//
you're reading...
Human being, Kajian, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Renungan

Jalan Tol

Jalan Tol

Dono Bawasdono

Salah satu pernyataan yang sangat sering saya dengar dari para orangtua adalah alasan mereka dalam bekerja keras dan bersibuk tak kenal waktu: demi anak-anak. Saya juga kerap mendengar alasan para orangtua yang terus bertahan tak mau bercerai walau tiap hari bertengkar dengan pasangannya: demi anak-anak. Begitu pula ketika mereka memasukkan anaknya ke sekolah asrama, sekolah hingga sore hari, sekolah multilingual, ditambah dengan beberapa les dan kegiatan ekstrakurikuler: demi anak-anak.

Kekayaan, fasilitas hidup yang tinggi, pendidikan berstandar internasional, lingkungan tanpa perbedaan (seragam), dan pola asuh ‘demokratis’ (begitulah banyak orangtua menyebut inkonsistensi mereka) dianggap oleh orangtua sebagai jalan tol yang akan mempermudah anak-anaknya mencapai kesuksesan hidup mereka. Alasan yang paling sering dikemukakan orangtua: saya tidak ingin anak saya mengalami kesulitan seperti yang pernah saya alami.
***

Mari kita pergi ke jalan tol. Mengapa lebih banyak orang berada di jalur paling kanan – tak peduli kecepatan mobilnya 60km/jam atau dua kali lipatnya. Mengapa para pengendara lamban yang sudah berkali-kali diberi lampu dan tuter itu tetap ngotot di jalur kanan yang hanya boleh untuk menyalip? Mengapa truk dan bus yang wajib berada di jalur paling kiri juga gemar berlama-lama di jalur kedua atau bahkan ketiga? Mengapa pengendara yang jelas tak punya kartu e-toll dan tak buta warna dan tak buta huruf nekad masuk ke gerbang itu lalu turun dan pinjam kartu milik pengendara di belakangnya?

Jalan tol sama sekali bukan jaminan perilaku pengendaranya lebih tertib daripada jalan biasa.

Baiklah, jika Anda masih belum yakin, mari kita ikut Board Meeting, rapatnya para top executives. Rasanya yang berada di sana sudah pernah menginjakkan kaki atau bahkan tinggal beberapa lama di dua atau tiga benua, menguasai dua-tiga bahasa, boleh jadi juga memiliki dua-tiga gelar akademik. Seringkah Anda mendengar debat kusir? Seringkah Anda mendengar gebrakan meja di tengah-tengah suara-suara yang meninggi? Seringkah perdebatan itu berlanjut menjadi gunjingan di toilet atau di tempat-tempat hiburan malam?

Jalan tol di dunia bisnis sama sekali bukan jaminan perilaku para pengusaha dan eksekutifnya lebih tertib daripada jalan bisnis yang sempit dan berliku.
***

Kepada para orangtua yang kerap beralasan “demi anak-anak,” itu saya kerap balik bertanya, “Apa rahasia sukses Anda?” Dan mereka seperti sudah janjian sebelumnya, sama-sama menceritakan soal perjuangan berat mereka sejak masih kecil. Betapa mereka tetap teguh dan penuh keyakinan pada pengharapannya ketika menghadapi banyak masalah. “Krisis membentuk saya menjadi kuat,” simpul salah seorang di antara mereka.

Saya mengangguk-angguk lalu meneruskan bertanya, “Apa hal-hal indah dan berharga yang Anda kenang sepanjang hidup?” Orang-orang sukses dalam bidang bisnis dan politik itu lagi-lagi seperti sudah bertemu dan bersepakat untuk menceritakan hal yang sama kepada saya (tentu saja, mereka tak pernah janjian). “Ibu saya selalu menyambut kedatangan saya sepulang sekolah,” jawab pemilik sebuah perusahaan angkutan antarpulau. “Ayah dan ibu selalu membiarkan saya tiduran di pangkuan mereka berdua,” cerita salah seorang Dirjen Departemen Perdagangan pada periode pemerintahan lalu. Dan seorang Rektor sebuah perguruan tinggi di negeri seberang yang asli arek Suroboyo bercerita dengan mata berkaca-kaca, “Suatu hari saya pulang sekolah dengan muka babak belur karena dipukuli kakak kelas. Ayah yang sedang memperbaiki mesin jipnya menghampiri saya, memeluk erat sambil berkata, ‘Kamu boleh menangis.’ Itu kalimat yang paling menenangkan saya seumur hidup.”

Saya sengaja berdiam diri. Hening. Beberapa detik kemudian hembusan nafasnya terdengar. “Apakah kedekatan dengan ibu dan ayah itu membuat Anda mampu menghadapi krisis?” tanya saya. “Oh tentu!” dengan cepat mereka menjawab.
Tak ingin kehilangan momentum, saya mengejar, “Menurut Bapak/Ibu, apakah anak-anak Ibu/Bapak sanggup menghadapi krisis?”

Kembali hembusan nafas panjang terdengar. Wajahnya mendongak dan mulutnya berkata, “Itulah salah satu alasan saya berkonsultasi dengan Bapak. Bagaimana agar anak-anak tidak cepat putus asa, selalu termotivasi, berkemauan kuat, percaya diri, bertanggung jawab.”

“Seperti sifat-sifat baik yang Ibu/Bapak miliki sekarang, bukan?” tanya saya retoris. “Bukankah Ibu/Bapak tadi baru saja mengajari saya?” mata saya berkedip. Lalu saya memutar ulang apa yang ia katakan tadi, “Ibu/Bapak sukses karena mampu menghadapi krisis. Mampu mengatasi krisis karena memiliki karakter kuat. Dan karakter Ibu/Bapak kuat karena memiliki kelekatan atau kedekatan emosional dengan orangtua. Begitu, bukan rumusnya?” Mereka mengangguk.

“Jadi, dari rangkaian rumus itu, bagian mana yang tidak Bapak/Ibu berikan kepada anak-anak?”

…hening…waktu seakan berhenti. DB

Selamat Hari Anak Nasional.

#HariAnakNasional'” width=”200″ height=”150″ />

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s