//
you're reading...
Creativity, Information Technology, Perubahan, Review

Virtual Reality, Augmented Reality and Artificial Intelligence sebagai Pembangkit Imaginasi dan Creativity — Bagian 1 dari 3 Catatan

Jusman Syafii Djamal

Semua orang kini tersihir oleh kehadiran pokemon go.

Di Amerika penggunanya sudah melebihi pengguna twitter. Lebih 20 juta pengguna aktip. Tiap hari bertambah. Di Indonesia semua orang sibuk melarang anaknya bermain dgb game ini. Segala ancaman bahaya dan cerita seram dibalik game ini dikemukakan para “ahli” dan pejabat.

Paradox terjadi. Ketika banyak pengusaha tradisional takut dengan ancaman business online dari manca negara seperti amazon, uber taxi, rbnb yg menggerus pasar domestik tanpa bayar pajak di Indonesia, semua “ahli” bilang pengusaha tradisional ketinggalan zaman dan tak faham digital economy serta “sharing economy”.

Padahal baik pokemon go maupun business online berdiri diatas fondasi digital technology.

Mengapa ada dua arus fikiran seperti ini ? Ujungnya pada pemahaman tentang Teknologi. Tak mudah kita memahami teknologi baik sebagai systems, produk maupun sebagai proses. Sukar mengenali arti dialektika teknologi yg bilang setiap pemanfaatan teknologi sebagai solusi masalah masa kini pasti memunculkan masalah baru dimasa depan.

Begitu juga dengan pokemon go. Jenis game baru yg disebut augmented reality yg dikembangkan inovator nintendo jepang untuk menembus dominasi samsung korea yg telah berhasil memproduksi VR googles, headset atau kacamata virtual reality.

Dua produk yg dikembangkan untuk membangkitkan daya imajinasi dan kreativitas. Agar anak anak mampu menjadi inovator dimasa depan.

Tiga anak saya sudah mabuk kepayang dgn game berbasis virtual reality. Tapi mereka belum jatuh cinta pada pokemon go. Kata mereka pada saya “kenapa ya Ayah, generasi tua takut pada hantu modern bernama game on line ? Tapi tak takut ancaman business online yg akan menghapus semua toko klontong dan pasar tradisional ?”.

Sy jawab bangsa Indonesia yg ayah tau tidak kenal rasa takut. Kita biasa bermain api diatas kepala, memakan beling dan menari diatas bara.

Sy bawa mereka menyaksikan dan Lihat keahlian penari dan penggiat kultur tradisional seperti debus, kuda lumping dan tari piring diatas kaca yg sering dipertunjukkan sebagai bagian upacara menyambut tamu.

Kalau ada pejabat melarang pegawai main pokemon go itu lebih untuk mengembalikan ethos kerja. Tak elok bermain game ketika sedang bertugas. Jam kantor jangan terbuang karena main game.

Sebuah upaya peningkatan prodkutivitas kerja yg patut diapresiasi.

Menempatkan paradox sikap terhadap “business on line” dan “game online” sebetulnya memerlukan pemahaman tentang “the role of technology in economic growth”.

Di Indonesia tidak banyak ahli ekonomi makro yang menganggap penting penguasaan teknologi oleh bangsa sendiri. Banyak yg menganut mazhab ekonomi yg bikang suatu wilayah dapat tumbuh berkembang tanpa harus kuasai teknologi. Sebab teknologi yg dikembangkan dibumi Indonesia adalah padat capital. Lebih murah beli produk jadi dan diimport dari luar.

Teknologi dipandang sebagai kekuatan eksogen. Bisa dibeli di supermarket pasar global, untuk apa diproduksi sendiri. Hanya membuang sumber daya saja. Seolah Equation of motions nya bisa dipisahkan dari Equation of motionsnya Economic Growth. Tak ada dalam kurikukum Fakultas Ekonomi yg menelaah Schumpeter, Robert Solow dan Nathan Rosenberg, ekonom yg faham tentan peranan teknologi dan entrepreneur barbasis konsep teknologi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Akibatnya dalam 12 paket kebijakan ekonomi tak muncul insentif fiskal bagi industri nasional yg memadai. Solusinya selalu meningkatkan peran luar negeri ketimbang membangkitkan kekuatan manusia bersumber daya iptek sendiri.

Karenanya cara kita memandang business online beda dengan game online. Business online dipandang tidak merusak bangun struktur ekonomi. Sebab pasar tradisional tergerus dengan produk dan proses business yg digerakkan dari kota dan desa Negara lain itu fenomena globalisasi perdagangan. Harus diterima sebagai realitas.

Akan tetapi “game online” merusak “inner spirit” jati diri bangsa. Kultur yg digerus.

Seolah debat struktur mempengaruhi kultur atau kultur mempengaruhi struktur muncul kembali. Apa benar begitu ? Ini wilayah ahli sosiologi dan psikologi sosial yg bisa menjelaskan nya.

Mungkin jika ada ahli sosiology seperti Anthony Giddens sosiolog Inggris yg telah menulis 30 buku dan 200 artikel tentang struktur masyarakat modern, pengaruh teknologi, peran aktor dan kultur politik ekonomi di Indonesia, kita tidak gamang dan bersifat mulur mungkret ketika dilanda demam pokemon go.

Mohon maaf jika keliru.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: