//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Kajian, Life style, Perubahan

Middle Class dan Postur Keunggulan Daya Saing Ekonomi Indonesia — Catatan Kedua dari Tiga Tulisan

Jusman Syafii Djamal

Tiga hari lalu dalam fb ini sy membuat catatan pertama atas pertanyaan sahabat fb sy Indra Uno tentang kuliah umum Prof Richard Robinson.

Beliau membuat statement bahwa Indonesia tidak mungkin jadi unggul dan jadi penggerak ekonomi kawasan. Salah satu sebabnya adalah karena pemimpin politik ekonomi tidak memiliki intensi untuk mepresentasikan keunggulan tersebut.

Catatan pertama saya tiga hari lalu, mencoba menjelaskan salah satu kemungkinan yg disebut Richard Robinson dgn pemimpin politik dan ekonomi itu bukan mereka yg diangkat berdasarkan surat keputusan.

Yg jadi fokus Maha Guru Richard Robinson, menurut hemat saya adalah Middle Class atau Kelas Menengah Indonesia. Dalam buku the Rise of Capital digambarkan sebab mengapa kelas menengah Indonesia dimasa setelah merdeka belum memiliki daya dobrak. Belum berhasil merubah struktur dan postur keunggulan ekonomi Indonesia yg masih terbelenggu potensinya.

Sehingga belum memiliki pengaruh dominan pada ekonomi kawasan.

Dalam catatan pertama itu sy menempatkan Richard sebagai ahli political economy dgn pola fikir strukturalis.

Bagi penganut mazhab pola fikir strukturalist pengertian middle class bukanlah orang perorang atau kelompok politik atau ekonomi tertentu. Bukan juga didefinisikan atas dasar suku agama.

Melainkan pada mereka yang memiliki pengaruh dan dipengaruhi oleh proses “capital circulation”.

Sirkulasi modal jadi fokus sebab modal atau capital bukanlah produk jadi atau barang mati yang bersifat statik. Capital is not a thing, but a process and a systems. Capital bersifat organik, tumbuh berkembang, mulur mungkret dan juga bisa terbang menguap tak berbekas disatu kawasan ekonomi. Sifat fluktuatip Capital ini yg secara dinamis mempengaruhi struktur dan kultur politik ekonomi suatu kelompok kepentingan dalam satu wilayah.

Yg tadinya punya peran dominan bisa memudar. Yg awalnya tidak dipandang sebelah mata, muncul sebagai kekuatan baru.

Fenomena “velocity of capital in circulation” yg terjadi ditengah masyarakat itulah yg jadi bahan kajian the Rise of Capitalnya Richard Robinson. Kecepatan pertumbuhan modal disatu wilayah di Negara seperti Indonesia sangat tergantung pada policy. Tiap kebijakan fiskal dan moneter memiliki pengaruh, besar dan arah perputaran modal disuatu wilayah ibarat gelombang arus yg membawa tiap perahu business yg muncul timbul tenggelam pada satu era tertentu.

Catatan ini perlu saya kemukakan untuk menempatkan pandangan Prof Richard Robinson melaui persfektip beliau dalam bukunya the Rise of Capital.

Sebuah buku yg membedah anatomi tumbuh dan berkembangnya Capital dikelompok bussinessman dan entrepreneur Indonesia sejak masa sebelum 1965 hingga 1995. Sebuah hasil riset dan kajian yg perlu dibaca dengan cermat.

Dalam telaahan beliau diperoleh bukti bahwa “middle class” yg tumbuh atas dasar opportunities yg muncul dari policy negara dan network politik yg ada ternyata belum mampu mendobrak belenggu struktur ekonomi untuk beorientasi pada keadilan sosial seperti yg dicita citakan oleh Founding Father. Karenanya pertumbuhan ekonomi yg terjadi belum diikuti oleh lenyapnya inequalities atau kesenjangan sosial.

Secara teoritis tata kelola akumulasi kapital yg terjadi akibat pertumbuhan ekonomi disuatu wilayah akan melahirkan middle class yg memiliki keunggulan daya saing dan inovasi. Daya saing dan Inovasi ini pada gilirannya akan menjadi daya dobrak atau “creative destruction” yg menjebol struktur ekonomi kolonial tinggalan Belanda dan mentransform nya menjadi struktur ekonomi yg lebih adil.

Seperti kata Bung Karno Kemerdekaan adalah jembatan emas melahirkan masyarakat yg adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan seperti amanat Konstitusi kita.

Ini yg tidak terlihat oleh hasil riset Richard Robinson. Karenanya ia berkesimpulan postur ekonomi yg muncul belum mampu merepresentasikan tingkat keunggulan tertentu yg diharapkan oleh thesis beliau.

Sebelum beranjak lebih lanjut ada baiknya sy buat catatan tentang siapa yg dimaksud dengan Middle Class dalam tulisan ini.

Pada February 2009 majalah the Economist kelompok middle class adalah mereka yg sudah bisa mengalokasikan sebagian uangnya untuk belanja kebutuhan tertier seperti health care,asuransi dan liburan. Mereka telah mampu memenuhi kebutuhan primer seperti sandang,pangan dan papan. Serta kebutuhan skunder seperti wahana transportasi dan edukasi serta kesehatan.

Dengan kata lain mereka adalah kelompok masyarakat yg menjadi penggerak ekonomi. Baik secara langsung yg memiliki daya beli cukup untuk belanja barang barang konsumsi. Secara tidak langsung mereka adalah penggerak pasar produk industri rumah tangga dan industri lainnya, sebagai konsumen aktip.

Di Amerika yg disebut middle class berjumlah 45% dari penduduk. Pada tahun 2010 OECD memprediksi ada 1,8 Milyar orang yg masuk kategori kelas menengah, dengan kekayaan berkisar pada angka 10000-100,000 dollar US. Atau 100 juta hingga 1 Milyar rupiah. Sementara Credit Suisse Global Wealth Report meprediksi jumlahnya 1 Milyar orang diseluruh dunia.

Di Russia tahun 2015 ada 15% ada dibatas atas middle class dan 25% di batas bawah definisi kelas menengah. Di China ada 19% penduduk yg punya kekayaan 18000 -36000 dollar pd tahun 2003. Di India th 2012 ada 8% sementara di Amerika Latin ada 152 juta orang.

Semua lembaga penelitian kelihatan nya memiliki angka untuk mendefinisikan middle class yakni mereka yg memiliki kekayaan 80 juta hingga 360 juta rupiah, ini disebut kelas menengah bawah. Dan 400 juta hingga 10 Milyar rupiah disebut kelas menengah sedang. Diatas 10 milyar rupiah kelas menengah atas.

President Obama pernah pidato begini :”the rich are those who make 200 thousand dollars a year or more as an individual or 250 thousand dollars or more as household”. Dengan kata lain middle class adalah mereka yg bisa menghasilkan pendapatan dibawah 250 ribu dollar pertahunnya.

Sementara dengan definisi middle class adalah mereka yg memiliki kekayaan 54000 hingga 120,000 dollar AS, Credit Suisse Global Wealth Report memperlihatkan prosentase terbanyak dari jumlah penduduk yg masuk kategori middle class adalah spanyol 52,4% , Netherland 49,7%, Japan 49%, Germany 39,9%, United Kingdom 39,7%, China 32,2%, India 22,6% dan USA 19,6%.

Dengan angka dan definisi diatas sy hanya ingin membawa pola fikir kita bahwa pengertian middle class jangan dikaitkan dengan etnis, agama atau ras.

Defnisinya berkaitan dengan “proses akumulasi modal” yg terjadi sebagai buah pertumbuhan ekonomi. Karenanya jika ingin menempatkan potensi middle class Indonesia sebagai kekuatan pendorong kemajuan Bangsa, hendaknya ditelaah anatomi dan behaviour politik ekonomi yg diperankannya.

Misal seberapa jauh kelas menengah ini telah muncul sebagai kekuatan entrepreneur yg mengalokasikan sebagian capitalnys untuk diinvestasikan menciptakan lapangan kerja baru.

Middle Class ini juga dapat menjadi pasar konsumsi bagi produk industri kecil menengah tergantung pada seberapa besar dana yg mau dialokasikan untuk mengkonsumsi produk industri nasional, sebagai konsumen pembeli batik, kerajinan rumah tangga indonesia atau konsumen pasar tradisional Indonesia.

Pada September 2012 Raoul Oberman dkk dari Mc Kinsey Global Institute membuat Report berjudul :”The Archpelago Economy, Unleashing Indonesian Potential. Isinya adalah prediksi tentang kekuatan middle class Indonesia sebagai penggerak pertumbuhan economy. Laporan itu menyatakan sbb :

Tahun 2012 tercatat ada kurang lebih 45 juta orang Indonesia yg masuk kategorikelas menengah dan memiliki daya beli untuk menjadi kelompok konsumen pembeli produk industri dalam negeri atau produk import.

53% penduduk Indonesia memiliki kontribusi untuk memproduksi 74% GDP. Terdapat 55 juta skilled worker dalam gerak ekonomi Indonesia dan telah tercipta market opportunity dalam “consumer services”, “agriculture and fisheries resources serta edukasi senilai 500 Milyar Dollar.

Pada tahun 2030 diprediksi akan muncul 135 juta middle class yg memiliki daya beli untuk menggerakan pasar domestik. Ada 71% penduduk yg menciptakan 86% GDP. Dan lahir “market opportunities” untuk consumer services, agricultures and fisheries resources serta education senilai 1,8 Triliun Dollar.Untuk menggerakkan potensi itu kurang lebih diperlukan 113 juta skilled worker, tenaga profesional dan tenaga kerja berkeahlian specific.

Apakah prediksi itu dapat terwujut ? Semuanya berpulang pada tingkat kesadaran middle class Indonesia untuk menjadi agent penggerak ekonomi kita.

Kini middle class ada dua jalur pilihan ikuti alur fikiran Richard Robinson jadi Agent of Change mentransformasikan struktur ekonomi menjadi struktur dan postur Economic Growth with Equality atau mewujutkan prediksi Mc Kinsey tahun 2030 ?

Wallahualam

Cukup dulu catatan kedua sy, yg diketik disela sela perjalanan. Mohon maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: