//
you're reading...
Ekonomi, Human being, Kemandirian, Lingkungan, Motivasi, Perubahan, Review

Indonesia Unggul ??? Bagian Pertama dari Tiga Tulisan

Jusman Syafii Djamal
10 Juli 2016

Seorang teman fb sy Indra Uno mengunggah berita tentang kuliah umum Prof Richard Robinson yg kurang lebih menyatakan Indonesia tidak mungkin punya kemampuan menjadi Negara yg menjadi kekuatan Regional baru seperti diprediksi.

Kuliah Maha Guru Australia yg penah menulis buku The Rise of Capital yg menyoroti struktur dan postur serta episteme kekuatan middle class Indonesia itu, memang menarik untuk dicermati.

Apalagi wartawan yg menulis kuliah ini terasa men”share” kekagetan nya. Wah ternyata kita keliru. Bangsa Indonesia ini ternyata macan ompong atau ayam sayur. Tak punya potensi untuk jadi unggul.

Sebuah “sharing” yg berhasil menggunggah paling tidak Indra Uno yg langsung bertanya pada saya :”benar nih Bang jusman”.

Membahas pernyataan seorang Maha Guru dalam kuliah umum memang dapat lahirkan banyak interpretasi. Karena tugas pokok dan fungsi Mahaguru adalah membangkitkan rasa ingin tau mahasiswanya.

Tugas Maha Guru adalah memprovokasi mahasiswanya untuk mengkaji ulang semua fikiran yang beku. Agar ada “rejuvenansi” atau peremajaan asumsi, updating data dan lahirkan thesis baru.

Jadi apa yg disampaikan Prof Richard Robinson trsebut tak perlu juga bikin kita kebakaran jenggot. Sebab kesimpulannya bisa benar, tapi bisa juga keliru.

Kalau benar , lantas kita mau apa dan mau kemana. Kalau keliru dimana letak soalnya ??

Salah satu penyebab nya yg dikatakan oleh Prof Richard Robinson adalah “Tidak adanya intensi dari pemimpin politik dan ekonomi Indonesia untuk menampilkan dan memproyeksikan kekuatan ekonomi Indonesia menjadi pembangkit dan penggerak kekuatan ekonomi Regional dan Internasional.

Pertanyaannya apa benar begitu ?

Menyatakan Pemimpin Politik dan Ekonomi Indonesia tidak punya intensi , sy fikir tidaklah tepat seratus persen. Semua Pemimpin Politik dan Ekonomi Indonesia pastilah punya Niat dan Kesungguhan setulus hati untuk membangun Bangsa yang Mandiri yg tangguh dan unggul dikawasan Asia. The Tigers from Asia.

Sebab paling tidak tiap priode kepemimpinan Politik dan Ekonomi kita melihat ada Visi, Misi, Strategi dan Program Aksi.

Dari era Sukarno Hatta, Suharto hingga era Reformasi BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY dan Jokowi JK , terlihat ada jejak langkah Visi, Misi, Strategi dan Program aksi yg bisa diikuti intention dan spiritnya.

Bahwa intensi politik ekonomi itu tidak memenuhi kriteria Yg ditetapkan oleh Prof Richard Robinson, itu soal lain. Belum lagi sy juga tidak tau apa dan siapa yg disebut Pemimpin Politik Ekonomi oleh Robinson. Mungkin yg dimaksud bukan Presiden dan Wakilnya atau Kabinetnya.

Bisa juga ada orang atau grup pemimpin lain yang ditunggu oleh Thesis Richard Robinson ini. Sebab dalam mazhab pemikiran beliau ini termasuk pemikir structuralist.Arah thesisnya selalu dtructural change.

Apalagi jika kita membaca buku the Rise of Capital nya Richard Robinson, fokusnya adalah menemukan “middle class” yg mampu memiliki kekuatan untuk mendobrak struktur yg menurut beliau membelenggu.

Buku the rise of capital ini termasuk buku yg menjelaskan secara rinci tentang peranan Capital atau Modal dalam pasang surutnya kekuatan politik ekonomi di Indonesia. Pada bagian pertama Richard Robinson membuat anatomi munculnya kekuatan modal akibat policy Negara dimasa sebelum 1965. Kisah munculnya kekuatan modal dan middle class dalam Program Benteng nya Sumitro di era 50 an kabinet parlementer hingga era Sukarno berakhir diulas anatomi nya dgn menarik. Begitu juga munculnya kekuatan pengusaha baik pribumi maupun non pri serta konglomerasi pada era Suharto dengan Repelita I hingga IV diulasnya dgn baik. Peran Negara, Akumulasi Kapital yg timbul dari policy negara ditengah arus tarik menarik birokrasi, militer dan partai politik dibedah dengan jelas.

Disini seolah Richard Robinson ingin menjelaskan bahwa policy negara tidak melahirjan middle class yang memiliki entrepreneurship untuk merubah bangunan struktur ekonomi kolonial tinggalan Belanda.

Middle Class baik pribumi maupun non pribumi yg diungungkan oleh policy Negara sejak sebelum 65 hingga 1998 ternyata tidak mampu memutus mata rantai struktur masa lalu.

Pesan Bung Karno untuk menjadikan kaum marhaen atau pemilik modal kecil untuk tampil sebagai penggerak ekonomi seolah memudar. Sebab kecepatan pertumbuhan kapital di kalangan masyarakat ternyata jauh lebih lambat dibanding upper class. Tetap muncul gap, ketidak seimbangan proses akumulasi modal didesa dibanding di kota. Gap diantara kekuatan ekonomi kecil menengah dengan konglomerasi.

Meski karya Richard Robinson ini tidak sempat membhas mengapa dimasa krisis ekonomi asia tahun 1997/98 ternyata justru ekonomi kecil menengah dan informal sector ini yg survive sementara konglomerat rubuh.

Jika alur fikiran Richard Robinson dalam buku the Rise of Capital yg dirujuk, jelas yg dimaksud oleh beliau sebagai pemimpin politik dan ekonomi itu bukan semata mata mereka yg dalam jabatan struktural liwat surat keputusan. Melainkan “the middle class”. Yg diharapkan memiliki daya entrepreurship dan kecintaan pada masyarakat untuk menjadi “tge creative destruction” pemecah belenggu kemajuan.

Tulisan ini akan dilanjutkan karena kebetulan sy sedang dalam perjalanan.

Setiap tahun jika ada kesempatan dan rezeki, sy coba ikuti kebiasaan Prof BJ Habibie dulu ketika masih menjadi MenRistek selama 25 tahun, yg selalu mengunjungi pusat Research and Development untuk benchmarking.

Saya tidak ke laboratorium dan kawasan industri seperti ketika sering sy diajak serta beliau. Tapi fokus nya lebih pada community development center untuk mengetahui apa sebab dan mengapa didalam komunitas bisa bangkit kekuatan inovasi sebagai engine for growth.

Kali ini saya ambil perjalanan darat menyusuri jejak masa lalu tahun 82-89 an, Start dari Amsterdam menuju utara.

Satu hari di Amsterdam sy menikmati jejak masa lalu jogja. Kota sepeda. Semua orang muda mahasiswa melatih spirit dan energinya dengan bersepeda. Arah aktivitas bersepeda ini adalah menciptakan Zero Emission. Green Society.

Motto mereka Genjot Terus, Never Give Up.

Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: