//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Kemandirian, Pendidikan, Perubahan, Review

Transformasi Manusia Bersumber Daya IPTEK dan Geography of Innovation

Transformasi Manusia Bersumber Daya IPTEK dan Geography of Innovation : Selamat Ulang Tahun ke 80, Pak Habibie

Jusman Syafii Djamal
24 June 2016

Pak Habibie sabtu besok 25 juni 2016 tepat berusia 80 tahun. Luar biasa. Kebetulan saya sedang membaca buku Peter Dickens judulnya Global Shift. Pergeseran Global, Mapping the Changing Contours of the World Economy. Memetakan perubahan kontur atau landskap Ekonomi Dunia.

Peter Dickens bilang Kemajuan Teknologi Transportasi dan Komunikasi telah membuat Globalisasi menjadi nyata. Kedua kemajuan ini telah mempersempit jarak dan bikin waktu semakin cepat bergerak. Pesawat terbang jenis Airbus A380, Boeing 787 dan Boeing 777 telah menyebabkan semua pelosok dunia dapat ditempuh kurang dari satu hari.

Jika pagi masih makan pagi di Jakarta, siang sudah bisa lunch di singapura dan malam sudah meeting di Sanghai, Hongkong atau Abudhabi dan Tokyo. Keputusan bisnis, investasi bisa lebih cepat dibuat, karena mudah lakukan “face to face communication”. Meeting of mind

Smartphone, laptop dan ipad yang dikaitkan melalui Fiber optics dan satellite serta bts oleh wifi, telah menyebabkan internet ada dalam sentuhan jari. Dunia dalam genggaman telapak tangan.Informasi secara seketika mudah diakses. Tak ada berita baik suka maupun duka dari sudut manapun didunia yang tak bisa dilihat, didengar dan ditulis seketika. Cloud computing, big data , fenomenamodel bisnis DNA, Device Network and application telah menyebabkan semua orang bisa terkoneksi tanpa kendala.

Tiap wilayah kini tidak mungkin lagi tidak tumbuh dan berkembang. Istilah terpencil, terbelakang dan terpinggirkan atau tertinggal hilang dari kosakata pembangunan ekonomi. Semua cepat kadaluarsa. Semua potensi manusia bersumber daya iptek, yang dulu masih terbelenggu, kini sudah mudah dibangkitkan.

Proses akuisisi, difusi dan komersialisasi teknologi makin cepat berlangsung. Desentralisasi politik yang diikuti dengan desentralisasi ekonomi akan membangkitkan potensi ekonomi wilayah. Keterhubungan wilayah atau Connectivity menjadi kata kunci. Pembangunan Infrastruktur menjadi ujung tombak.

Yang jadi masalah utama adalah apa yang disebut dengan istilah :”Regulation Wall”, Tembok Berlin penyekat pertumbuhan berupa peraturan peraturan model jaman Belanda dan jaman sebelum Reformasi 98. Yang masih tersisa dan belum diformat ulang dengan kemajuan proses desentralisasi yang ada. Itu sebabnya kini pelbagai paket deregulasi ekonomi dan penghapusan ribuan perda dilakukan oleh Pemerintahan jokowi. Meruntuhkan tembok regulasi yang membelenggu investasi dan perdagangan antar pulau.

Sayang pembangunan infrastruktur ilmu pengetahuan dan teknologi., kurang terakselerasi. Kalah gemanya dibandingkan dengan yang lain. Padahal kita memiliki banyak universitas dan institusi pendidikan, serta pusat pusat riset. Akan tetapi mengapa terus aja banyak orang masih kurang percaya pada kemampuan bangsa Indonesia menguasai Teknologi maju.

Yang terus sebagai echo bergema dalam banyak diskusi tentang kebijakan ekonomi Indonesia adalah keluhan skill gap atau kekurangan SDM terampil. Bahkan PII sebagai persatuan insinyur pun bilang Indonesia kekurangan ribuan Insinyur.

Kita selalu punya asumsi menarik, seolah manusia 200 juta orang tidak ada yang memenuhi syarat. Karenanya banyak oportunitas atau kesempatan bisnis lepas dari genggaman tenaga profesional dan ahli Indonesia. Diambil oleh orang asing yang dianggap lebih mumpuni. Keahlian yang kita miliki seolah hilang ditelan waktu.

Padahal tadinya kita memiliki harapan besar bahwa setiap proyek pembangunan infrastruktur yang masif dilakukan dalam lima tahun mendatang akan menjadi kesempatan emas untuk membangkitkan kemampuan kita untuk Mandiri. Berdiri diatas kaki sendiri.

Kita memiliki harapan bahwa setiap proyek pembangunan infrastruktur merupakan penggerak utama lapangan kerja. Begitu kata Keynes. Tiap proyek mampu dibarengkan dengan antara upaya menyediakan lapangan pekerjaan dengan peningkatan keahlian tenaga terdidik Indonesia. Karena tingkat kesulitan yang berjenjang bertingkat dan berkesinambungan. Pekerjaan rekayasa dan rancang bangun, produksi barang dan jasa merupakan wahana dan sarana bagi tenaga kerja terampil.

Melalui pekerjaan pembangunan infrastruktur ekonomi, berupa pelabuhan, bandara, jalan kereta api, jalan raya, pembangkit listrik dan lain sebagainya, tiap manusia Indonesia yang masih muda, mendapatkan kesempatan untuk menguasai teknologi maju. Ada proyek pembangunan yang mampu diolah menjadi medan pertempuran untuk meningkatkan kualitas penguasaan teknologi.

Mekanisme “Learning by doing ,by using, by observing and sharing ideas with others” yang menjadi wujut pelaksanaan transfer oef technology dilapangan akan menjadi wahana dari proses akumulasi pengetahuan dan teknologi atau the accumulation and development of relevant knowledge.

Proses pembangunan infrastruktur ekonomi dengan intensitas dan kualitas berbeda antar wilayah, akan menjadi akselerator pembangunan infrastruktur iptek.

Perbedaan akumulasi pengetahuan dan teknologi yang diperoleh akan melahirkan perbedaan kualitas sumber daya manusia. Dalam proses belajar sambil bekerja, terjadi interaksi gagasan dengan mereka yang lebih cerdas.

Proses belajar untuk mengoperasikan, merawat dan meperbaiki serta mengoverhaul semua peralatan dan permesinan berteknologi canggih akan melahirkan tenaga kerja menengah terampil yang luar biasa. Skilled Technician.

Melalui pembangunan infrastruktur ekonomi , bangsa Indonesia akan memperkuat postur dan struktur pembangunan infrastruktur IPTEK di tanah air. Kini adalah masa emas nan subur bagi lahirnya tenaga terampil dalam bidang rekayasa dan rancang bangun di Indonesia. Prasyaratnya pemilik proyek dan pengelola anggaran memiliki kepercayaan yang tinggi pada kemampuan bangsa sendiri.

Sayangnya saat ini Proses tenderdengan aturan yang ada tidak memberikan ruang bagi upaya sistimatis untuk memberikan preferensi memenangkan perusahaan dan industri nasional. Melanggar ketentuan yang ada.

Kini semua peraturan yang berlaku cenderung bermuara pada kompetisi bebas tanpa preferensi. Ibarat kambing dan harimau bisa berada dalam satu kandang. Level playing field nya belum ditata ulang. Jika harga murah yang jadi kriteria utama, dapat dipastikan yang memenangkan tender adalah Perusahaan berasal dari Tiongkok dengan “china price nya”. Jika quality dan pengalaman internasional dalam mengerjakan proyek sejenis, dapat dipastikan tidak ada industri manufaktur yang memiliki pengalaman setingkat kompetitornya dari luar negarei. Mundur kena, maju apalagi.

Ada kecendrungan, semua pihak memiliki asumsi Bangsa Indonesia belum saatnya diberi kepercayaan untuk mengelola proyek raksasa yang rumit dan padat teknologi. Takut gagal. Semua pihak berkata Bangsa Indonesia masih perlu belajar teknologi lagi dari nol. Waktu Tujuh puluh satu tahun belum cukup untuk kita mampu menguasai manajemen dan teknologi maju yang diterapkan dalam pembangunan infrastruktur berskala besar.

Belum masanya, ada baiknya semua pekerjaan yang sulit dan sukar penuh tantangan akan diberikan kepada tenaga ahli asing. Begitu kata banyak kalangan. Seolah Pendekatan “transfer technology” model masa lalu akan memmperpanjang jarak keahlian diantara Bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

Akibatnya seperti dimasa VOC tentulah yang terus tumbuh di Indonesia adalah mandor, ahli administrasi dan perangkat birokrasi. Regulation Wall yang runtuh akan bangkit lagi ditempat tak terduga.

Arus globalisasi kini memberikan kesempatan emas bagi generasi muda Indonesia untuk jauh lebih unggul dibanding generasi sebelumnya. Apalagi jika melihat “keuntungan demografi” berupa penduduk usia muda produktip yang kita miliki saat ini. Jika terus kita bermain waktu dan membiarkan generasi muda bertambah usianya tanpa pekerjaan yang menantang daya kreativitasnya dimasa depan pastilah kita akan terus bergantung pada negara maju.

Inilah yang oleh Peter Dickens disebut sebagai sebab utama yang melahirkan perbedaan kontour atau landskap penguasaan teknologi. Gap technological skill ini pada gilirannya akan melahirkan perbedaan peta kekuatan inovasi suatu kawasan. Yang disebut dengan istilah Geography of Innovation.

Kekuatan Inovasi memiliki sifat alamiah mirip seperti air mengalir. Bergerak dari hulu ke hilir. Dari gunung ke muara. Dari tempat padat inovasi (reservoir innovation) ke tempat kering inovasi. Dari kualitas inovasi tinggi ke tempat yang rendah kualitas inovasinya. Sementara tenaga terampil dan terdidik biasanya cenderung berenang melawan arus. Mereka pindah dari tempat rendah inovasi ke kawasan yang memiliki inovasi tinggi.

Tidak heran jika siklus lingkaran setan yang disebut dengan istilah Indonesia kekurangan Manusia Bersumber Daya Iptek it terus berlangsung. Semua tenaga terampil bangsa Indonesia mencari samudera teknologi yang lebih luas dan dalam. Mereka terus berenang mencari sumber mata air inovasi diseluruh dunia. Sebab jika terus bertahan di Indonesia, bisa menjadi buntu daya kreativitasnya.

Generasi muda memerlukan program teknologi yang menantang daya kreativitas dan kejeniusan mereka. Otot otot keterampilan teknologi yang dikuasainya memerlukan ruang tantangan. Semua bergerak untuk menemukan ruang amat luas untuk melakukan pelbagai jenis maneuver proses inovasi. Itulah makna dari Peningkatan Kecerdasan Bangsa seperti yang menjadi amanat dari UUD 1945.

Dalam hal ini tokoh seperti Prof.Dr.Ing Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ketiga Republik Indonesia yang dihari Sabtu tanggal 25 Juni besok lusa berulang tahun ke 80, telah pernah ambil inisiatip. Langkah sistimatis berkesinambungan dengan roadmap yang jelas dan terukur telah dilaksanakan dalam tiga bidang iptek.

Pertama, penguasaan iptek Wahana Transportasi berupa keahlian Rekayasa Rancang Bangun Kereta Api di INKA, Rekayasa rancang Bangun Kapal di PT PAL dan rancang bangun pesawat terbang di PT IPTN.

Kedua penguasaan iptek Teknologi Komunikasi dan Informasi seperti yang dilakukan di PT LEN dan INTI.

Ketiga penguasaan iptek Teknologi Bio Engineering seperti yang dilaksanakan di Lembaga Eykman, untuk penelitian DNA dan virus serta bakteri, micro biology.

Di tahun 1978 beliau mencanangkan program penguasaan teknologi dengan filsafat bermula dari akhir dan berakhir di awal mula. Dengan empat langkah proses transformasi.

Langkah pertama disebut sebagai proses transformasi tenaga terampil. Semua lulusan Sekolah Teknologi Menengah Pertama dan Menengah Atas. ST dan STM diberi lapangan kerja menguasai teknologi. Dididik dan dilatih menjadi Operator mesin mesin produksi canggih. Diberikan wahana berupa proses produksi pesawat terbang, kereta api, kapal terbang dan otomotive dalam industry perakitan.

Meski banyak yang menganggap sepele, dengan pernyataan bahwa mengapa kita membangun industri perakitan. Toh kita hanya mendidik orang menjadi tukang jait, beliau tidak putus asa untuk memiliki kepercayaan pada keahlian putra putri Indonesia.

Pernah saya bertanya pada beliau ditahun 85 an :”Pak Habibie banyak orang yang bilang IPTN ini kan tukang jahit. Semua pesawat kan buatan orang lain. Bell 412 dari Amerika, Superpuma dari Perancis, BO 105 dari Jerman, CN235 kerjasama dengan Spaniol”. Beliau dengan sabar bilang “ah biar aja orang lain katakan apa saja”.

Yang penting kan saya — kata pak Habibie, — menyediakan kamu, generasi kamu kawah candradimuka, tempat berlatih menjadi profesional. Melalui kawah candradimuka tetuko menjadi gatot koco dan krincing wesi”. Melalui proses penguasaan teknologi kita sebagai bangsa memiliki wahana transformasi untuk merebut “jam kerja”. Man hour yang tadinya dimiliki bangsa lain, kini jadi milil kita. Neraca jam kerja kita meningkat.

Beliau amat percaya bahwa Bangsa Indonesia mudah ditransformasi untuk menguasasi Teknologi Canggih. Dari level terendah menjadi operator teknologi canggih hingga level tertinggi pencipta teknologi maju.

Bangsa Indonesia memiliki keahlian untuk meniru dan beradaptasi. Jika dilatih dengan system yang baik dan benar menggunakan metode pengenalan mekanisme Qualitu-Cost and Delivery berstandard internasional, pastilah terjadi peningkatan nilai tambah pribadi. Keterampilan yang meningkat melahirkan kualitas produk yang unggul. Karenanya yang pertama dan utama adalah memberi kesempatan dan kepercayaan untuk tenaga terdidik Indonesia memiliki wahana transformasi. Industri Nasional amat penting dibangun kembali.

Langkah kedua disebut dengan proses transformasi engineering capacity dengan fokus pada peningkatan keahlian engineering untuk memodifikasi dan merekayasa ulang produk teknologi yang eksisting, refurbishing, maintenance repair and overhaul.

Langkah ketiga disebut dengan transformasi technology acquisition dengan dua ujung tombak akuisisi teknologi rekayasa rancang bangun dan akuisisi teknologi manufacture component. Dan langkah keempat adalah transformasi “innovation driven” berbasis Riset dan Pengembangan.

Kempat langkah atau disebut phase penguasaan teknologi itu berlangsung sejak tahun 1978 hingga 1998. Puncak keberhasilannya adalah lahirnya generasi terbaru pesawat turboprop N250. Fly by Wire 50-70 penumpang. Kereta api cepat Jakarta Surabaya yang rencananya akan terjadi ditahun 1998. Serta kapal komersial angkutan cargo dan penumpang serta kapal riset baruna jaya.

Sasaran strategis program transformasi teknologi BJ Habibie selama 25 tahun adalah memberikan wahana transformasi. Untuk secara sistimatis, berjenjang dan bertingkat 1% Manusia Indonesia atau kurang lebih 2,5 juta orang mendapatkan wahana produktip untuk memproduksi barang dan jasa. Mendapatkan lapangan atau medan pertempuran menguasai teknologi maju.

Beliau punya asumsi tiap ahli teknologi maju paling tidak memerlukan 4 orang tenaga dukungan. Dengan kata lain melalui program transformsi teknologinya paling tidak ada kurang lebih 10 juta manusia Indonesia yang memiliki kesempatan menguasai iptek.

Melalui program yang jelas dan terukur seperti itulah kawasan iptek seperti Serpong, Krakatau Steel, BPPT, INKA,LEN, INTI,PAL, PINDAD, IPTN yang berdampingan dengan kawasan riset dan pengembangan seperti LIPI,BPPT,LAPAN berjalin kelindan dalam satu jaringan inovasi.

Meski banyak pihak yang terus menonjolkan kelemahan proses akuisisi teknologi model BJ Habibie, tapi paling tidak selama 25 tahun beliau telah dengan konsisten merealisasikan idenya dilapangan. Industri Strategis dikembangkan sebagai tema sentral. Penguasaan iptek menjadi fokus pembangunan ekonomi.

Sayangnya kini semua ide itu memudar dan menghilang pelan pelan dari “ranah dan wacana para policy maker”.

Meski begitu, dalam kurun waktu 20 tahun, saya patut beryukur telah menjadi bagian dari program transformasi teknologi beliau. Saya telah meliwati semua jenjang dan anak tangga yang disediakan.

Beranjak dari penempatan sebagai junior engineer di hanggar Getafe Madrid Spanyol oleh beliau, dan kemudian diberi kesempatan untuk merangkak dari bawah setahap demi setahap hingga menjadi Chief Project Engineer N250. Semua jenjang pekerjaan dari operator atau kalkulator tukang hitung, merangkak menjadi engineer analisa fenomena, perancang pesawat hingga managing advanced technology acquisition program, pernah saya tekuni. Jatuh bangun. Gagal bangkit kembali. Saya patut beryukur Alhamdulillah atas kesempatan berharga itu.

Karenanya malam ini, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun Pak Habibie yang ke 80. Semoga Allah selalu melindungi dan melimpahkan jalan amal ibadah untuk terus mengabdi Republik yang dicintai dengan sepenuh jiwa.

Dalam kesempatan ini, saya teringat sajak Chairil Anwar yang sering malam malam saya baca ketika menghadapi masa penuh tantangan. Ditahun 97 an, ketika N250 dinyatakan berhenti ………..19 tahun lalu.

Aku ini binatang jalang, Dari kumpulan terbuang
Biar perluru menembus kulitku, Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari, Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi ……………….

Begitu kata, Chairil Anawa dalam sajak Aku, Maret 1943

Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: