//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Sedikit Bekal Ramadhan: Idea Fitrah

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Istilah Fitrah belum pernah dijumpai pada ajaran langit sebelum alQuran dan alHadits. Benarlah jika Islam disebut penyempurna ajaran sebelumnya, diumpamakan Rasulullah SAW sebagai batu bata akhir yang diletakkan di salah satu sudut sebagai penyempurna dalam sebuah bangunan besar yang dibangun Nabi Nabi Allah sebelumnya sejak zaman Nabi Adam AS.

Idea fitrah ini meruntuhkan semua pandangan dan ajaran yang menyebut bahwa Tuhan menitis dalam diri manusia. Istilah fitrah meruntuhkan keyakinan ajaran Yahudi dan Nasrani bahwa Allah punya anak kandung (begotten). Istilah fitrah juga merontokkan ajaran sesat lainnya yang meyakini adanya “wihdatul wujud” atau “manunggaling kawulo ing gusti”, bersatunya manusia dengan Tuhan, termasuk pandangan yang menyebut adanya sifat dan asma Allah dalam diri manusia sebagaimana digagas ajaran ESQ modern.

Ada memang sifat sifat manusia yang mirip dengan sifat Allah, misalnya sifat cinta, namun itu bukan sifat Allah, itu adalah fitrah Allah yang diinstal dalam diri manusia dan berbeda dengan sifat Sang Maha Pencipta. Manusia punya sifat cinta namun sekaligus mencintai lawan jenis, mencintai materi yang mustahil sifat Tuhan.

Konsepsi fitrah juga menghantam habis idea idea atheisme bahwa manusia adalah kertas kosong atau blank slate. Manusia lahir tidak kosongan dan kebetulan, semua dalam kendali dan rancangan Sang Maha Perancang yang Maha Mengetahui. Riset riset modern tentang bayi menunjukkan bahwa bayi sudah memiliki moralitas sejak usia 3 bulan, bahkan memiliki keyakinan pada Tuhan. Riset ini didukung oleh banyak professor seperti Justine Barret, Bloom dstnya.

Sistem Persekolahan kita dibangun atas filosofi yang dikonstruksi dari idea yang salah tentang human nature bahwa anak lahir dalam keadaan Blank Slate. Dampaknya tidak sesederhana yang dibayangkan. Karena anak itu kosong maka harus diisi banyak banyak agar bisa berkompetisi, maka lahirlah sistem persekolahan yang memberhalakan prestasi akademis dengan pacuan dan ujian saringan. Idea anak adalah blank slate juga melahirkan sistem persekolahan dengan penyeragaman yang tidak mengakui bahwa anak itu unik.

Idea anak lahir kosong juga ditambah dengan idea bahwa manusia pemalas, dan hanya mau bekerja jika dibayar. Ini juga menolak konsep fitrah. Maka lahirlah sistem pabrik, yang menggaji manusia agar mau bekerja. Lalu manusia akhirnya mengikuti sistem yang dibangun tersebut, bekerja tanpa makna, hanya mengejar gaji dan upah.

Akhirnya banyak manusia bekerja tanpa hikmah atau wisdom, bangun pagi buta, pulang gelap dan bekerja tanpa bisa memilih karena kebutuhan hidup, mekanistik dan robotik saja. Dalam rutinitas hewaniyah itu manusia menjadi bodoh sampai derajat yang kebodohan yang paling mungkin dicapai manusia. Begitulah setting modernisme yang dibuat Adam Smith,

Professor Tahl ben Sahr dari Harvard kini menyebutkan bahwa 85% manusia di muka bumi bekerja “asal kerja”, yang dicari adalah kebutuhan hidup, tanpa harapan, yang ditunggu tunggu adalah hari libur dan hari gajian.

Sesungguhnya kini, kita berada pada zaman dimana sistem merusak fitrah manusia karena berangkat dari idea yang salah tentang sifat sifat manusia atau human nature. Hati hati membuat idea tentang manusia, karena akan melahirkan sistem yang kemudian manusia mengekor pada sistem itu. We create a shape, and it shapes people. Ini semua diungkap dalam buku “Why We Work” yang ditulis Barry Schwartz.

Maka lagi lagi, Islam datang mengingatkan dengan konsep Fitrah yang prakteknya lengkap dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah SAW, bagaimana hidup sesuai fitrah dalam naungan agama yang fitri. Hidup sesuai fitrah dan dipandu agama yang fitri melahirkan peran terbaik dan akhlak termulia.

Konsep fitrah ini terus diingatkan oleh Allah, setidaknya setahun sekali dalam mekanisme Ramadhan, agar manusia berhenti sejenak untuk merefleksi fitrahnya. Agar refleksinya sempurna, maka ada ibadah Shaum di siang hari dan Qiyamullail di malam hari, yang menjungkirbalikkan rutinitas hewaniyah, menyadarkan bahayanya rutinitas bekerja tanpa makna, menikah tanpa makna, mendidik anak tanpa makna dstnya.

Maka di bulan Ramadhan, jangan lagi kita terjebak pada pacuan tanpa makna. Kembalilah kepada makna hakiki manusia, kepada kesadaran dan kesejatian fitrah, dimana semua peran peran bermakna manusia sesungguhnya telah terinstal dalam tiap fitrah manusia jika disyukuri dan dijalankan dengan benar dipandu agama yang fitri. Fitrah sendiri juga bermakna Dien.

Dalam fitrah ada peran peran sejati manusia dalam semua aspek kehidupan dan hidupnya di muka bumi, seperti bekerja, belajar, menikah, mendidik anak dstnya. Apabila peran peran ini dijalani sesuai fitrahnya maka niscaya akan berbuah menjadi akhlak dan adab yang mulia.

Konsepsi dan idea tentang fitrah adalah idea sangat prinsipil dalam kesejatian kehidupan manusia baik personal maupun komunal dalam skala peradaban. Mari manfaatkan dengan baik Ramadhan ini untuk kembali kepada kesejatian diri sesuai fitrah, bukan disibukkan pada pacuan tak bermakna karena tak memahami fitrah kita sebagai manusia

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: