//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Entrepreneurship, Perubahan

Mengukur Kinerja Ekonomi Indonesia dari Paket Deregulasi : Mungkinkah ?

Jusman Syafii Djamal
June 15, 2016

Sejak tahun lalu kita selalu mendengar tentang telah dilancarkan nya paket paket kebijakan ekonomi. Yang terkuak sebagai data hanya jumlah paketnya. Isi paket masih terasa samar samar. Apalagi bagi saya yang hanya mengetahui informasi melalui koran dan whats app. Yang terekam hanya komentar pro dan kontra.

Paket deregulasi yang berupaya menjebol benteng pertahanan eknomi nasional, dan membersihkan ranjau peraturan untuk membuka ruang selebar lebarnya bagi masuknya investasi asing, sebetulnya bukan hal baru. Sejak 1970 an Penanaman Modal Asing bukan barang haram. Kita mengenal ada BKPM.

Begitu juga sejak Bogor Indonesia Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Tinggi Apec tahun 1994 , ada Bogor Goals :” that aim for free and open trade and investment in the Asia-Pacific by 2010 for industrialized economies and by 2020 for developing economies.”.

Akan tetapi yang menjadi “concern” para pelaku ekonomi disektor riel, adalah bagaimana wujut nyata perlindungan terhadap kepentingan nasional untuk membangun kekuatan Industri Domestik dan melindungi pasar domestik dari serbuan produk import. Semua seolah bebas masuk tanpa kendala, turis bebas visa, tenaga kerja asing tanpa sertifikasi nasional, produk barang jadi industri yang sejenis dengan produksi domestik masuk tanpa bea ?

Mengapa investasi asing dan produk import seolah dapat karpet merah, industri dalam negeri dicambuk degan aturan ini dan itu, serta pelbagai pungutan high cost economy ?? Ini yang terbaca dari argumen yang kontra.

Kemudian paket ini diikuti oleh pembatalan ribuan perda. Dengan kata lain melalui paket dan pembatalan ribuan perda tersebut Bagi yang pro, langkah Pemerintah ini dinilai sistimatis dan berkesinambungan dan belum pernah secara masif dilakukan oleh Pemerintah sebelumnya.

Terkesan ada kesungguhan dan tekad untuk berfokus menjebol dan membangun. Menjebol benteng birokrasi dan regulasi yang membeleggu potensi Bangsa Indonesia untuk tumbuh. Dan membangun infrastruktur logistik berupa jalan tol , bandara, pelabuhan, kereta api untuk tingkatkan efisiensi dan produktivitas arus barang penumpang.

Semuanya Jelas sasarannya kearah Kemandirian Bangsa daan Tumbuhkan kekuatan industri serta ekonomi Nasional untuk kesejahteraan rakyat. Suatu langkah berani yang perlu dicermati dan didukung keberhasilannya.

Akan tetapi meski begitu, hingga kini setidaknya saya belum mampu menjawab pertanyaan anak saya yang sedang kuliah di ITB. Secara akademis ia bertanya : mengukur kinerja paket deregulasi itu bagaimana yah ? Ia mencoba menemukan metode mengukur keberhasilan paket diranah sector ekonomi.

Misalnya apakah dengan pelbagai paket tersebut Industri otomotip Nasional kita akan tumbuh dua kali lipat ? Atau Industri perikanan kita akan memiliki laju pertumbuhan diatas double digit. Bagaimana mengukur kinerja paket paket tersebut dalam indicator keberhasilan. Saya sukar menjawab.

Saya blang sabar, selesaikan saja sekolahmu nanti di level lebih tinggi jika masuk tinkgkat doctoral atau phd economy macro mungkin bisa.

Untuk menjawabnya saya coba ambil jalan memutar. Anak saya minta untuk membaca sebuah karya menarik berjudul Intellectual Capital, Forty Years of the Nobel Prize in Economics tulisan THOMAS KARIER yang diterbitkan oleh Cambridge University Press tahun 2011.

Dibuku itu ada kisah tentang pelbagai karya intelektual pemenang hadiah nobel ekonomi. Akan tetapi ia berbeda dengan saya ia lebih suka bermain main dengan laptop dan gadgetnya dan saya membaca. Dua zaman memiliki solusi dan pilihan berbeda.

Dalam buku itu, bagi saya yang menyenangi matematika dan equation tertarik pada cerita tentang tiga pemenang Nobel Rusia dan satu dari Amerika Serikat di bidang ekonomi, yang menurut saya kontribusi mereka amat besar pada kemajuan ilmu ekonomi. Yang semuanya berfokus pada upaya menemukan alat ukur, indikator dan metode prediksi tentang jalan masa depan.

Dalam teori ekonomi, ada tiga konsep penting: gross domestic product atau GDP, Analisa input-output dan programan linear, yang menjadi tulang punggung para ekonom ketika bicara kinerja ekonomi berdasarkan fakta dilapangan.

Dua dari alat peralatan utama berupa metode numerik untuk memahami fenomena ekonomi suatu wilayah atau satu bangsa yang amat penting dikembangkan pada tahun 1930 oleh pemenang Hadiah Nobel dari Harvard University Simon S. Kuznets.

Salah satu penemuan indicator Kuznet yang paling familiar di bidang ekonomi adalah istilah produk domestik bruto (PDB) atau, seperti pendahulunya dikenal, produk nasional bruto (GNP).Setiap investor di Wall Street dan pasar keuangan lainnya pasti cendrung menunggu pengumuman tentang PDB. Perubahan atau koreksi yang tak terduga dalam angka GDP suatu wilayah bisa menggerakan pasar di seluruh dunia dengan miliaran dolar. Sejak semula ukuran pembangunan Simon Kuznets, itu telah menjadi salah satu langkah-langkah paling komprehensif dan paling diawasi secara ketat untuk menditeksi kinerja ekonomi

Kuznets adalah pengumpul data yang amat teliti dan luar biasa berada di tempat dan pada waktu yang tepat. Pada tahun 1920 ketika menjadi mahasiswa pascasarjana di bidang ekonomi Universitas Columbia ia bertemu Profesor Wesley Clair Mitchell, direktur Biro Nasional Riset Ekonomi (NBER). Pada saat itu, Mitchell mengejar obsesinya sendiri, pelacakan siklus bisnis, dan ia mencari peneliti muda cerah seperti Kuznets untuk membantunya memecahkan misteri ini.

Tidak butuh waktu lama Mitchell untuk mengakui bakat untuk pengumpulan data, dan ia mengundang Kuznets untuk bergabung staf penelitiannya pada tahun 1927.

Mengumpulkan dan menghitung-hitung data ekonomi rinci dari berbagai sumber telah jadi latihan akademis jelas dan rutin bagi Kuznet pada tahun 1927. Tetapi tiba-tiba naik ke prioritas nasional tahun 1929. Ekonomi AS runtuh ke Depresi Besar. Para policy maker bingung. Sebab bagaimana mungkin para ekonom mampu memahami krisis, apalagi menentukan bagaimana mengatasinya, jika mereka sendiri bahkan tidak dapat mengukurnya?

Senator Robert LaFollette dari Wisconsin punya jawaban. Dia ambil inisiatip untuk membuat Resolusi di Senat AS pada bulan Juni 1932. Ia meminta menteri perdagangan untuk memberikan perkiraan pendapatan nasional untuk tahun 1929, 1930, dan 1931, tiga pertama tahun Depresi. Daniel Roper, menteri perdagangan ketika itu mengakui bahwa ia tidak memiliki keahlian yang diperlukan di departemennya. Ia kemudian menghubungi Wesley Mitchell di Columbia untuk minta bantuan. Mitchell memiliki saran yang baik; ia minta Roper menghubungi Kuznets yang mengajar ilmu ekonomi di Universitas Pennsylvania.

Kuznets sejak saat itu mulai mengumpulkan data dan upaya mendapatkan informasi berkaitan dengan pengukuran produksi pelbagai jenis barang dan harga nya di pasaran. Ia juga merekomendasikan dua siswa sendiri, Robert Nathan dan Milton Gilbert, untuk mengepalai proyek pengumpulan data ini. Sebagai hasil, muncul metode perhitungan pendapatan nasional yang diciptakan oleh Nathan dan Gilbert dengan bimbingan Kuznets’tahun 1930. Hasil ini kemudian menjadi referensi selama dua decade berikutnya.

Karakteristik dasar dari langkah-langkah pengukuran dan pengumpulan data yang dihasilkan tetap sebagian besar tidak berubah sejak saat itu. Pendekatan ini pada dasarnya sama, mengukur produksi kotor dari empat kategori: konsumsi, investasi, pemerintah, dan ekspor kurang impor. GDP = Consumption + Investment + Government Spending + (Export – Import).

Mengumpulkan semua data ini untuk seluruh ekonomi adalah pekerjaan jelimet, melelahkan , data amat banya, dan amat rinci. Belum lagi mengkaitkan satu demi satu data, memilah dan mencari korelasinya. Saya yang pernah membuat simulasi persamaan suku bunga, inflasi dan interest rate dari hasil kumpulan data selama lebih 25 tahun dari pelbagai negara, memahami betapa repotnya Kutnez ketika itu. Dizaman tak ada laptop dan google.

Apalagai menentukan apa yang mesti dihitung dan bagaimana menghitungnya adalah tantangan yang dihadapi Kuznets.
Misalkan, sebuah perusahaan besi menjual $ 1 juta harga besi baja sebagai raw material kesebuah perusahaan baja yang pada gilirannya kemudian menjualnya 3 juta dollar untuk masuk ke industry otomotip yang mengolah baja tersebut menjadi sebuah mobil dan menjualnya menjadi $ 6 juta kepada konsumen, timbul masalah berapa GDP yang dihasilkan negara dari proses ini ? Jika kita hanya menambahkan nilai penjualan oleh masing-masing perusahaan sebagai ukuran aktivitas ekonomi bruto di satu wilayah yang muncul dari interaksi pabrik besi, pabrik pengolahan baja, pabrik mobil dan konsumen maka diperoleh angka $ 10 juta.

Tapi apakah benar demikian ? Bagaimana dengan faktor lainnya ?
Dari pertanyaan sederhana begitu , Ia mengembangkan tatacara perhitungan pendapatan nasional yang kini jadi focus perhatian para ekonom. Diantaranya digunakan untuk mengukur kinerja ekonomi melalu produk domestic bruto. Awalnya Kuznet memusatkan tatacara ini untuk system ekonomi yang ada di Amerika. Tanpa ukuran Produk Domestik Bruto yang banyak digunakan ini, kita akan memiliki sedikit pemahaman tentang bagaimana ekonomi sedang berjalan dan seberapa cepat ia berkembang.

Cerita tentang Kuznet, Rostow dan Keyness serta Dependencia Theory nya Galtung, di tahun 70-80 an sering ada jadi tajuk rencana atau headline koran terkemuka. Membandingkan wacana koran dan majalah yang terbit dewasa ini, kadangkala saya sedikit rindu juga pada cara Begawan ekonomi seperti Sumitro Djojohadikusumo, Wijoyo atau Sarbini Soemawinata ketika masih mahasiswa di ITB. ,

Di tahun 78 an Sebagai aktivis sering kali saya terpesona bagaimana mereka bisa menjelaskan “policy formation” dari Ekonomi Indonesia dengan Bahasa akademis yang menarik dan membikin kita tergelitik. Perdebatan dan wacana ekonomi yang mereka tampilkan di media massa kaya teori dan esensi.

Sayang kini di Indonesia tidak lagi terdengar mendiskusikan soal soal makro ekonomi seperti ini lagi. Wacana yang berkembang kini hanya berfokus seberapa cepat kita meruntuhkan benteng regulasi agar semua barang, produk dan investasi asing masuk ke Indonesia. Semua bicara paket deregulasi seperti membicarakan paket hemat di Pizza Hut.Mc Donald atau Burger King. Kita terjebak untuk bicara bonus dan insentip. Lupa pada esensi bagaimana semua itu berkorelasi dengan pertumbuhan kekuatan industry nasional atau kekuatan small medium enterprise milik Bangsa Indonesia.

Kini generasi anak anak saya tidak lagi bisa menikmati proses olah fikir model begitu. Kehidupan yang serba instant menyebabkan kita terjebak pada “technicalities”, hal hal teknis kecil princilan yang menyebabkan kita kehilangan yojana atau horizon tentang masa depan. Kemana kita hendak melangkah. Anak saya sering kalau kembali dari Bandung dan saya ajak menonton tv bersama untuk melihat berita.

Selalu muncul dengan pertanyaan : “ Ayah apa ya paket paket ekonomi yang sedang dikatakan itu ? Kok sepertinya yang muncul tentang jumlah paket. Apa isinya kita seolah ngga tau ? Mengapa ada paket, mana yang hendak didorong duluan mana yang belakangan, dan Apa serta kapan target sebuah paket muncul dimasyarakat. Saya mencoba menjelaskan dengan baik, kepada anak saya sebab sedikit banyak saya memahami latar belakang kenapa Presiden Jokowi kini terus focus pada upaya mempercepat proses pengambilan keputusan dan menjebol mata rantai birokrasi yang terus membelenggu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Akan tetapi tetap saja ada pertanyaan yang menggantung, bagaimana mengukur kinerja paket ekonomi tersebut ? Apakah kecepatan proses ijin berijin yang jadi ukuran ? Kecepatan arus modal keluar masuk ? Jumlah investasi ? Bukankah sesuatu yang tidak dapat diukur , tidak dapat dikelola dengan baik ? If we can not measure, we can not manage. Begitu kata para ahli. Karenanya indicator, variable utama perlu diketahui.

Seperti kata Robert D. Hare “Science cannot progress without reliable and accurate measurement of what it is you are trying to study. The key is measurement, simple as that”. Dan, Gregory Bateson: “Numbers are the product of counting. Quantities are the product of measurement. This means that numbers can conceivably be accurate because there is a discontinuity between each integer and the next”. Serta Ben Bernanke yang bilang begini :” In many spheres of human endeavor, from science to business to education to economic policy, good decisions depend on good measurement.

Itulah sebabnya mengapa Simon Kuznet tahun 1930 an dengan melakukan kajian tentang seberapa cepat ekonomi suatu wilayah dapat tumbuh berkembang. Melalui ukuran ukuran yang dikembangkannya ia telah melahirkan semacam “grand design” bagi tatacara ekonom berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dan tumbuh berkembangnya suatu bangsa. Dalam hal ini yang mengikuti jejak Kuznet adalah pemenang Nobel Inggris Sir Richard Stone.

Sementara, Pemenang Hadiah Nobel Rusia Wassily W. Leontief menemukan satu alat perencanaan ekonomi utama yang disebut analisis input-output. Pertama dirancang di tahun 1930-an, model input-output terus digunakan di seluruh dunia untuk memberikan jawaban yang menarik dan penting bagi pertanyaan yang muncul sekitara seberapa cepat pertumbuhan ekonomi akan terjadi.

Kedua ekonom pemenang hadiah Nobel Kuznet dan Wasilly Leontief memiliki sesuatu dan karakter dan pendekatan solusi yang mirip satu sama lain . Mereka terobsesi oleh lautan data dan angka ekonomi. Kuznets mulai penyelidikan dengan mengumpulkan informasi tentang kinerja ekonomi perekonomian AS. Ia melacak di siklus bisnis yang menurutnya amat penting tetapi masih sering kurang dipahami.
Semua Informasi dikumpulkan, dikategorikan, dan dianalisis. Demikian pula, Leontief mulai dengan tugas membosankan mengumpulkan informasi tentang data dan informasi penjualan antar sector industri, yaitu penjualan satu industri ke industry yang lain, dan akhirnya ke konsumen.

Melalui latar belakang setiap fenomena yang tergambar dari data dan informasi yang dikumpulkan mereka mencari makna. Bagi mereka ekonomi adalah suatu ilmu tentag interaksi demand suplly yang berkembang didalam suatu pasar. Ekonomi adalah proses adu kekuatan pelbagai interest yang berjalin kelindan dalam mekanisme pasar. Dan tiap interaksi mengandung “mathematical equation” dari pola tingkah laku yang dapat dipelajari dan diberi makna.

Pendekatan kedua tokoh ini, dimasa tahun 30 an untuk ilmu ekonomi adalah mengejutkan unik.
Sebab sebelumnya Adam Smith dan John Maynard Keynes hanya terfokus dalam mebangun pola perekonomian dan melanjutkan untuk mengembangkan teori berdasarkan pola-pola. Mereka seolah berorientasi pada system dan filsafat ekonomi. Lahir teori dan kemudian dicoba diterjemahkan dalam rumus rumus matematika. Building block yang dikembangkan mengalir dari imajinasi, fikiran, pola dan turun ke ranah filsafat, teori dan persamaan matematika oleh pengikut pengikutnya. Top down.

Sementara Kuznets dan Leontief mengambil jalan berbeda yang melingkar keatas. Seperti mendaki Gunung Semeru. Mereka mulai dengan proses pengumpulan data rincian naik keatas memilah dan klasifikasi, menemukan pola dan melahirkan indicator serta equation.

Pemenang Nobel ekonomi dari Rusia yang juga disibukkan dengan pertanyaan praktis dan data, adalah Leonid V. Kantorovich. Dihadapkan dengan luar biasa tugas merencanakan seluruh ekonomi, Leonid V. Kantorovich menemukan sebuah bentuk awal dari program linear yang memungkinkan perencana Rusia untuk membuat trend masa depan, kemana arah pergerakan suatu fenomena.

Data data dan informasi yang dinyatakan membingungkan dipaparkan dalam bentuk relasi variable. Lahir pemrograman linear yang merupakan metode analisis yang sangat diperlukan untuk memecahkan persoalan tertentu. Pelbagai jenis masalah yang sering muncul di bidang ekonomi, bisnis, dan teknik. Apa yang ia kerjakan kita kenal di kurikulum dengan istilah programa linear.

Mohon maaf jika sharing bacaan saya terlalu panjang. Puasa Ramadhan memang bisa bikin jari terus mengetuk diatas tuts laptop tanpa henti. Sebab saya sedang belajar menemukan cara sederhana bagi anak saya untuk senang membaca buku dan menemukan jawaban atas pertanyaan nya dari lesson learned masa lalu.

Sebab generasi masa kini seperti kata Newton, harus berdiri diatas pundak para raksasa pemikir, Giants masa lalu sperti apa yang dilakukan oleh Founding Fathers Indonesia, untuk membangun masa depan yang jauh lebih baik.

Generasi Anak saya tidak boleh tertidur lelap dalam “zona nyaman”,seperti saya terbiasa tertidur sebelum sahur. Seperti kata Presiden Jokowi, Bangsa Indonesia tidak boleh kalah bersaing. Harus berani bertarung merebut masa depan.

Mohon maaf jika keliru. Salam

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: