//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Didiklah Anak-Anak Kami

Oleh: Doni Koesoema A
Pemerhati Pendidikan dan Pengajar di Universitas Multimedia Nusantara

mediaindonesia.com, Senin 18 July 2016

APA sikap yang mestinya dimiliki orangtua saat mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah di hari pertama?

Kolaborasi sekolah, rumah, guru, dan orangtua hanya akan efektif bila ada sikap percaya.

Orangtua percaya pada guru, sekolah, dan putra-putri mereka.
Hilangnya rasa kepercayaan dalam dunia pendidikan telah melahirkan berbagai persoalan yang justru menjauhkan para pendidik dari tugas utama mereka.

Tidak adanya kepercayaan antara orangtua dan guru telah memosisikan guru dan orangtua dalam keadaan yang saling berlawanan.

Guru memersepsikan orangtua tidak mau aktif terlibat dalam pendidikan.

Sebaliknya, orangtua menganggap guru tidak bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak mereka ketika nilai akademis anak mereka rendah.

Ketidakpercayaan orangtua pada guru juga berimbas pada kepercayaan mereka pada lembaga pendidikan.
Ketidakpercayaan orangtua pada lembaga pendidikan bisa kita lihat dari maraknya fenomena les-les tambahan yang menjadi beban bagi anak-anak setelah mereka menjalani proses pendidikan di sekolah.

Bahkan, sampai pada tahap tertentu, putusnya rasa kepercayaan ditandai dengan maraknya berbagai macam persoalan yang menghadapkan para pendidik sampai ke ranah hukum, baik itu karena persoalan pendidikan biasa, kasus kekerasan, dan tindakan kriminal.

Ketidakpercayaan orangtua pada anak juga ditandai dengan maraknya sikap protektif yang berlebihan terhadap anak.

Roh keterlibatan
Anjuran Mendikbud Anies Baswedan agar orangtua menghantar putra putri mereka di hari pertama mungkin bagi beberapa orangtua bukan hal yang baru. Di desa-desa sudah ada kebiasaan ini.

Di kota besar, malahan ada orangtua yang menghantar anak-anak mereka bukan saja hari pertama, melainkan juga di hari-hari berikutnya.

Meskipun anjuran ini sangat klise, ada satu spirit utama yang ingin diangkat kembali, yaitu perbaikan kualitas relasi dan keterlibatan orangtua dalam pendidikan.

Menghantar anak bukanlah persoalan utama pendidikan kita saat ini.

Absennya kualitas kerja sama antara rumah dan sekolah sebagai roh utama pendidikan inilah yang perlu dihadirkan kembali.
Menghadirkan orangtua dalam pendidikan terangkum dalam satu konsep dasar, yaitu pelibatan publik.

Anies Baswedan merupakan satu-satunya mendikbud yang menggemakan kata pelibatan publik bagi seluruh pelaku dalam ekosistem pendidikan.

Ia melihat bahwa orangtua ialah pelaku utama peningkatan kualitas pendidikan.

Merekalah kunci utama perkembangan putra-putri mereka, baik secara mental, akademis, maupun spiritual.

Karena itu, simbolisme keterlibatan aktif ini ingin ia tampilkan secara nasional dengan mengajak para orangtua untuk menghantar putra-putri mereka ke sekolah di hari pertama.

Bukan simbolisme
Kolaborasi orangtua sekolah tidak boleh berhenti sekadar sebagai ritual dan simbolis.

Seolah-olah hanya dengan menghantar anak ke sekolah, orangtua sudah puas dan merasa terlibat dalam pendidikan putra-putri mereka.

Atau sebaliknya, pendidik sudah merasakan adanya keterlibatan orangtua dengan cara bertemu dan berjumpa dengan mereka saat mereka menghantar para siswa ke sekolah.
Kehadiran orangtua di sekolah akan berkesinambungan bila tumbuh kesadaran bahwa keberhasilan pendidikan putra-putri mereka di sekolah hanya akan terjadi bila ada kolaborasi saling percaya antara sekolah dan rumah secara terus-menerus, sepanjang tahun, saat anak-anak mereka menjalani proses pendidikan.

Kesinambungan kolaborasi antara guru dan orang tua, antara sekolah dan rumah, akan semakin efektif bila ada kultur kolaborasi antara lembaga pendidikan dan keluarga.

Fokus kolaborasi berkesinambungan antara sekolah dan rumah bukan semata-mata terbentuknya jalinan komunikasi yang baik antara guru dan orang tua, melainkan juga terutama berfokus pada peningkatan kemampuan akademik yang akan membentuk karakter anak yang akan membuat mereka siap dalam menjalani profesi hidup di masa depan.

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan agar orangtua dan sekolah memiliki kolaborasi yang baik dan berkesinambungan.
Pertama, guru dan orangtua mendesain kultur sekolah yang berfokus pada peningkatan prestasi siswa.

Ini berarti ada sistem dan struktur yang mengikat orangtua dan sekolah sebagai sebuah kewajiban dalam pembentukan karakter siswa sebagai pembelajar.

Pertemuan-pertemuan, dialog, komunikasi, dan program yang dirancang sekolah haruslah berfokus pada peningkatan karakter siswa sebagai seorang pembelajar yang kritis dan bertanggung jawab.

Kedua, selain berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan siswa individu per individu, yaitu tiap-tiap orangtua berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan putra-putri mereka, orangtua dan sekolah bisa saling terlibat dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran bagi seluruh siswa.

Ketiga, menumbuhkan komunikasi interpersonal yang dewasa, jujur dan tanpa pamrih antara guru dan orangtua.

Tidak jarang, orangtua, sering kali karena alasan-alasan tertentu, memberikan gratifikasi kepada para guru.

Demikian juga di kalangan guru, mereka kadang berharap ada apresiasi dari orangtua terhadap kinerja mereka, berupa imbalan materi, atau dalam kasus ekstrem terjadi jual beli nilai antara orang tua dan guru.

Komunikasi interpersonal yang dewasa, jujur, dan tanpa pamrih ini menjadi tantangan, baik bagi orangtua maupun guru, agar masing-masing sungguh-sungguh menjadi semakin profesional dan memiliki integritas moral, baik sebagai orangtua maupun sebagai pendidik.

Tiga strategi di atas, bila dipraktikkan, akan semakin menguatkan proses pendidikan anak di sekolah.

Fokus dari strategi di atas ialah perkembangan siswa sebagai pembelajar yang bertanggung jawab.

Dengan bertumbuhnya individu siswa sebagai pembelajar yang bertanggung jawab, karakter lain, seperti cinta pada kebenaran, keteguhan sikap moral, tahan banting menghadapi kesulitan, dan berani berjuang apa pun risikonya demi memperoleh apa yang bernilai dan bermakna dalam hidup meraka, akan mengikuti.
Ini hanya bisa terjadi jika orangtua dan guru menaruh kepercayaan pada kemampuan, bakat-bakat, dan keunikan siswa.

Hari pertama sekolah selalu menjadi awal penuh harapan bagi siswa dan orangtua.

Orangtua akan menghantar anak memasuki dunia yang lebih luas.

Sementara itu, anak mereka akan memulai petualangan dan pengalaman di lingkungan yang baru.

Di banyak benak anak Indonesia, hari pertama masuk sekolah tetap menjadi kenangan terindah.

Di depan pintu gerbang sekolah, guru, sang pendidik, sudah siap sedia menerima putra-putri terbaik orangtua yang akan dipercayakan kepada mereka.

Ungkapan saling percaya itu hanya bisa diungkapkan dengan sapaan penuh kepercayaan, harapan, dan kerendahan hati, yaitu “Bapak ibu guru, ini permata kami. Didiklah anak-anak kami.”‘
Didiklah Anak-Anak Kami
Oleh: Doni Koesoema A Pemerhati Pendidikan dan Pengajar di Universitas Multimedia Nusantara,Serpong
http://www.mediaindonesia.com/news/read/56597/didiklah-anak-anak-kami/2016-07-18#
Senin, 18 July 2016

APA sikap yang mestinya dimiliki orangtua saat mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah di hari pertama?

Kolaborasi sekolah, rumah, guru, dan orangtua hanya akan efektif bila ada sikap percaya.

Orangtua percaya pada guru, sekolah, dan putra-putri mereka.
Hilangnya rasa kepercayaan dalam dunia pendidikan telah melahirkan berbagai persoalan yang justru menjauhkan para pendidik dari tugas utama mereka.

Tidak adanya kepercayaan antara orangtua dan guru telah memosisikan guru dan orangtua dalam keadaan yang saling berlawanan.

Guru memersepsikan orangtua tidak mau aktif terlibat dalam pendidikan.

Sebaliknya, orangtua menganggap guru tidak bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak mereka ketika nilai akademis anak mereka rendah.

Ketidakpercayaan orangtua pada guru juga berimbas pada kepercayaan mereka pada lembaga pendidikan.
Ketidakpercayaan orangtua pada lembaga pendidikan bisa kita lihat dari maraknya fenomena les-les tambahan yang menjadi beban bagi anak-anak setelah mereka menjalani proses pendidikan di sekolah.

Bahkan, sampai pada tahap tertentu, putusnya rasa kepercayaan ditandai dengan maraknya berbagai macam persoalan yang menghadapkan para pendidik sampai ke ranah hukum, baik itu karena persoalan pendidikan biasa, kasus kekerasan, dan tindakan kriminal.

Ketidakpercayaan orangtua pada anak juga ditandai dengan maraknya sikap protektif yang berlebihan terhadap anak.

Roh keterlibatan
Anjuran Mendikbud Anies Baswedan agar orangtua menghantar putra putri mereka di hari pertama mungkin bagi beberapa orangtua bukan hal yang baru. Di desa-desa sudah ada kebiasaan ini.

Di kota besar, malahan ada orangtua yang menghantar anak-anak mereka bukan saja hari pertama, melainkan juga di hari-hari berikutnya.

Meskipun anjuran ini sangat klise, ada satu spirit utama yang ingin diangkat kembali, yaitu perbaikan kualitas relasi dan keterlibatan orangtua dalam pendidikan.

Menghantar anak bukanlah persoalan utama pendidikan kita saat ini.

Absennya kualitas kerja sama antara rumah dan sekolah sebagai roh utama pendidikan inilah yang perlu dihadirkan kembali.
Menghadirkan orangtua dalam pendidikan terangkum dalam satu konsep dasar, yaitu pelibatan publik.

Anies Baswedan merupakan satu-satunya mendikbud yang menggemakan kata pelibatan publik bagi seluruh pelaku dalam ekosistem pendidikan.

Ia melihat bahwa orangtua ialah pelaku utama peningkatan kualitas pendidikan.

Merekalah kunci utama perkembangan putra-putri mereka, baik secara mental, akademis, maupun spiritual.

Karena itu, simbolisme keterlibatan aktif ini ingin ia tampilkan secara nasional dengan mengajak para orangtua untuk menghantar putra-putri mereka ke sekolah di hari pertama.

Bukan simbolisme
Kolaborasi orangtua sekolah tidak boleh berhenti sekadar sebagai ritual dan simbolis.

Seolah-olah hanya dengan menghantar anak ke sekolah, orangtua sudah puas dan merasa terlibat dalam pendidikan putra-putri mereka.

Atau sebaliknya, pendidik sudah merasakan adanya keterlibatan orangtua dengan cara bertemu dan berjumpa dengan mereka saat mereka menghantar para siswa ke sekolah.
Kehadiran orangtua di sekolah akan berkesinambungan bila tumbuh kesadaran bahwa keberhasilan pendidikan putra-putri mereka di sekolah hanya akan terjadi bila ada kolaborasi saling percaya antara sekolah dan rumah secara terus-menerus, sepanjang tahun, saat anak-anak mereka menjalani proses pendidikan.

Kesinambungan kolaborasi antara guru dan orang tua, antara sekolah dan rumah, akan semakin efektif bila ada kultur kolaborasi antara lembaga pendidikan dan keluarga.

Fokus kolaborasi berkesinambungan antara sekolah dan rumah bukan semata-mata terbentuknya jalinan komunikasi yang baik antara guru dan orang tua, melainkan juga terutama berfokus pada peningkatan kemampuan akademik yang akan membentuk karakter anak yang akan membuat mereka siap dalam menjalani profesi hidup di masa depan.

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan agar orangtua dan sekolah memiliki kolaborasi yang baik dan berkesinambungan.
Pertama, guru dan orangtua mendesain kultur sekolah yang berfokus pada peningkatan prestasi siswa.

Ini berarti ada sistem dan struktur yang mengikat orangtua dan sekolah sebagai sebuah kewajiban dalam pembentukan karakter siswa sebagai pembelajar.

Pertemuan-pertemuan, dialog, komunikasi, dan program yang dirancang sekolah haruslah berfokus pada peningkatan karakter siswa sebagai seorang pembelajar yang kritis dan bertanggung jawab.

Kedua, selain berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan siswa individu per individu, yaitu tiap-tiap orangtua berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan putra-putri mereka, orangtua dan sekolah bisa saling terlibat dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran bagi seluruh siswa.

Ketiga, menumbuhkan komunikasi interpersonal yang dewasa, jujur dan tanpa pamrih antara guru dan orangtua.

Tidak jarang, orangtua, sering kali karena alasan-alasan tertentu, memberikan gratifikasi kepada para guru.

Demikian juga di kalangan guru, mereka kadang berharap ada apresiasi dari orangtua terhadap kinerja mereka, berupa imbalan materi, atau dalam kasus ekstrem terjadi jual beli nilai antara orang tua dan guru.

Komunikasi interpersonal yang dewasa, jujur, dan tanpa pamrih ini menjadi tantangan, baik bagi orangtua maupun guru, agar masing-masing sungguh-sungguh menjadi semakin profesional dan memiliki integritas moral, baik sebagai orangtua maupun sebagai pendidik.

Tiga strategi di atas, bila dipraktikkan, akan semakin menguatkan proses pendidikan anak di sekolah.

Fokus dari strategi di atas ialah perkembangan siswa sebagai pembelajar yang bertanggung jawab.

Dengan bertumbuhnya individu siswa sebagai pembelajar yang bertanggung jawab, karakter lain, seperti cinta pada kebenaran, keteguhan sikap moral, tahan banting menghadapi kesulitan, dan berani berjuang apa pun risikonya demi memperoleh apa yang bernilai dan bermakna dalam hidup meraka, akan mengikuti.
Ini hanya bisa terjadi jika orangtua dan guru menaruh kepercayaan pada kemampuan, bakat-bakat, dan keunikan siswa.

Hari pertama sekolah selalu menjadi awal penuh harapan bagi siswa dan orangtua.

Orangtua akan menghantar anak memasuki dunia yang lebih luas.

Sementara itu, anak mereka akan memulai petualangan dan pengalaman di lingkungan yang baru.

Di banyak benak anak Indonesia, hari pertama masuk sekolah tetap menjadi kenangan terindah.

Di depan pintu gerbang sekolah, guru, sang pendidik, sudah siap sedia menerima putra-putri terbaik orangtua yang akan dipercayakan kepada mereka.

Ungkapan saling percaya itu hanya bisa diungkapkan dengan sapaan penuh kepercayaan, harapan, dan kerendahan hati, yaitu “Bapak ibu guru, ini permata kami. Didiklah anak-anak kami.”

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: