//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan

Ayah Hebat Bukan Main (Seri Fatherman bag. 6)

bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Manusia adalah makhluk bermain. Pernyataan ini dipopulerkan oleh Johan Huizinga seorang sejarawan asal Belanda. Ia menyebutnya dengan istilah Homo Luden. Tapi plis, mengucap kalimatnya jangan pake nada tanya atau seru ya. Apalagi disampaikan di depan kawan yang bernama deni atau deden. Homo Lu den!? Ini tuduhan serius. Bisa diadukan ke polisi. Untung gak dibales ama dia pake pantun, “Si komo tersesat di hutan. Gua homo karena ikut-ikutan’. Tuh kan jadi panjang urusannya?

Kembali ke istilah makhluk bermain, tentu tidak sepenuhnya kita sepakat dengan pernyataan ini. Kesannya, manusia itu gak ada aktivitas lain kecuali untuk bermain aja di dunia. Gila apa, hidup cuma buat main-main doang. Udah gitu berharap pas mati bisa masuk surga. Emang situ punya orang dalem? Mungkin istilah yang lebih tepat seharusnya, manusia itu makhluk yang SENANG bermain. Dengan kata lain, bermain menjadi salah satu kebutuhan hidup manusia di antara kebutuhan yang lainnya. Dan yang namanya kebutuhan tentu ada kadarnya. Jika kekurangan hati menjadi resah, jika berlebihan malah nambah masalah. Sebab sesuatu yang berlebihan sering bikin masalah. Berat badan contohnya. Jika berlebihan, you know lah. Bisa jadi masalah utama. Makanya produk penurun berat badan laku dimana-mana. Untuk mengurangi ‘sesuatu’ yang berlebihan, katanya.

Yang jelas, kita tidak pungkiri bahwa manusia memang senang bermain. Dengan bermain hidup jadi lebih dinamis dan tidak monoton. Terlebih anak-anak. Dunianya tak lepas dari permainan. Makanya banyak dari mereka disekolahkan di play group. Meskipun sebagian orang tua agak cemas. Kalau kelamaan di play group, jangan-jangan pas udah besar anaknya jadi play boy. Padahal gak ada hubungannya. Di play group mereka bermain menghargai temannya yang wanita. Sementara play boy terbiasa mainin perasaan wanita. Biasa kirim puisi seraya jalani hubungan yang tak pasti. Dimana si wanita akhirnya berkata, “apa yang kamu lakukan padaku itu, jahat!”. Eh ini mirip cerita apa ya? Ah sudahlah…

Intinya, hak anak untuk bermain mau tak mau harus dipenuhi. Jika ditolak, ia akan mencari celah jalan keluar sendiri. Ketika di rumah dilarang, maka ia coba cari-cari kesempatan di luar tuk puaskan kebutuhan dirinya akan permainan. Disinilah bahayanya, terutama ketika kita tak tahu permainan apa yang ia kerjakan di luar sana. Kalau cuma main bola atau layangan gak masalah. Yang repot kalau anak udah mulai main kawin-kawinan meniru adegan di TV. Atau permainan membahayakan lainnya seperti tinju bebas, dan yang semisal dengannya. Ini bukan lagi permainan namun bisa berubah jadi tindak kejahatan

Untuk itulah, ayah selaku Fatherman mulai memakai topi peran EntertainMan. Menjadi lelaki penghibur. Dibuktikan dengan memfasilitasi kebutuhan anak untuk bermain. Gak perlu keluar uang banyak. Cukup sediakan diri dan waktu yang cukup untuk berinteraksi bersama anak. Sebab sejatinya tubuh ayah pun sudah bisa jadi bahan permainan yang asyik bagi anaknya, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.

Contohnya ajaklah anak bermain kejar-kejaran. Tentu bukan dalam rangka adegan pencopetan. Bukan. Kejar-kejaran disini permainan untuk menumbuhkan keakraban. Prinsipnya adalah “kejarlah daku kau kutangkap”. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah saat bermain dengan Bani Abbas. Beberapa anak dari Abbas bin Abdul Muthollib yakni Abdullah, Ubaidillah dan Katsir, dikumpulkan dan diajak bermain oleh Rasul. Rasul mengatakan siapa yang dapat memegang tubuhnya dapat hadiah dari beliau. Maka berebutanlah mereka mengejar Rasulullah. Ada yang berhasil memegang punggung dan ada juga yang memegang dada. Rasul pun memeluk mereka dan memberi mereka hadiah. Ini adalah sebuah momen yang amat berharga dan berkesan bagi anak-anak.

Point penting dari kisah di atas adalah bahwa bermain dengan anak bukanlah sebuah aib, terlebih dianggap menjatuhkan kehormatan. Justru ini adalah sebuah bentuk kemuliaan. Sebab Rasul pun melakukannya. Selain itu, bermain dengan anak bisa menjadi moment yang mengasyikkan dan memberi kesan bagi anak jika dilakukan dengan beberapa prinsip berikut:

1. Seriuslah saat Bermain
Bermain pada dasarnya untuk mendapatkan kesenangan. Maka gak bisa dilakukan terburu-buru. Sesuatu yang terburu-buru biasanya tidak nikmat. Anak merasa diabaikan sebab jiwa ayah tak hadir dalam permainan. Pikiran melayang, bahkan sesekali disambi dengan ngecek HP untuk membalas setiap komen Whasapp atau BBM dari kawan. Atau sembari mengerjakan tugas kantor. Sungguh ini tak asyik bagi anak. Maka fokuslah kepada permainan. Jika benar-benar sedang repot, lebih baik tunda dan janjikan waktu yang lebih tepat untuk bermain. Asal jangan lama-lama, anak akhirnya tak lagi percaya.

2. Jangan mengandalkan media
Yang dibutuhkan oleh anak adalah interaksi asyik dengan ayahnya. Itulah kenapa peran ayah selaku Fatherman harus lebih dominan dibandingkan media yang dipakai dalam permainan. Misalnya saat bermain catur, maka interaksi fisik dan celetukan-celetukan ringan harus sering dilakukan. “Wah rajanya ayah makan. Padahal ayah lagi puasa nih!” Atau dengan memainkan anak catur kuda saat hendak bergerak layaknya kuda perang. Sambil nyanyi lagu kuda lumping. Makin seru rasanya. Dan anak pun menyadari, main catur itu hanyalah sarana untuk makin mengakrabkan diri kepada ayah, bukan kepada papan caturnya. Sehingga saat papan catur hilang, anak tak merasa sedih sebab yang dibutuhkan adalah ayahnya.

3. Fokus kepada Kebersamaan bukan kemenangan
Ini ujian sesungguhnya bagi ayah. Sebab banyak ayah yang bermain malah untuk mencari kemenangan. Bahkan gak mau mengalah dengan anak sendiri. Saat bermain kejar-kejaran contohnya. Tetiba ayah langsung lari dengan kekuatan penuh, “Wusssh” kayak mantan copet. Ya tentu anak tak mampu mengejar ayah. Alhasil, anak jadi malas bermain dengan ayahnya. Atau saat main bulu tangkis, si ayah langsung mengeluarkan jurus smash geledeknya. Ini kayaknya obsesi yang terpendam. Tersebab, ayah selalu kalah jika tanding bulutangkis tingkat RT. Plis, ayah. Sesuaikan irama bermain dengan kemampuan anak. Bahkan ‘mengalahkan’ diri demi kemenangan anak hingga membuat ia puas, malah mengasyikkan dan membuat permainan makin diminati oleh anak.

4. Sering-seringlah melakukan Kontak Fisik saat Bermain
Keakraban ayah dan anak ditandai dengan kelekatan fisik. Sejatinya, anak senang bermain-main dengan badan ayah. Perut ayah yang buncit, misalnya. Jangan minder dulu. Anak, terutama yang masih bayi, bisa main seluncuran di atasnya. Atau yang sudah agak besar, bisa salurkan hobi musiknya dengan manabuh perut ayah. Wah ayah jadi makin ogah diet sepertinya. Tapi bukan itu intinya. Sebab, aktivitas kontak fisik seperti memeluk anak, menggendong, merangkul, mencengkeram dengan lembut atau menyusurkan jenggot dan kumis ke pipi anak, adalah sesuatu yang amat menarik bagi anak. Percayalah, anak lebih tertarik kepada ayah dengan model seperti ini. Yang menjadikan seluruh anggota tubuhnya sebagai sarana bermain bagi anak.

5. Berikan Hadiah Kejutan pasca Bermain bersama
Bermain itu ibarat sedang mentas drama. Closingnya harus bagus. Agar menimbulkan kesan mendalam. Maka, memberi hadiah adalah salah satu caranya. Ini diberikan terutama bagi anak yang mampu melewati tantangan permainan. Atau bisa dengan makan sekaligus jajan bersama. Inilah momen yang menggembirakan. Anak dimanjakan selama permainan. Maka, idealnya bermain yang serius itu enaknya di awal bulan. Terutama pas baru gajian. Kalau di akhir bulan, pas sesi closing bermain, biasanya ayah mulai resah. Melirik-lirik buku tabungan. Ah malah gak seru jadinya. Tapi percayalah, closing yang dimaksud gak mesti mahal. Makan snack atau minuman yang murah meriah juga seru. Intinya, rayakan kegembiraan di akhir permainan.

Kelima point di atas adalah panduan bagi ayah yang tengah menjalani lakon Fatherman agar bisa memiliki skill mengikat hati anak. Sehingga tak ada lagi anak yang candu TV dan gadget serta betah nongkrong di rental playstation. Sebab kebutuhan mainnya dipenuhi oleh sang ayah. Ayah yang siap bermain inilah yang disebut ayah hebat bukan main. Tapi ini hanya berlaku saat bersama dengan anak. Jangan keasyikan bermain saat ayah bekerja. Bisa dipotong gajinya oleh atasan. Kecuali kalau ayah pekerjaannya memang sebagai badut ultah. Tentu bermain adalah kewajiban yang musti ditunaikan baik di rumah maupun di luar. Selamat bermain (bersambung)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: