//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Menjadi Orang Tua yang Amanah, Bagaimana Caranya?

Yayasan Kita dan Buah Hati

Serial Parenting #4

Anak kita adalah amanah. Kita hanyalah fasilitator yang ditugasi memastikan ia mengenal tempat kembalinya : Allah swt.

Kita hanyalah babysitter terpilih yang ditugasi memenuhi kebutuhannya agar baik fisik dan jiwanya.

Lalu, bagaimana agar kita menjadi fasilitator yang baik?

Yang paling utama adalah terus mengenal diri sendiri dan mengenal anak kita. Mengenal perasaan diri sendiri dan anak kita, mengenal kecenderungan diri sendiri dan anak kita, mengenal pola pikir diri sendiri dan anak kita, mengenal kemampuan diri sendiri dan anak kita, mengenal tingkat dan jenis kecerdasan diri sendiri dan anak kita, mengenal gaya belajar diri sendiri dan anak kita, dan segala seluk beluk tentang diri kita sendiri dan anak kita.

Bagaimana caranya?

1. BACA BAHASA TUBUH DAN SAPA PERASAAN
Perhatikan baik-baik mimik wajah dan bahasa tubuhnya, terutama saat kita sedang bersamanya.

Dari mimik dan bahasa tubuh yang tertangkap, sapa perasaan anak kita.
“Wah, kayaknya lagi girang banget nih?”
“Duh mukanya kusut banget, BeTe di sekolah?”
“Bau acemmmm.. abis main bola ya? Capek banget dong”.

2. WAKTU YANG BERKUALITAS
Milikilah waktu bersama BERDUA SAJA dengan anak kita, minimal 2 jam setiap pekan. Dating time.

Manfaatkan kebersamaan itu untuk saling terbuka dan saling mendengarkan. Ngobrol.

Pastikan kita tidak berkomunikasi dengan siapapun melalui media apapun ketika sedang berdua saja dengan anak kita. Seperti buka whatsapp, buka facebook, buka sosmed lainnya, BIG NO!

Jangan disambil-sambil, bisa-bisa anak kita merasa tidak dihargai.

Kadang ada hal-hal yang kelu bagi anak kita untuk menceritakannya. Hadiahi ia buku diary yang hanya dia dan orangtua saja yang tau isinya.

Pada saat dating time, kita bisa membahas isi buku tersebut.

Apresiasi keterbukaannya pada kita. Beri semangat ketika ia membutuhkan. Terima ia ketika ia berbuat kesalahan. Dukung nilai perjuangan anak meski sepele apa yang dikerjakannya menurut kita.

3. FALSAFAH KI HAJAR DEWANTARA
Fasilitator yang baik adalah seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara :

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Di depan memberi contoh/teladan, di tengah memberi motivasi, dan di belakang memberi dorongan/dukungan.

Fasilitator yang baik mengarahkan anak dengan teladan perbuatan, bukan perkataan. Elly Risman mengatakan 1 teladan bersuara lebih nyaring daripada berjuta kata-kata.

Allah swt pasti punya tujuan mengapa telinga kita diciptakan lebih banyak dari pada mulut kita. Dan ternyata menurut ahli komunikasi dunia, kata-kata hanya ditangkap 7% saja oleh yang mendengarkan!

4. MENDENGARKAN DENGAN HATI
Jika kita ingin anak kita patuh dan mendengarkan kata-kata kita, mulailah dengan mendengarkan perasaan dan kata-katanya.

Jika kita ingin anak kita melakukan sesuatu, mulailah dengan melakukannya terlebih dahulu. Anak kita bisa saja salah mengerti maksud kata-kata kita, tapi ia tidak pernah gagal meniru perilaku kita.

5. BERIKAN VALIDASI DAN APRESIASI
Fasilitator yang baik memotivasi anak dengan memberi validasi bahwa anak adalah BINTANG.

Setiap anak perlu diakui potensi dan kemampuannya yang unik, yang berbeda dengan anak lainnya maupun orangtuanya. Ia perlu diterima dan dihargai, bagaimanapun dan seberapapun kemampuannya.

Fasilitator yang baik juga selalu memberi dukungan berupa apresiasi dan kesempatan untuk mencoba atau melakukan sesuatu.

Beri dia kepercayaan untuk mengerjakan hal yang sesuai dengan kemampuannya. Misal, biarkan anak kita mengancingkan sendiri bajunya meski agak lama ia mengerjakan. Biarkan ia menalikan tali sepatunya meski panjang sebelah memitanya. Lalu, puji hasil kerjanya.

Jika rumah kita berantakan karena ia sedang asyik ‘mengerjakan proyek’ yang sedang menjadi minatnya, biarkan saja. Percayalah, saat ia beranjak remaja, kita akan merindukan masa-masa rumah yang superberantakan itu.

Validasi dan apresiasi tak selalu hadiah yang berupa materi, bisa juga pujian yang tulus dan pelukan yang hangat.

Pelukan tak hanya efektif membuat anak merasa diterima. Virginia Satir, seorang psikolog dan terapis keluarga mengatakan :
“4 pelukan dibutuhkan seseorang untuk bertahan hidup 8 pelukan dibutuhkan seseorang untuk memperbaiki diri dan hidupnya 12 pelukan dibutuhkan seseorang untuk tumbuh”

6. LIBATKAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Ketika akan membuat keputusan apapun tentang anak kita, libatkan dia dengan menanyakan pendapatnya.

Anak akan merasa sangat berharga ketika diminta pendapatnya meski keputusan akhir selalu di tangan orangtua.

Selain merasa dihargai, menanyakan pendapat anak dalam pengambilan keputusan dapat menstimulus kematangan otak bagian Pre Frontal Cortex (PFC), yaitu bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang karena berfungsi membentuk kepribadian, menimbang benar-salah, baik-lebih baik, pengelolaan adab nilai dan moral, mengelola emosi, merencanakan masa depan, memperkirakan konsekuensi dari tindakan, serta pengambilan keputusan.

Dengan kata lain, melibatkan anak dalam pembuatan keputusan yang sesuai usia, misalnya dalam membuat menu selama seminggu, memilih pakaian yang akan dikenakan, memilih sepatu yang akan dibeli, dll, merupakan satu langkah memanusiakan kemanusiaannya. Tidak dijadikan robot yang siap menjalankan program.

Selamat menjadi fasilitator terbaik. Semoga Allah bangga dan memperkenankan kita memasuki surgaNya berkat susah payahnya kita menjaga amanahNya dengan baik 🙂

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: