menjalankan misi rantau ke Pare. Tidak berlebihan program ini cukup berani, karena yang berangkat adalah anak-anak yang baru pertama kali keluar rumah ‘lepas’ dengan orangtua mereka. Setelah lulus sekolah dasarnya.

Bersepuluh “inclued” dua mentor, rangmuda/i meninggalkan rumah mereka untuk sesaat merantau di Kampung Inggris atau banyak juga yang menyebut Pare Inggris dan disingkat “PARIS”.

Target yang hendak dicapai selain skill bahasa (suasana atau miliu bahasa) adalah tiga karakter yang menjadi konstruk pendidikan SM SAT (Kemandirian, Tanggungjawab dan Entreprenership).

Suasana atau lingkungan inilah yang sebenarnya yang dimiliki dan menjadi daya tarik tersendiri di Kota Kecil ini, Antropolog Barat menyebut kota ini Mojokuto (Hildred dan Geertz). Padahal nama kampung ini adalah Tulungrejo, “tulung-tulung dadi rejo” maknanya banyak menolong jadi sejahtera, begitu penjelasan filosofis dari salahsatu tukang sewa sepeda di pojok Jalan Anyelir yang pernah kami temui sambil menjelaskan makna Pare sesungguhnya bukan dari buah atau pohon pare tapi asal kata dari “Pelerenan”, tempat per-singgah-an “leren” atau peristirahatan.

Kembali ke perjalanan rantau. Tidak semua orang cerdas bisa bertanggungjawab atas tindakannya. Karena cerdas dan tanggungjwab adalah dua sisi yang berbeda. Namun, keduanya sangat signifikan dan bisa disatupadukan.

Karakter pertama ini yaitu “tanggungjawab” yang menjadi fokus dalam merantau ke guru alam dan guru ilmu serta guru kehidupan.

Tanggungjawab merupakan hal pokok yang harus dimiliki oleh setiap individu diera global. Tanpa tanggungjawab sulit rasanya bisa melejitkan potensi-potensi lain yang Allah hadirkan.

Tanggungjawab yang dimaksud adalah kesadaran yang muncul dari dalam “self awareness” untuk menanggung segala konsekwensi apa yang dilakukan baik maupun buruknya. Sehingga tanggungjawab menjadi karakter inti dari orang-orang yang sukses, karena tahu posisi dirinya sudah dimana dan.melakukan apa.

Satu pekan pertama ini bisa menjadi adaptasi luar biasa untuk memulai tanggunjawab bagi mereka rangmuda/i. Bukan tanpa masalah atau tantangan disini. Justru program ini terlihat dengan “kentara” lebih jelas, siapa diantara mereka yang sudah muncul rasa tanggungjawab dalam setiap tindakan dan aktivitas yang menjadi pilihan atau program mereka.

Hasilnya, masih butuh dorongan, diingatkan, didampingi, diteladankan. Dan setiap mereka memiliki potensi unik dalam mengambil peran dan tanggungjawabnya masing-masing. Ini yang menjadi dasar dan motivasi bersama bahwa hanya berdamai dengan waktu saja mereka akan memiliki tanggungjawab atau responsibility. Dengan penuh kesadaran. Mungkinkah? Semoga dengan doa, yakin dan berjuang keras kita semua, sesuatu yang sulit menjadi mudah dan menyenangkan.

Gairah merasa mudah dan menyenangkan ini bukan tanpa alasan menjadi modalitas kita bersama. Karena, aktivitas apapun tanpa diawali dengan rasa menerima (apapun kondisinya), merasa senang dan bergairah sulit rasanya dijalankan dengan ringan. Yang ada adalah merasa terbebani, hanya sebagai tugas paksa yang harus dijalankan. Namun sebaliknya, dengan gairah rasa senang menjalankan segala aktivitas saat ini, tanggungjawab apapun yang diperankan mereka akan berubah wujud menjadi sebuah kebutuhan namun tetap ada rasa senang (need so happy).

Jika kebutuhan sudah menjadi daya gerak seluruh aktivitas mereka, maka permohonan minta pulang yang sebelumnya terucap (dengan serius atau setengah bercanda) ketika sampai di kampung rantau “Pare” ini berubah menjadi keyakinan bersama “kami harus menyelesaikan” misi yang sangat singkat hanya dua bulan. Dibandingkan tanah rantau sesungguhnya kelak.

“Silahkan pulang sekarang”, kata salah satu mentor.
“Ini saya segera hubungi orangtua kamu, dan ini buat ongkosnya” imbuhnya tanpa ragu.
Ini salah satu adegan yang di awal pekan kedua ini bisa disaksikan.
Karena, mungkin jiwa mereka yang.masih lugu dan tulus serta lembut. Ucapan yang.menantang dari salah satu mentor terkadang dimaknai sebagai “kemarahan”, padahal justru ingin menegaskan kembali apa makna sesungguhnya tanggungjawab bersama, berani memulai harus berani mengakhiri.
Tak sedikit kadang karena kelembutan jiwa mereka “air mata” pun meluncur tak bisa ditahan.

Demikian terkadang rasa iba kami sebagai mentor, sehingga terkadang merasa bersalah, seperti kejadian awal pekan ini harus berupaya menetralisir salah satu rangmuda yang bergemuruh menangis setelah ditantang oleh kami “silahkan pulang”. Berkali-kali kalimat “silahkan pulang” dilontarkan, hanya dengan gelengan, ya hanya dengan gelengan kepala sambil terus terisak rangmuda tadi mencoba meyakinkan diri bahwa ia mampu bertahan. Perasaan rindu yang tertahan, dengan kedua orangtua pun menjadi jawab mengapa mereka ingin sekali pulang namun harus tetap bersama sengan sahabat-sahabat seperjuangan lainya.

Seperti uap air yang naik karena evaporasi, akhirnya melalui proses tersebut terjadilah kondensasi menjadi bulir-bulir salju yang siap diteteskan turun ke bumi, dan hujan inilah yang.menghidupkan bumi yang gersang. Demikian juga “hujan air mata” diantara mereka yang akan menyuburkan tanggungjawab mereka untuk menyelesaikan tugas dan misi yang tidak ringan bagi rangmuda/i yang.masih cukup belia.

Selamat sahabat kami, teman-teman dan kakak-kakak mentor yang mendampingi akan selalu belajar tentang tanggungajwab, walaupun harus tertatih, bahkan terpaksa harus jatuh terjerembab. Pun “kami tidak akan menyerah dan kalah”.

Selamat kepada orangtua Ayah dan Bunda, yang telah yakin dan penuh harap kepadaNya (khauf melahirkan raja’ kepadaNya) bahwa melalui proses langsung meng’alami’ kehidupan nyata diluar sana “rantau” adalah pendidikan karakter yang akan menguatkan seluruh sumber daya yang mereka miliki (thingking, feeling dan behavior: pemikiran, perasaan dan perilaku).

“Jangan pernah kalah dan menyerah”, ini mantra yang bersama-sama kami rapalkan dalam setiap langkah. Sebagaimana Eyang Habibie ajarkan dalam bukunya “Jangan Pernah Menyerah”. Kalimat ini pula yang beliau rapalkan dalam setiap langkah di rantau “German” yang karenanya telah membesarkan namanya. Menjadi guru ilmu pengetahuan bagi seluruh umat manusia.

Terimakasih Ayah dan Bunda selalu membersamai kami dalam setiap langkah, walaupun letak geografis terpisah. Kebersamaan “komunikasi” ini Ayah dan Bunda bak embun pagi yang berselimut oksigen di pagi hari, menghangatkan dan menghidupkan. Walaupun hanya melalui kata tanya, “hari ini makan apa?”, “lauknya pakai apa?”, “betah ya sekarang?”, “uang jajannya masih ada”?, dll. Dan ternyata kecerdasan merubah tantangan menjadi peluang (Adversity Question) atau AQ sedang bersama-sama kami lalui, orangtua, rangmuda/i dan tim mentor. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan kebaikan dan kebajikan. Amiin…

Paris (Pare Inggris), 13/8/2016
Mentor Surau Merantau,
Aan & Nurma
(coretan akhir pekan “Rantau Rangmuda/i SM 2016”, semoga dikuatkan menulis sambungannya next week: integrity/kemandirian)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: