//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Perubahan, Review

1000 Startup di Indonesia yang akan dibangun di atas f*cked up mindset

Joshua Partogi

Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengeluarkan program Gerakan Nasional 1000 startup digital dengan target total valuasi keseluruhan startup sebesar USD 10 billion pada tahun 2020. Entah apa maksud pemerintah menggembor-gemborkan program ini karena lewat program ini pemerintah terkesan cuma berperan sebagai cheerleader yang hanya bisa memberikan sorakan dari pinggir lapangan saja. Pemerintah bermimpi memenangkan lotre tanpa memberikan suntikan dana sama sekali untuk gerakan ini. Mungkin menteri yang bersangkutan perlu belajar dari Singapura, Australia ataupun Korea Selatan mengenai bagaimana pemerintahnya proaktif memberi dukungan finansial bukan hanya dukungan moril saja. Pemerintah Korea Selatan sendiri yang menginvestasikan USD 3 billion tidak memiliki mimpi yang ngoyo seperti ini. Lah ini Pemerintah Indonesia yang tidak mengalokasikan anggaran sama sekali bisa dapat angka USD 10 billion dari mana? Kibar, yang merupakan penggerak dibalik gerakan ini diharapkan oleh pemerintah untuk mencari pendanaan sendiri dalam menjalankan gerakan nasional ini.

Sebenarnya ada banyak ide bagus yang dihasilkan oleh startup digital Indonesia, namun dari tahun ke tahun yang membuat startup digital di Indonesia tidak sustain bukanlah karena idenya tidak bagus tetapi karena mereka masih membangun startup di atas 3 permasalahan fundamental: hierarchical corporate culture, project mindset dan old school software engineering practices. Kalau 3 permasalahan fundamental ini tidak hilang dalam ekosistem software di Indonesia, maka saya hanya ingin mengucapkan selamat bermimpi indah dalam membangun 1000 startup digital sampai 2020 kepada pemerintah Indonesia.

1. Culture

Motivational quote on the wall
Startup is about culture. Culture adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat walaupun keberadaannya dapat dirasakan. Banyak perusahaan startup digital yang tidak mau menginvestasikan uangnya untuk mengembangkan culture karena culture bersifat intangible dan tidak bisa diukur efektifitasnya. Culture bukanlah quote-quote motivasional dari orang-orang tenar ataupun meaningless jargon di tembok ataupun di wallpaper komputer karyawan. Culture bukanlah makan siang gratis dari perusahaan ataupun ruangan dengan XBox atau Play Station. Culture adalah perilaku orang-orang dalam sebuah perusahaan yang ingin menuju tujuan yang sama. Culture tidak bisa didoktrinisasi kepada para karyawan, culture merupakan belief yang sama para karyawan terhadap visi perusahaan. Dan belief tidak muncul dalam benak karyawan hanya karena mereka dipaksa untuk menyanyikan himne perusahaan setiap pagi.

Culture is simply a shared way of doing something with passion. — Brian Chesky (Airbnb)

Perusahaan startup digital di Indonesia masih banyak dibangun oleh culture korporat karena banyak dari startup ini didanai oleh para konglomerat di Indonesia. Para pimpinan perusahaan startup digital di Indonesia masih memiliki mentalitas mengelola buruh pabrik terhadap software developer. Mereka masih haus terhadap kekuasaan oleh karenanya mereka masih merasa keputusan mereka adalah yang paling benar. Startup tidak bisa dikelola dengan culture korporat karena startup memerlukan kecepatan dalam berinovasi dan sense of ownership dari setiap karyawan terhadap produk. Inovasi dan sense of ownership tidak bisa terjadi apabila sistem korporat yang masih memiliki model centralised authority. Lihat bagaimana perusahaan-perusahaan dengan model korporat seperti IBM dan HP yang berjuang untuk bertahan hidup dari tahun ke tahun. Masih ingat Research in Motion (RIM) yang dulu tenar dengan Blackberry dan Nokia? Mereka adalah dua contoh perusahaan teknologi yang dikelola dengan model korporat dan sudah tidak kedengaran lagi.

When you give smart talented people the freedom to create without fear of failure, amazing things happen. — Gabe Newell

Untuk membangun startup digital yang inovatif dan sustainable, perusahaan harus memiliki no-silo & t-shaped people, self-managing & autonomy, distributed accountability, kaizen, anti status-quo and safe-to-fail culture. Sayangnya banyak startup digital di Indonesia yang masih dipimpin oleh pemimpin-pemimpin dari generasi tua yang menganggap autonomy dan distributed accountability sebagai sebuah lelucon karena di era kejayaan mereka semua karyawan akan tunduk kepada atasan. Safe-to-fail culture mereka anggap sebagai nonsense, software developer harus lembur sampai matanya berdarah ketika fail. Dan status quo? Itu harus dipelihara baik-baik.
Referensi:

2. Product Mindset

Your customer don’t buy a project, your customer buy a product. So why do you manage your startup with a project mindset!

Industri software di Indonesia masih terlalu terpusat pada peran Manajer Proyek dan Analis Bisnis. Dan universitas-universitas di Indonesia pun hingga hari ini masih mengedukasi mahasiswanya untuk menjadi Manajer Proyek atau Analis Bisnis setidaknya dalam jangka waktu 5 tahun setelah bekerja sebagai software developer. Jaman dahulu kala, sebelum abad 21, project mindset masih relevan dan masih bisa berjaya. Di abad 21 dimana software menjadi tumpuan hidup masyarakat, mulai dari pengemudi ojek sampai CEO, project mindset sudah tidak relevan lagi oleh karena itu manajer proyek di industri digital pun sudah tidak relevan lagi di abad 21.

If you double the number of experiments you do per year you’re going to double your inventiveness. – Jeff Bezos

Project mindset dibangun di atas pemikiran kalau sukses adalah on-time, on-budget and on-scope. In startup environment if you are on-time, on-budget and on-scope but nobody cares about your product, you are already f*cked. Project mindset dibangun di atas pemikiran kalau segala sesuatunya dapat diprediksi. In startup environment nothing is predictable, every day is about validated learning. Product mindset is about fail fast, fail often and learn cheaply. Product mindset is about making small experiments rather than big fat plan up front. Manajer proyek yang memiliki predictable and command & control mindset dalam startup environment sangat tidak dibutuhkan dan lebih baik dipecat saja karena hanya menambah overhead dan merecoki jalan pikiran orang-orang yang berada di dalam perusahaan. Apakah anda pernah melihat lowongan pekerjaan sebagai manajer proyek di perusahaan teknologi dengan valuasi miliaran dolar seperti Apple, Amazon, Google atau Facebook? Lalu dari mana perusahaan startup digital di Indonesia bisa mendapatkan inspirasi kalau mereka perlu Project Management Office (PMO)? Perusahaan digital top mana di Silicon Valley yang memiliki PMO? Perusahaan startup digital di Indonesia yang masih memiliki manajer proyek lebih baik memecat mereka saja agar budget-nya dapat digunakan untuk merekrut lebih banyak lagi ninja developers yang jauh lebih penting.

In startup environment there are no requirements, there are only options to validate your assumptions.

Project mindset beranggapan kalau seluruh ruang lingkup requirements project bisa direncanakan dan dikunci sebelum project dimulai. Project mindset dibangun di atas sudut pandang kalau sukses adalah jumlah output sesuai dengan ruang lingkup requirements yang ditentukan di fase perencanaan. In startup environment, there are always more features to develop than people, time and money you have. Product mindset mengukur outcome bukan output. Output adalah berapa banyak fitur yang dihasilkan oleh software developer dalam satuan waktu tertentu sedangkan outcome adalah bagaimana reaksi pengguna terhadap output setiap satuan waktu. Tidak ada gunanya mengembangkan banyak fitur tepat waktu kalau tidak ada pengguna yang merasakan dampak dari fitur-fitur tersebut atau fitur-fitur yang telah dikembangkan hanya akan menghasilkan sumpah serapah pengguna di akun twitter perusahaan yang bersangkutan. Product mindset is about validating your assumption as fast as possible to minimise waste in delivering unwanted features and at the same time maximising the value of the product.
Referensi:

3. Engineering Practices

How long does it take you from getting feedback from customers to releasing it to production?

Untuk dapat mengukur validated learning secepat mungkin maka kita harus sering merilis software ke production. Kalau merilis software ke production itu dirasakan painful, maka kita akan malas untuk melakukannya terlalu sering. Kalau software tidak memiliki self-testing code dan automated deployment, maka merilis software ke production beberapa kali dalam sehari akan terlihat menakutkan.
Di tahun 2000 merilis software ke lingkungan produksi setiap 3 bulan sekali masih dianggap sebagai hal yang normal. Di tahun 2010, mulai banyak software engineer yang merasakan rilis setiap 3 bulan sekali dianggap terlalu lama dan mereka mulai mencari teknik untuk bisa rilis ke lingkungan produksi setiap 1-2 minggu sekali. Sekitar tahun 2015, mulai banyak software engineer yang merasakan rilis setiap 1-2 minggu sekali terlalu lama mereka pun mulai mencari cara bagaimana bisa melakukan deployment beberapa kali dalam sehari ke lingkungan produksi. Sekitar tahun 2015-lah istilah Feature Toggles, DevOps dan Continuous Delivery mulai menjadi standar di industri software development. Di tahun 2016 serverless architecture mulai menjadi trend baru di industri software development. Di lingkungan startup di Indonesia boro-boro membicarakan rilis software ke lingkungan produksi setiap hari, membicarakan deployment setiap 2 minggu sekali saja kepada startup di Indonesia masih dianggap sebagai sebuah lelucon. Bahkan masih banyak perusahaan startup digital di Indonesia yang masih memerlukan persetujuan (approval) CEO / direktur untuk merilis software ke lingkungan produksi.

The journeyman learns to solve bigger problems by solving more problems at once. The master learns to solve even bigger problems than that by solving fewer problems at once. – Kent Beck

Ini baru membicarakan daily deployment kepada software developer, belum lagi membicarakan test first development dan self-testing code kepada para tester. Membicarakan test first development kepada para tester di Indonesia saja masih harus melewati debat panjang lebar yang kadang menghabiskan tenaga. Mereka bahkan mengatakan kepada saya: “mana mungkin melakukan test sebelum softwarenya ada?!? Kamu gila apa?”.
Nah, bagaimana Indonesia mau memiliki 1000 startup pada tahun 2020 kalau mental orang-orang yang berkecimpung di industri ini tidak mau selalu mengikuti teknik termutakhir dalam software development? Apakah pemerintah ingin membangun 1000 startup yang isi timeline akun twitter perusahaan mereka adalah sumpah serapah dari penggunanya?
Pemerintah silahkan bermimpi indah mengenai 1000 startup kalau test-first development dan daily deployment saja masih dianggap sebagai sebuah lelucon di industri software development di Indonesia. Mungkin mental software developer yang seperti ini juga merupakan kesalahan universitas-universitas di Indonesia yang sudah mendoktrin mahasiswa agar tidak terlalu lama menjadi software developer, akhirnya selama 20 tahun terakhir industri software development di Indonesia lebih sibuk mengembangkan manajer proyek dan business analyst daripada mengembangkan kapabilitas software engineering.
Referensi:
Yak akhir kata saya ingin mengatakan kepada pemerintah Indonesia selamat membangun 1000 startup di atas f*cked up mindset yang sudah mengakar. Perlu saya nyanyikan lagu nina bobo juga agar mimpinya semakin indah? Saya salut dengan menteri yang datang dengan mimpi besar ini. Woohoo! Mimpi membangun 1000 startup sebelum tahun 2020 memang sebuah mimpi yang mulia, namun pemerintah seperti menaruh kereta di depan kuda. Bermimpi besar di atas fundamental berpikir masyarakat yang masih f*cked up.
Tapi sebentar dulu nih Pak, jadi walaupun tanpa sokongan dana apa tidak ada yang pemerintah bisa lakukan untuk membenahi f*cked up mindset ini?
Selama 20 tahun terakhir industri software development termasuk institusi pendidikan di Indonesia lebih banyak fokus pada manajemen proyek dan analisa bisnis. Akhirnya sekarang banyak perusahaan startup digital yang menyalahkan keadaan kalau mencari ninja developer di Indonesia sangat sulit sehingga perusahaan ini mengatakan kalau mereka terpaksa harus mengimpor ninja developer dari India!
Pemerintah harus mulai mengedukasi dosen-dosen Ilmu Komputer atau Teknik Informatika di Indonesia agar berhenti mendoktrin mahasiswanya menjadi manajer proyek atau analis bisnis. Bahkan kalau perlu edukasi mindset yang benar sampai ke level guru-guru di Sekolah Dasar (SD). Edukasi guru-guru ini untuk membangun mimpi menjadi ninja engineers kepada para siswanya sama seperti program jangka panjang yang sedang dilakukan oleh pemerintah Australia saat ini. Pastikan dosen dan guru ini tidak mendoktrin mahasiswa dengan dogma yang salah, dogma kalau software developer adalah profesi gaji rendahan dan profesi batu loncatan. Selain merubah mindset dosen, upgrade juga kapabilitas dosen Teknik Informatika dan Ilmu Komputer dalam modern software engineering practices.
Pemerintah juga perlu menaikkan pamor profesi software development di masyarakat. Pemerintah harus mulai menaikkan derajat profesi software development di tengah masyarakat Indonesia bukan hanya sekedar menggemborkan program-program yang tidak berguna dan menjadi cheerleader dari pinggir lapangan. Mulai kenalkan profesi ini kepada siswa Sekolah Dasar dengan mengadakan coderdojo di kota-kota di Indonesia. Selama masyarakat masih melihat software developer adalah profesi murahan di bawah manajer proyek dan analis bisnis, tidak akan ada fresh graduate yang bermimpi untuk mendalami profesi ini, boro-boro bermimpi menjadi ninja developer seperti Kent Beck atau Martin Fowler. Kalau perlu pemerintah membuat ketentuan standar gaji software developer di atas manajer proyek agar fresh graduate tidak menjadikan profesi software developer hanya sebagai batu loncatan sebelum mereka menjadi manajer proyek.
Untuk menghasilkan 1000 startup, Indonesia butuh banyak ninja engineers bukan manajer proyek atau analis bisnis. Dan mengembangkan ninja engineers tidak dapat terjadi dalam semalam. Membangun ekosistem statup seperti di Silicon Valley tidak dapat terjadi dalam satu periode pemerintahan, Silicon Valley sudah ada semenjak tahun 1970-an. Mengembangkan 1000 startup digital dengan valuasi USD 10 billion tidak bisa terjadi dalam 5 tahun tanpa proaktifitas pemerintah apalagi tanpa sokongan dana. Ayo pemerintah, berhenti bermimpi di siang bolong dan mulai kerja, kerja dan kerja untuk menghilangkan f*cked up mindset di industri software development di Indonesia jangan justru ikut-ikutan memiliki f*cked up mindset yang semakin memperburuk industri software development Indonesia yang sudah f*cked up.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

One thought on “1000 Startup di Indonesia yang akan dibangun di atas f*cked up mindset

  1. Wow thanks for sharing this.

    Posted by Joshua Partogi | July 25, 2016, 5:06 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: