//
you're reading...
kuliah, Motivasi, Pendidikan

Tentang soal ujian dan ilmu keteknikan

LUKITO EDI NUGROHO·SATURDAY, JUNE 25, 2016

Hari ini saya memeriksa jawaban ujian salah satu kuliah saya, Pengantar Teknologi Informasi. Salah satu soalnya: “Dapatkah kita membuat software aplikasi keuangan dengan bahasa Prolog? Berikan argumentasi anda.” Hasilnya, lebih dari separuh jawaban salah secara konseptual. Padahal di kuliah saya sudah menjelaskan tentang 1) apa itu program komputer, 2) pemrograman prosedural vs pemrograman deklaratif, 3) beberapa jenis bahasa pemrograman dengan paradigmanya masing-masing. Padahal ujiannya open book, open laptop, dan bahkan open Internet connection.

Saya tidak tahu apa yang sulit dengan soal tersebut. Jika saja mahasiswa mengerti tentang ketiga topik yang saya sebutkan di atas, mestinya mereka bisa mengerjakannya dengan baik. Ketiga topik tersebut menjadi bahan pengetahuan utama untuk menjawab soal di atas. Tapi sebentar …

Jika dicermati, memang saat menjelaskan di kelas saya tidak menyebut “software aplikasi” (saya menyebutnya “program komputer”). Saya juga sama sekali tidak menyinggung tentang aplikasi keuangan, apalagi menjelaskan cara kerjanya yang prosedural. Kedua hal ini memang sengaja saya “hilangkan” dari soal saya, dan justru di sinilah saya meminta mahasiswa untuk menemukannya agar ketiga topik penyusun utama jawaban dapat dirangkai dengan baik membentuk jawaban yang utuh.

Mengapa saya menghilangkan kedua “link” penting tersebut? Karena saya ingin melatih mahasiswa untuk dapat mencari potongan-potongan yang hilang, lalu merangkainya dengan potongan-potongan (pengetahuan) lain yang sudah mereka kuasai sebelumnya. Mengapa kemampuan ini penting? Karena problem dunia nyata selalu seperti ini. Kita hampir tidak pernah menjumpai problem yang solusinya siap tersedia di hadapan kita. Pasti ada potongan-potongan yang hilang. Pasti kita harus melakukan sintesis untuk mendapatkan solusi yang utuh.

Apalagi di dunia keteknikan (engineering). Apa jadinya seorang sarjana teknik jika tidak mampu melakukan “connecting the dots” dan “syntesizing solutions”? Dalam contoh soal di atas, “connecting the dots”nya sederhana sekali. Hanya memahami bahwa “software aplikasi” itu adalah “program komputer yang di-makeup” (well, ini definisi yang sangat simplified, tapi cukuplah untuk kasus ini), dan memahami bahwa urusan perhitungan keuangan itu selalu mengikuti prosedur yang rigid, jadi pastilah selalu bersifat prosedural. Kedua link ini sangat sederhana, bisa dikuasai dengan common knowledge saja. Di dunia nyata, link semacam ini bisa jadi sulit diidentifikasi, dan aktivitas connecting the dots bisa saja menjadi sesuatu yang kompleks dan melelahkan.

Kalau para mahasiswa (dan eks-mahasiswa) saya memperhatikan, tipe soal-soal ujian saya selalu seperti contoh di atas. Di kelas saya mengajarkan konsep A, B, dan C, tapi di ujian saya menanyakan tentang D. Jawaban untuk D hanya bisa dicari jika mahasiswa paham tentang A, B, dan C, plus bagaimana menghubungkan ketiganya sehingga menjadi bangunan jawaban yang utuh. Ujian-ujian saya selalu open book, open laptop, dan open connection, karena bagi saya, yang penting bukan hapalnya mahasiswa terhadap definisi A, B, dan C, tetapi bagaimana mereka bisa menghasilkan sesuatu yang baru, D, dari A, B, dan C yang dirangkai sedemikian rupa dengan argumen yang kokoh.

Bagi saya, ilmu keteknikan itu esensinya “synthesis craftmanship”, bagaimana bisa menghasilkan solusi dari komposisi pengetahuan-pengetahuan yang sudah well-established. Sintesis solusi jelas proses yang memerlukan logika yang ketat. Di sisi lain, craftmanship diperlukan agar solusi yang dihasilkan kokoh, indah, dan efisien.
Engineering itu juga punya sisi-sisi toleran. Banyak problem yang sifatnya open-ended, bisa ada lebih dari solusi yang sama-sama benar dan dapat diterima. Yang penting adalah bagaimana proses sintesisnya dapat dipertanggungjawabkan melalui argumen yang kuat. Fleksibilitas ini yang membuat engineering menjadi sebuah disiplin ilmu yang “indah” karena banyak variasi yang bisa dimunculkan. Soal di atas membuktikannya. Untuk pertanyaan “Dapatkah…?” di atas, baik jawaban “Dapat” maupun “Tidak dapat” bisa jadi benar keduanya. Yang menentukan adalah argumen yang diberikan.

Yang tidak bisa diterima adalah jawaban “InsyaAllah dapat, asal diridhoi oleh Allah SWT”…

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: