//
you're reading...
Human being, Kajian, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Tentang Remaja

Alwi Alatas

Remaja sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat modern sejatinya tidak wujud. Yang dimaksud pemahaman masyarakat modern adalah identifikasi remaja sebagai periode pencarian jati diri (Hilgard et. al., 1979: 88), saat seorang anak menghadapi persoalan definisi diri (Kroger, 1989: 1), masa yang disebut oleh G.S. Hall sebagai sturm und drang ‘topan badai dan tekanan’ dan oleh E. Gardner sebagai turbulence ‘pergolakan’ (Sarwono, 2001: 23).

Remaja menurut konsep atau definisi ini adalah masa peralihan antara anak-anak dan dewasa, sebuah periode usia mengambang yang menimbulkan kebingungan serta kegelisahan tentang status dan peranan kelompok yang disebut remaja ini. Kebingungan dan kegelisahan ini kemudian menimbulkan gejolak pada usia remaja yang sering berlanjut menjadi kenakalan dan berbagai perilaku yang tidak patut.

Remaja berdasarkan difinisi ini seharusnya tidak ada. Ia tertolak oleh Islam, tertolak oleh pola pertumbuhan alamiah manusia, dan tertolak oleh sejarah. Islam tidak mengenal periode peralihan antara anak-anak dan dewasa. Saat aqil dan baligh, seorang anak memasuki tahap usia dewasa. Ia terkena beban agama (taklif) yang mengharuskannya menjalankan perintah agama sebagaimana orang dewasa pada umumnya.

Pertumbuhan alamiah manusia juga sebenarnya tidak mengenal masa remaja seperti yang dipahami masyarakat modern. Hal ini disinggung oleh James M. Tanner et. al. (1975: 110-111) dengan mempertanyaan apakah ketegangan dan kecemasan masa remaja disebabkan oleh alam atau dipaksakan oleh masyarakat? Ia menyimpulkan bahwa “ketegangan dan kecemasan tadi dipaksakan oleh masyarakat dalam negara yang sudah maju, sebab jadwal waktu masyarakat tampaknya tidaklah sinkron dengan jadwal waktu pertumbuhan alamiah manusia.”

Sejarah juga tidak mengenal remaja seperti yang dipahami oleh masyarakat modern (Hilgard et. al., 1979: 88). Ini diakui oleh Sarlito Wirawan Sarwono (2001: 20) yang menulis, “… konsep tentang remaja sendiri baru dikenal secara meluas dan mendalam pada awal abad ke-20 ini saja dan berkembang sesuai dengan kondisi kebudayaan misalnya karena adanya pendidikan formal yang berkepanjangan, karena adanya kehidupan kota besar, terbentuknya ‘keluarga-keluarga’ batih sebagai pengganti keluarga-keluarga besar ….”

Kalau begitu apa yang sebenarnya terjadi pada kebanyakan remaja modern? Mengapa tertundanya kedewasaan pada remaja modern menyebabkan terjadinya gejolak seperti yang kita ketahui sekarang ini (seks bebas, obat-obatan, bullying, keinginan bunuh diri)? Persoalannya bisa dijelaskan seperti berikut ini.

Saat baligh, seorang anak mencapai kedewasaan biologis. Artinya organ seksualnya sudah berkembang sebagaimana orang dewasa. Namun oleh masyarakat modern kedewasaan psikologis dan kedewasaan sosialnya ditunda. Maksudnya, anak-anak tadi tidak disiapkan secara psikologis untuk menyambut kedewasaan pada waktunya, yaitu pada saat baligh. Mereka tidak pernah diajarkan apa arti kedewasaan, seperti apa ciri-ciri seorang dewasa, apalagi diberi apresiasi saat mereka menjalankan peran positif kedewasaan.

Begitu pula, kedewasaan sosial mereka telah ditunda oleh masyarakat modern, yaitu mereka tidak diterima dan tidak diperlakukan sebagai bagian dari anggota masyarakat dewasa ketika mereka mencapai usia baligh. Mereka masih diperlakukan sebagai seorang yang dibawah umur dan belum matang, walaupun secara biologis sudah matang.

Lalu sampai kapan penundaan kedewasaan psikologis dan sosial itu terjadi? Bagi masyarakat modern batas waktu kedewasaan itu tidak pernah jelas. Banyak anak yang tidak pernah betul-betul dipersiapkan untuk menjadi dewasa dan tidak pernah menerima status resmi sebagai bagian dari komunitas orang dewasa. Kedewasaan mungkin terbentuk sendiri saat mereka kuliah, bekerja, dan menikah.

Hal ini sungguh berbeda keadaannya dengan masyarakat di masa lalu yang sebagian masih menjalankan tradisinya hingga hari ini. Banyak masyarakat tradisional yang masih menjalankan upacara khusus untuk mengangkat seorang anak secara resmi menjadi seorang dewasa, biasanya pada usia yang tidak terlalu jauh dari usia baligh. Bangsa Yahudi mengenal tradisi Bar Mitzvah, masyarakat Bali mengenal tradisi Metatah, begitu pula kebanyakan suku-suku primitif di Asia, Afrika, dan Amerika memiliki tradisi khusus untuk melantik anak-anak mereka menjadi seorang dewasa.

Bagaimana dengan Islam? Di dalam Islam memang tidak dikenal adanya upacara khusus semacam ini. Tetapi sebetulnya Islam memperkenalkan adanya fase yang jelas antara anak-anak dan dewasa yang dibatasi oleh periode aqil baligh. Islam tidak menekankan pada seremoni, tetapi langsung masuk kepada substansi. Namun sayangnya banyak Muslim modern yang terpengaruh oleh kebudayaan Barat dan kehilangan substansi ini.

Adalah tugas kita untuk menghidupkan kembali kesadaran ini dan menerapkannya di dalam keluarga, lembaga pendidikan, serta lingkungan sosial. Karena kita menginginkan tumbuhnya anak-anak yang sehat dan amanah, bukan anak-anak yang jahat dan bermasalah.

* Dituliskan sebagai pembuka Perkuliahan Fitrah Based Education seri ke-7 (FBE#7) tanggal 5 Juni 2016 di PSJ UI yang diadakan oleh Harry Santosa. Kuliah utamanya sendiri disampaikan oleh bang Aad atau Adriano Rusfi.

Daftar Pustaka
Hilgard, Ernest R., Rita L. Atkinson, & Richard C. Atkinson. 1979. Introduction to Psychology. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Kroger, Jane. 1989. Identity in Adolescence: The Balance between Self and Other. London & New York, Routledge.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2001. Psikologi Remaja. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Tanner, James M. dan Gordon Rettray Taylor. 1975. Pustaka Ilmu LIFE: Pertumbuhan. Jakarta: Tira Pustaka.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: