//
you're reading...
Human being, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Review

Persekolahan dini

Harry Santosa

Di dunia sepakbola, para pelatih FIFA certified atas rekomendasi FIFA, sebuah institusi yang serius menginvestasikan dana jutaan dollar untuk riset pendidikan sepakbola, melarang anak di bawah usia 10 tahun untuk dilatih keterampilan teknis sepakbola.

Bandingkan dengan persekolahan yang kini mulai menurunkan kurikulum SMA dan SMP ke Sekolah Dasar. Asumsi dunia persekolahan adalah makin cepat makin hebat, makin banyak makin baik.

Di dunia pendidikan persepakbolaan berlaku kaidah sebaliknya, bahwa segala sesuatu akan indah bila tiba tepat pada masanya.

Menjamurnya TK dan PAUD sepuluh tahun belakangan, yang kurikulum utamanya adalah Calistung, ternyata membuahkan hasil luar biasa, Indonesia sukses menjadi negara paling malas membaca di dunia, peringkat ke 59 dari 60 negara yang disurvei. Ternyata cepat bisa membaca sejak dini belum tentu suka membaca.

Sayangnya belum disurvey bagaimana kemampuan berlogika dan berabstraksi orang Indonesia, akibat bisa berhitung lebih cepat di usia dini. Tanpa survey kitapun segera tahu betapa lemahnya daya imajinasi dan abstraksi generasi kita, buktinya kita lebih banyak menjadi konsumen daripada produsen di dunia kreatif maupun dunia riset pemodelan matematis.

Begitupula dalam urusan keimanan, banyak kasus juga sering terjadi, anak anak yang malas beribadah ketika usia belasan tahun sampai dewasa, diduga keras diakibatkan para orangtua terlalu cepat mengajarkan bahkan memaksakan sholat di usia dini di bawah usia 7 tahun, tanpa membangkitkan niat atau cinta yang kuat pada Allah, hanya fokus pada tertib dan bacaan yang banyak. Padahal anak diperintah untuk sholat baru pada usia 7 tahun bukan sejak dini.

Jadi kembali ke model pendidikan FIFA, anak anak di bawah usia 10 tahun itu bermain bola saja dengan fun, tanpa diajarkan teknik dan hanya memuaskan kesenangannya berolahraga baik fisik maupun otak. Muscle memory mereka harus berkembang baik.

Jangan salah sangka, olahraga sepakbola bukan hanya urusan fisik semata, pemain sepakbola kelak memerlukan kecepatan tinggi dalam mengambil keputusan pada hitungan sepersekian detik untuk banyak pilihan.

Dalam sebuah pertandingan sepakbola selama 60 menit, barangkali ada banyak keputusan penting dan genting yang harus dibuat oleh pemain daripada jumlah keputusan yang dibuat seorang presiden dalam lima tahun pemerintahan.

Secara moral, para pelatih atau coach FIFA juga dilarang menyalahkan keputusan tindakan pemain yang dibuat di lapangan, para coach wajib menghargai dan mencari sisi kekhasannya, agar pemain muda tidak menjadi peragu.

Barangkali segera terbayang oleh kita betapa Kesebelasan Nasional kita selalu kandas di depan gawang, barangkali terlalu banyak dimarahi dan disalahkan selama pendidikan. Bagitu pula sikap pemerintah kita yang sangat peragu dan nampak tidak pede.

Karenanya di atas usia 10 tahun, setelah ditemukan bakatnya (melalui talent scouting yang ketat) anak anak yang berbakat sepakbola mulai U10, wajib menjalani match atau pertandingan setidaknya 36 match per tahun, kemudian meningkat menjadi 48 match sampai U15 sebelum akhirnya menjadi pemain Pro. Antara 10-15 ini adalah masa “tega” bagi coach agar para calon pemain muda ini bisa menjadi Pro ketika memasuki usia 16-17 tahun.

Artinya, dengan model pendidikan yang sesuai dengan psikologi perkembangan manusia, maka seorang pemain sepakbola bisa menjadi professional pada usia belasan tahun.

Bandingkan dengan sistem persekolahan yang digegas ketika dini lalu kemudian dilambat lambatkan kemandirian dan profesionalnya sehingga sampai selesai SMA di usia 17 tahun bahkan Sarjana di usia 23-25 tahun belum tentu menjadi professional.

Riset membuktikan 98% sarjana tidak siap atau tidak memenuhi kompetensi yang dibutuhkan dunia professional atau business.
Ada apa usia 10 tahun sampai 14 tahun dalam pendidikan Islam? Mengapa 10 tahun penting? Mengapa orangtua masa kini kebanyakan justru “matigaya” mendidik anak sejak usia 10 tahun, padahal sebelum malah lebay?

Silahkan berbagi ya….

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: