//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan

Renungan Pendidikan #72

Ust Harry Santosa – Millenial Learning Center

Sebuah peradaban besar sesungguhnya dimulai dari sebuah pendidikan peradaban.

Pendidikan peradaban yang bisa menegakkan peradaban itu tentu harus dikonstruksikan di atas platform nilai nilai yang diyakini peradaban itu.

Jika pendidikan Islam tidak dikonstruksikan di atas platform yang dibangun dari nilai nilai Islam, maka hasilnya bukanlah peradaban Islam, bukan peradaban apapun bahkan menuai masalah yang sama dengan platform yang tidak sesuai itu.

Justru itulah yang terjadi, walau banyak yang tak menyadarinya. Sungguh mengherankan mengapa umumnya komunitas Muslim mendirikan pendidikan Islam, namun dibangun di atas platform “Schooling” yang tidak punya kaitan filosofis dan sosio historis dengan Islam?

Konten nya memang konten Islam, karakter yang ingin dibangun memang karakter Islam, namun sayangnya platform tempat berdiri nya bukan platform Islam tetapi platform Schooling.

Ibarat benih bunga yang baik, ditanam dengan nilai nilai yang baik, namun semua habitat dan ekosisistem serta prosesnya tidak berangkat dari karakteristik kebaikan bunga itu. Sudah bisa dibayangkan hasilnya.

Ingatlah bahwa ada banyak filosofi anti-tuhan di balik sejarah lahirnya schooling yang sangat bertentangan dengan aqidah maupun syariah Islam. Kita tahu betul schooling pada masa lampau adalah sistem yang dibawa kolonial penjajah dengan maksud “melestarikan mesin penjajah”.

Sistem schooling, dahulu, sangat ditentang oleh para ulama dan tokoh pendidikan nasional. Bahkan inilah penyebab matinya banyak pendidikan Islam tradisional dahulu yang diwariskan oleh ulama Islam, seperti Surau, Dayah, Rankang, Meunasah, Pesantren dll.

Pesantren? Ya, pesantren hari ini umumnya adalah adopsi dari model Schooling, bahkan sudah menjelma menjadi Boarding School yang dua dekade ini mulai menjadi sorotan serius di Inggris, negara tertua penganut boarding school, akibat banyaknya penyimpangan psikologis dan sosial dari model boarding ini.

Di kala dunia, menyadari kekeliruan model schooling ini dan berusaha sekuatnya mereformasinya, justru kita merasa nyaman dengan sistem schooling ini dan menjadikannya platform pendidikan Islam.

Mari kita renungkan secara sederhana beberapa masalah berikut.
Pertama adalah masalah kemandirian dan kedewasaan ketika berusia AqilBaligh. Platform scohooling dirancang untuk tidak menyiapkan generasi aqilbaligh, bahkan memperlambat kedewasaan dengan memperpanjang masa pembocahan (infantization)..

Siapa yang mengarang angka enam untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah sehingga total menjadi duablelas tahun. Alasannya adalah mengikuti pemerintah, lalu pertanyaannya pemerintah ikut siapa? Ikut penjajah? Ikut global? Ketahuilah bahwa global belum tentu universal.

Banyak psikolog yang berfikiran terbuka menyuruh sistem schooling untuk menyelaraskan tahapan pendidikannya terhadap riset terbaru perkembangan manusia yang lebih manusiawi.

Apakah bermasalah? Ya tentu sangat bermasalah secara syariah dan sosial.

Coba perhatikan, andai anak komunitas Muslimin mulai masuk pendidikan dasar di usia 7 tahun, maka akan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di usia 19 tahun.

Secara syariah, usia 19 tahun sudah aqilbaligh, bahkan sejak sebelumnya sudah aqilbaligh di usia 14-15 tahun, yang artinya sudah memikul beban syariah. bukan hanya dalam ibadah ritual tetapi juga dalam zakat, nafkah bahkan jihad.

Sudah diketahui luas bahwa platform schooling sama sekali tidak mempersiapkan pemuda tamat SMA untuk mandiri dan bahkan belum dianggap dewasa dalam sistem kapitalis maupun sosialis. Dalam platform schooling, dewasa dan kemandirian selalu diukur bila sudah sarjana, bukan aqilbaligh.

Memang ada program vokasional seperti SMK, namun siapapun tahu bahwa SMK hanya ditujukan mencetak tenaga kerja buruh kelas operator. Bisa bekerja sebagai operator bahkan tamat sarjana bukanlah indikator kedewasaan dan kemandirian menurut Syariah Islam.

Bayangkan pemuda Muslim yang sudah aqilbaligh, alias wajib memikul beban syariah di usia 14-15 tahun harus terus menjadi bocah sampai usia 24-25 tahun. Pemuda Muslim yang sudah wajib zakat dan menafkahi dirinya sejak usia 14-15 ini, terus dibocahkan sampai selesai sarjana.

Infantization atau pembocahan panjang ini sudah menjadi penyakit global generasi muda di seluruh dunia dan dituduh sebagai penyebab kerusakan, kenakalan dan penyimpangan pemuda.

Maka jangan heran jika pemuda muslim punya masalah sama dengan pemuda lainnya, karena sama sama dididik dalam platform schooling, yaitu terlambat mandiri dan dewasa!

Maka jangan heran pula jika ada pemuda penghafal alQuran yang sarjana namun menganggur tidak mampu bekerja apalagi menciptakan pekerjaan. Salah platform!

Apa yang pernah terjadi pada peradaban Islam dahulu, ketika bertebaran pemuda pemuda Islam belasan tahun sudah mandiri dan punya peran peradaban, namun kini hanya dongeng pengantar tidur anak anak Muslim. Bukan salah mereka, tapi salah platform.

Mengapa komunitas Muslimin tidak membangun pendidikan Islam di atas plafform Islam sendiri?

Kedua adalah masalah pendidikan usia dini Islam di komunitas Muslim.
Mari kita renungkan ada berapa banyak PAUD Muslim yang benar benar mengikuti Sirah Nabi SAW dalam pendidikannya. Apakah mereka paham hal hal yang penting dalam pendidikan usia dini Islam di komunitas Muslim?

Apakah Bahasa Ibu yang fasih, Psikomotorik di Alam, Belajar di Alam, Kearifan melalui kisah kisah kepahlawanan, menguatkan executive functioning atau leadership dengan berkebun atau beternak menjadi kurikulum wajib di PAUD?

Platform schooling pada pendidikan usia dini, menyebabkan pendidikan usia dini Islampun terjebak untuk menggegas anak anak Muslim kepada hal hal kognitif, seperti menghafal formal dengan teks dan calistung. Sebagian pendiri PAUD Islam masih percaya kepada tahayul psikolog barat tentang Golden Age 5 tahun pertama dimana anak balita harus digegas aspek kognitif.

Jadi walau namanya pendidikan anak usia dini Islam, jangan heran jika yang dilakukan adalah praktek schooling yang memberhalakan aspek kognitif, dimana anak anak komunitas Muslim tidak utuh menjadi usia dini. Lihatlah lomba lomba dan toga toga wisuda dikenalkan sejak anak, bukankah ini tradisi schooling yang berpotensi merusak fitrah?

Ingat bahwa usia dini adalah usia terbaik mendidik aqidah, bahasa Ibu yang utuh, sensomotorik dan psikomotorik di alam terbuka, kisah kisah imajinatif kepahlawanan dan penguatan tauhid dstnya.

Mengapa komunitas Muslimin tidak membangun pendidikan Islam di atas plafform Islam sendiri?

Ketiga adalah masalah metode atau Manhaj.

Metode Schooling berangkat dari filosofi yang menolak adanya fitrah manusia. Landasannya adalah filsuf barat yang anti-tuhan, yang menolak bahwa Tuhan telah menciptakan manusia dan menolak bahwa Tuhan telah membekali manusia dengan berbagai potensi yang kita sebut fitrah.

Dari filsafat anti-tuhan lahirlah ide ide bahwa manusia kertas kosong, piring kosong, selalu lemah dan tak berdaya, berasal dari evolusi, tidak punya kesadaran, tidak tahu moral dan tuhan, moral dan tuhan adalah pengalaman dstnya.

Idea inilah yang diserap oleh Schooling menjadi metode mendidiknya. Maka kurikulum yang dirancang adalah kurikulum penjejalan, pengisian, pemaksaan dstnya. Kurikulum adalah segepok prosedur serinci mungkin untuk menstandarkan manusia agar beradab, karena mereka dianggap lahir tak bermoral dan tak beradab bahkan idiot sempurna.

Metode pendidikan Islam, seharusnya jauh berbeda. Islam berangkat dari filosofi atau konsepsi bahwa manusia lahir dalam keadaan fitrah. Manusia lahir fitrah atau suci, bukan dalam makna seperti kertas kosong yang bisa diisi seenaknya, bukan!

Tetapi fitrah dalam makna bahwa manusia lahir sudah terinstal fitrah keimanan (spiritual dan moral), fitrah belajar dan nalar, fitrah bakat dan peran, fitrah estetika, fitrah sosial, fitrah gender dstnya.

Maka metode pendidikan Islam adalah metode penyadaran dan pembangkitkan potensi (inside out) bukanlah metode penjejalan dan pembiasaan (outside in) ala behaviorisme dengan setumpuk prosedur dan insentif (stick n carrot), bukan pula kecurigaan penuh dan upaya menambal kekurangan ala psikologi negatif dsbnya.

Rusaknya dunia adalah krn kehilangan “wisdom” dalam semua hal, kehilangan hati dan perasaan dalam proses. Itu semua karena dunia modern tidak pernah berangkat dari penyadaran kecuali prosedur pemaksan dan penjejalan.

Dalam modernisme, semua anak manusia selalu dipandang sbg mesin yg bisa disetel dengan serenceng peraturan dan insentif, selalu dipandang sbg ember bocor yang perlu diisi dengan seabrek konten. Walhasil manusia dan dunia akhirnya kehilangan kemanusiaan.

Sampai disini barangkali kita mulai menyadari dan memahami, mengapa misalnya Perumus Manhaj Tarbiyah seperti Hasan alBanna tidak mendirikan sekolah formal. Karena pendidikan Islam harus tegak di atas Platformnya sendiri, bukan platform schooling.

Maka sekali lagi, pertanyaan ini hendaknya menjadi renungan bersama, mengapa komunitas Muslimin tidak membangun pendidikan Islam di atas plafform Islam sendiri?

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: