//
you're reading...
Creativity, Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan

Pendengar Baik Bukan Penasehat Buruk

Oleh: J. Sumardianta*

Jawa Pos, 5 Juni 2016

“Motivasi berubah jadi manipulasi bila Anda terinspirasi dari luar bukan terilhami dari dalam.” -Robert Toru Kiyosaki

Seorang ayah hendak mendidik anaknya sejak dini mengelola uang jajan. Bocah kelas 3 SD itu setiap minggu diberi uang saku Rp 30.000. Minggu pagi ayah dan anak pelesir menikmati liburan. Ayah memberikan uang jajan dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Seorang kakek pengemis menghampiri mereka. Si bocah iba. Ia berikan seluruh uang miliknya pada pengemis.

Pengemis itu sangat bahagia. Berterimakasih tak terhingga kepada anak dan bapaknya. Pengemis pun berlalu. “Sayang, kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk hidupnya hingga nanti malam?” Tanya ayah pada putranya.

“Ayah, kakek itu terbiasa ikhlas menerima sedikit. Aku belajar ikhlas memberikan lebih banyak.” Jawab anaknya. Mak jleb. Hati ayah tersentak kaget. “Terus uang jajan untuk seminggu ke depan bagaimana?” Ayah ingin konfirmasi.

“Kan, aku masih punya ayah dan bunda. Tidak seperti kakek tua yang mungkin sebatangkara.” Balas anaknya. “Kenapa kamu begitu yakin kalau ayah dan bunda akan mengganti uang jajanmu? Ayah nggak janji loh?” Si ayah menguji anaknya.

“Ayah kan pernah bilang kalau aku itu titipan Ilahi. Aku yakin ayah dan bunda tak akan menelantarkanku.” Jawab si anak mantap. Ayah kehabisan kata-kata. Ia tak menduga jawaban seperti itu keluar dari mulut seorang bocah kelas 3 SD. Ia seperti sedang mendengar tauziah seorang ulama besar.

Bapak berjongkok. Ia memegang kedua pundak anaknya. “Sayang, ayah dan bunda senantiasa akan menjaga dan merawatmu hingga Allah tetapkan batas umur ini. Mata ayah berkaca-kaca. Tak kuasa menahan haru. Si anak, sembari memegang kedua pipi ayahnya, bilang, “Aku tahu ayah dan bunda sangat mencintaiku. Kelak saat dewasa, aku tidak akan mengirim ayah dan bunda ke panti jompo. Apalagi membiarkan kedua orang tuaku nestapa di jalanan seperti pengemis tua itu.”
***

Anak-anak memang bagai tasik tenang tempat orang tua menambatkan biduk ketika diguncang prahara atau disorientasi. Anak-anak pada dasarnya manis, gemar bermain, dan ceria. Lebih dari itu, karena kaya emosi positif, mereka menampilkan diri sebagai homo ludens—makhluk bahagia yang gemar bermain.

Belajar jadi mirip tamasya menuju pengetahuan dan kearifan dengan tempat-tempat pemberhentian yang memikat di sepanjang perjalanan. Tamasya berlangsung dalam lingkup kenyamanan, kehangatan, keamanan, dan asuhan orang tua yang mendidik dengan kepala sekaligus hati. Kegiatan belajar dipenuhi energi dan ketakjuban lugu. Niente Senza Gioia. Ungkapan Italia ini mengambarkan betapa kehidupan anak-anak tiada hari tanpa kegembiraan.

Anak-anak, menurut Robert Toru Kiyosaki, dalam Why “A” Students Work for “C” Students and “B” Students Work for the Government (2013), akan mengalami dua jendela pembelajaran penting menuju kedewasaan mereka. Pertama, sejak lahir hingga 12 tahun. Kedua, 12 sampai 24 tahun. Orang tua mesti memahami dan menyadari pengalaman anak saat bergerak melintasi tahap-tahap pertumbuhannya. Orang tua, saat anak beranjak dewasa, menjadi penasehat, pemandu, dan teladan.

Jendela pertama merupakan periode pembelajaran kuantum. Apapun yang anak-anak lihat, alami, dan rasakan merupakan pengalaman belajar baru yang menyenangkan. Pada usia 4 tahun otak mereka terbagi menjadi belahan kanan dan kiri. Otak kanan identik dengan jiwa seni, kreatif, dan sikap mengalir. Otak kiri cenderung suka membaca, kurang kreatif, dan lebih linier. Mereka yang berbakat dan ahli berbicara, menulis, dan berhitung dominan otak kirinya. Sekolah-sekolah tradisional menyebut mereka sebagai orang cerdas. Sekolah seni, musik, tari, olah raga, dan kuliner lebih menarik perhatian mereka yang dominan otak kanan.

Belajar, pada tahap pertama (fase meniru peran) ini, merupakan proses fisik, emosional, dan mental yang membahagiakan. Pada fase ini permainan merupakan sarana belajar utama. Pernainan mengaktifkan belahan otak kanan sekaligus kiri. Pada jendela pembelajaran pertama anak-anak disebut mesin pembelajar aktif. Keterampilan motorik, otot, dan rangka dibangun pada usia ini. Mesin belajar cilik ini kerap membuat orang tua mereka kewalahan dan kelelahan.

Otak anak relatif halus. Lajur syaraf otak mereka terbentuk saat proses pembelajaran. Otak anak membentuk lajur saraf saat mereka belajar merangkak, berjalan, makan, berbicara, dan naik sepeda. 12 tahun merupakan penanda usia penting. Sesudahnya otak mulai menghapus dan membilas bagian-bagian otak yang belum membentuk lajur saraf.

Membuat koneksi antarbagian dalam mempelajari hal baru bukan perkara mudah sesudah usia 12 tahun. Ada pepatah, “Anda tidak akan bisa mengajari trik baru pada anjing tua.” Semakin Anda tua, semakin lambat proses pembelajaran, semakin sulit membangun lajur syaraf baru. Jendela pembelajaran sudah tertutup.

Ada seorang anak dikunci dalam lemari oleh orang tuanya. Anak itu kehilangan jendela pembelajaran pertama dan sebagian kedua. Si anak malang itu, walau telah bebas dari sekapan, tetap lumpuh akut secara mental, emosi, dan sosial. Dia kesulitan membangun lajur saraf normal.
***

Jendela pembelajaran kedua disebut pembelajaran pemberontrak. Remaja ABG ingin mempelajari segala yang mereka minati. Bukan mempelajari yang dipaksakan orang lain. Mereka ingin punya pikiran sendiri. Bukan apa yang dipikirkan orang lain. Pada periode ini secara naluriah ABG belajar dengan cara memberontak. Sebagian besar konflik anak-orang tua berasal dari jendela pembelajaran kedua ini.

Terlebih di zaman sosial media. Zaman ketika masyarakat suka belajar dari role model bagi destructive habbit. Berikut gejala-gejalanya. Seorang bocah, anak motivator Indonesia ternama, ditanya presenter TV. “Bagaimana kamu mengenal ayahmu sebagai orang yang sangat terkenal.” Anak itu menjawab. “Aku tidak mengenal ayahku. Dia jarang di rumah dan dekatku.”

Zaskia Gotik diangkat sebagai Duta Pancasila justru karena melecehkan Pancasila. Seorang siswi SMA di Medan memaki dan mengancami Polwan sembari mencatut nama besar seorang perwira tinggi Polri. Gara-gara gadis cantik itu tidak terima ditegur saat corat coret seragam sekolah sehabis ujian nasional. Bapaknya mati mendadak karena jantungan. Depresi mendapati anknya dihajar sosial media. Pendidikan 12 tahun musnah akibat perilaku lanun sekejab. Gilanya gadis gemblung ini diangkat jadi duta antinarkoba.

Pada fase game stage (permainan peran) ini remaja belum memahami kata konsekuensi— ngebut, madat narkoba, dan seks sebelum menikah. Tanpa sadar mereka bisa membangun kebiasaan mengonsumsi narkoba, menjadi ayah terlalu muda, melahirkan dini, dan terjerumus kriminalitas. Mereka belum menyadari akibat-akibat sampingan dari tindak-takduknya sendiri. Jendela pembelajaran kedua sangat krusial. Relasi orang tua-anak pada periode ini acap genting.

Hubungan senior-junior kerap diuji saat remaja harus menanggung konsekuensi. Saat orang tua mendapat laporan putra mereka yang imut menghasilkan puluhan juta rupiah dengan mengedarkan narkoba. Ketika orang tua mendapati putri mereka pulang ke rumah memberi tahu hamil, tidak jelas siapa ayah si janin. Inilah saat orang tua ditakar sebaik atau seburuk apa sebagai guru keutamaan.

Jelas tidak ada satupun solusi mudah untuk semua situasi itu. Di sinilah keprigelan berkomunikasi pegang peran penting. Pun kesediaan melihat dengan sudut pandang lain. Jika seorang anak bisa melalui tahun-tahun sulit jendela pembelajaran kedua mereka punya peluang lebih besar untuk bahagia dan berhasil.
***

Sepasang suami istri mempunyai dua putra dan satu putri yang sedang tumbuh dewasa. Suami sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Jarang berdekatan dengan anak-anak. Putrinya kerap bermasalah dengan kedisiplinan di sekolah. Pernah kesandung masalah hukum.

Putrinya kabur dari rumah. Si bapak yang gelisah pulang menumpang pesawat terbang. Keluarga resah berhari-hari. Pencarian terus berlangsung. Si anak muncul di rumah penampungan di kota lain. Orang tua menjemput. Gadis itu diam seribu bahasa saat dibawa pulang. Ayahnya yang bingung bilang betapa keluarga merasa kehilangan. Orang tua membahas tuntas masalah putrid mereka. Istri memberi saran agar suami tak banyak berbicara tapi lebih banyak mendengarkan. “Dekati dan dengarkan dia. Jangan bicara. Dengarkan saja”, ujar istrinya.

Habis maghrib si anak bicara pada ayahnya. “Aku tidak mau hidup lagi. Aku tidak bahagia. Aku ingn semua disudahi.” Gadis itu mulai menangis tersedu. Setelah berhasil menguasai diri, ia mulai bicara. Kata-katanya mengalir deras seperti banjir. Bagai bendungan hendak meluap. Ia bicara hingga subuh. Si bapak tak sampai mengucapkan lebih dari sepuluh kata. Terbitlah secercah harapan. Ayah yang sebelumnya hanya memberi simpati kini memberi putrinya empati. Gadis muda itu tumbuh menjadi wanita dewasa yang tenang penuh percaya diri karena ayahnya sangat mencintainya.

Solusi Stephen Richard Covey, dalam The 3rd Alternative (2011), cespleng. Telinga Anda dua. Mulut Anda satu. Jadilah pendengar yang baik bukan penasehat buruk. Guru di sekolah memang mengajar anak-anak selama bertahun-tahun. Akan tapi orang tua merupakan guru seumur hidup. Konsistensi dan stabilitas orang tua dalam kehidupan anak yang menjelaskan mengapa mereka merupakan guru terpenting bagi seorang anak.***

*J. Sumardianta, guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Penulis buku Mendidik Pemenang Bukan pecundang (2016).
See Translation

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: