//
you're reading...
Creativity, Entrepreneurship, Kemandirian, Lingkungan, Perubahan

Tantangan Kemandirian Industri Nasional dan Penguasaan Teknologi ditengah Arus Globalisasi

Jusman Syafii Djamal
18 Mei 2016

Tantangan Kemandirian Industri Nasional dan Penguasaan Teknologi ditengah Arus Globalisasi

Di fb Mas Soegeng, diunggah potongan dialog pagi tadi dalam WA Teknovasika ketika seorang sahabat saya curcol, atau curhat colongan. Mas Soegeng merujuk istilah yang saya gunakan “Berdikari Modern”.

Istilah yang lahir dari dialog dalam WA untuk membungkus kebingungan tentang susahnya mengedepankan ide tproteksi pasar domestik dan insentip fiskal bagi kepentingan pembangunan Industri Nasional.

Teman saya di wa sering terasa bertanya pada saya :”Kok sukar ketemu pemangku kepentingan terutama di jajaran eksekutip yang yakin tentang jalan kemandirian Industri Nasional itu ?”

Saya bilang :”kita tak bisa terus mengeluh. Sebab tanpa Industri Nasional yang tangguh kemana anak anak yg jenius dalam iptek bisa bekerja ?

Sebetulnya ide proteksi dan subsidi sebagai instrumen fiskal dan moneter untuk bangun Industri Dalam Negeri sudah jadi ide yg hidup ditahun 70 -95 an.

Sayang ide itu berangsur lenyap. Whitering away from our mindset Sejak 25 tahun lalu. Perlahan hilang dari peredaran dan kamus Industri kita. Sudah kadaluarsa.

Kini kita harus membangun daya kompetisi yang kokoh. Kita harus bisa hidup berdampingan secara dkurang lebihamai dengan banjirnya produk industri negara lain di pasar domestik kita. Sebab semua undang undang telah memberikan kebebasan bagi produk import untuk masuk kesemua sudut atau relung pasar kita.

Lho mengapa begitu,tanyanya. Saya jawab ya sebab sejak tahun 1997 Industri Nasional kita sebetulnya sudah kalah total. Industri Nasional kita sudah menuju pada proses “involusi”, mengkerut kedalam, tidak lagi alami proses evolusi, tumbuh berkembang.

Ah Mas Jusman ini mengada ada saga. Nakut nakuti yang ngga lucu. Lho ini bukan membuat anda pessimis. Lebih baik kita lihat dua tantangan berikut ini :

A. Tantangan Pertama : Sing Teko ora Tuku, Sing Tuku ora Teko.

Fenomena kekuatan Industri Nasional yang cenderung mengkerut dan mengalami proses involusi sebenarnya sudah terasa sejak tahun 1997. Krisis ekonomi Asia tahun 97/98 ternyata telah berhasil menghancurkan sendi sendi kekuatan Industri Nasional kita. Awalnya terjadi ketika seluruh industri tekstil yang telah dikembangkan secara sistimatis, berkesinambungan dan terencana sejak tahun 1970 an mulai kedodoran ditimpa oleh tsunami gagal bayar hutang akibat lonjakan nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Saat tahun 1995 ketika kita sedang menuju puncak penguasaan teknologi, semua industri berniat melakukan proses transforms. Melakukan proses modernisasi alat peralatan utama produksinya. Mengganti mesin mesin lama dengan yang baru yang lebih efisien dan produktip. Investasi baru ini memerlukan modal kerja atau working capital maupun investasi. Dan ini yang melahirkan hutang dalam dollar menjadi “game plan” baru yang dimainkan para industrialis nasional kita.

Ketika investasi sedang ditanam dan buah investasi muncul ke permukaan, tanpa diduga dan tanpa diprediksi Indonesia kesambar petir Badai Krisis Asia. Nilai tukar rupiah merosot tajam terhadap dollar. Dan mencapai 15000 rupiah perdollar ditabun 1998. Semua kreditor tak punya likuiditas untuk membayar hutang pokok dan bunganya.

Alasannya sederhana nilai hutang meroket tiba tiba. Ketika berhutang nilai 1 dollar sama dengan 2500 rupiah. Ketika membayar hutang dan bunga jatuh tempo nilai 1 dollar sama dengan 15000. Dengan kata lain jika hutang 1 juta dollar bernilai 2,5 milyar rupiah. Ketika membayar harus cari uang 15 milyar, untuk melunasinya.

Pengalaman pahit tahun 97/98 ini menyebabkan kini semua “policy maker” tak mudah percaya pada skenario investasi untuk membangun dan menumbuh kembangkan Industri Nasional, dalam negeri. Terutama semua seolah merasa enggan mendorong investasi bagi kemajuan industri didalam negeri. Semua trauma pada krisis Ekonomi Asia tahun 1997, meski itu sudah 18 tahun berlalu.

Hantu nya masih mengejar kita. Kini teknologi dpnadang sebagai faktor eksogen dari pertumbuhan ekonomi. Dikeluarkan dari “equation of economic growth’. Adagium yang digunakan :” Mengapa harus menanam padi, kalau beras mudah dibeli”. Begitu logikanya.

Ambil contoh , semua “policy maker” memahami kita tiap tahun mengimpor gula 4,5 juta ton. Ini berarti pasar domestik Indonesia sangat kondusif untuk menciptakan industri gula nasional yang paling canggih di Asia. Semua orang jika ditanya pasti setuju dengan ide untuk membangun pabrik gula sendiri. Akan tetapi jika ada yang ambil inisiatip bangun pabrik canggih pastille dengan pelbagai alasan, mekanisme dan procedure semua ide ini mentah tak berjalan. Atau banyak orang yang menyatakan bahwa membangun Refinery mengolah minyak mentah untuk menjadi avtur, premium dan pertamax adalah jalan untuk membangkitkan kekuatan Kemandirian sebagai bangsa dalam mengatur “supply and demand”. Tapi dilapangan yang terjadi proses maju kena mundur apa lagi.

Begitu juga jika ada permintaan akan kebutuhan bis umum 1000 buah, pastilah tidak ada yang punya keinginan untuk mengalokasikan 600 buah bis untuk debut sendiri di Indonesia. Semua berdalih ini dan itu untuk menyatakan bahwa Manusia bersumber daya iptek kita perlu belajar membuat bis.

Padahal semua orang tau sejak tahun 80 an banyak karoseri bis telah tumbuh di jawa tengah dan jawa timur. Banyak tenaga ahli dan industri yang mumpuni untuk memproduksi bis dengan segala jenis spesifikasinya.Tapi semua terasa enggan. Lebih merasa nyaman jika bis didatangkan utuh dari Jerman, Jepang ataupun China. Hal yang sama terjadi pada industri perkeretapian sekelas INKA di Madiun dan LEN di Bandung.

Kemampuan ada, yang tidak hadir adalah kepercayaan untuk mengalokasikan permintaan kesana.Akibatnya semua industri nasional kita jadi industri “rindu order”.

Istilah Presiden Gus Dur tahun 2000 ketika merntrasformasi IPTN agar giat menjual dan keluar Zona Nyaman, dengan guyonan jangan lagi gunakan paradigma “Tetuko”, Sing Teko ora tuku, seng tuku ora teko. Yang datang berkunjung tidak membeli, yang membeli tak kunjung hadir.

B. Tantangan Kedua : Marginalisasi Kekuatan Industri Nasional

Arus Globalisasi yang deras telah membuat batas negara kini jadi kabur. Semua orang kini ingin membuka batas batas itu selebar lebarnya tanpa kendala. Bahkan Turis tak peduli berduit atau berkantong cekak, lusuh dan backpacker disambut gembira tanpa visa masuk berlenggang kangkung di trotoar depan rumah. Untung kita tidak menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola Eropa, dimana para holigan Inggris dan Russia bisa bikin using polisi Perancis tiap malam.

Akibatnya pasar domestik kita kini tidak lagi sepenuhnya dapat dijadikan sebagai kekuatan penggerak dukungan finansial Industri Nasional kita. Produk Industri Nasional tidak lagi menjadi tuan rumah dinegeri sendiri. Pasar domestik kita menjadi “arm length” dari Perdagangan Internasional. Kata banyak orang ini sebuah keniscayaan. Sebagai “arm length”, lahir empat derajat kebebasan yang membuat ruang maneuver Industri Global secara perlahan tapi pasti menguasai pasar domestik Indonesia, dan mendorong Industri Dalam Negeri ke posisi terpojok mengalami proses marginalisasi.

Keempat derajat kebebasan itu ditandai oleh :

Pertama : Freedom to enter a national market, through either imports or a direct presence. Kebebasan Industri Negara lain untuk memasukkan produk canggih dan segala jenis produk sejenis yang mampu diproduksi Industri Nasional kedalam pasar domestic. Back melalui mekanisme bebas bea impor maupun mekanisme lainnya.

Kedua; Freedom to export capital and profits from local operations

Ketiga : Freedom to import materials, component and corporate services.

Keempat : Freedom to operate unhindered in local labour markets.

C. Apa Ada Solusi ?

Begitu tanya nya pada saya. Oh jelas ada. Bangsa Indonesia ini kan petarung yang tak knal menyerah. Esa hilang dua terbilang. Apalagi Presiden Jokowi sebetulnya secara tepat telah membawa arah kebijakan ekonomi kita untuk tumbuh dengan kekuatan investasi. Ada sasaran strategis yang terkandung didalamnya untuk menjadikan investasi sebagai “opportunity” membangun kembali kekuatan Industri Nasional Kita.

Saya menyebutnya dalam WA tersebut dengan istilah Berdikari Modern. Berdiri diatas kaki sendiri yang berada dalam lingkaran Platform Ecosystem Global Production Network. Dimana Industriawan dalam negeri harus mampu mentransformasikan kebutuhan dan program pembangunan infrastruktur Pemerintahan Jokowi JK ini sebagai “head shoulder” untuk kuasai dominant sharing pasar dalam negeri. Dan memanfaatkan bahu lawan untuk “ancik ancikan”, tumpuan menanduk bola kedalam gawang. Penguasaan Teknologi dan kekuatan inovasi jadi Tumpuan untuk menggoalkan ide Berdikari di abad 21.

Berdikari Modern yakni upaya memperkuat struktur dan postur Industri Nasional kita untuk mampu Memproduksi segala jenis produk yang memiliki nilai tambah tinggi untuk dipertukarkan dengan produk import yang tidak memiliki nilai tambah tinggi jika diproduksi dan dibuat didalam negeri.

Misal jika ada kebutuhan program pembangunan infrastruktur kereta api sumatera, sulawesi dan kalimantan yang membutuhkan seribu gerbong kereta api, atau rel kereta api dan beton tumpuan. Maka produk gerbong baik berpenggerak maupun tidak maka kita harus memilah mana produk yang bernilai tambah tinggi. Jelas gerbong kereta api tak berpenggerak INKA sudah memiliki keunggulan. INKA sudah mampu ekspor keluar negeri. Produk ini harus jadi Produk unggulan dan tidak perlu impor lagi.

Sementara produk gerbong yang berpenggerak INKA perlu menguasai teknologi motor penggeraknya. Untuk itu bekerja sama dengan LEN misalnya secara bertahap dan sistimatis harus ada program penguasaan teknologi itu, dengan “learning by doing”. Jadi jika ada permintaan KAI dan Kemenhub akan produk gerbong berpenggerak, katakan 300 gerbong. Yang 100 boleh impor, yang 200 harus diproduksi didalam negeri.

Selain itu sistem pensinyalan kereta api yang telah dikuasai oleh LEN mampu dijadikan produk andalan untuk infrastruktur sinyal. Begitu seterusnya. Model pendekatan Penguasaan Teknologi ala China yang berbasis pada konsepsi ATM, Ambil Tiru dan Modifikasi mungkin bisa diterapkan untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian manusia bersumber daya iptek kita.

Lho apa mungkin itu mas Jusman ?, ia bertanya lagi.

Saya jawab tak ada kata Impossible dalam membangun keahlian atau menguasai teknologi. Seperti kata Audrey Herpburn Nothing is Impossible, the word itself say I’m possible…….. apa itu wishful thinking ? saya kurang tau pasti.

Mohon Maaf Jika Keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: