//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Perubahan, Research

Bakti Sosial Kaum Kolonial

Wicak Amadeo

Niatnya jelas baik, tak perlu diragukan, yaitu membantu sesama. Mereka menggunakan asumsi bahwa untuk berbuat baik, maka harus memberi ini dan itu yang dianggap sebagai bantuan kemanusiaan.

Benarkah?

Sebuah kunjungan ke Panti Sosial beberapa waktu yang lalu, ternyata berujung menjadi “salah tingkah”. Sang inisiator kegiatan Bakti Sosial ini mengaku belum pernah berkunjung ke Panti Sosial ini. Selama dua bulan, mereka mengumpulkan sumbangan uang dari sejumlah orang untuk disalurkan ke Panti Sosial ini. Jumlahnya tak banyak, tak lebih dari empat juta rupiah.

Dalam kunjungan itu, sang inisiator mengaku terkejut karena para penghuni Panti Sosial ini menjalankan kegiatan produktif, yaitu membuat kerajinan tangan. Bantuan yang dibutuhkan penghuni Panti Sosial ini bukanlah uang tetapi Penjaminan Pasar atas Produk Kerajinan Tangan yang mereka hasilkan. Mereka butuh Pemasaran atas Produk Kerajinan Tangan mereka.

Mengapa bisa sampai “salah tingkah”?

Meminjam istilah Prof. Yus Rusyana, sang inisiator menggunakan “kacamata kolonial” atau “kacamata penjajah” dalam menggagas kegiatan Bakti Sosial itu. Kacamata Kolonial memandang bahwa manusia-manusia di tempat lain, yaitu Panti Sosial, dianggap lebih rendah dan lebih lemah sehingga dianggap perlu diberikan ini dan itu.

Mengapa terjadi demikian?

Semua ini bermula dari Pikiran dengan kacamata Kolonial yang tak disadari sang inisiator sebagai Produk Sekolah yang menanamkan Kacamata Kolonial dalam Pikirannya. Pikiran yang menyeragamkan sering turun bagaikan hujan yang berakhir seperti tsunami di pelosok-pelosok negeri ini. Banyak ide-ide hebat yang lahir dari pusat (mengaku atau diakui sebagai pusat) seringkali dimulai dengan kepentingan kolonial, yang secara sadar maupun tak sadar melemahkan atau menganggap orang lain lemah untuk menancapkan dan mengibarkan bendera ego diri, bendera kaumnya, bendera institusinya, atau bendera korporasinya.

Ya, bukan penghuni Panti Sosial yang harus dikasihani, tetapi sang inisiator yang patut dikasihani karena terus harus makan bangku sekolahan untuk hati yang kerap salah kiblat dan tak mengakar di negeri ini.

Apa yang sebaiknya dilakukan?

Turunlah, dengarkan-dengarlah-mulai mendengar! Dengar, menyimak bukan menunggu waktu untuk menceramahi! Telinga itu ada dua dan mulut itu ada satu. Mendengar harus lebih banyak dibanding bicara. Carilah kekuatan-kekuatan yang tersembunyi dari kaum yang kita anggap lemah dan perlu dikasihani. Potensi mereka itu tidak mati tetapi hanya tidak disadari. Apalagi para penghuni Panti Sosial itu terbukti kaum yang produktif. Bantulah diri kita dan masyarakat agar bisa bangkit dengan kekuatannya sendiri. Bukan terpuruk dan hancur oleh kekuatannya sendiri, dilemahkan-dibodohi-dibiarkan.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: