//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Kajian, Kemandirian, Perubahan

Spirit of Innovation : Kekuatan Daya Saing Indonesia ? Catatan Ketiga dari Tiga tulisan tentang Indonesia Unggul

Spirit of Innovation : Kekuatan Daya Saing Indonesia ?
Catatan Ketiga dari Tiga tulisan tentang Indonesia Unggul

Jusman Syafii Djamal

Seperti yang diminta Sahabat fb saya Indra Uno Ada tiga Catatan yg sy janjikan berkenaan dengan pertanyaan berkaitan dengan faktor yg menyebabkan Ekonomi Indonesia tak dapat mempengaruhi kawasan seperti disampaikan oleh Prof.Richard Robinson. Pada tulisan pertama dan kedua sy membuat note tentang “middle class”.

Dalam catatan ketiga ini sy mencoba mengetengahkan tentang “spirit of innovation”, yang menurut saya merupakan “the soul of middle class”. Dari pengalaman sejarah “middle class” yang memiliki kesadaran untuk membangun Bangsa Indonesia yang maju Dan unggul dapat dibaca ulang bagaimana Haji Omar Said Tjokroaminoto Dan Haji Samanhudi yang mendirikan Serikat Dagang Islam pada Tahun 1905.

Ini merupakan “Satu spirit innovation”. Merubah peta persaingan diantara kekuatan saudagar belanda yang ingin memarginalkan Daya saing Bangsa Indonesia, dengan mendirikan organisasi pedagang batik di Lawean Solo. Spirit of innovation untuk melahirkan “produk”, “proses produksi Dan distribusi barang dan jasa” serta sistem,struktur Dan mekanisme” dalam Mata rantai proses nilai tambah ini yg oleh Schumpeter disebut sebagai “creative destruction”.

Alois Schumpeter adalah Professor of Economic di Graz (Austria), Bonn (Germany) Dan terakhir Harvard. Ia menulis buku berjudul Theory of Economic Development Tahun 1912, yang memusatkan perhatian pada peranan Entrepreneurship.

Jika ahli ekonomi , yang lain masih berkutat pada persoalan bagaimana menyeimbangkan “Supply and Demand”, atau tatacara bagaimana sumber daya yang terbatas dialokasikan dengan tepat dan benar agar tidak terjadi kelangkaan yang memicu kenaikan harga. Schumpeter berdiri pada mindset berfikir lain. Ia mengasumsikan ekonomi suatu wilayah atau suatu bangsa tidak mungkin selamanya berjalan mulus. Terus menurut tumbuh tanpa stagnasi. Dalam realitas ekonomi Dan bisnis berjalan secara “cyclical”, naik turun,pasang surut.

Tidak pernah terus menerus berada dalam equilibrium. Ketika bisnis menuju puncak lahir pertumbuhan kekayaan ekonomi wilayah dan juga orang perorang yang menyertainya, tetapi ketika ekonomi “slow down”, banyak yang mengalami krisis.

Ditengah krisis biasanya muncul “creativity” and “innovation”. Disini peran entrepreneur dominan. Entrepreneur adalah mereka yang memiliki keberanian untuk merubah “platform”, bisnis nya dan mengambil resiko. Kekuatan entrepreneur inilah yang sebetulnya menentukan berperan tidak nya kelompok “middle class” dalam masyarakat. Jika jumlahnya sedikit dan tidak meliwati “critical mass”, dapat dipastikan ekonomi wilayah atau ekonomi suatu Bangsa tak memiliki pengaruh dominan di satu kawasan.

Entrepreneur adalah saudagar merdeka yang diminta Dan dicitakan oleh Founding Father, seperti Bung Hatta yang diharapkan mampu mendorong tumbuhnya koperasi sebagai kekuatan ekonomi. Tapi mungkin ini yang tidak dilihat oleh Prof.Richard Robinson tumbuh dalam proses “the rising of capital” ini Indonesia. Karenanya ia menyatakan pemimpin politic ekonomi (baca middle class) belum merepresentasikan potensi kekuatan ekonomi Indonesia untuk memiliki pengaruh di kawasan.

Ada buku lain yang menarik untuk mencermati tidak muncul nya kekuatan entrepreneur ini, berjudul :”the Rise of Ersatz Capitalism in South East Asia”. Karya Kunio Yoshira. Yang merujuk pada munculnya “saudagar yang tak memiliki jiwa entrepreneurship”, yang pasang surut bisnisnya amat bergantung pada dagang licensi dan ijin berijin yang kemudian ditahun 1998 disebut KKN.

Beruntung kini Reformasi telah berjalan hampir dua dekade. Ada banyak saudagar muda yang lebih bebas merdeka tidak bergantung pada kedekatan dengan pemilik kekuasaan dan kini tampil sebagai “geek” and “shrink”. Creative and Innovative people yang muncul dengan kekuatan innovation. Jika jumlahnya terus meningkat saya percaya Daya Saing Bangsa Indonesia akan meningkat tajam dimasa kini Dan dimasa depan.

Yg disebut Geeks menurut Robert Reich dalam bukunya the Future of Success adalah “the artist or inventor”, the designer, the engineer, the scientist, the writer or mucisian, — the person who is capable of seeing new possibilities, — especially in time of economic crisis– who takes risks and delight in exploring and developing that new possibilities.

Tapi kehadiran “Geeks” saya tidak cukup merubah peta ekonomi suatu wilayah. Geeks memerlukan pasangan yang disebut “shrink”, yakni mereka yang memiliki keunggulan untuk menjadi “marketer”, penjual ide, Produser, pembaca trend, — the person who can identify possibilities in the marketplace for what other people might want to have, see or experience, and who understands how to deliver on these opportunities.

Tentu saya jembatan diantara Geeks and Shrink adalah “financial wizard”, Ahli finansial yang mencium keberhasilan ditengah ratusan percobaan inovasi yang muncul. Kedua dua Geeks and Shrink ini merupakan “core of the middle class”, yang memiliki kemampuan untuk menjadi “Game Changer”, Jika sailing bekerja saya membangun potensi Bangsa Indonesia agar memiliki pengaruh dominan di kawasan Asia.

Begitu Indra Uno, catatan ketiga saya. Ada yang terliwat Pasti. Soalnya pertanyaan anda termasuk kalau lagi mengajar disebut kelas berat punya. Menjawabnya perlu satu semester. Mohon Maaf Jika Keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: