//
you're reading...
Entrepreneurship, Kemandirian, Pendidikan, Perubahan

Pendidikan dan Kewirausahaan: Terobosan untuk Memberantas Kemiskinan

Hasanuddin Abdurakhman

Saya selalu mengenang Emak sebagai perempuan hebat. Ia menjadi motor penggerak keluarga kami untuk keluar dari kemiskinan. Tidak hanya kami, ia memberi inspirasi kepada orang-orang di kampung kami untuk melakukan hal yang sama, keluar dari kemiskinan. Emak melakukan 2 hal: pendidikan dan wirausaha.

Emak begitu getol untuk menyekolahkan anak-anaknya, meski di kampung kami dulu belum ada sekolah. Ia kirim anaknya sekolah ke kampung lain, hanya untuk sekedar masuk SD. Ia dorong Ayah untuk menggerakkan orang kampung agar membangun sekolah, supaya anak-anaknya dan anak-anak orang kampung bisa sekolah.

Lalu Emak melakukan berbagai usaha untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Ia tak cuma berladang menanam padi untuk makan, dan berkebun kelapa untuk menghasilkan uang. Ia berdagang dan menjadi perias pengantin. Melalui usahanya itu Emak menghasilkan uang yang kami pakai untuk sekolah. Dari sekolah kami mendapat pekerjaan, kemudian bebas dari kemiskinan.

Kemiskinan sering menjadi lingkaran setan. Untuk bisa keluar dari kemiskinan orang memerlukan pendidikan, agar mereka mendapat gagasan tentang bagaimana hidup dan mencari nafkah lebih baik. Tapi pendidikan memerlukan biaya. Orang miskin tidak punya biaya. Maka orang miskin yang tidak punya biaya tidak bisa sekolah untuk mendapatkan pendidikan. Maka dia akan terus miskin.

Yang bisa memutus rantai lingkaran setan itu adalah terobosan. Pemerintah menyediakan pendidikan gratis, atau memberi beasiswa kepada siswa-siswa yang punya potensi baik. Orang-orang yang sudah punya kelebihan juga bisa ikut membantu. Di luar itu, wirausaha.

Wirausaha adalah hal yang unik. Tidak selalu diperlukan pendidikan tinggi untuk bisa melakukannya. Yang lebih diperlukan adalah kejelian, kemauan, dan kerja keras. Tentu saja juga diperlukan visi. Yang utama adalah kesadaran bahwa kita semua harus keluar dari kemiskinan.

Di kampung kami dulu ada beberapa orang yang sempat kaya dengan bisnis, memanfaatkan booming industri kayu yang marak di kecamatan. Sayangnya itu hanya sesaat. Tidak sedikit pengusaha kampung yang segera menghabiskan hasil usahanya pada hal-hal konsumtif tanpa berhitung. Mereka mengira pendapatan dari usaha itu kekal. Mereka tidak melihat berbagai kemungkinan ke depan, kemudian berinvestasi secara aman untuk mengamankan masa depan. Anak-anak juga tidak dibekali dengan pendidikan yang memadai. Walhasil, ketika bisnis yang ditekuni mulai turun pamor, mereka kembali kepada kemiskinan.

Kesimpulan saya, pendidikan dan wirausaha itu penting. Tapi sebelum itu, yang lebih penting lagi adalah kesadaran dan visi. Sadar bahwa kita hidup dalam kemiskinan, dan menganggapnya sebagai masalah. Sadar bahwa kemiskinan harus ditinggalkan. Yakin bahwa kita bisa meninggalkannya. Kemudian memikirkan dan menjalankan berbagai usaha untuk meninggalkannya.

Kesadaran dan visi ini sebenarnya juga diperlukan oleh kita semua. Sadar bahwa hidup tidak boleh berhenti. Hidup harus berproses ke arah yang lebih baik, tidak jalan di tempat. Ini berlaku untuk berbagai hal: karir, taraf ekonomi, tingkat pendidikan, dan sebagainya. Kita yakin bahwa kita bisa lebih baik lagi. Yang terpenting, kita tidak pernah berhenti berikhtiar untuk lebih baik lagi.

Jalan di tempat adalah kejumudan. Kejumudan adalah kemiskinan gagasan dan visi. Maka setiap hari kita adalah perjuangan, usaha untuk keluar dari kemiskinan gagasan dan visi itu.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: