//
you're reading...
Kajian, Pendidikan, Review

Apa yang anda pahami tentang Literasi?

Hernowo Hasim
August 6, 2016

Akhir Juli dan awal Agustus 2016, saya memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru tentang literasi. Mungkin kita sudah sama-sama tahu bahwa literasi saat ini tak hanya dimaknai dan dikaitkan dengan kegiatan membaca dan menulis. Literasi sudah berkembang ke arah bidang-bidang yang jauh lebih luas, kompleks, dan sangat kaya. Dari mana saya tahu tentang perkembangan dan perluasan makna literasi itu? Pertama, dari forum diskusi terpumpun (forum group discussion) perumusan kegiatan Teacher Supercamp (TSC) 2016 yang diselenggarakan oleh KPK. Kedua, dari forum diskusi terpumpun ketiga perumusan rancangan sistem penjenjangan buku untuk keperluan pendidikan di sekolah yang diselenggarakan oleh Dirjen Dikdasmen Kemdikbud.

Saya tentu dapat saja membaca makna literasi yang sudah meluas dan berkembang itu dari berbagai sumber—baik secara online maupun offline. Namun, dari interaksi dengan para peserta diskusi di kedua acara tersebut, mata dan pikiran saya benar-benar membuka sangat lebar dan menyadari tentang kecanggihan literasi di abad ke-21.

Dari kegiatan diskusi TSC 2016, saya memperoleh hal penting ini: literasi dapat melibatkan para guru untuk ikut mencegah meluasnya korupsi. TSC adalah program Komisi Pemberantasan Korupsi yang sudah berlangsung sejak 2014. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong para guru agar ikut aktif dalam menanam nilai-nilai antikorupsi di lingkungan sekolah. Para guru di seluruh Indonesia diminta mengirimkan karya-awal dalam bentuk konsep. Lantas karya-awal itu akan diseleksi dan yang terpilih akan diundang untuk mengikuti semacam “camp” kepenulisan di mana karya-awal itu akan dikembangkan menjadi karya yang lebih baik dengan bimbingan para ahli di bidangnya masing-masing. Anda bisa membayangkan kegiatan literasi antikorupsi yang melibatkan para guru di seluruh Indonesia ini dan dampak yang akan ditimbulkannya.

Dari kegiatan diskusi terpumpun perumusan sistem penjenjangan buku ketiga, saya memperoleh ini: Pertama, Indonesia ternyata belum punya buku-buku anak yang cocok dengan usia seorang anak secara tersistem. Kedua, literasi yang terkait buku dan membaca teks saja sudah begitu kompleks; dan Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara maju terkait dengan soal yang satu ini. Tentu saja, perlu saya tambahkan di sini—terkait dengan yang pertama—bahwa di Indonesia sudah tersedia buku-buku untuk anak yang beredar di toko-toko buku atau yang ada di perpustakaan. Namun, buku-buku anak tersebut tidak memiliki label atau tanda yang memudahkan para orangtua atau guru dalam memilihkannya untuk anak dan anak didiknya. Tentang yang kedua, saya berpendapat bahwa literasi yang terkait dengan buku dan membaca ini perlu dibereskan terlebih dahulu sebelum Indonesia membereskan literasi dalam bentuk lain.

Apa saja literasi dalam bentuk lain itu? Kita tahu bahwa Gerakan Literasi Sekolah (GLS)—yang satgas-nya diketuai oleh Ibu Pangesti Wiedarti, M.Appl.Ling., Ph.D—telah berhasil menerbitkan buku-panduan tentang GLS. Buku-buku itu berupa: (1) Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah, (2) Desain Induk GLS, (3) Panduan GLS di SD, (4) Panduan GLS di SMP, (5) Panduan GLS di SMA, dan (5) Panduan GLS di Sekolah Luar Biasa. Semua buku ini sudah diterbitkan dan disebarkan dalam bentuk cetak maupun online. Nah, dalam buku Desain Induk GLS, kita dapat membaca keterangan tentang makna literasi yang sudah meluas dan berkembang itu. Di bab ke berapakah? Di Bab II “Konsep Dasar”. Di Bab II ini dibahas ihwal (a) literasi, (b) komponen literasi, (c) literasi di sekolah, dan (d) ihwal literasi di sekolah.

Dalam memaknai literasi saat ini, GLS merujuk Deklarasi Praha (2003) yang menyebutkan bahwa “literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi di dalam masyarakat” dan UNESCO (2003) yang menyatakan bahwa “literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya”. Kata kuncinya: komunikasi dan hubungan sosial.

Apa itu GLS? GLS adalah “gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen”. Lantas, untuk mewujudkan gerakan sosial tersebut, dilakukanlah “pembiasaan membaca peserta didik selama 15 menit di sekolah”. Diharapkan, “GLS mampu menggerakkan warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk bersama-sama memiliki, melaksanakan, dan menjadikan gerakan ini sebagai bagian penting dalam kehidupan”.

Apa saja komponen literasi? Seperti sudah saya sebutkan sebelum ini, literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis. “Literasi juga mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi ”. Selanjutnya, merujuk ke Clay (2001) dan Ferguson, literasi informasi tersebut dipecah lagi menjadi enam komponen literasi: (1) literasi dini (early literacy), (2) literasi dasar (basic literacy), (3) literasi perpustakaan (library literacy), (4) literasi media (media literacy), (5) literasi teknologi (technology literacy), dan (6) literasi visual (visual literacy).

Terakhir, saya sempat membaca artikel Bu Pangesti di harian pagi Kompas edisi 11 Mei 2016. Bu Pangesti menambahkan dua komponen literasi. “Dalam konteks gerakan literasi sekolah, literasi dimaknai sebagai kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi dengan cerdas. Enam jenis literasi di atas belum cukup. Perlu ada literasi kesehatan, keselamatan di jalan, dan kini tampaknya diperlukan literasi kriminal,” tulis Bu Pangesti. Literasi kriminal? Apalagi

“Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, kriminal berkaitan dengan kejahatan (pelanggaran hukum) yang dapat dihukum menurut undang-undang pidana. Literasi kriminal berkaitan dengan pemahaman terhadap jenis kejahatan dan sanksinya sebagai risiko perbuatan merugikan pihak lain dalam berbagai bentuk: ancaman psikologis, penyiksaan, pelecehan, pemerkosaan, dan kematian.” Nah, selamat menjalankan literasi di abad ke-21.[]

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: