//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Kemandirian, Lingkungan, Motivasi, Perubahan

10 Agustus 1995 s/d 10 Agustus 2016 , Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Kemana Melangkah Pergi ?

10 Agustus 1995 s/d 10 Agustus 2016 , Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Kemana Melangkah Pergi ?

Jusman Syafii Djamal

Hari ini Hari Kebangkitan Nasional. Sudah sejak tahun 2013, dihari ini saya buat acara sendiri diperpustakaan pribadi. Saya mulai mengklasifikasi kumpulan tulisan saya di facebook yang dikoleksi.

Awalnya tahun 2011saya mulai sering menulis catatan di facebook, dimalam hari atau pagi hari ketika ada sesuatu terlintas dikepala. Setelah membuat 100 catatan, seorang teman bilang tulisan saya bagus dibukukan.

Anjuran teman ini, kemudian saya lakukan tahun 2013. Agar punya milestone dan tenggat waktu saya mulai program mengumpulkan tulisan yang berserak dan mengklasifikasinya serta mengedit buku diawali setiap tanggal 10 Agustus untuk mengumpulkan catatan yang terserak dalam facebook.

Hasilnya Dua Buku dari Trilogi catatan fb telah terbit. Senang karena banyak komentar. Ada yang bilang jelek, banyak yang bilang terinspirasi. Alhamdulillah. Buku kedua berjudul Notes on Strategy. Buku pertama berjudul Notes on Leadership. Buku ketiga sya mulai hari ini, akan diberi judul Notes on Techno Economy and Innovation.

Mengapa kumpulan tulisan kali ini saya beri judul Notes on Techno Economy. Sebab hingga kini saya punya kerisauan sebagai seorang Insinyur Penerbangan. Saya amati teknologi yang dikuasai dan inovasi yang diciptakan oleh putra putri Bangsa Indonesia, masih saja dipandang kekuatan yang bergerak dalam orbit berbeda atau faktor yang berada terpisah dari Pertumbuhan Ekonomi.

Terus saja muncul anggapan bahwa Penguasaan Teknologi dan membangun kekuatan Industri Nasional, itu tidak gampang dan hanya membuang buang ongkos, sumber daya dan kekuatan finansial. Padahal Teknologi mudah dibeli sebagai produk jadi dari supermarket dunia. Semua sudah tersedia dan diproduksi di Negara lain. Mengapa pula kita perlu pusingkan, strategi dan langkah sistimatis untuk menguasainya. Cukup jadi operator såja.

Kini, kita jauh tertinggal. Infstaruktur iptek tidak tersedia. Laboratorium di Institusi Teknologi yang kita miliki seperti ITB sudah ketinggalan zaman. Sementara Teknologi apa saja yang diperlukan mudah dibeli. Mengapa kita sebagai Bangsa mesti menguasai dan memproduksi Teknologi ? Hanya buang fikiran dan alokasi anggaran saja. Mengapa perlu pelihara sapi sendiri , jika ada satay house bisa dikembangkan tanpa perlu bangun peternakan sapi di sini. Cukup impor saja daging dari lain. Jika perlu jeroan juga tersedia,

Begitu juga mau handphone, banyak merk bisa di beli. Yang low End dengan harga dibawah 500 rupiah ada. Mau yang high end diatas 10 juta tersedia. Tinggal beli. Untuk apa punya industri handphone.

Bis dan angkutan umum massal ? Mau pesan ribuan bis, mengapa sukar tinggal datangkan bis dari Swedia, Jerman ataupun China dan Jepang Korea. Kereta Api juga demikian, kenapa kita masih mempertahankan INKA di Madiun, ada Korea, China dan Jepang.

Dulu waktu sy masih kecil handuk, sabun, kecap, dan segala jenis produk rumah tangga ada label Made in Indonesia. Tahun 60 an Jembatan Semanggi, Stadion Senayan,Mesjid Istiqlal semua kontruksi dominan Made in Insinyur Indonesia. Tahun 70 an Textile, Sepatu, Baju banyak Made in Indonesia. Tahun 80 an produk elektronika, otomotip dan besi baja pipa gas dan pabrik petrokimia, buatan sendiri dari bumi indonesia. Tahun 90 an Bis, Kereta Api, Kapal dan Pesawat Terbang.

Kini atas nama Globalisasi, liberasi dan pasar bebas, Masyarakat Ekonomi Asean serta untuk efisiensi, produktivitas, quality cost and delivery semua produk dapat diimport dari luar negeri. Mindset fikiran yang secara sistimatis membentuk tembok untuk membonsai industri nasional. Industri Nasional kini tidak mengalami proses evolusi tumbuh berkembang, bertahap maju dan sustain. Melainkan alami proses involusi mengkerut layu dan mati.

Kata Made in Indonesia kini terasa asing ditelinga.

Setelah Asian Crisis, kepercayaan pada kekuatan Industri Nasional runtuh satu demi satu. Diawali dari pembubaran Badan Pengelola Industri Strategis, Induk Holding BUMN Industri Strategis seperti IPTN, Pindad, Krakatau Steel, INKA, INTI dan LEN.

Semua Industri Nasional kini seolah berjalan tanpa pola dan roadmap sebagai suatu kesatuan sebagai Indonesian Inc. Paling tidak itu keluhan yang saya terima ketika berdialog di ITB tiga hari lalu. Kita kehilangan elan vital untuk menguasai teknologi, karena seolah tak memiliki sasaran strategis dan roadmap serta strategi penguasaan teknologi.

Kita kini disibukkan dengan upaya membangun cerita pada anak cucu bahwa Teknologi dunia sudah berubah pesat. Apa yang kita kuasai kini sudah kadaluarsa. Sebagai bangsa kita perlu belajar dari nol lagi. Semua dianggap kurang, ada jurang keterampilan menganga. Skill gap.

Sebelum tahun 98, jumlah Insinyur masih sedikit, tapi produk berlabel Made in Indonesia lumayan banyak. Kini Insinyur bertambah , Made in Indonesia makin berkurang. Kita semua bilang kalah bersaing. Takut bertarung dan jago kandang. Yang salah diri sendiri. Tiap hari ada instropeksi, kurang ini dan itu.

Sementara setelah tahun 1998, titel insinyur lebih sulit diperoleh. Tak semua lulusan ITB dan ITS langsung disebut Insinyur, Ingineur. Ada jenjang yang harus diikuti. Semua membuat batas gerak maju. Kapan disebut Sarjana, Kapan dibilang Insinyur Profesional. Tak semua orang yang mampu berkuliah bisa disebut sarjana, begitu juga tidak semua yang sarjana teknik bisa disebut Insinyur. Ada jenjang sertifikasi yang harus diikuti. Siapa yang mensertifikasi dan apa saja saratnya tergantung siapa Boss nya. Tak ada yang baku.

Awalnya semua dibilang Sarjana Teknik. Sarjana Strata Satu belum punya keterampilan apa apa. Masih perlu tambah 2 atau 3 tahun lagi untuk punya sayarat menjadi Insinyur muda. Tidak semua Sarjana Teknik yang baru lulus boleh diakui gelar insinyur nya oleh Persatuan Insinyur Indonesia.Perlu pengalaman kerja dan testing serta ujian untuk diakui sebagai insinyur. Bahkan lulusan universitas ternama baik dalam negeri dan luar negeri tak boleh disebut insinyur.

Yg dinilai pengalaman kerja, Sementara kesempatan untuk mendapatkan pengalaman sukar dikar. Saya jadi inget ketika zaman Orde Baru, untuk jadi Presiden syarat utamanya adalah pengalaman lima than. Akibatnya hanya satu orang yang memenuhi start ?

Jika ada Sarjana Tekni lulusan ITB atau ITS ambil S2 di Delft dan kemudian ambil S3 di MIT Amerika atau , Princeton , Grand Ecole Perancis atau menempuh S2 dari Brausweigh sampai di Indonesia tidak mungkin langsung diakui sebagai insinyur perdefinisi.

Perlu ikuti apa yang disebut test kesetaraan utk disertifikasi ijazahnya dan keahliannya. Proses baku dibuat, yang jarang diamati siapa yang punya hak menguji siapa. Bukan tidak mungkin lulusan teknik penerbangan diuji oleh mereka yang berkeahlian teknologi pertanian. Banyak orang menganggap itu tidak penting. Yg utama ada proses berbelit untuk diakui. Kita memperumit diri sendiri. Sementara negara lain mempermudahnya.

Akibatnya saja dititik awal saja Manusia Bersumber Daya Iptek kita sudah mengalami rintangan untuk punya akselerasi dan mendapatkan kepercayaan dari Bangsanya sendiri. Tak heran dikemudian hari kita kedodoran dalam Competitiveness. Karena Administrasi dan birokrasi. Ibarat ular memakan buntutnya sendiri. Melingkar tanpa kemajuan berarti.

Tak heran kini ada ketakutan Indonesia kekurangan puluhan ribu insinyur. Karenanya kita boleh impor Insinyur. Asal warga negara asing kalau di negaranya disebut insinyur kitapun mengamini. Meski yg dari luar Negeri tak lulus Test Insinyur dari PII. Impor lebih utama dari ekspor.Kini banyak anak anak tak menyenangi Matematika, Fisika dan Kimia ,Biologi atau Hard Sciences. Semua ingin milih jalur Soft Sciences.

Dimasa depan bukan tidak mungkin kita kekurangan Dokter dan Ahli Pertanian. Kita akan terus menuju bangsa yang tidak peduli pada kekuatan Industri Nasional. Tekad untuk jadi Negara Produsen jauh panggang dari api. Ada yang menyebut saya pesimis. Tapi saya hanya menyajikan fakta. Apa benar begitu marilah diverifikasi.

Program pembangunan infrastruktur kini didorong oleh Presiden Jokowi. Sebuah langkah berani.Momentum pengembangan Manusia bersumber daya iptek telah dibuka dan dirintis atas inisiatip Presiden Jokowi.

Pembangunan infrastruktur oleh Presiden diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, efisiensi ekonomi dan juga menunrunkan biaya logistik di Indonesia. Satu kali tepuk banyak tujuan dapat dicapai. Dengan begitu pembangunan infrastruktur harusnya jadi wahana transformasi keahlian dan pemnguasaan teknologi. Jadi arena untuk membangkitkan keahlian insinyur muda baru tamat ITS, UI, Gajah Mada, ITB dan perguruan tinggi yg punya program studi Fakultas Teknik.

Sayang kini begitu banyak aturan yang dibuat. Tak mudah mereka baru lulus sarjana menjadi tenaga inti. Sebab diperlukan dua tahun pengalaman untuk dapayt diakui keinsinyurannya. Sarjana Teknik tak boleh disebut insinyur. Jadi karenanya semua Sarjana Tekni harus merangkak dari bawah. Seolah hanya menguasai ilmu ketukangan dan bisa dimasukkan dalam arena bersaing dengan lulusan D1,D2 dan D4.

Makin modern masyarakat makin berbelit sertifikasi.

Gelar insinyur pun kini dipandang sebagai produk jadi. Hanya yg berpengalaman dan lolos sebagai produk yg diakui. Padahal ketika ir Sutami memimpin proyek pembangunan Jembatan Semanggi dan Bung Karno perintahkan Rooseno, Sutami, Silaban bangun Gelora Bung Karno, Semanggi, Istiqlal yg memimpin dan dominan adalah insinyur muda baru lulus dan tak punya pengalaman.

Tahun 82 ketika Prof BJ Habibie terima sy jadi karyawan Nurtanio, beliau langsung bilang begini : jusman ada dua jalur untuk jadi insinyur proessional. Ketika bertemu pertama kali beliau memeluk saya. Sekarang kamu insinyur muda. Junior Engineer. Murid nya Toy (alm Prof Oetarjo Diran).

Alm Ibu Ainun, yang selalu berada disebelah beliau, saya ingat kurang lebih beri komentar : “jusman jadi insinyur mesti rapi jangan pake jeans , kaos dan sepatu sendal kalau ke kantor”. Sambil senyum. Sebab ketika itu dihari jumat dan saya dipanggil ketika sedang berjalan mau pulang dari kantor. Jadi karena mau naik motor tak pelak pakaian harus diganti . Ditengah jalan ada panggilan. Pakaian “perang” masih melekat.

Sunggu ingatan dari suatu Rendezvous, pertemuan awal yang membangkitkan semangat. Ada trust dari orang tua pada anak anaknya.Sejak itu saya selalu dikenalkan sebagai anak intelektual beliau.

Dengan kata lain, yang ingin saya ketengahkan, adalah proses rekruitment sarjana baru selalu diberi motivasi untuk bangkit menjadi awal munculnya rasa cinta pada profesi. Tidak ada kendala. Sentuhan emosi dan pujian yang memancing “engagement”, keterlibatan hati untuk mengabdi profesi.

Saya yang ketika itu baru lulus , tanpa diuji langsung diberi predikat Insinyur muda. Tak perlu menanti dua tiga tahun pengalaman. , Cukup dgn mengetahui sy murid Prof. O Diran yg dikenal baik, sy langsung dicemplungin untuk bekerja di Getafe Madrid, Pabrik Pesawat Terbang.Tanpa pengalaman disana sy langsung diberi tanggung jawab dalam bidang rekayasa dan rancang bangun. Tupoksi sy cuma satu learning by doing. Duduk ditengah persoalan, terseret dalam gelombang persaingan.

Jatuh bangun dalam proses introduksi teknologi, adopsi, difusi dan inovasi. Mastering technology through complexity of problems.Pak Habibie bilang ini uang disebut jalur pembudayaan. Akuisisi Teknologi melalui program sistimatis, bertahap dan bertingkat di lapangan kerja. Gelar Insinyur diperoleh sebagai produk pembudayaan dalam lapangan kerja. Ujiannya bukan tulisan, melainkan hasil karya, produk nyata.

Jalan kedua jalur Pendidikan, menguasai Teknologi melalui sekolah, laboratorium dan research di universitas. S1, S2 dan S3. Dua jalan sama penting dan terhormat u membangun manusia bersumber daya iptek.

Jalur pembudayaan Menguasai teknologi through learning by doing, ikuti teori Akamatsu social scientist Jepang tentang Flying Geese Paradigm. Kumpulan Angsa Terbang. Maju menguasai teknologi secara berjenjang, bertingkat dan berkesinambungan.Dengan kepercayaan yg sama tahun 1990 beliau nunjuk sy jadi Chief Project Engineer N250. Ketika awal ditunjuk tahun 90 megang jabatan tupoksi Chief project engineer, Sy tak punya pengalaman merancang pesawat terbang dari nol.

Prof Dr Ing BJ Habibie percaya sy punya talenta untuk jadi airplane configurator development, tugas engineering yg sulit itu. Ia percaya pd generasi muda.Dari pekerjaan insiyur muda yang baru lulus di perguruan tinggi seperti ITS, ITB, MIT , Delft, dan lain sebagainya pastilah memiliki bakat dan talenta untuk diasah dan dididik membangun ketekunan untuk menguasai keahlian.

Gelar insinyur dijadikan titik awal membangun Craftmanship dan Managerial skill on managing Technology. Kini apa yang saya peroleh secara kebetulan atas izin Allah tak mungkin muncul kembali, untuk sarjana teknik baru lulus dari Universitas. Banyak tembok yg harus diliwati.Tak heran kita kekurangan insinyur.

Mindset yang menyatakan Teknologi sebagai produk jadi mudah dibeli dipasar, menyebabkan kita ingin ambil jalan pintas. Semua produk teknologi seolah dapat dilahirkan melalui surat perintah atau Instruksi. Kini semua proyek dan program berlomba menjadikan Kepres dan Inpres sebagai sasaran utama. Seolah dengan menyatakan bahwa Produk dalam Negeri menjadi prioritas kita langsung bisa memproduksi mobil, handphone , kapal laut, pesawat terbang dan kereta api.

Padahal menguasai Teknologi tak bisa dilakukan dengan sekedar menganggapnya sebagai produk jadi, yang mudah diperoleh di supermarket. Teknology hanya bisa dikuasai dalam suatu tatanan dan rencana yang baik. Dan jika ingin dikuasai maka teknologi harus dipandang dalam perspektip dalam tiga dimensi.

Teknologi dalam dimensi Systems, Process dan Product. Menguasai Teknologi berarti menjadi ahli yg bergelut dgn keindahan produk, dan amat menyenangkan untuk ditekuni.Ada ruang imajinasi, daya creative yg dibangun untuk ciptakan inovasi.

Jika kita ingin bangun Bangsa yg unggul, please Be Hungry and Foolish in mastering Technology kata Steve Jobs.

Dari pengalaman 20 tahun bekerja di industri pesawat terbang, sy punya keyakinan generasi muda Indonesia memiliki keunggulan dan mampu jadi insinyur yg menguasai Teknologi. Kita memiliki banyak talenta yg tidak pernah dipercaya dan diberi kesempatan.

Kita hanya ribut ketika talenta ini bekerja di luar negeri. Jadi insinyur atau lead engineer di Boeing, Airbus, Microsoft, Facebook dst. Kita malah mengecap mereka tidak loyal dan brain drain. Bangsa lain menghargai kita minta Surat Ijin Bergelar Insinyur.

Mengapa semua diam ketika ada yg bilang kurang insinyur puluhan ribu. Dan juga tak percaya pada keahlian manusia bersumber daya iptek Indonesia ?Karena insinyur seperti juga dokter, akuntan dan lawyer profesional biasanya diam dan hanya produk nya yg bicara ?

Begitu kira kira alasan mengapa buku ketiga catatan fb sy akan diberi judul Notes on Techno Economy and Innovation. Dan di hari yang mengingatkan saya akan terbang perdana Pesawat N250 yang saya ikut membidaninya, dijam yang mengenang bagaimana roda N250 terangkat dari bumi Indonesia mengudara seperti Gatotkaca, saya berdoa Bismillah buku ketiga saya akan dikumpulkan dan diedit kembali untuk diterbitkan.

Saya share disini sebagai introduksi. Mudah2an berkenan, Mohon maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: