//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Renungan

Renungan Pendidikan #76

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Kesalahan fatal kita sebagai orangtua dan pendidik adalah ketika kita tidak pernah berhenti sejenak meluangkan waktu untuk merenung dan merefleksikan sendiri hakikat, misi dan visi ideal pendidikan dikaitkan dengan tujuan penciptaan dan misi kehidupan.

Akibatnya, kita cuma ikut-ikutan kata orang atau mengekor sistem persekolahan. Lantas kita bingung ketika anak-anak kita lulus dari sekolah sebagai pribadi yang ‘kerdil’, tidak tahu apa tujuan hidupnya, bingung terhadap peran dan minatnya (hilang fitrah bakat), tanpa memiliki keterampilan berpikir dan logika yang memadai (menyimpang fitrah belajar dan bernalar), tanpa kedewasaan dan kemandiran yang kokoh (disorientasi fitrah perkembangan – AqilBaligh) tanpa watak luhur atau akhlak mulia yang kita harapkan (rusak fitrah keimanan), juga ketidakpeduliannya pada lingkungan alamnya dan problematika bangsanya (tercerabut dari fitrah komunal).

Padahal kita tahu persis mereka adalah pribadi-pribadi dengan potensi besar berupa fitrah dan takdir peran yang telah Allah tetapkan dan amanahkan untuk kita didik.

Lalu siapa yang akan kita salahkan selain diri kita sendiri? Lalu kepada siapa doa doa anak yang shalih kita harapkan? Lalu apa yang akan kita jawab di hadapan Allah SWT tentang fitrah fitrah yang telah menyimpang dan rusak itu?

Begitulah kebanyakan orangtua dan pendidik, seringkali meletakkan pendidikan dalam kuadran penting dan genting, bukan dalam kuadran penting tetapi tidak genting. Dalam kuadran penting dan genting, para orangtua dan pendidik berada pada suasana dan situasi “panic & hectic mode on” yaitu selalu berfikir, merasa dan bertindak darurat emergensi sehingga tidak bisa melihat jernih situasi serta prioritas pendidikan fitrah anak anaknya.

“Panic & hectic mode on” ini mirip situasi pemadam kebakaran atau disaster recovery, dimana semua sumberdaya dan energi dihabiskan untuk melawan dan memadamkan bencana, sehingga tidak ada kesempatan merencanakan dengan matang dan sulit memastikan tidak ada kerusakan baru akibat penanganannya.

Menjadi Pemadam Kebakaran bagi berbagai Permasalahan Anak dan Pemuda akibat penyimpangan dan kerusakan fitrah sungguh memang jauh lebih sulit. Menyembuhkan fitrah yang rusak dan sakit selalu lebih rumit dan kompleks daripada menumbuhkan Fitrah yang sehat, indah dan bercahaya.

Hari ini energi mendidik anak dari para pendidik dan orangtua dihabiskan untuk memadamkan kebakaran krisis akhlak, disedot habis untuk membangun benteng benteng sterilisasi utk menahan gelombang besar air bah kerusakan moral. Seminar, pelatihan dan program dstnya difokuskan kepada menyelesaikan masalah yang luar biasa kompleks.

Akibatnya banyak yang bereaksi berlebihan karena kepanikan dan ketidakpercayaan diri dengan mengirim anak sejak kecil ke boarding school agar tidak terpapar kerusakan lingkungan. Ada lagi dengan mendidik anak anak sejak dini dengan cara cara kedisplinan orang dewasa dengan melarang bermain, mendiamkan bahkan memukul ditambah lagi dengan menjejalkan ilmu agama dan akademis sebanyak-banyaknya sedini mungkin dengan keyakinan makin banyak dan makin cepat maka makin hebat dan makin shalih.

Padahal sunnatullahnya, jika sesuatu diberikan belum saatnya dan tidak relevan dengan kebutuhan sesuai fitrah perkembangannya maka alih alih jadi hebat dan shalih malah akan menambah masalah karena berpotensi merusak fitrah anak anaknya.

Ada juga orang orang degil yang memanfaatkan kepanikan para orangtua ini dengan jualan program yang dinamakannya pendidikan tetapi justru menjauhkan dari fitrah demi kepentingan obsesi atau bisnis semata. Orang orang ini tidak menyadari bahwa pendidikan berbicara tentang menumbuhkan fitrah untuk melahirkan generasi peradaban dgn peran mulia di masa depan, bukan menjajakan kecerdasan, mendorong persaingan dan memanipulasinya demi keuntungan sesaat namun menimbulkan kerusakan dan krisis manusia dan alam di masa depan.

Sesungguhnya Islam, meminta para orangtua dan pendidik menjadi para penumbuh benih benih fitrah bukan petugas pemberantas hama. Sesungguhnya orangtua dan pendidik dirancang untuk menjadi arsitek bangunan peradaban bukan menjadi renovator dan kontraktor puing puing bangunan peradaban. Kita bahkan dilarang lebay obsesif maupun abai pesimis terhadap fitrah sbg potensi terbaik peradaban.

Maka wahai ayahbunda dan pendidik, marilah kembali pada kesejatianmu sebagai arsitek peradaban, untuk merenungkan misi dan tujuan penciptaan serta relevansinya dengan pendidikan, untuk tenang dan khusyu merancang pendidikan anak anakmu sesuai fitrahnya, untuk yakin dan berani namun rileks dan optimis menjalani amanah merawat dan menumbuhkan fitrah anak anaknya dengan konsisten walau seisi dunia bertentangan dan berbeda dengannya.

Mari kembalikan kesejatian peran mendidik dan kesejatian pendidikan dengan pendidikan berbasis fitrah dan akhlak. Mari menjadi arsitek peradaban, mari menjadi arsitek perancang kurikulum pendidikan anak anak kita sendiri sesuai fitrah mereka.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: