//
you're reading...
Lingkungan, Pendidikan

Apa yang Dapat Anda Lakukan untuk Mendukung GLS (Gerakan Literasi Sekolah)?

Hernowo Hasim
August 8, 2016

“Keseluruhan proses itu menggambarkan literasi tidak dapat dimaknai secara sempit sebagai kegiatan membaca dan menulis semata. Literasi ilmiah melibatkan proses menafsir dan merefleksi. Dalam proses itu, menulis ialah produk dari membaca kritis. Menulis ialah sebuah proses menciptakan teks. Penulis mengendapkan teks bacaan dalam dirinya, lalu membandingkannya dengan fenomena sosial di sekitarnya. Penciptaan teks dengan demikian bukan hanya merupakan proses konstruksi, melainkan juga reproduksi dan intertekstualitas. Penulis menyintesis dan mengambil jarak dari pemikiran yang sudah ada, kemudian meramunya dengan penghayatan penulis terhadap teks sosial atau realitas kehidupan.”
—Sofie Dewayani, Ph.D., dalam artikelnya, “Literasi Ilmiah yang Digegas”

Kutipan yang mengawali tulisan saya ini berasal dari artikel menarik Sofie Dewayani yang berjudul “Literasi Ilmiah yang Digegas”. Artikel tersebut pernah dimuat di koran Media Indonesia pada tahun 2013. Di situ disebutkan pula siapa Sofie Dewayani. Sofie Dewayani adalah guru menulis dan tinggal di Bandung. Saya memperoleh artikel tersebut dari Sofie Dewayani dan saya baca belum lama ini.

Apabila kita sempat membaca buku-buku tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diterbitkan oleh Dirjen Dikdasmen Kemdikbud, kita akan tahu bahwa Sofie Dewayani merupakan salah satu anggota Satgas GLS Kemdikbud. Bersama Pangesti Wiedarti, Ph.D., Prof. Dr. Kisyani-Laksono, Pratiwi Retnaningdyah, Ph.D., dan masih banyak para ahli bahasa yang lain, Sofie ikut merumuskan konsep GLS. Saya bertemu dengannya ketika saya diundang untuk menjadi peserta aktif dalam FGD 3 perumusan sistem penjenjangan buku yang diselenggarakan pada 1-3 Agustus 2016 lalu di Hotel Grand Tjokro, Jakarta. Artikel Sofie yang saya kutip itu dikirim oleh Sofie lewat email di hari terkahir FGD 3. Saya menikmatinya ketika berada di kereta api yang membawa saya dari Jakarta ke Bandung.

Artikel tersebut diawali dengan sebuah cerita tentang seorang murid TK bernama Savannah yang sedang belajar menulis yang melibatkan kegiatan berpikir yang sangat kompleks. “Savannah bukanlah murid S-1, atau S-2, atau S-3 di sebuah perguruan tinggi bergengsi. Di kelas TK-nya yang riuh oleh celoteh itu, Savannah dan teman-temannya menelan ERR—edit revise rewrite—sebagai menu wajib sehari-hari. Bahkan ketika belum lihai merangkai alfabet menjadi kata yang punya makna, Savannah paham bahwa gambar, seperti halnya produk tertulis lainnya, belumlah final. Tulisan ialah produk sebuah dialog. Ia terbuka untuk ditentang, dipertanyakan, dan diubah. Sejak dini, Savannah belajar bahwa ketidakfinalan ialah fondasi dalam tradisi penulisan ilmiah,” jelas Sofie.

Di sini saya tidak akan membahas artikel Sofie yang dengan bagus menjelaskan proses belajar dan berlatih menulis anak TK bernama Savannah. Saya ingin membahas GLS dan apa yang dapat kita lakukan untuk meramaikan dan menyukseskan GLS? Lebih sederhana lagi, mungkin kita—sebagai orang awam—dapat bertanya kepada diri kita sendiri: “Apa yang akan saya lakukan terkait dengan literasi?” Literasi, seperti dapat kita baca dalam Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, sudah dimaknai sedemikian luas, kaya, dan kompleks. Literasi tak sekadar membaca dan menulis! Namun, anehnya, dalam buku Desain Induk GLS tersebut, yang dibahas dan dikupas tetap hanyalah ihwal membaca. Saya tekankan lagi: HANYA PERSOALAN MEMBACA! Bahkan tentang menulis pun tidak dikupas. Padahal, seperti ditunjukkan oleh Sofie, sejak TK Savannah sudah mulai dilatih untuk menulis karya ilmiah.

Baik, mari kita baca bersama materi buku Desain Induk GLS dari halaman awal hingga halaman akhir. Setelah halaman full title dan copy rights, ada “Kata Sambutan” dari Dirjen Dikdasmen, Hamid Muhammad. Di baris paling awal “Kata Sambutan” tersebut, kita sudah diberi penekanan tentang pentingnya MEMBACA: “Keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kita karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karena itu, keterampilan ini harus dikuasai peserta didik dengan baik sejak dini.” Tidak dijelaskan memang, yang dimaksud membaca ini apakah hanya membaca teks (tulisan) atau membaca yang lain? Namun, jika kita membaca baris-baris berikutnya, sepertinya yang dimaksud membaca di situ adalah membaca teks (tulisan) karena ada data dari PIRLS dan PISA yang menunjukkan tentang kemampuan membaca siswa Indonesia. Pertama, disebutkan bahwa “uji literasi membaca mengukur aspek memahami, menggunakan, dan merefleksikan hasil membaca dalam bentuk tulisan”. Kedua, “Data PIRLS dan PISA, khususnya dalam keterampilan memahami bacaan, menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah.” Ketiga, “GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah ‘kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai’.”

Lalu untuk apa kegiatan GLS diadakan? “Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan MINAT BACA peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik,” tegas Hamid Muhammad. Setelah “Kata Sambutan” yang memberi tekanan tentang MEMBACA TEKS (TULISAN), kita kemudian dapat melacak “Daftar Isi” yang berisi tentang Bab I Pendahuluan, Bab II Konsep Dasar, Bab III Pelaksanaan Literasi di Sekolah, Bab IV Monitoring dan Evaluasi, dan Bab V Penutup. Apa yang dapat kita temukan dan pahami dari “Daftar Isi”? Literasi—meski sudah dimaknai secara luas dan tidak sekadar membaca dan menulis lagi—tetap menekankan membaca teks, membaca teks, dan membaca teks. Dalam “Glosarium” saja, sekadar sebagai contoh, yang terletak di halaman 44 sebelum halaman “Referensi, kita akan menemukan istilah-istilah teknis dan praktis tentang membaca teks—tidak literasi yang lain. Ada “shared reading”, “sustained silent reading”, “read aloud”, dan “guided reading”. Jadi, ke mana membaca yang bukan membaca teks atau literasi yang tak lagi hanya membaca dan menulis?

Sekali lagi, jika Anda sempat membaca buku Desain Induk GLS, apa yang dapat Anda lakukan untuk mendukung GLS?[]

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: