//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Renungan

Hidup Yang Membunuh Kehidupan

Oleh: Yudi Latif
(Kompas, Selasa, 26 Juli 2016)

Kewarasan memantulkan kesadaran bahwa bahwa hidup ini pendek, sedang kehidupan itu panjang. Demi keberlangsungan kehidupan, tiap-tiap saluran pendek sang hidup harus sama-sama mengalir menuju sungai panjang kehidupan yang menghanyutkan air hingga samudera impian kebahagiaan hidup bersama. Maka, janganlah sekali-kali keserakahan hidup mengorbankan kehidupan.

Agar hidup menumbuhkan kehidupan, fitrah manusia dibekali lentera kehanifan yang memandu nurani mengutamakan kebenaran dan keadilan lintas ruang dan waktu.

Namun, cinta dunia dan ketergesagesaan membuat penglihatan manusia rabun jauh; terperangkap dalam zona nyaman jangka pendek. Dalam kungkungan kepentingan sesaat, pancaran nurani redup tak mampu memandu jalan hidup. Sang hidup tak lagi merasa bersalah khianati kehidupan.

Masa kini tega membunuh masa depan. Anak-anak harapan diberi asupan vaksin palsu. Pendidikan sekadar ajang indoktrinasi dan komersialisasi, abai kembangkan potensi dan kreasi insani. Kedalaman ilmu dan kegairahan intelektual tergerus etos instrumentalisme. Olah karakter sedari dini berkesinambungan terpinggirkan olah kognitif jalan pintas. Pelajar yang harus dididik mandiri dan hidup bersama malah diminta diantar orang tua.

Kekayaan alam dikuras boros, lupakan kesinambungan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi dikejar tanpa mengindahkan nilai tambah. Keuangan negara bocor dibobol dan dikemplang, tipiskan modal kemajuan jangka panjang. Gairah berhutang tak kenal henti, wariskan beban bagi generasi mendatang.

Jalanan bukan tempat yang aman. Di sanalah perang semua lawan semua digelar. Entah berapa banyak nyawa melayang sepanjang jalan kenangan. Musim penghujan ajang menambal jalang berlobang untuk segera rusak saat kemarau tiba; melupakan keselamatan pengguna. Bahkan keriangan ritual mudik lebaran pun harus ditebus dengan kematian dan penderitaan.

Demi hidup, penduduk negeri mengorbankan prinsip-prinsip kehidupan. Padahal, tak ada kemuliaan bagi kaum yang tak mengindahkan kaidah kehidupan.

Tak ada kemajuan tanpa kesanggupan menunda kesenangan. Barangsiapa tak bisa menanam benih harapan, tak bisa memanen kejayaan masa depan.

Tujuan bernegara adalah mewujudkan kebahagiaan hidup bersama. Dalam impian Bung Hatta “Aku ingin membangun dunia dimana semua orang merasa bahagia di dalamnya”. Untuk itu, negara dan warganya harus punya jiwa pelayanan. Rakyat dan pemimpinnya ibarat harimau dan hutannya. Kehidupan harimau tergantung kelestarian hutannya, sedang keselamatan hutan tergantung penjagaan harimaunya.

Warga negara bertanggung jawab mentukan karakter pelayanan pemimpinnya. Lagi kata Bung Hatta, “Bukan karena kokok ayam matahari terbit. Tapi karena matahari terbitlah, ayam berkokok.” Artinya, “Pergerakan rakyat tumbuh bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan atau karena ada perasaan dalam hati rakyat yang tidak dapat oleh rakyat mengeluarkannya… Pemimpin mengemudikan apa yang sudah dikehendaki oleh rakyat.”

Negara bertanggung jawab melayani dan mendidik rakyatnya. Tugas kepemimpinan negara bukanlah mengobral khayal dengan memanipulasi kesan yang dapat mengecoh rakyat. Sebaliknya, tugas pemimpin adalah menuntut rakyat menyadari kenyataan dan merasakan kehadiran krisis. Dalam istilah Bung Karno, pemimpin harus dapat ”mengaktivir kepada perbuatan”: mengaktivir bangsa yang ia pimpin kepada perbuatan. Kalau cuma menyerukan perbuatan, tetapi dalam kenyataan tak mampu mengaktivir rakyat kepada perbuatan, buat apa bermimpi jadi pemimpin?

”Mengaktivir kepada perbuatan”, lanjut Soekarno, ”berarti harus mengaktivir lebih dahulu kepada wil”, yang dalam perikehidupan kebangsaan berarti mengaktivir collective will. Untuk membangkitkan kemauan kolektif, para pemimpin haruslah terlebih dahulu menyalakan spirit. Itulah trilologi yang didengungkan Seokarno sejak tahun 1932: nationale geest (spirit kebangsaan), nationale wil (kemauan kebangsaan) dan nationale daad (perbuatan kebangsaan).

Lagi menurut Bung Karno, besar kecilnya spirit-kemauan rakyat untuk berjuang ditentukan oleh tiga hal. Pertama, menarik tidaknya tujuan atau cita-cita politik yang diperjuangkan pemimpin. Kedua, rasa mampu di kalangan rakyat. Ketiga, tenaga yang tersedia di kalangan rakyat sendiri. Maka dari itu, pemimpin harus cakap melukiskan daya tarik cita-cita politiknya, mampu membangkitkan kepercayaan rakyat pada kemampuannya sendiri, serta sanggup menyusun tenaga rakyat demi tujuan politik.

Dengan tanggung jawab bersama, negara dan warganya, perjuangan hidup didedikasikan untuk menumbuhkan kehidupan yang penuh harapan. Dalam mewujudkan politik harapan, Donna Zajonc memerikan tentang keharusan suatu bangsa keluar dari tahap anarki, tradisionalisme, apatisme menuju penciptaan pemimpin publik yang sadar.

Pada tahap pertama, seluruh tindakan politik diabsahkan menurut logika pemenuhan kepentingan pribadi, yang menghancurkan sensibilitas pelayanan publik.

Pada tahap kedua, untuk mencapai sesuatu pemimpin mendominasi dan meminggirkan orang lain. Pada tahap ketiga, peluang-peluang yang dimungkinkan demokrasi tak membuat rakyat berdaya, justru membuatnya apatis.

Pada tahap keempat, tahap politik harapan, para pemimpin menyadari pentingnya merawat harapan dan optimisme dalam situasi krisis, dengan cara memahami kesalingtergantungan realitas serta kesediaan bekerjasama menerobos batas-batas politik lama.

Kekuasaan digunakan untuk memotivasi dan memberi inspirasi yang memungkinkan orang lain mewujudkan keagungannya. Warga menyadari pentingnya keterlibatan dalam politik dan aktivisme sosial untuk bergotong-royong merealisasikan kebajikan dan kebahagiaan hidup bersama.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: