//
you're reading...
Human being, Life style, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Cara Pikir Fatalistik: Lahirnya Generasi Picik

Oleh: DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum
KOMPAS, 12 Aug 2016

Bosan rasanya menghadapi orang-orang yang hanya bisa mempunyai pilihan “this or that” – alias kalau bukan begini, pasti begitu. Seakan-akan dunia ini hanya monokromatik.

Kalau mau sehat, alamat enggak bisa makan enak. Kalau mau nilai bagus di sekolah, alamat Puasa nonton televisi. Kalau mau karir sukses, alamat perkawinan di ujung tanduk. Kalau pabrik rokok tutup, petani tembakau mati.

Bukankah sehat juga tetap bisa makan enak? Tuhan menciptakan rasa nikmat di lidah bukan sesuatu yang berdosa kok. Tergantung jenis makanan enak apa yang dimakan.

Begitu pula menjadi juara di sekolah tidak sama dengan jadi anak kuper. Tetap masih bisa menonton televisi bahkan semalam sebelum ujian, karena belajar itu bukan sistem kebut semalam – melainkan pemahaman ilmu yang dicicil sedikit demi sedikit.

Tetap menanjak di karir, dengan hubungan keluarga yang semakin mesra – karena tujuan mencari uang justru untuk kebahagiaan keluarga.

Begitu pula petani tembakau tetap hidup, jika tembakau dialihkan sebagai bahan baku pestisida alami, bukan pemati bangsa manusia.

Jika ditelaah dalam bahasa pelatihan motivasi yang sedang marak itu, bisa jadi hal yang di atas tadi adalah fenomena kebiasaan perilaku ‘menang-kalah’ yang semestinya bergeser menjadi ‘menang-menang’. Jika mau menang beneran di semua area kehidupan.

Ketika pembiaran jadi pilihan

Kenyataannya, praktik tidak berjalan semulus teori. Mengapa? Sekali lagi, masalah pembelajaran, pembiasaan dan pembiaran.

Tanpa sadar orangtua mengajari anak hanya punya dua pilihan. Lebih celaka lagi, pembelajaran dilakukan dengan cara klasik punishment and reward. Anak hanya sekadar mengejar apa yang menguntungkan (termasuk bila berbohong ternyata ampuh) dan menghindari yang menyakitkan.

Jika semua gagal dan akhirnya menemukan jalan buntu, pembiaran menjadi opsi. Tak pelak, dunia kesehatan juga begitu rupanya.

Jika di kamar praktik, dokter irit bicara dan hanya memberi perintah: “jaga pola makan ya” atau nasehat klasik, ”perbanyak olah raga dong” – tanpa menjelaskan detil makanan yang sebaiknya dikonsumsi seperti apa, mengapa begitu dan apa jalan keluarnya bila sering ke luar kota atau rutin dinner meeting, maka pasien diabetes dengan kegemukan sudah tentu akan merasa patah arang.

Fatalistiknya? Obat satu-satunya jalan keluar. Padahal, tidak menyelesaikan masalah sama sekali. Semua asosiasi kesehatan di muka bumi ini mengakui, jalan terbaik adalah perbaikan gaya hidup dan pola makan – karena penyakitnya berasal dari situ.

“Bermain cantik” bukan hanya milik pemain panggung entertainment atau pelobi ekonomi. Cara pikir fatalistik akan melihat betapa frustrasinya pemimpin Indonesia mengurus negara dengan jumlah pulau lebih dari 17 ribu ketimbang perdana mentri Singapura mengatur sebuah pulau yang tak lebih besar dari Bali.

Di sisi lain, cara pandang transformatif akan melihat kokohnya Indonesia, jika cara pimpin setiap gubernur berintegritas sama seperti seorang perdana mentri Singapura mengurus negaranya. Bukankah cukup banyak orang pintar yang sudah siap menjadi gubernur?

Beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan menikmati kemacetan panjang dari Kudus hingga kota Semarang. Sepanjang jalan alternatif yang agak ‘blusukan’ masuk kampung, saya saksikan sendiri begitu banyak pohon pisang sehat-sehat berbuah ranum menjuntai, suburnya tanaman singkong di setiap petak kebun, bahkan pohon pepaya tak mau kalah memamerkan hasil buahnya. Tak ada satu pun tanaman nampak kurus apalagi berpenyakit.

Melihat fenomena gemah ripah loh jinawi serupa itu, saya masih berharap adanya kesalahan data statistik Riset Kesehatan Dasar 2013 yang menyatakan 93.5% penduduk Indonesia di atas usia 10 tahun kurang makan sayur dan buah. Paling tidak di sudut penghujung kabupaten Kudus itu.

Keterlaluan sangat, jika anak-anak desa dijejali susu kental manis dan biskuit murahan berkat suksesnya iklan, sementara hasil bumi yang melimpah ruah demi uang semata dilempar ke luar wilayah mereka. Atau, diserap industri dijadikan ‘makanan olahan’.

Cara pandang fatalistik akhirnya hanya berorientasi pada uang dan penghasilan berupa uang, bukan melihat kemakmuran dari sudut pandang kecukupan gizi anak, tumbuh kembang atau bayi lahir sehat dari ibu yang siap menyusui dua tahun penuh.

Cara pikir fatalistik menutup kemungkinan hubungan lintas sektoral, seakan masalah kesehatan itu tanggung jawab personel kesehatan.

Padahal, saya bermimpi suatu hari ada mentri kesehatan duduk bersama dengan mentri pendidikan dan mentri kelautan, membuat modul ‘Anak Indonesia Makan Ikan Tiga Kali Seminggu’. Tanpa harus dijejali ekstrakurikuler hingga “teler”, anak cerdas mampu kreatif memanfaatkan waktu pulang sekolahnya ketimbang jadi begal.

Tanpa harus membuang ikan busuk 5 ton per hari kembali ke laut, nelayan Aceh mampu memberi makan anak-anaknya dengan hasil tangkapannya.

Tanpa harus mengadakan seminar khusus tentang upaya promotif dan preventif, anak-anak cerdas akan mendorong orangtuanya untuk hidup lebih sehat dan produktif.

Semoga semuanya itu bukan mimpi yang ditertawakan oleh para petinggi partai. Semoga kehidupan berbangsa dan bernegara kembali pada khitahnya, menempatkan rakyat sebagai tujuan. Bukan sarana menggapai hirarki kekuasaan dan monopoli ekonomi.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: