//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Renungan

Keluarga

Dono Baswardono

Bagaimana masa kanak-kanak dan remaja seseorang dapat menjadi cermin bagaimana ia kelak ketika dewasa. Seseorang yang dibesarkan oleh orangtua yang penuh cinta kasih, yang tidak hanya menyemaikan nilai-nilai luhur, tetapi juga memupuknya dengan teladan-teladan yang konsisten dengan nilai-nilai itu, maka ketika dewasa ia menjadi pribadi yang matang, teguh pada pendirian, dan membuktikan tiap komitmennya dalam penyelesaian tugas secara optimal. Ia bukan hanya percaya diri, tetapi juga mudah mempercayai orang lain. Ia tidak hanya pintar dan cerdas, tetapi terutama mampu dan menghargai mendengarkan pendapat orang lain. Ia bersedia menerima peran orang lain dalam kehidupannya, sehingga ia makin kuat menghadapi berbagai tantangan dan kendala.

Apabila nilai-nilai kejujuran dan kesederhanaan bukan hanya dibicarakan, tetapi adalah nafas kehidupan sehari-hari kedua orangtuanya, maka bukan hanya ketika berumur 10 tahun anak ini akan jujur dan sederhana, tetapi juga ketika berumur 30 tahun, 50 tahun, bahkan 70 tahun.

Jika setiap hari, sejak bangun tidur, membereskan tempat tidur, makan, bersekolah, bergaul, membantu orangtua membereskan rumah, seorang anak dibiasakan mandiri dan ia melihat seluruh saudaranya juga turut berpartisipasi, maka ia tumbuh dewasa menjadi sosok yang bertanggung jawab, mampu mengambil keputusan, teguh pada pendiriannya, dan tak segan turut bekerja walau mungkin jabatannya sangat tinggi di perusahaan atau lembaga tertentu.

Sebaliknya, apabila nilai-nilai itu hanya menjadi wacana intelektual, menjadi bahan perbincangan di saat makan malam, tetapi tidak dijalani dalam kehidupan sehari-hari, dalam tiap tindakan kecil orangtuanya, maka anak ini akan tumbuh dalam ambiguitas, kemenduaan. Ia pun menjadi pribadi yang kurang utuh, kurang percaya diri. Akibatnya, banyak perilakunya yang tidak konsisten.

Bagaimana mungkin anak ini tumbuh menjadi pribadi yang memiliki empati, jika kemiskinan tidak pernah dibaui, dirasakan, disentuh dan ditelannya, tetapi kemiskinan sekadar dibicarakan sebagai angka-angka, sebagai target pembangunan, bagaikan ikan dalam akuarium.

Bagaimana mungkin anak ini menghargai perbedaan secara fundamental, jika perbedaan kedua orangtuanya diatasi dengan cara membagi-bagi anak menjadi pengikut ayah atau ibu? Bagaimana mungkin anak ini tumbuh menjadi pribadi yang memahami apa makna persatuan jika pengalaman sehari-harinya adalah pemaksaan untuk menjalani kesatuan?

Dan bagaimana mungkin ia besar menjadi sosok yang percaya diri jika semasa kecil ia tertekan melihat kesuksesan luar biasa ayahnya dan terus menerus dibandingkan dengan keberhasilan kakak-kakaknya – padahal ia punya talenta yang berbeda? Bagaimana mungkin ia mampu bertanggung jawab, bahkan atas dirinya sendiri, apalagi memimpin orang lain, jika orangtuanya kerap turun tangan menolongnya setiap kali ia berhadapan dengan ujian hidup?

Pendidikan, dan tentu saja pembentukan kepribadian, bahkan bagaimana seseorang memimpin, sangat bergantung pada TELADAN orangtua. DB

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: