//
you're reading...
Perubahan

CitiLink , Batik dan Lion Air , Dicabut dari Black List Uni Eropa.

Jusman Syafii Djamal

“Dont Talk to Stranger”, Jangan berdialog dengan Orang Asing sudah jadi pepatah dan ajaran yang ditanam sejak kecil di Eropa dan Amerika. Mindset untuk menjaga territory dan community dari ancaman Kesehatan, Keamanan dan Keselamatan akibatnya jadi fondasi “policy makers” disana. Konsep Customs, Immigration and Quarantine tak heran merupakan alat dan peralatan utama Masyarakat Ekonomi Eropa untuk menjaga kedaulatan wilayahnya dari ketiga ancaman tersebut di tiap batas wilayah mereka.

Konsep ini yang kemudian melahirkan pendekatan “preventive” atau cegah tangkal dan cegah dini, terhadap setiap arus masuk orang asing dan barang produk negara lain kedalam territory Eropa dan Amerika. Tatacara dan mekanisme serta standard operating procedure dikembangkan untuk mengelola realitas dilapangan. Institusionalisasi atau pelembagaan juga dibangun. Diantaranya penciptaan pelbagai Standard dan Protocol yang mengatur derajat tingkat kesehatan, keselamatan dan keamanan produk asing yang diperbolehkan masuk kedalam wilayah.

Di Amerika banyak lembaga yang ditugaskan untuk hal ini. FDA untuk mengatur peredaran makanan, minuman dan obat obatan atau sejenis Badan POM di Indonesia. FAA untuk mengatur dan mengelola tingkat keselamatan penerbangan. TSA untuk pengelolaan tingkat keamanan bandara dan pelabuhan. Homeland Security untuk ancaman terorisme. Dan lain sebagainya. Hal sama juga dilakukan oleh Masyarakat Uni Eropa.

Mungkin didunia konsep “Dont talk to strangers” ini juga diterapkan dan dikenal dengan istilah CIQ, Customs Immigrations and Quarantine.
Indonesia termasuk Negara yang tidak mau menerapkan paradigma “dont talk to strangers” ini secara ketat. Sebab kita adalah negara yang tidak pernah takut pada ancaman apapun dan sangat ramah ,welcome pada semua orang.

Sejak kecil tak ada larangan yang dikembangkan untuk mengajarkan pd anak anak kita perasaan takut pada orang tak dikenal atau product tak dikenal. Kita tak peduli konsep “Rule of Origins”, Asal usul produk industri ataupun orang. Semua bebas merdeka masuk wilayah dan komunitas di Indonesia. Ibarat Madu ditangan kanan dan racun ditangan kiri yang ada dalam lagu, semua ada dalam satu badan.
Karenanya kita amat ramah pada Turis. Tidak diperlukan foto kopi ktp, akte kelahiran, akun bank dan surat referensi seperti yang diterapkan Kedutaan Besar Masyarakat Ekonomi Eropa untuk masuk ke Indonesia. Sebab kita menganut policy bebas visa. Semua orang boleh masuk ke wilayah Indonesia. Punya duit atau tidak bukan masalah besar.

Hanya di wilayah udara dan perairan serta pelayaran di Indonesia , kapal dan maskapai penerbangan asing tidak bebas merdeka. Sebab dalam Undang Undang Penerbangan no 1/2009 dan UU Pelayaran No 17/2008 diterapkan azas cabotage. Larangan untuk kapal berbendera asing dan masakapai penerbangan berbendera asing untuk beroperasi dan mengangkut penumpang, dalam ruter domestik. Kita ingin melindungi dan memajukan Industri Perkapalan dan Industri Penerbangan milik bangsa sendiri.

Mungkin ini satu satunya “virtual wall” yang telah ditempatkan sebagai amanat undang undang. Di Industri lain kita tidak punya dinding penghambat. Kompetisi kini tidak mudah bagi Industri Nasional untuk tumbuh berkembang.

Di Eropa dan Amerika dikenal “virtual wall” atau dinding virtual bernama peraturan dan persyaratan utama, agar orang dan produk dapat masuk melenggang bebas dipasar atau komunitas. Ada Standard Industri untuk menghalangi produk bangsa lain masuk kepasar mereka. Begitu juga standard Kesehatan dan Keamanan yang diterapkan. Karenanya tidak mudah menjadi pemasok produk Industri untuk pasar Eropa dan Amerika termasuk Industri Jasa seperti Maskapai Penerbangan.

Di Amerika kita mengenal istilah hambatan kategori Level 2 yang dikelola FAA bagi keandalan tingkat keselamatan dan keamanan penerbangan masakapai penerbangan asing yang beroperasi di wilayah ruang udara Amerika. Hal sama dilakukan oleh European Safety Unit Masyarakat Ekonomi Eropa. Diterapkan apa yang disebut sebagai “Euro Ban”, larangan bagi maskapai penerbangan asing untuk mendarat dan tinggal landas dari semua bandara yang ada di Eropa. Euro Ban tiap tahun muncul untuk memasukkan Maskapai Penerbangan Indonesia kedalam daftar hitam larangan terbang. Rujukannya adalah Standard dan Protocol yang dibangun oleh International Civil Aviation Organization atau ICAO.

Tanggal 16/6/16 kita merasa gembira karena ada tiga maskapai penerbangan Indonesia yang dicabut dari daftar citam tersebut, yakni Citilink, Batik dan Lion Air. Kita patut memberikan apresiasi kepada Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia stau Kementerian Perhubungan yang telah dengan sungguh sungguh berhasil meningkatkan peringkat Aviation Safety di Indonesia. Kelanggengan dan keberlanjutan Roadmap to Zero Accident dalam dunia penerbangan dengan begitu menjadi nyata. Ada Otoritas Penerbangan Sipil yang Institusi dan Rule and Regulations nya semakin diakui kredibilitasnya oleh dunia Internasional.

Dengan dicabutnya ketiga maskapai penerbangan Indonesia dari larangan terbang Uni Eropa, langkah untuk menempatkan Garuda dan Maskapai Penerbangan bebas black list itu kedalam kategori Aviation Safety derajat satu dari FAA tinggal satu langkah lagi. Tini sudah ada exam maskapai penerbangan berbendera Indonesia yang bebas larangan terbang. Garuda Indonesia , Prime Air, Mandala yang bebas sejak tahun 2009. Dan kini Citilink, Batik dan Lion Air. Sayang Mandala Airline sudah tidak beroperasi. Dengan begitu tinggal lima lagi.

Sebetulnya ada Sriwijaya Air, NAM dan Susi Air yang memenuhi syarat untuk diajukan oleh Kemenhub untuk diaudit oleh Safety Committee Uni Eropa, sayang mereka tidak mendaftar. Mungkin ditahun mendatang hal itu dilakukan.

Dengan dicabutnya larangan terbang EU, maka Duta Besar Masyarakat Ekonomi Eropa serta warga negara Eropa kini juga bisa bergembira,sebab tidak lagi dilarang beli ticket dan naik pesawat terbang berbendera Indonesia, seperti sebelumnya. Pilihan menjadi terbuka untuk bepergian keseluruh wilayah Indonesia tanpa kendala.Sebab tingkat keselamatan penerbangan di Indonesia kini telah diakui jauh lebih baik dibanding masa lalu.

Kita patut bersyukur. Alhamdulillah. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: