//
you're reading...
Creativity, Human being, Kemandirian, Lingkungan, Motivasi, Perubahan, Review

Dinamika Kelompok

Eileen Rachman & Emilia Jakob
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Kompas, 30 April 2016

Sejak jaman Mesir Kuno , pembangunan piramida, dan tembok besar Cina kita mengenal sinergi kekuatan manusia dalam membangun. Hal yang sama juga terjadi pada kegiatan bisnis, politik dan pengelolaan pemerintah di masa sekarang.

Tim yang berkinerja baik pasti menghasilkan produk yang luar biasa dengan kreativitasnya sambil tetap menikmati kebersamaan mereka. Hasil dari kolaborasi tim yang seperti ini bisa jadi mengalahkan individu yang kritis dan pintar namun tidak bisa membentuk tim dan berkolaborasi. Belum lagi kalau mereka malahan saling mencaci dan tidak bertegur sapa. Bagaimana mungkin mereka masih mampu memikirkan keperluan dan tujuan bersama yang ingin dicapai timnya. Bagaimana kalau hal ini terjadi pada tim pemerintah?

Ragam Karakter dalam Kelompok

Jadi seperti apakah karakter seorang pemain tim yang handal bilamana ternyata kepintaran bukan merupakan faktor penentu? Ternyata pemain tim yang ideal adalah pemain yang tidak kehilangan kekritisan dan tetap mau mentaati komitmen yang sudah disepakati. Orang yang terkumpul sebagai suatu tim, pasti membawa karakternya masing masing, keahlian dan juga pendapatnya.

Greg Barnett, direktur “product development” Hogan, dalam The new Hogan Team Report, mengungkapkan pentingnya 2 unsur dalam kekompakan tim yaitu seberapa kuat keterlibatannya dengan kelompok, dan seberapa kritisnya dia. Dalam “The Rocket Model” perilaku kelompok bisa digolongkan ke dalam 4 golongan besar: Self starters, Brown nosers, Slackers, dan Critizisers.

Para Self starters ini adalah pemain tim yang ideal, yang banyak kita dapatkan di lingkungan yang kondusif, egaliter dan demokratis . Mereka bekerja dengan passion dan memiliki obsesi agar tujuan tim tercapai. Mereka kerap menantang dengan ide ide baru dan mencari solusi penuh antusiasme. Sementara si Brown-Nosers, adalah orang-orang yang konformis dan tidak kritis. Mereka banyak disukai para pemimpin, karena tidak membantah, dan menurut serta menyetujui apa yang diinstruksikan atasannya. Orang-orang ini jarang menemukan masalah, berkeberatan, dan biasanya bertahan sebagai antek-antek atasan. Mereka bisa bertahan dan bahkan mencapai karir yang baik dalam organisasi yang tidak mempunyai ukuran kinerja yang jelas.

Golongan lain kaum Slackers alias golongan magabut ( makan gaji buta) , karena selain bekerjanya juga tidak sepenuh hati, merekapun cepat memberi alasan atas lemahnya performa. Kinerja mereka tidak tampak kasat mata. Kita bisa melihatnya berhadapan dengan komputer ketika sebenarnya sedang sibuk bermain ‘game’ , atau berbelanja online. Kelompok lain adalah Criticizers, yang kuat daya nalarnya namun belum tentu mengarahkannya pada hal-hal yang produktif bagi timnya. Para Criticizers ini sangat jeli melihat kesalahan orang, apalagi pemimin dan organisasinya. Di dunia sosial media kita mengenal mereka sebagai haters. Mereka meluangkan waktu untuk sekedar mengkritik. Terkadang, atau tidak jarang, pada akhirnya Criticizers ini menjadi penghasut sekelompok orang yang tidak suka dengan pemimpin.

Inilah tipe-tipe anggota yang harus dihadapi dan dikelola setiap pemimpin. Setiap pemimpin perlu memahami dinamika kelompoknya, agar bisa menatanya menjadi produktif. Tipe-tipe follower di atas, sebenarnya bisa diarahkan menjadi tipe yang lebih fungsional dengan pengarahan yang intensif. Pemimpin tidak boleh lupa bahwa perilakunya sendiri pun membentuk karakter pengikutnya. Itulah sebabnya, setiap anggota tanpa terkecuali pemimpin, perlu meluangkan waktu untuk saling bermawas diri, dan bertanya :”bagaimana perilaku dan produktivitas tim kita?”

Mendalami dinamika kelompok

Dalam situasi yang tidak ideal seperti sales yang sangat menurun, banyak lembaga yang langsung ingin berfokus pada peningkatan kompetensi tim sales-nya saja. Padahal persentase jumlah para petugas sales paling-paling hanya 20 % dari seluruh populasi karyawan di perusahaan. Apakah tidak perlu kita mengupayakan kerjasama tim yang lebih baik agar seluruh anggota tim bergerak mencapai angka penjualan yag lebih baik?

Hogan Team Report mengidentifikasi campuran ketrampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang positif. Pertama-tama adalah deskripsi 5 peran kontribusi individu dalam organisasi: hasil, hubungan interpersonal, proses kerja, inovasi dan implementasi. Yang kedua adalah : penghambat kinerja dalam kelompok tersebut, misalnya dalam keadaan di bawah tekanan, kelompok cenderung menaruh perhatian berlebih pada detil dan enggan untuk berpindah dari rencana yang sudah dibangun sebelumnya.

Hal ketiga yang perlu dipertimbangkan adalah budaya kelompok yang beredar dan saling tular menular, yang sudah tercampur dari nilai masing masing individu, yang akan mewarnai aspek yang bisa memotivasi mereka menjadi lebih produktif lagi. Jadi, suksesnya penjualan bukan dilihat dari segelintir salesman saja, namun justeru merupakan campuran yang tepat dari ketrampilan, pengalaman dan kepribadian setiap individu yang berkumpul. Pemimpin yang tidak mengajak timnya untuk membicarakan dinamika kelompok ini akan kehilangan enerji menyatukan kelompok , karena menyepelekan langkah penting : mawas diri.

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: