//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Renungan

AyahBunda, Jangan sampai Surgamu di rampas seorang Menteri

Adriano Rusfi

Sungguh surga itu mahal, sementara umur yang tersedia rasanya tak cukup untuk menghimpun seluruh modal untuk membelinya. Ya, jangankan untuk membeli surga, bahkan sekadar untuk membayar setiap tetes karunia Allah di dunia, telah terkuras seluruh pahala keshalehan.

Untungnya Allah Yang Maha Pengasih memfasilitasi kita tiga amal lintas masa, yang buahnya ternikmati walau badan berkalang tanah : Shadaqah yang berdampak panjang, ilmu yang terus dimanfaatkan, dan buah hati shaleh yang selalu mendoakan.

Hari ini saya akan bicara tentang yang ketiga : anak shaleh yang mendoakan. Inilah investasi akhirat kita. Merekalah yang membuat asa kita tetap terjaga akan indahnya hidup sesudah mati. Di tangan keshalehan merekalah kita masih bisa mengumpulkan harta untuk kita belanjakan membeli surga. Namun doa anak shaleh itu ada syaratnya : bahwa kita, ayah dan bundanya sekaligus, mendidik mereka diwaktu kecil… Kamaa rabbayaanii shaghiiraa…

Ayahbunda… kata “rabbayaa…” maknanya bukan semata-mata menyayangi dan mengasihi, tapi mendidik, mentarbiyyah. Dan dilakukan oleh keduanya : ayah dan bunda. Ayahbunda… sungguh buah dari mendidik anak itu sangat manis : do’a lisan shaleh yang berbuah surga. Maka, korbankanlah apapun agar mampu mendidik mereka. Lupakanlah kegemilangan karir agar tersedia cukup waktu mengasuh mereka. Jangan tergoda gelimang harta jika itu menjauhkan tangan kita untuk memeluk mereka berlama-lama.

Belakangan ini seorang menteri dari sebuah negeri yang tak pernah bersahabat dengan masa depan, telah menjadikan kesibukan anda sebagai alasan untuk menjauhkan anda dari investasi surga anda. Ya, dari anak-anak anda. Ia ingin anak-anak anda bersekolah sepanjang waktu, dari pagi hingga petang : Full Day School. Ia mengira generasi shaleh lahir jika anak tak berkeliaran di kehidupan. Ia merasa bahwa karakter mulia akan terbentuk di balik pagar yang terpisah dengan ganasnya kenyataan. Ia menduga bahwa keshalehan lebih terjamin di bawah asuhan guru profesional berbayar, dan ayahbunda cukup fokus mencari nafkah untuk membayar mereka.

Ayahbunda, tapi kita juga harus adil menilai, bahwa menteri tersebut tak sepenuhnya keliru. Ia hanya menyerah pada kenyataan, bahwa kini anda terlalu sibuk dengan karir dan penghidupan anda, lalu anak anda pulang sekolah tanpa kehadiran anda, membuat ulah di jalan tak terawasi. Menteri itu hanya menawarkan solusi tambah-sulam, bahwa ketika anda tak mendidik anak anda maka sekolah siap menggantikannya. Menteri tersebut hanya menawarkan sebuah jalan pintas, bahwa kalau anda lebih mengutamakan mencari uang, maka sisihkanlah sebagian uang itu untuk membayar para pendidik profesional.

Yah maklumlah, mungkin ini memang eranya revolusi mental : cepat, instan, dan hasil tampak segera-seketika berskala raksasa. Menteri lama mungkin sedang menyiapkan solusi radikal berjangka panjang untuk melibatkan ayahbunda kembali dalam pendidikan buah hati.

Sayangnya terlalu lama dan tak revolusioner. Maka, siapapun menteri yang tak mampu memberikan buah-buah karbitan berkualifikasi sim salabim, silakan menyingkir !!! Bahwa, karya-karya secepat kilat itu ternyata hasil dari sebuah seni tambal-sulam, itupun tak mengapa. Pokoknya, kuncinya satu : kerja… kerja… kerja…

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: