//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Perubahan, Renungan

Menari seperti kupu kupu, menyengat seperti lebah : In Memoriam Mohammad Ali, The Greatest Boxer of All Time

Jusman Syafii Djamal
11 June 2016

Malam tadi saya setelah shalat Tarawih bersama si bungsu, sengaja menonton tv, siaran langsung pemakaman The Greatest Boxer of all Time Mohammad Ali. Baru pertama kali dalam hidup saya menyaksikan kurang lebih 15000 jamaah membentuk shaf shalat jenazah berjamaah disebuah stadion penuh sesak. Dan itu terjadi di Amerika.
Mohamad Ali wafat dan kini telah dimakamkan. Ia menjadi legenda sejak ia berganti nama dari Casius Clay menjadi Mohammad Ali. Tahun 64 ia masuk Islam.

Ali dicintai banyak orang. Tidak saja di Amerika tetapi dibelahan dunia. Asia Afrika dan Eropa. Ketika masa SMP dan SMA waktu menonton Ali bertarung, di Medan kita bilang ” Sibesar mulut lagi berkolak”. Sebelum menonton Ali kalau saya sering banyak cerita dan berbual bual, ibu saya pasti menegur dan bilang :”Jangan banyak kombur aja , belajar belajar”.

Ketika nonton Ali yang berbual kesana kemari sebelum bertinju. pendapat berubah, ternyata keahlian banyak omong tak selalu jelek. Banyak cerita dan omong kosong bukan hambatan untuk orang mengukir prestasi puncak.

Legenda ini tak pernah diam mulutnya. Selalu sesumbar ini dan itu. Tetapi dibalik layar ia tak pernah berhenti berlatih. Ia bekerja siang dan malam untuk buktikan apa yg ia ucapkan. Bagi Ali berbicara ibarat janji. Dan itu ditepati nya di arena tinju. Sony Liston, Frazier, Larry Holmes dan Foreman adalah petinju yang telah merasakan pukulan telaknya.

Ali terkenal karena inovasi dalam dunia tinju. Ia memperkaya teknik bertinju dengan tarian indah seperti kupu kupu , mengelilingi lawan nya, ketika lengah jab kiri kanan dan tonjokan pukulan nya bikin lawan tersengat, rope a dope ,pemanfaatan daya lentur tali dipinggir ring dengan cerdik telah membuat George Foreman terkecoh, dan dipukul rubuh knock out DI Kinshasa Afrika.

Ali membawa tinju menjadi dunia “entertainment”. Tiga Agustus Tahun 1971 ketika Mohammad Ali bertanding lawan Joe Frazier, sekolah seolah libur . Sebab baik guru maupun murid duduk diam didepan tv untuk menanti tinju Ali. Tinju tiba tiba mirip seperti Final Thomas Cup. Semua menanti siapa yang menang. Ketegangan, rasa cemas silih berganti ronde demi ronde. Jika Ali melancarkan jab kiri kanan mengenai muka Joe Frazier semua bersorak gembira. Ketika Mohamad Ali dinyatakan kalah angka 31-1 dalam lima belas ronde semua tertunduk lesu. Ali kehilangan sabuk juaranya.

Tgl 20 Oktober 1973 Mohamad Ali secara langsung mempertontonkan kebolehannya bertinju melawan Rudi Lubbers petinju Belanda, di kota Jakarta. Ia datang ke Jakarta karena dua hal ia tau Indonesia negara Muslim terbesar kedua, dan di Indonesia banyak bibit dan talenta petinju yang tersembunyi. Ia datang ke Jakarta setelah satu tahun sebelumnya ia merebut kembali sabuk juara dengan mengalahkan Ken Norton dan sebelum berhadapan dengan Joe Frazier dan menang kembali tahun 74.

Tinju telah membawa Ali menjadi juru dakwah Islam di Amerika. Dengan nama itu ia menyelak dan membetulkan panggilan Cacius Clay ketika ia dipanggil kongres Amerika karena menolak wajib militer perang di Vietnam.

Ketika ia dicecar dengan tuduhan tidak patriotik oleh seorang Senator, dengan lantan ia menjawab “No Sir”. Saya tidak mau ikut menjadi bagian dari prajurit Amerika yg berperang di Negara orang lain. Untuk apa sy menembak dan membunuh Vietcong yang jauh ribuan kilometer dari Amerika. Ia teguh dengan pendirian nya dan ia konsekwen masuk penjara dua tahun.

Ketika masuk penjara secara fisik ia sedang mekar dan tumbuh stamina nya menjadi juara dunia tinju kelas berat. ia lepas kesempatan meraih jutaan dollar dan gelar juara, karena ia jujur pada diri sendiri dan yakin pada pilihannya untuk tidak ikut wajib militer.

Yg membuat ia jadi legenda adalah bukan semata mata teknik bertinju nya tetapi kejujuran dan kebesaran jiwanya. Ketika ia keluar penjara, Hakim yang memutuskan hukuman penjara bertemu Ali dan meminta maaf. Jawaban Ali mencengangkan.

Ia bilang :”saya tak punya dendam pada yang mulia hakim. Anda telah menghukum saya karena anda melaksanakan amanat undang undang. Anda telah menjalankan tugas dengan baik. Saya masuk penjara karena keyakinan bahwa perang vietnam bukan solusi yang baik. Dan sejak itu hakim yang menghukumnya menjadi sahabatnya.

Dari cerita seorang legenda tinju seperti Muhammad Ali generasi muda Indonesia bisa belajar banyak.

Pertama menjadi muslim yang baik berarti juga bekerja keras menekuni bidang keahlian yang ditekuni dan dicintai. Kedua prestasi puncak dalam profesi yang dipilih secara subgguh sungguh bisa jadi arena pengabdian untuk sesama. Dakwah bil hal. Berdakwah dengan kinerja puncak adalah wujut tanda syukur pada Allah. Ketiga seringkali ucapan, keyakinan dan profesi menghadapi cobaan. Dan obstacle atau tirai masalah bagaimanapun sukarnya adalah ujian yg harus dijalani dengan sabar dan ikhlas menuju cahaya illahi.

Ali sang lengenda, one of the greatest boxer of all time telah kembali kepangkuan illahi. Selamat jalan Champ. Louisville police estimate that more than 100,000 people turned out for Muhammad Ali’s funeral procession in his hometown.

Strategy Mohammad Ali dalam bertinju : Dance like butterfly and a sting like a bee mudah2an akan jadi inspirasi untuk generasi muda , generasi anak anak saya yg tak sempat mengenalnya.

Menari seperti kupu kupu adalah istilah yang tepat untuk membangun kemampuan inovasi dan sepanjang masa terus menguasai kapasitas beradaptasi pada perubahan zaman.

Keahlian untuk berdansa pada perubahan tak mungkin lahir tanpa kerja keras sistimatis bertahap dan bertingkat untuk kuasai iptek. Gajah atau perusahaan besar, bangsa besar yang pintar menari diatas perubahan zaman .

Lou Gerstner, the visionary former chairman and CEO of IBM dalam bukunya Who Says Elephants Can’t Dance? hanya mungkin terwujut dengan Speed and Agility. Lincah trengginas.

Dan itu berarti melakukan restrukturisasi dan merubah paradigma agar perusahaan yang besar, boros dan kalah bersaing, untuk direstruktur kedalam postur small mediun enterprises. Agar menjadi kumpulan unit bisnis strategik yang kecil, efficient dan produktip.

Keahlian untuk menyengat seperti lebah hanya mungkin terwujut jika kita selalu eling lan waspodo. Melihat opportunity disetiap krisis yang muncul didepan mata. Dan untuk itu diperlukan selalu kemampuan olah fikir think outside the box. Merubah mindset. Berfikir satu langkah lebih maju dari kompetitor. Itu berarti penguasaan teknologi untuk membangun daya innovasi.

Sekali lagi selamat jalan Champ. Rest in Peace.

Pemakaman ditempat kelahirannya Louisville Kentucky diliput secara live oleh stasiun tv terkemuka seperti BBC dan SkyNews, CNN. Semua penduduk kota dan penggemar nya dari seluruh dunia berjajar dari rumah kelahiran nya hingga tempat pemakaman berjarak 30 km. Mereka melempar bunga kejalan dan berteriak Ali, Ali.

Ia dimakamkan secara Islam.Shalat jenazah di Freedom Hall dilaksannakan dengan jamaah 15000 orang, yg juga diikuti oleh Presiden Turki Erdogan.

Seolah upacara ini meski telah disiapkan bersama keluarga sejak sepuluh tahun lalu, memberi peringatan pada Donald Trump calon Presiden Amerika bahwa rencana nya untuk melarang umat islam masuk Amerika adalah kebijakan yang amay keliru dan jangan diteruskan. sebab kini Islam telah jadi bagian dari kehidupan Amerika.

Seorang komedian Billy Crystal, yang diangkat sebagai saudara bungsunya ketika memberikan pidato berkata : Mohamad Ali mired seperti guntur dan halilintar yang tercipta dari fenomena alam di udara yang tipis. Sebuah kombinasi antara Kekuatan dan Keindahan.
Kita , kata Billy Crystal telah menyaksikan banyak foto Ali pada moment penuh dampak psikologi. Mempesona dan Menyentuh hati serta membangkitkan kekuatan harapan. Seperti cahaya terang , kilat ditengah kegelapan malam.

“He called the boxing great “a tremendous bolt of lightning, created by Mother Nature out of thin air, a fantastic combination of power and beauty.

“We’ve seen still photographs of lightning at the moment of impact, ferocious in its strength, magnificent in its elegance. And at the moment of impact it lights up everything around it so you can see everything clearly.

Muhammad Ali struck us in the middle of America’s darkest night.”
Kata Billy Crystal :”Ali telah memaksa kita untuk intropeksi, melihat diri sendiri dalam cermin perjalanan hidup yang dilalui. Sebagai orang muda berusia 25 tahun di 1964 ia memberontak pada wajib militer, ia membuat semua orang Amerika marah, ia membingungkan, ketika pecah demontrasi anti perang vietnam di Amerika, ia menantang akal sehat kita semua.

Dan puncaknya ia diam diam menjadi pembawa pesan perdamaian disekitarnya.

Ia mengajarkan bahwa hidup jauh lebih indah jika semua orang terus membangun jembatan persahabatan antar sesama, bukan membangun dinding pemisah penuh kebencian satu sama lain.Begitu Billy Crystal menutup pidatonya.

“Ali forced us to take a look at ourselves. This brash young man thrilled us, angered us, confused us, challenged us, ultimately became a silent messenger of peace and taught us that life is best when you build bridges between people and not wall”

“Lets build a bridge between man not a wall”. Marilah meniru Mohamad Ali, membangun persahabatan sebagai jembatan bukan menanam kebencian dengan membangun tembok pemisah. Tembok Berlin sudah runtuh.

Sebagai pent-up rangkaian pidato pemakaman, Bill Clinton Presiden Amerika terdahulu menyebut Mohamad Ali dengan panggilan “Manusia yang memeluk keyakinannya sebagai sebuah anugerah dari Allah SWT, dan menyebarkannya dalam setiap interagis dengan orang lain diseluruh dunia. Menjadi manusia beriman yang teguh dengan keyakinannya tidaklah mudah, begitu kata Bill Clinton kurang lebih.

Apalagi ketika penyakit Parkinson menyergap kesehatan tubuhnya. Ia tak mungkin mengendalikan gerak tubuhnya setelah itu. Parkinson menyebabkan ia selalu gemetar dan berjalan tertatih tatih. Tapi ia penuh semangat dan tetap saja ramah pada semua orang. Di bandara, di mall, di hotel ia selalu menyapa mereka yang sedang termenung sendiri. Ia menjadi sahabat yang membangkitkan cahaya harapan dalam diri mereka yang merasa kalah dan lonely.

Mohammad Ali adalah pribadi yang merdeka dengan keyakinannya. Menjadi merdeka menimbulkan konsekwensi banyak pilihan. Dan keputusan memilih menjadi orang merdeka dengan keyakinan dan keahliannya lah sebagai petinju legendaris yang menyebabkan kini semua orang berkumpul di stadion ini untuk menyatakan Selamat Jalan, Sang Juara.

Former President Bill Clinton has closed out the memorial service to Muhammad Ali by calling him a “man of faith” who took “perfect gifts we all have” and released them to the world.

“Being a man of faith, he realized he would never be in full control of his life. Something like Parkinson’s could come along,” Clinton said. “But being free, he realized that life was filled with multiple choices. It is the choices that Muhammad Ali made are what brought us all here today.”

Mohamad Ali adalah contohnya yang harus di beri Respect dan rasa hormat. Surat ArRachman Al Quran yang dibaca di stadion tempat berkumpul dan jenazah disemayamkan dengan dihadiri 100000 orang, Seolah menyerukan pertanyaan besar bagi kita di bulan Ramadhan ini untuk direnungkan :”Nikmat Allah mana lagi yang hendak kita dustakan”. Mengapa kita tidak mau bersyukur ?

Ia memberi pesan bagi para professional u bekerja keras mencintai pkerjaan yg ditekuni. Ia Bilang : I am a simple man who work very hard to shine the talent God given to me”.

Aku orang biasa yang bekerja keras, berlatih tak kenal henti untuk bersyukur pada Allah atas karunia talenta boxing yang kumiliki. Aku jadikan dunia tinju ladang pengabdianku untuk sesama.

Dengan menekuni satu sejak 1954, dan tiap sepuluh tahun jadi juara tinju dunia 1964,1974 dan 1984 , Mohamad Ali melalui profesi tinju yang dilatihnya sejak usia dini hingga lebih 21000 jam tinju, telah membangun keyakinannya sebagai seorang Muslim.

Menjadi muslim tidak berarti mengundukan diri dari dunia profesi dan tenggelam didalam gua. Menjadi muslim berarti jauh lebih produktif, tak kenal henti berlatih menekuni satu bidang profesi yang dicintai, dan keluar jadi juara atau Nomor satu untuk bisa berkata bahwa Muslim adalah Rahmatan lil Alamin. Rachmat dan karunia bagi alam semesta.

Selamat berpuasa Ramadhan. Mohon maaf jika keliru.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: