//
you're reading...
Creativity, Lingkungan, Motivasi, Perubahan

Berimajinasi

Handry Satriago
CEO GE Indonesia

Saya pernah membaca artikel “The Future of Work” dari Chief Economist General Electric Marco Annunziata. Artikel itu membuat saya terlempar dalam lamunan tentang anak muda Indonesia lagi. The Future of Work, membahas tentang transformasi pekerjaan di masa mendatang yang akan jadi sangat berbeda karena berubahnya dunia. Pekerjaan di masa yang akan datang akan di “shape” oleh sejumlah tren: (1) industrial internet; (2) advanced manufacturing; dan (3) global brain.

Industrial internet adalah Integrasi antara cloud-base analytic (Big Data/Data Besar) dan industrial machine(Big Iron). Industrial internet akan memacu perkembangan productivity gains, bekerja semakin efektif dan efisien. Advance manufacturing akan menghubungkan desain, engineering, supply chain, pabrikan dan banyak hal lainnya dalam satu sistem pintar. Sedangkan the global brain merupakan jejaring kolektif kecerdasan manusia di tingkat global, dihubungkan oleh perangkat komunikasi digital.

Kondisi future of work sangat kompetitif, dan mensyaratkan kemampuan yang lebih dari sekedar ijazah kelulusan. Satu hal yang tidak lepas dari pikiran saya adalah, siapkah anak muda Indonesia menghadapi kompetisi pada era the future of work tersebut?

Saya pernah menulis, bahwa dalam dunia global saat ini,what you need is a great idea and a click! Tapi sampai di sini, pertanyaan besarnya adalah apakah kita, Bangsa Indonesia cukup lapar dan passionate untuk menciptakan ide-ide baru dan brillian? Kita, yang hidup di tanah/musim yang “murah hati” dan cepat puas serta senang ikut-ikutan ini, butuh value imaginationuntuk menghadapi the future of work.

Apa itu berimajinasi? Berimajinasi adalah berpikir luas, di luar jangkauan panca indra yang ada, menghasilkan pikiran baru, sama sekali bukan hasil dari mental ikut-ikutan. Berimajinasi memerlukan keberanian, keberanian untuk mengambil resiko ketika mencoba hal baru dan di luar pakem. Berimajinasi juga direpresentasikan oleh sikap tidak kenal lelah mencari ide-ide baru, dan welcome dengan berbagai pendekatan yang berbeda.

Berimajinasi itu berpikir besar. 10% delay pesawat karena unscheduled maintenance bisa rugikan 8 Milyar dollar industri penerbangan. Berimajinasi juga adalah berani melakukan perubahan, melihat perbedaan sebagai opportunity, bukan threat. Berimajinasi juga berarti berpikir untuk melawan keterbatasan. Imajinasi mendobrak ruang-ruang batasan yang seringkali kita buat sendiri. Sekolah-sekolah alternatif, belajar dalam komunitas, adalah bentuk imajinasi yang keren dari perlawanan terhadap keterbatasan sistem pendidikan. Bukankah lampu diciptakan dari imajinasi untuk perlawanan terhadap “tak bisa beraktifitas dalam gelap”?

Imajinasi sendiri hanya akan lahir jika orang mengapresiasi dan menghormati keberagaman (diversity). Ini karena berimajinasi dilakukan dengan menggunakan pertanyaan “Why not” dan “What if”,memerlukan energi kuat untuk melakukan perubahan

Pendidikan kita mungkin tidak banyak mengajarkan dan melatih kita untuk bisa berimajinasi dengan baik. Dalam berbagai interaksi saya dengan anak muda, baik daam diskusi maupun interview calon pegawai, imajinasi ini rendah sekali skornya. Banyak anak-anak muda yang saya temui bahkan tak memiliki ide yang bisa diimajinasikan.  Bacaan mereka hanya yang diajarkan di sekolah. Mungkin karena di sekolah tidak di “encourage”untuk baca filsafat, sastra, komik, dan buku yang merangsang mereka berpikir. Padahal dalam bekerja, imajinasi ini menjadi pembeda orang yang hanya akan jadi doer, yang nunggu instruksi untuk kerja, atau jadileader.

Sekarang, bagaimana melatih diri untuk punyavalue dan capability imajinasi yang keren?

Pertama, mulailah dengan keinginan untuk melawan keterbatasan. Seperti tadi saya sampaikan, imajinasi lahir dari semangat perlawanan. Selanjutnya luaskan bacaan dan diskusi kita, jangan terjebak habiskan waktu untuk isu yang ramai dibicarakan saja. Cari knowledgeseluas-luasnya. Saat ini dengan internet dan sosial media, banyak sekali hal yang bisa dipelajari gratis. Dari pengetahuan baru yang didapat, coba lihat dan pikirkan dari sudut pandang berbeda, gunakan “why not” dan“what if” Hargai perbedaan, jangan biarkan dikotak-kotakkan orang lain dan tak mau mendengar pendapat orang lain.

Pada akhirnya berimajinasi juga membutuhkan keberanian berpendapat berbeda dan mengambil resiko untuk salah.  Mistake adalah sarana belajar. Betul, berimajinasi berarti bermimpi dan mimpi tidak berarti apa-apa tanpa eksekusi. Tapi kalau bermimpi saja takut, apa yang mau dieksekusi?

 

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: