//
you're reading...
Human being, Kajian, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #73

Ust Harry Santosa – Millenial Learning Center

Ayat Allah itu ada di Kitabullah (alQuran dan alHadits) , kita menyebutnya ayatul Qouliyah. Diberikan Allah kepada NabiNya melalui wahyu. Kemudian oleh Nabi disampaikan kepada Sahabat dan pengikutnya hingga sampailah kepada kita.

Ayat Allah itu juga ada di Alam Semesta dan Kehidupan (Nature Sains dan Sosial Sains), kita menyebutnya ayatul Kauniyah. Siapapun akan diberikan ayat ini sepanjang melakukan mubasyaroh (penelitian) yang mendalam.

Kedua tipologi ayat ini, Qouliyah dan Kauniyah adalah ilmu Allah yang diberikan kepada manusia dalam menjalani perannya sbg Khalifah di muka bumi. Keduanya saling terkait, ayat Qouliyah menjadi isyarat dan semangat serta etika untuk meneliti ayat Kauniyah, sementara Kauniyah menjadi burhan atau bukti serta implementasi bagi kebenaran ayat Qouliyah.

Lalu agar kedua ayat ini bisa digapai dan dimanfaatkan manusia dalam menjalani perannya sbg khalifah, maka Allah juga ciptakan pada diri manusia yaitu Fitrah, yang merupakan keadaan default manusia sejak lahir.

Fitrah sesungguhnya juga ayat ayat Allah dalam diri manusia, “Kemudian akan Kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan kami pada alam dan dalam diri mereka, sampai jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran” QS 41:53

Karenanya dari sisi pemahaman ayat Qouliyah, ayat Kauniyah dan Fitrah, maka dapat dengan sederhana dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses interaksi fitrah anak anak kita (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat) dengan ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah agar anak kita kelak menjadi khalifah yang mampu melestarikan alam dan memimpin/mendamaikan kehidupan manusia dengan semulia2 akhlak sesuai potensi fitrah yang Allah karuniakan.

Inilah yang tak terbayangkan oleh Malaikat ketika Allah menciptakan manusia, yang Malaikat duga akan berbuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Karenanya isu merawat alam dan membuat damai kehidupan manusia adalah isu terpenting peradaban manusia di muka bumi. Pendidikan fitrah yang berinteraksi dengan ayat Qouliyah dan ayat Kauniyahlah jawabannya.

Masalahnya adalah ketika kita menjadikan ayat Qouliyah dan atau ayat Kauniyah, sebagai konten belaka, maka lahirlah generasi yang paham dan hafal ayat Qouliyah (hafizh) namun tidak punya manfaat bagi alam dan kehidupan bahkan tanpa sadar merusaknya, sementara juga sama saja, lahir juga generasi yang paham dan hafal ayat Kauniyah (saintist) namun tidak memiliki kemauan merawat dan melestarikan bumi serta membawa manusia dalam kedamaian karena buruknya akhlak dan agamanya.

Padahal peradaban Islam sepanjang sejarah, kita jumpai pemuda pemuda yang ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah bukan cuma di kepala saja, tetapi berinteraksi dengan fitrah nya sehingga terimplementasi menjadi karya karya indah yang melahirkan peradaban penebar rahmat dan manfaat bagi kemanusiaan dan alam semesta.

Matinya ruh atau spirit pendidikan yang memadukan ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah untuk melahirkan budaya dan tradisi tradisi menemukan karya karya solutif bagi peradaban dimulai sejak revolusi industri dimulai.

Bapak Revolusi industri, Adam Smith merancang sistem yang dia sangat paham bahwa sistem pabrik yang dibangunnya mampu merendahkan manusia sampai derajat bodoh yang paling rendah. Itu semua karena bekerja dan belajar hanya rutinitas semata menunggu bayaran atau hasil ujian tanpa spirit dan gairah memberi manfaat.

Spirit pendidikan yang menginteraksikan fitrah dengan ayat Qouliyah serta ayat Kauniyah redup selama masa penjajahan kolonial, semua anak generasi Muslim, melalui sistem persekolahan modern, dipacu pada penjejalan ayat Kauniyah semata, lahir generasi pandai sains namun tak berakhlak mulia alias tak berkarakter kinerja dan tak berkarakter moral. Ayat Qouliyah terpinggirkan hanya menjadi siraman ruhani dan kajian sufi kebatinan atau obrolan kebencian.

Sistem persekolahan modern kemudian semakin memburuk ketika kemerdekaan, dari spirit tradisi meneliti sains (ayat Kauniyah) saja kemudian melorot lagi hanya tinggal tradisi menghafal rumus rumus dan cara cara cepat mengerjakan soal untuk ujian. Orientasi ijasah dan gelar pun menambah parah penyimpangan fitrah.

Sementara sejak tahun 80an persekolahan menjadi bisnis menarik. Kecerdasan kognitif menjadi mata uang paling laris dijajakan sekolah sekolah. Ini berlangsung sejak Indonesia merdeka sampai sekarang. Anak anak berIQ tinggi beruntung bisa “lulus” sistem konten ini, sebagian besar sisanya jarang yang beruntung “lolos” dari konsep diri yang buruk.

Lalu akibat fitrah tak berperan, kini pada anak anak kita kemudian muncul berbagai kerusakan moral, pergaulan yang rusak, penyimpangan seksual, penindasan dan pelecehan. Jika kita kliping semua kenakalan siswa sekolah barangkali ada ribuan banyaknya setiap tahun.

Orangtua panik dan cemas. Lalu lahir pendidikan Islam sebagai alternatif sejak tahun 90an. Sebenarnya bukan pendidikan lebih tepatnya persekolahan. Sebuah upaya yang patut dihargai namun sayangnya lahir karena reaksi yang masih dalam mindset dan platform yang sama dengan persekolahan modern, yaitu memberhalakan konten akademis.

Ada dua model persekolahan Islam, yang pertama memadukan konten akademis sains dan akademis agama sehingga menjadi akumulasi. Yang kedua, sama sekali lari dari konten sains, fokus pada konten agama dalam hal ini konten alQuran dan alHadits. Padahal konten tidak cukup, harus ada interaksi fitrah dengan keduanya, yaitu ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah sejak awal pendidikan dimulai, bukan salah satunya dan menunda lainnya.

Kedua model persekolahan ini dilakukan tanpa menginteraksikan fitrah, just content. Maka akhlak mulia sulit terbangun. Fatsun pendidikannya adalah jika content agama penuh maka akan berakhlak mulia dengan sendirinya. Mirip dengan persekolahan modern yang menganut aliran sesat bahwa jika konten sains penuh di kepala maka akan kreatif dan inovatif dengan sendirinya.

Mari kita kembali ke pendidikan sejati, yaitu pendidikan yang tidak memberhalakan konten baik konten agama maupun konten sains, tetapi pendidikan yang menginteraksikan fitrah anak anak kita dengan ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah agar gairah gairah beriman, gairah belajar dan bernalar, gairah menjalani peran atas bakat akan terus menyala menjadi spirit menebar rahmat dan manfaat bagi kelestarian alam dan kedamaian kehidupan manusia, bagi peradaban manusia di muka bumi yang Allah kehendaki.

Pendidikan sejati akan membangkitkan semua gairah fitrah anak anak kita untuk membawa dan mengimplementasi kebenaran ayat ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah.

Gairah fitrah mereka akan melakukan pembacaan bathin dan empiris atas ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah melalui pembacaan hukum gerak sejarah, melalui pembacaan hukum ketetapan alam semesta dan melalui pembacaan hukum dinamika kehidupan manusia.

Contohnya ketika menjadikan surat alMaun sebagai tema membangkitkan fitrah keimanan, fitrah belajar dan nalar serta fitrah bakat, maka ajak anak anak kita menyaksikan kemiskinan secara langsung, bertemu dengan anak anak dhuafa sebagai realita sosialnya dsbnya .

Tugas kita hanyalah mengulang-ulang pesan ayat secara kuat untuk membangkitkan gairah fitrah serta kesadarannya, bahwa jika cinta pada Allah dan RasulNya tidak sekedar sholat tetapi juga memikirkan solusi bagi kaum dhuafa.

Pendidik dan orangtua tentu bisa berkreasi menciptakan keteladanan serta suasana dan atmosfir yang berkesan kuat.

Menemukan Allah di kalangan kaum tertindas. Tantang anak untuk berfikir kritis (critical thinking dll), mensketsa solusi (innovation) bagi kaum dhuafa sebagai bagian penting keimanan, membrowsing data dan informasi kemiskinan ibukota dan penyebabnya untuk kecakapan literasi informasinya, lalu jangan lupa amati dimana kecenderungan fitrah bakatnya dalam hal pengentasan kemiskinan. dsbnya, Sederhana.

Jadi hafal surat al Maun dan hafal formula sains adalah efek dari keberkesanan, intinya adalah penyadaran semua firahnya. Model pendidikan berbasis fitrah dan akhlak seperti ini akan membekas seumur hidupnya. Anak anak kita akan benar benar siap memikul syariah dan misi penciptaannya sebagai khalifah yang memperbaiki peradaban di muka bumi.

Gairah fitrah mereka yang telah berinteraksi dengan ayat Qouliyah dan ayat Kauniyah, juga akan menggerakan fikiran, perasaan dan kaki mereka untuk melalang buana mendaki puncak gunung dan menembus perut bumi, menyeberangi samudra dan menyelami lautan, meresapi berbagai keanekaragaman hayati, mendengarkan begitu banyak ragam kearifan kehidupan manusia lalu menemukan solusi Qouliyah dan Kauniyah, sehingga mereka mampu menebar rahmat dan manfaat, memberi karya solutif dan akhlak mulia bagi peradaban manusia agar lebih hijau dan damai.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: