//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #74

Ust Harry Santosa – Millenial Learning Center

Banyak orangtua mengeluh, mengapa anaknya yang dulu nampak begitu patuh, shalih bahkan hafal beberapa juz al Quran tiba tiba ketika remaja menjadi susah diatur, sering lari dari rumah, mengikut kelakuan bodoh teman2nya, mencoba merokok dll. Padahal semua tips parenting sudah dijalankan, komunikasi cukup intens, kasih sayang tercurah dstnya.

Masa remaja ini sering disebut dengan masa chaos, masa turbulensi, masa paling kacau sejak 200 tahun terakhir. Bahkan bisa jadi ketika remaja nampak baik baik saja, namun “kenakalannya” seolah terpendam dan baru nampak ketika sudah dewasa dan berkeluarga atau ketika memiliki tanggungjawab sosial.

Ada apa dengan masa Remaja? Lalu apa yang salah?

Sebuah jurnal psikologi tahun 2012, memuat wawancara dengan psikolog Robert Epstein berkenaan dengan bukunya yaitu “The case against adolescence: Rediscovering the adult in every teen”.

Epstein mengungkapkan bahwa remaja sebenarnya jauh lebih kompeten daripada yang kita duga, dan sebagian besar dari masalah mereka berasal dari pembatasan penempatan sosial pada mereka

Epstein percaya bahwa remaja itu sendiri akan lebih baik jika kita tidak mengklasifikasikan mereka sebagai remaja.

Epstein menolak bukan keremajaan nya tapi masa remaja sebagai kelas sosial, yaitu konstruksi budaya yang menghasilkan orang-orang yang berusia 13-19 tahun namun banyak masalah seperti minum alkohol, asap rokok, penyalahgunaan berbagai obat-obatan, gangguan makan, kontrak penyakit seksual, dan hamil.

Mereka membawa senjata, bergabung dengan geng, dan komitmen dengan segala macam kejahatan. Mereka mengambil bagian dari budaya teman teman yang ceroboh. Mereka marah, melakukan kekerasan, depresi, dan bunuh diri. Tidak semua dari mereka, tentu saja.

Masalah dengan remaja, dia menegaskan, adalah bahwa mereka merupakan orang-orang yang sebenarnya sangat mampu namun diperlakukan seolah-olah mereka anak-anak.

Padahal sejarah manusia telah menganggap remaja sebagai orang dewasa, meskipun mereka adalah orang-orang muda. Dalam Yudaisme, misalnya, Bar Mitzvah selama berabad-abad menandai usia 13 tahun sebagai usia ketika anak laki-laki menjadi seorang pria dewasa, dengan hak dan tanggung jawab penuh.

Islam juga demikian, anak anak yang sudah baligh usia 12-14 tahun, maka dianggap sudah dewasa dan wajib memikul syariah termasuk nafkah dan jihad.

Konsepsi saat ini remaja sebagai perpanjangan dari masa kanak-kanak, konsep ini semakin dipakai dan diterapkan di seluruh dunia, berkembang sejak abad ke-20.

Menurut Dr. Sarlito Wirawan Sarwono “Konsep anak sudah dikenal sejak abad ke-13, Remaja baru dikenal secara meluas dan mendalam pada awal abad ke-20, namun tulisan-tulisan klasik yang menunjukkan indikasi tentang remaja sudah ada sejak jaman filsuf Aristoteles (384-322 SM) dan J.J. Rousseau dalam bukunya Emile (1762)”,

Tren Remaja dimulai seratus tahun yang lalu dan sekarang tren memanjangkan masa kanak-kanak kepada usia 20-an . Usia di mana orang Amerika mencapai dewasa meningkat di usia 30an yaitu baru dimulai pada usia 20an – dan kebanyakan orang Amerika sekarang percaya seseorang tidak dewasa sampai usia 26 .

Seluruh budaya bekerja sama dalam “artifisial/buatan” memperpanjang masa kanak-kanak, terutama melalui sistem sekolah dan pembatasan tenaga kerja.

Kedua sistem berkembang bersama di abad ke-19 akhir ; para pendukung hukum “wajib pendidikan” juga mendorong undang-undang pekerja anak, membatasi cara orang-orang muda bisa bekerja, sebagian dengan alasan melindungi mereka dari pelanggaran pabrik-pabrik baru. Sistem peradilan anak muncul tiba-tiba pada waktu yang sama .

Semua sistem ini mengisolasi remaja dari orang dewasa, seringkali dengan cara yang bermasalah. Sistem pendidikan saat ini diciptakan pada 1800-an dan awal 1900-an , dan dimodelkan setelah berdirinya pabrik2 baru revolusi industri.

Sistem telah mencoba mencetak lebih banyak remaja sementara melebarkan masa sekolah sampai usia 24 atau 25 untuk beberapa segmen populasi. Secara umum, pendekatan semacam ini masih mencerminkan pemikiran pabrik.

Mari kita ubah model pendidikan kita sekarang dan lakukan secara efisien (do the right thing), baik di kelas maupun di tradisi dan kebiasaan belajar di komunitas dan di rumah.

Sayangnya kebanyakan orang belajar di ruang ruang kelas persekolahan kemudian mereka membenci pendidikan selama sisa hidup mereka. Skripsi dan thesis adalah karya terakhir dan satu satunya sepanjang hidupnya.

Sekolah negeri (negara), dibentuk untuk memasok pabrik dengan tenaga kerja terampil, dengan pendidikan yang digegas dalam tahun yang relatif pendek .

Sistem sekolah pabrik tidak berjalan di dunia modern, karena dua tahun setelah lulus, apapun yang kita pelajari sudah basi. Kita perlu menyebarkan luaskan pendidikan seumur hidup. Memasuki masa pre aqilbaligh atau pre pemuda di usia 12-14 tahun, pendidikan perlu dikombinasikan dengan cara yang menarik dan kreatif dengan kompetensi professional atau bisnis. Sistem sekolah pabrik tidak lagi masuk akal.

Bayangkan apa yang mereka akan merasa seperti – atau pikirkan kembali bagaimana rasanya ketika – tubuh dan pikiran yang memberitahu anda sudah dewasa, sementara orang dewasa di sekitar anda tetap bersikeras bhw anda seorang anak.

Infantilization (pembocahan) ini membuat banyak orang muda marah atau tertekan, dengan penderitaan mereka membawa lebih ke keluarga mereka dan berkontribusi terhadap tingginya angka perceraian. Sulit untuk menjaga pernikahan bersama-sama ketika ada konflik konstan dengan remaja.

Apa bagian terburuk dari cara kita saat kita memperlakukan remaja ?

Hubungan permusuhan antara orang tua dan anak mengerikan ; sakit kedua orang tua dan orang muda . Ini air mata beberapa orang yang tercabik cabik ; mereka tidak mengerti mengapa itu terjadi dan tidak bisa keluar dari itu.

Mereka tidak menyadari bahwa mereka terjebak dalam mesin yang mendorong mereka terpisah dari anak keturunanannya – dan itu tidak perlu terjadi.

Apa yang bisa dilakukan ?

Epstein percaya bahwa orang-orang muda harus memiliki pilihan – pilihan yang lebih untuk bekerja, menikah, hak milik sendiri, menandatangani kontrak, memulai bisnis, membuat keputusan tentang perawatan kesehatan, hidup sendiri – hak – hak istimewa, atau tanggung jawab yang orang dewasa miliki .

Epstein menganjurkan sistem berbasis kompetensi atau bakat sesungguhnya yang berfokus pada kemampuan individu (bakat). Untuk beberapa hal itu akan berarti lebih banyak waktu di sekolah yang dikombinasikan dengan kerja atau proyek real. Bagi anak lainnya itu akan berarti bahwa pada usia 13 atau 15 mereka bisa mendirikan sebuah bisnis di Internet .

Sebagian anak yang lain akan memasuki dunia kerja dan melakukan semacam magang. Pabrik-pabrik eksploitatif sudah lama berlalu; orang-orang muda yang kompeten layak untuk bersaing karena itu penting, maka banyak yang akan mengejutkan kita dalam produktifitas atau kebaikan yang dilakukan anak muda ini.

Sejalan dengan itu Levesque menambahkan bahwa Media lah penyebab agresi, seksualitas, pamer tubuh, merokok dll. Kesimpulannya adalah media mempengaruhi segala sesuatu, tetapi juga bisa menentukan banyak hal hal baik.

Levesque menganjurkan agar remaja diberi ruang dalam kebebasan akses pada media namun untuk berekspresi positif karena ini penting bagi perkembangannya, kemudian kebebasan intelektual dan pengakuan hak cipta pada karya karya remaja, keduanya dibarengi dengan promosi literasi media agar produktif.

Jadikan remaja agen aktif navigasi informasi yang kompleks dan navigasi lingkungan sosial yang baik, bukan penerima pasif dari ide ide buruk. Kita harus membantu remaja agar diakui sebagai orang dewasa dengan penentuan nasib sendiri yang dinamis.

Kita akan melemahkan tujuan menjadikan remaja sebagai pemuda yang mandiri dan dewasa jika membatasi mereka atas dugaan ketidakdewasaan mereka.

Mari selamatkan remaja dengan menghilangkan masa remaja dalam struktur sosial kita, karena sesungguhnya mereka adalah generasi yang sudah aqilbaligh dan mampu memikul tanggungjawab syariah dan sosial.

Beri mereka tantangan. Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya karena pandangan bahwa mereka tidak dewasa.

Sejarah sudah membuktikan selama ribuan tahun bahwa anak anak muda belasan tahun sudah memiliki karya peradaban yang hebat karena sistem sosial dan pendidikan mendukung penuh dan tidak melambatkan kedewasaan mereka. Jika hari ini banyak pemuda alay, kitalah barangkali yang membiarkannya terjadi.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: