//
you're reading...
Human being, Kajian, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan, Renungan, Uncategorized

Fitrah dan Adab

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Ada dua tema besar di dalam alQuran dan alHadits ketika berbicara pendidikan dan anak, yaitu tema Fitrah dan tema Adab. Kedua tema ini jarang dipahami sebagai tema yang saling menguatkan dan bersambungan. Kebanyakan bahkan memandang kedua tema ini seolah berlawanan bagai dua kutub berbeda.

Tema fitrah terdengar lebih banyak unsur feminitas, karena bicara tentang kejadian, benih, kelahiran, kebangkitan. Maka topik topik alQuran dan alHadits dalam tema fitrah sangat humanis atau insani, yaitu bicara cinta dan keindahan, keunikan dan harmoni dsbnya. Jangan lupa karena memang Islam adalah agama fitri yang punya karakteristik Insaniyah dan Robbaniyah, sehingga tidak berlawanan dengan fitrah manusia.

Karenanya dalam perspektif pendidikan, tema fitrah bicara tentang memelihara, merawat dan menumbuhkan, membangkitkan, menyadarkan semua potensi yang ada pada diri manusia secara hati hati. Maka pendidikan dalam terminologi fitrah disebut dengan tarbiyah. Tarbiyah berasal dari kata robba – yarbu yang berarti memelihara atau membina. “Orangtua dan lingkungan sosialah yang bila gegabah mendidik, akan merubah kondisi positif Islam menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi,” sebagai tafsir dari ayat “…hadapkan wajahmu pada agama Allah yang lurus, dan tetaplah pada fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu…”.(QS 30:30).

Berseberangan dengan Fitrah, maka Tema Adab terdengar lebih banyak unsur maskulinitas, karena bicara tentang kedisplinan, kepatuhan, kemuliaan, kegagahan, martabat dan harga diri, perjuangan, pengorbanan dstnya. Maka topik topik dalam tema ini di dalam alQuran dan alHadits nampak lebih banyak bicara nilai nilai dan tindakan bermartabat seperti pengorbanan, jihad dsbnya. Jangan lupa bahwa Islam adalah agama yang memuliakan adab dan peradaban serta menolak penindasan.

Karenanya dalam perpektif pendidikan, tema Adab bicara tentang mendisiplinkan, menggembleng, membentuk, dstnya dengan ketat dan keras. Maka pendidikan dalam terminologi adab disebut dengan Ta’dib, yang berarti memperadabkan atau mengadabkan atau mengajarkan adab. “Orangtualah yang wajib mengadabkan dan mengajarkan keluarganya” sebagai tafsir dari ayat “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Kedua tema besar di atas menentukan cara pandang kita tentang pendidikan. Mari kita uji cara pandang kita pada kasus berikut, apakah lebih kepada tema fitrah atau tema adab.

Kasus Guru atau orangtua yang dengan keras mendisiplinkan anaknya sehingga perlu melakukan pemaksaan dan kekerasan misalnya banyak melarang, memukul dstnya.

Jika cara pandang kita beranjak dari tema fitrah atau perspektif Tarbiyah maka kita akan melihat bahwa kekerasan pada kasus di atas akan beresiko merusak fitrah anak, bahkan beresiko menyimpangkan konsep diri anak serta mematikan potensi keunikan sifat anak tersebut yang dianggap berlawanan dengan adab atau akhlak. Rasulullah SAW tidak pernah memukul anak sepanjang hidupnya bukan?

Jika cara pandang kita beranjak dari tema Adab atau perspektif Ta’dib, maka kita akan melihat kekerasan guru dalam mendisplinkan anak sebagai upaya menaikkan martabat, ketangguhan, kegigihan perjuangan dan kemampuan survive. Bukankah semua Nabi hidup dalam suasana dan kondisi yang menekan dan menegangkan sehingga mereka semakin mulia karena berhasil melewatinya?

Mereka yang concern dengan tema Fitrah akan menuduh para pengusung Adab sangat tidak manusiawi dan bertentangan dengan fitrah manusia yang menyukai harmoni, cinta dan keindahan. Sebaliknya, mereka yang concern dengan Adab akan menuduh para pengusung fitrah sebagai terlalu humanis, liberalis karena banyak membiarkan anak padahal anak memerlukan kepatuhan dan ketaatan untuk beradab pada Allah, pada semesta, pada dirinya, pada ulama dan ilmu dstnya.

Atas nama adab dan kepatuhan, seringkali adab atau akhlak dibenturkan dengan sifat unik anak atau fitrah bakat, ditabrakkan dengan fitrah keimanan, bahkan fitrah seksualitas dsbnya. Atas nama fitrah seringkali fitrah indah manusia dibenturkan dengan kepatuhan dan respek, ditabrakkan dengan martabat dan kemuliaan dstnya.

Lalu mengapa seolah menjadi 2 kutub yang terpisah, menjadi Bipolar antara Fitrah dan Adab padahal kedua terminologi ini ada dalam Islam? Keduanya sama pentingnya dan utamanya. Bahkan di dalam potensi fitrah sesungguhnya ada adab yang sudah terinstal, dan Adab sesungguhnya adalah berangkat dari Fitrah juga. Bahkan istilah Ta’dib sebenarnya sudah mencakup istilah Tarbiyah.

Lalu dimana letak pertemuan keduanya? Lalu bagaimana mensinkronkan keduanya?

Dalam Islam, mendidik punya tahapan dan urutan. Bahkan Islam dengan ketat dan tegas selalu menyebut waktu. Susuilah selama 2 tahun, perintahkan sholat ketika usia 7 tahun, pisahkanlah kamar ketika usia 10 tahun dan pukullah jika meninggalkan sholat, kemudian izinkanlah berperang pada usia 15 tahun dstnya, termasuk konsep AqilBaligh sebagai pemisah masa anak dan masa mukalaf atau kemampuan memikul beban syariah.

Tema Fitrah dan tema Adab, keduanya sesungguhnya saling melengkapi dan menguatkan yaitu ketika kita berbicara dalam konteks waktu atau tahapan perkembangan manusia.

Tahap usia 0-7 tahun.

Karena tema fitrah terkait dengan benih dan kelahiran, maka pendidikan berbasis fitrah ini akan dominan sejak masa dalam rahiem, sampai masa kelahiran dan menyusui (usia 0-2 tahun), kemudian sejak paska menyusui sampai jatuhnya perintah sholat (usia 3-7 tahun). Dalam tahap usia 0-7 tahun ini pendidikan adab (ta’dib) tidak banyak berperan.

Masa tahap 0-7 ini adalah masa dimana fitrah anak sedang baru tumbuh merekah, ini masa paling rentan sepanjang masa anak anak. Intervensi atau stimulasi berlebihan yang belum saatnya akan lebih banyak menyimpangkan fitrah anak. Pada fase ini fitrah individualitas perlu mendapatkan pengakuan dan pengokohan seiring anak sedang berada pada ego sentris dimana dirinya merasa pusat semesta. Pada masa ini anak belum punya tanggungjawab moral dan sosial, karenanya juga tidak ada perintah sholat. Jika fitrah individualitas tidak tumbuh baik pada usia 0-7 tahun maka fitrah sosialitasnya justru akan buruk ketika usia di atas 7 tahun.

Begitupupa fitrah seksualitas harus dengan jelas mengungkapkan identitasnya, sebagai perempuan atau lelaki pada usia 3 tahun. Dari sisi kelekatan (attachment) masa sejak menyusui sampai 6 tahun adalah masa kritis pertumbuhan fitrah seksualitas. Masa hidup Nabi SAW sejak lahir adalah masa dimana Beliau tidak pernah kehilangan sosok ayah dan sosok ibu walau yatim piatu. Kasus kasus memboarding anak usia dini, selalu menyebabkan fitrah seksualitas dan cinta menjadi menyimpang.

Pada masa tahapan ini aspek cinta dan imaji imaji positif dan indah tentang Allah, RasulNya, Islam harus ditampilkan secara berkesan. Karenanya hadits hadits pada usia ini banyak meminta untuk menghindari trauma, menyuruh bermain dan membiarkan anak apa adanya. Pada tahapan ini seolah tidak mendidik adab, membiarkan anak bermain main bahkan dengan sholat. Dan perlu dicatat bahwa syariah sama sekali tidak menyuruh orangtua memerintahkan sholat pada anak sampai anak mencapai usia 7 tahun.

Namun jangan salah duga dan tergesa menyangka tidak mendidik adab pada Allah, karena mendidik aqidah atau fitrah keimanan justru masa emasnya ada pada tahap usia 0-7 tahun ini. Secara fitrah perkembangan, Imajinasi dan abstraksi anak sedang berada pada puncaknya, sehingga mengenalkan kehebatan dan kebaikan Allah, keindahan dan kekerenan Syurga dll akan tepat waktunya dan akan sangat berkesan dan menguatkan fitrah tauhid Rubbubiyatullah yang telah didapatkan sejak dalam rahiem. (QS 7:172). Perlu dicatat bahwa fitrah keimanan yang sudah diinstal sejak alam rahiem ini adalah fondasi bagi Adab kepada Allah.

Tahap Usia 7 – 10 Tahun

Pada tahap ini dianggap semua potensi fitrah sudah mulai kokoh, maka bukan kebetulan ketika Allah menyuruh orangtua memerintahkan sholat. Inilah awal pendidikan Adab pada Allah.

Secara fitrah perkembangan, anak mulai bergeser dari ego sentris ke sosio sentris. Mereka mulai menyadari adanya kehidupan di luar dirinya, mulai memahami bahwa ada aturan aturan dan hukum secara sederhana serta konsekuensi sosial. Mereka perlahan mulai memiliki tanggungjawab sosial, bersamaan dengan fitrah belajar dan bernalar mengalami puncak emasnya pada masa ini.

Mereka mulai menginteraksikan fitrah belajar dan bernalarnya dengan ciptaan Allah di alam dan kehidupan di sekitarnya.

(Bersambung)

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: