//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Ketenangan Jiwa

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Seorang Ustadz yang wajahnya amat teduh, dengan usia berangkali mendekati 80 tahun, ketika i’tikaf semalam mengatakan bahwa ciri orang yang mendapat “lailatul qadr” adalah mereka yang hatinya menjadi sangat tenang luarbiasa, lalu dengan itulah maka amal amalnya menjadi lebih baik dan bermanfaat dari sebelumnya.

Setelah ceramah itu, jadi merenung mendalam. Mengapa para penemu malam lailatul qadr disebut “sangat tenang”?
Segera teringat definisi bahagia menurut Prof Syed Naquib Alattas, bahwa bahagia (happiness) dalam Islam adalah ketenangan jiwa.

Mengapa tenang? Karena mereka yang tenang itu sudah mengenal hakikat hidupnya, menyadari tugas dan peran sejati kehidupannya lalu dengan itulah dia akan memenuhi alasan penciptaannya sebagai hamba Allah dan sebagai Khalifah di muka bumi sehingga Allah menjadi ridha.

Pantas saja dalam surat alFajr, mereka yang tenang (muthmainnah) adalah mereka yang dipanggil pulang dalam keridhaan Tuhannya karena telah memenuhi maksud penciptaannya sebagai Hamba Allah dan syurgalah tempat kembalinya yang abadi.

Ustadz yang tuturnya santun dan lembut itu juga berkata bahwa malam seribu bulan atau setara 83 tahun, 4 bulan dan beberapa hari itu, adalah kiasan bahwa siapa yang memperolehnya maka seolah kehidupannya kini sudah tidak terikat variable waktu lagi alias abadi.

Kembali merenung, mengapa 1000 bulan atau 84 tahun menjadi ukuran? Teringat pesan Nabi SAW, bahwa Ummat Muhammad SAW jatah hidupnya rata rata hanya antara 60 sampai 70 tahun, maka jika diberi keberkahan setara 84 tahun, berarti itu adalah rata rata usia terpanjang manusia akhir zaman.

Ketika manusia telah berada pada jalan tugas atau peran sejatinya sebagaimana yang Allah kehendaki maka sesungguhnya dia telah memperoleh ketenangan, kebahagiaan sekaligus keabadian dalam hidupnya lalu tinggal menjalaninya dengan hati hati atau penuh taqwa.

Manusia galau tentu kebalikannya, mereka tidak pernah menjalani peran sejatinya. BIsa karena tidak jujur pada potensi fitrahnya, bisa karena terhalang dosa dan maksiatnya. Kita berlindung dari hal demikian.

Dalam konteks ini maka makna Taqwa adalah menjalankan perintah Allah dengan sungguh sungguh karena segala perintahNya itu pasti mendukung pencapaian tugas tugas atau peran sejati kita, dan kemudian meninggalkan apa apa yang terlarang karena yang terlarang itu pasti merusak dan mengganggu tugas atau peran sejati kita itu.

Maka di malam malam akhir Ramadhan yang mulia ini, mari renungkanlah dan temukanlah tugas tugas dan peran peran sejati kita sesuai potensi potensi fitrah yang telah Allah instal dalam diri kita sejak dari alam rahim.

Mari kembalilah kepada kesadaran potensi fitrah, kembalilah menjalani tugas tugas dan peran sejati kita, lalu capailah ketenangan dan keridhaan Robb Semesta Alam dengan peran peran sejati itu, maka masuklah dalam kriteria hamba Allah dan semoga pantas masuk syurganya Allah. Itulah kebahagiaan abadi.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: