//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Renungan

“Anak-anak menerjemahkan cinta orangtua sebagai WAKTU.”

Dono Baswardono
***

Terima kasih untuk semua ibu dan ayah (Wow, keren. Ada ayah yang ikut menjawab) yang kemarin sudah menjawab pertanyaan saya, “Manakah yang lebih efektif, memuji anak atas perbuatan-perbuatan positifnya, ataukah mengomelinya karena tindakan negatifnya?”

Hampir semua menjawab “Memuji dan membahas perbuatan baik.” Hanya satu dua yang menjawab “mesti seimbang.”

Sebagian lagi disertai pengakuan bahwa ada perbedaan antara pengetahuan dan kenyataan. Apa yang diketahui itu tidak sesuai dengan apa yang dilakukan setiap hari. Ternyata, sehari-hari lebih banyak mengomel, menasehati atau memarahi anak ketika mereka melakukan tindakan negatif. Untuk kelompok ini, saya menyarankan untuk pertama-tama fokus menumbuhkembangkan diri sendiri dulu. Mulailah melihat, menemukan dan mengoptimalkan segala kekuatan dan kelebihan Anda sendiri. Lalu membiasakan diri untuk melihat dan menemukan kebaikan-kebaikan dan kelebihan orang lain: suami/istri, anak-anak, saudara, tetangga, teman kerja, dll. Itu semua adalah usaha untuk menyapu pergi kebiasaan dan sikap negatif yang terlanjur tertanam sejak Anda masih kecil.
Sejak kecil? Jadi?… Ya begitulah, kalau itu Anda teruskan, berarti anak-anak Anda kelak…. Lalu jika mereka tak dapat lepas dari kebiasaan mencari keburukan dan kekurangan orang lain itu, maka cucu-cucu Anda kelak….
***

APA YANG ANDA HARAPKAN?
Baiklah, sekarang mari membahas mengapa sih “memuji dan membahas perbuatan positif itu lebih efektif,” seperti diakui atau kesaksian dari beberapa orangtua yang telah membuktikannya.

Tahu dan sadarkah Anda perilaku seperti apa yang Ada harapkan untuk diperbuat oleh anak-anak Anda?

Boleh jadi, Anda berharap anak Anda rajin belajar setiap hari. Akur dengan saudaranya. Bersedia menolong ayah dan ibunya. Cepat akrab dengan teman baru. Mau berbagi mainan dengan kawannya. Bisa bangun sendiri dengan hati gembira.

Ya, kan? Itu kan harapan baik Anda terhadap anak-anak? Tentu, masih ada seribu perbuatan baik lainnya.

Kalau Anda berharap anak “rajin belajar,” lalu mengapa Anda mengomelinya dan menasehatinya panjang, lebar kali tinggi, setiap kali ia tidak belajar?

Jika Anda berharap anak-anak Anda saling akur, mengapa Anda memarahi mereka setiap kali mereka bertengkar atau berebut sesuatu?

Apabila Anda berharap anak-anak Anda mau membantu pekerjaan Anda, mengapa Anda cemberut dan mengomel tiap kali mereka tetap asyik bermain pada saat Anda sibuk sendiri?

Kalau harapan Anda adalah anak cepat akrab dengan temannya, mengapa Anda malah memaksanya untuk mendekati seseorang setiap kali ia ragu-ragu atau ketakutan?

Jika berbagi mainan dengan teman adalah pengharapan Anda terhadap anak, lalu mengapa Anda berkeluh kesah ketika ia bertindak egosentris?

“Hlo, bukankah benar, jika saya berharap ia bangun pagi sendiri, maka saya mesti mengomel tiap kali ia mesti saya bangunkan. Itu untuk menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah,” sangkal seseorang.
Okelah Anda mau menunjukkan mana yang benar dan yang salah. Itu hanya sekadar pengetahuan, dan kalau anak Anda tidak punya gangguan kognitif (berpikir) tentu satu-dua kali pengajaran pun ia sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Akan tetapi, Anda bukan hanya hendak sekadar memberi pengetahuan, ya kan? Anda hendak membentuk perilaku. Anda berniat membangun kebiasaan baik pada diri anak.

Penting mana, perilaku positif dibandingkan perilaku negatif? Tentu sangat penting perilaku positif, ya kan? Kalau memang perilaku positif itu sangat penting bahkan super penting, lalu mengapa Anda memberi banyak usaha, banyak waktu, banyak energi, banyak perhatian terhadap perilaku negatif? Mengapa?
***

BEWARE: SIMPULAN ANAK-ANAK!
Sekarang, mari melihat dari sudut pandang anak-anak. Apa kebutuhan dasar anak-anak? Rasa dicintai.
Bagaimana anak-anak mengetahui bahwa ia dicintai oleh orangtuanya? Karena orangtuanya memberi banyak usaha, banyak energi, banyak waktu untuk dirinya. Anak-anak tahu kalau ia dicintai, karena Anda repot pergi ke pasar, membersihkan sayur, dan kemudian sekian jam memasaknya, untuk memberinya makanan. Anak-anak paham jika ia dicintai karena orangtuanya mau menutup laptopnya dan memiih setengah jam bermain bersama dirinya. Anak-anak merasakan cinta Anda karena Anda menyediakan waktu sekian menit untuk membaca, menonton atau mengobrol dengan mereka.

Itu berarti (bawah sadar) anak-anak juga menangkap perhatian Anda, cinta Anda, ketika Anda mengomeli mereka selama 5 atau 15 menit karena telah berbuat keliru. Ya, Anda sudah memberikan cinta dan perhatian Anda kepada anak selama sekian menit ketika anak-anak Anda tidak belajar. Anda memberi perhatian lebih ketika anak-anak bertengkar. Anda memberikan banyak waktu Anda ketika anak tak mau membantu Anda.

Mengapa Anda memberi perhatian, menyisihkan waktu selama belasan menit terhadap ketidaksediaannya untuk belajar? Dan mengapa ketika ia belajar Anda malah diam saja, menganggapnya sebagai wajar sehingga Anda tetap sibuk mengerjakan sesuatu?

Mengapa Anda memberi perhatian, meluangkan waktu selama belasan menit terhadap pertengkaran mereka, terhadap ketidaksediaan mereka menolong Anda, terhadap keengganannya berteman, terhadap kemalasannya bangun pagi? Dan mengapa ketika anak-anak berbuat baik sesuai harapan Anda, Anda malah diam saja, tidak memberikan waktu khusus, tidak memberi perhatian ekstra, tidak menambahkan cinta Anda?

Apa yang ditangkap dan dipahami anak-anak dari gaya parenting Anda itu?

Ternyata, Anda lebih mencintai mereka yang berbuat buruk, yang berperilaku dan bersikap negatif. Terbukti, ketika mereka berbuat baik setiap hari, apa pun itu, Anda seperti tidak melihatnya. Namun, begitu mereka sekali saja bertindak negatif, Anda langsung mengetahui dan membahasnya panjang lebar. Anda seperti ahli menemukan jarum di tumpukan jerami. Ahli memperhatikan keburukan anak.

Ya, 15 menit membahas perilaku positif adalah bukti cinta Anda terhadap perilaku positifnya. Dan 15 menit menasehati perilaku negatif adalah juga bukti cinta Anda — cinta terhadap perilaku negatifnya.

Maka, anak membuat asosiasi yang dahsyat: “Aku diberi perhatian 15 menit kalau aku berbuat buruk, bertindak negatif. Aku tidak diberi perhatian, aku tidak dicintai, ketika aku berperilaku positif.”

‪#‎PositiveReinforcement‬ ‪#‎BehaviorModification‬

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: