//
you're reading...
Creativity, Kemandirian, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Review

Global Talent, Persaingan Antar Negara dan Indonesia

Handry Satriago
CEO GE Indonesia

Mari mulai dengan pertanyaan singkat: “why bother with global talent?”

Bicara soal tenaga kerja, kita sering menatap masa depan dengan penuh optimisme. Mengapa tidak? Indonesia punya banyak tenaga kerja! And that demographic bonus?

Well, faktanya, Global Competitiveness Indexmenunjukkan bahwa jumlah penduduk tidak menjamin kemakmuran negara tersebut. Begitu pula dengan ‘bonus demografis’ yang diagung-agungkan itu. Ya, kita memang akan memiliki sekitar 55 juta orang dengan usia kerja di tahun 2025. Namun, apakah kita akan menjadi lebih baik?

“Well, faktanya, Global Competitiveness Index menunjukkan bahwa jumlah penduduk tidak menjamin kemakmuran negara tersebut. Begitu pula dengan ‘bonus demografis’ yang diagung-agungkan itu”

Indonesia saat ini menduduki peringkat #34 di WEF Competitiveness Index 2014 – 2015. Peringkat CI ini masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Padahal, potensi pasar kita jauh lebih besar dari negara-negara tersebut. Bahkan ketika negara-negara itu digabung jadi satu!

Nah, salah satu yang membuat kita tidak kompetitif adalah faktor Human Capital. Di Human Development Index dunia, kita cuma di peringkat 108. Sekarang, dalam dunia yang semakin global ini, persaingan negara  sama dengan persaingan talent. Negara dengan talentyang berkualitas tinggi tentu akan menang. Menang dalam arti akan mendapat keuntungan lebih banyak di banding negara lainnya. Talent bukan soal kuantitas, tapi kualitas.

Dengan demikian, tidak banyak gunanya kita memiliki bonus demografi, jika ‘bonus’ itu berkualitas rendah. Hal ini tidak menjamin negara menjadi lebih makmur. Sebagai contoh, MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) akan segera diluncurkan dalam beberapa bulan lagi. Ini bukan berarti kita kebanjiran tenaga asing saja. Dengan adanya MEA, kita pun bisa membanjiri pasar tenaga kerja di luar negeri (negara ASEAN). Masalahnya adalah: apa bidang pekerjaannya? Apa bidang pekerjaan yang akan kita banjiri dan apa yang akan dibanjiri orang lain?

Dengan jumlah penduduk seperti kita ini, seharusnya negara lain takut dengan banjirnya tenaga kerja kita ke tempat mereka. Tapi sekali lagi, apa pekerjaannya? Rumusnya sederhana: low quality global talent will only get low quality job. Low quality jobs = lowly paid and low influence on decision making.  Sekarang, coba kita liat data lagi. INSEAD tahun lalu membuat Global Talent Competitiveness Index. Saya sarankan anda semua unduh dan pelajari.

Ini penting, apalagi buat para pencari kerja di masa mendatang. Saat ini, kita peringkat berapa di Global Talent Competitiveness Index? 86 dari 93 negara! How dangerous it is! Artinya, dalam kondisi seperti itu, begitu MEA dibuka, bukan berarti kita tidak mendapatkan pekerjaan. Kita akan dapat, tapi kebanyakan akan berupa low quality job.

“Rumusnya sederhana: low quality global talent will only get low quality job.”

Ini yang membuat saya takut. Menurut studi Boston Consulting Group (BCG), kita akan kekurangan talentsebentar lagi. Tidak hanya itu. Kekurangan ini menjadi mengenaskan karena justru akan ada di level atas dan menengah. The high quality job! check this out.

Jadi, ketika MEA terbuka, pekerjaan yang high quality di negara kita ini yang bakal jadi rebutan para global talent. Sebaliknya, kita jarang melakukan ekspansi. Talent Indonesia tidak terlalu suka kerja di luar negeri. Biasanya, mereka mau bekerja 1-3 tahun di negara lain. Namun, saat mulai lebih dari itu, ia akan segera disergap kerinduan pada kampung halaman.

Nah, sekarang, mari coba kita belajar dari negara yang tingkat daya saing global talentnya tinggi. Apa rahasianya? Apa yang mereka lakukan?

Swiss adalah contoh yang menarik. Ada dua hal penting dalam pendidikan di negara yang terkenal dengan coklatnya itu:

(1) Vocational atau kejuruan; dan

(2) Apprenticeship atau training/magang.

Kita tahu sistem pendidikan di Indonesia masih banyak yang harus dibenahi, tapi dua hal ini bisa cepet dilakukan untuk meningkatkan daya saing global talentkita: Kejuruan dan Magang.

“Kita ranking berapa di global talent competitiveness index? 86 dari 93 negara! How dangerous it is!”

Mohon maaf saya bawel banget dengan “menjadi global talent” ini. Hal ini karena ia menentukan posisi kita di dunia global. Negara dengan sumberdaya alam banyak serta tenaga kerja banyak dan murah (karena low quality) sangat potensial untuk sekedar menjadi obyek dari globalisasi.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Ada beberapa hal yang bisa kita perbaiki sekarang, agar kita dapat menjadi global talent. Jangan menunggu orang lain. Jangan menunggu sistem menjadi benar. We should find our own way to become a better and competitive person in this world.

Kita bisa mulai dari beberapa langkah sederhana.

Pertama, mindset. Perlu keterbukaan (openness) dalam belajar. Learn “how to learn” faster, cheaper, better and focus. Buka mindset dalam belajar: buang sekat-sekat yang tidak perlu. Ready to learn from anybody, anywhere, anytime. Bersiaplah dan buka diri kita untuk belajar dari siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.

Kedua, accept diversity, terima dan rawatlah keberagaman. Global talent siap bekerja dengan beragam budaya dan beragam permasalahan yang kompleks. Global talent juga harus memiliki kemampuan multi tasking. Miliki mindset tidak takutberhadapan dengan hal atau pekerjaan yang tidak gampang. Leaders deal with tough issues!

Jaman dulu, skill dasar yang diperlukan untuk kompetitif cukup berupa kemampuan mengendarai mobil dan bisa berbahasa Inggris. Hari ini berbeda. Skill dasar yang dibutuhkan di masa yang akan datang adalah digital skills (e-skills, skill digital), data analysis (analisis data), teamwork and networking capabilities (kemampuan bekerja sama dan berjejaring).

Tidak hanya skill yang penting. Global talent harus memiliki nilai-nilai tertentu yang membuatnya dapat bersaing dengan orang-orang hebat dari seluruh dunia. Kita harus membangun nilai “willing to run extra miles”.Tidak cuma untuk capai target atau memenuhi deadline pekerjaan saja. Nilai “run extra miles ini” sangat penting. Kalau hanya memenuhi target saja, itu hanya doers. Leaders run extra miles.

Nilai kedua yang harus dimiliki dan dibangun adalah confidence, percaya diri. Di dunia global ini yang penting adalah having idea and a click in the internet world. Miliki ide, klik, dan “Voila!” dunia akan membuka panggungnya bagi andaBanyak jagoan di Indonesia, tapi begitu panggungnya diberikan kepercayaan dirinya tidak ada. Ia jadi tidak bisa menampilkan kemampuannya yang terbaik.

Terlihat berat? Sebenarnya tidak jika kita mau bersungguh-sungguh membangun diri menjadi global talent. Tips sederhana dari saya adalah sebagai berikut: Begitu ada kesempatan, carilah mentor dan maganglah di tempat kerja. This will accelerate your learning process. Ini akan mempercepat proses belajar anda dengan luar biasa.

Tidak ada kata terlambat dan tidak ada opsi pesimis untuk menghadapi kompetisi global ini. Yang terpenting: ayo kita selalu membangun diri. Let’s make the improvement. Tantangan ada di depan mata. Tulisan ini untuk mengingatkan dan menyemangati kita bahwa kita perlu meningkatkan standar pencapaian. We need to raise our bar.Indonesia needs more global talents to compete in global world. Kita perlu global talent yang lebih banyak untuk bersaing di dunia yang semakin global ini, agar kita tak cuma jadi objek belaka.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: