//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Support System

Lukito Edi Nugroho
June 6, 2016

Kita pasti pernah mengalami suatu masa saat kita merasa putus asa menghadapi problem yang amat berat. Begitu beratnya masalah tersebut, sehingga membuat kita ingin menyerah saja. Lempar handuk putih, dan melarikan diri dari masalah tersebut.

Dulu saya pernah mengalami juga, menjelang setahun kuliah di Melbourne dulu. Waktu itu saya mulai frustasi karena riset masih belum jelas arahnya, kangen dengan keluarga semakin memuncak, ditambah cemburu melihat teman-teman lain yang begitu bahagia sekolah sambil ditemani keluarganya. Perasaan-perasaan itu pelan-pelan menumpuk dan membesar, dan lalu kok ya pas ada trigger: saya kena cacar air. Dokter bilang, saya harus tinggal di rumah minimal 2 minggu. Itu periode yang paling berat. Saat itu rasa incomplete, insecure, rindu, kemarahan, dan keputusasaan muncul berbarengan, membuat saya merasa hopeless, eksistensi saya seolah tidak berguna lagi. Akhirnya, puncak dari semua itu, saya menelpon istri dan bilang,”Cepatlah ke sini, atau kau akan menemui suamimu dalam kondisi tidak waras…”

Singkat kata, beberapa hari kemudian istri saya berangkat ke Melbourne. Dan apa yang terjadi? Begitu bertemu dia di bandara, zapp!!…tiba-tiba semua problem lenyap tanpa bekas. Wajah yang semula keruh tiba-tiba tersenyum gembira. Dunia yang tadinya berwarna biru, sekarang jadi penuh warna.

Lebay ya? Mungkin…tapi itulah yang terjadi. Penyebab problemnya tidak elit sama sekali, solusinya juga ternyata sepele. Tapi kenyataannya, kewarasan saya hampir terenggut oleh problem geje itu. Saya sudah sampai pada ambang batas kesadaran saya untuk bisa bertahan. Lewat sedikit saja, saya bisa “hilang”.

Jadi apa yang membuat saya bisa bertahan sampai hampir setahun? Apa yang membuat kita tidak hanyut lalu hilang ditelan problem? Tiap orang punya cara sendiri-sendiri, tapi secara umum saya sebut sebagai “support system”. Support system adalah sebuah dukungan yang dapat membantu kita untuk tetap bertahan dalam menghadapi problem berat. Dukungan ini bisa berasal dari internal (dari dalam diri sendiri), bisa juga dari eksternal. Bentuknya bisa macam-macam. Saya pernah bertanya ke salah seorang kandidat beasiswa LPDP, apa yang dia lakukan jika menghadapi problem yang berat? Dia bilang dia akan bercerita ke ibunya dan menyanyi. Itulah support systemnya. Orang yang lain lagi bilang bahwa dia akan curhat ke teman-teman dekatnya kalau menghadapi problem berat. Keberadaan teman-teman dekatnya itulah yang akan mendukung dia saat ada masalah.

Wujud dan bentuk support system bisa beraneka ragam, tapi semuanya punya satu kesamaan: dia akan efektif bila disertai dengan kepercayaan (trust). Ibu dan nyanyian akan menjadi support system yang efektif bila yang si anak percaya bahwa ibunya bisa dijadikan sandaran dan nyanyian bisa menghiburnya. Teman-teman dekat akan efektif jadi support system bila kita yakin mereka akan bisa membantu kita melalui problem yang berat itu.

Support system yang efektif sungguh punya kekuatan yang luar biasa. Dia bisa memberikan pegangan yang kuat bagi kita saat dilanda problem berat, apapun problemnya, kapanpun dan di manapun terjadinya. Ibaratnya rig pengeboran minyak di lepas pantai, mau sebesar apapun badai dan ombak melandanya, dia akan tetap memegangi anjungan dan segala perlengkapannya sehingga tidak hilang terhempas badai.

Bagaimana membuat support system yang kuat? Dua langkah saja: 1) cari sesuatu yang bisa membuat kita nyaman ketika problem muncul, dan 2) tumbuhkan keyakinan kita padanya. Kita bebas memilih apapun untuk menjadi support system kita, jadi ikuti saja kata hati untuk menentukan apa yang benar-benar membuat kita nyaman. Selanjutnya, begitu menemukan support system tersebut, percayailah dia. Tiap orang punya keunikan, jadi carilah support system sendiri, jangan meniru orang lain.

Support system bisa bersifat eksternal maupun internal. Eksternal berarti berasal dari luar diri, internal sebaliknya. Orang-orang yang menggunakan support system internal berarti mereka yakin dengan kemampuan dirinya dan merasa tidak perlu dukungan dari luar. Mereka percaya bahwa mereka punya kekuatan internal, entah apapun bentuknya, yang bisa membantu melalui problem yang dihadapi.

Yang harus diingat adalah bahwa support system bukan solusi dari masalah yang kita hadapi. Kita sendiri yang harus mencari solusi itu. Support system hanyalah “jangkar” dan platform yang membuat kita tetap bisa bertahan dan menemukan solusi bagi masalah kita. Mahasiswa yang bermasalah dengan risetnya tidak bisa meminta teman-teman support systemnya untuk mencarikan solusi baginya. Karyawan yang selalu tidak pernah berprestasi kerja tidak bisa mengandalkan atasannya untuk memperbaiki kinerjanya. Support system bukanlah solusi, tetapi dia memberikan posisi yang lebih baik bagi kita untuk berjuang melawan problem-problem kita. Kita menggunakan support system sebagai landasan dalam rangka usaha menyelesaikan masalah.

Mari kita siapkan support system kita masing-masing! Dengannya, kita tidak perlu khawatir dalam menghadapi problem-problem berat yang ada di hadapan kita, apapun problem itu…

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: