//
you're reading...
Human being, Lingkungan, Motivasi, Pendidikan, Perubahan, Renungan

Renungan Pendidikan #71

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Ketika malam, ketika anak anak sudah lelap tertidur, hampirilah kamar mereka, duduklah di tepi ranjang mereka, lalu tataplah wajah teduh mereka. Maka perhatikanlah bagaimana tiba tiba muncul rasa cinta mendalam mengalir tak terbendung. Membuncah buncah bahagia, mungkin kita menjadi terharu merasakan betapa melimpahnya cinta kita kepada anak anak kita.

Barangkali juga kita menjadi sangat terharu bahkan menangis, karena terbayang kebodohan, kekasaran, ketidakshabaran kita, ketidakbersyukuran kita, obsesi lebay kita dalam mendidik mereka.
Apalagi jika saat ini anak kita sudah tidak lagi bersama kita. Mungkin kita peluk bajunya, bantalnya atau selimutnya dsbnya dan menangis sepuasnya meratapi diri kita.

Dua tema ego itu biasanya yang otomatis hadir ketika kita melihat anak anak kita sedang tidur atau ketika kita menatap ranjang kamar tidurnya yang kosong. Tema yang berangkat dari ego “memiliki” kita terhadap anak anak kita.

Lalu kini coba lepas ego kita, ulangi lagi duduk di tepi ranjang mereka, perhatikan seksama nafas anak anak kita keluar masuk sehingga dada mereka nampak naik dan turun, naik turun berulang ulang. Terus perhatikan sampai kita merasakan kehidupan mereka, merasakan bahwa mereka hidup dan punya tujuan keberadaan di dunia.

Ya mereka bernafas, mereka hidup, maka pasti mereka hidup untuk sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang tidak mungkin sia sia, sesuatu yang menjadi “purpose” Sang Maha Pencipta. Kita tidak pernah tahu apa tujuan penciptaan anak kita karena pada galibnya bukan kita yang menciptakan. Kita memerlukan waktu panjang untuk menemukan purpose penciptaan mereka maupun purpose mendidik mereka.

Ketika kita melepaskan ego memiliki, maka kini kita berada dalam kesadaran penuh bahwa anak kita sesungguhnga bukan milik kita, kita hanya dititipi oleh Zat Yang Maha Hebat, Penguasa Alam Semesta.
Bisa jadi anak anak kita lahir tanpa perencanaan kita, tapi jangan khawatir Allah SWT pasti punya rencana atas diri mereka.

Maka mendidik anak bukanlah tentang ego kita termasuk ego mencintai dan dicintai, bukanlah tentang ego memiliki dan dimiliki, bukanlah tentang obsesi obsesi kita, bukanlah tentang tafsir kita atas manusia ideal yang harus diwujudkan pada anak anak kita dstnya tetapi tentang bagaimana agar anak anak kita tumbuh dan berperan sesuai “purpose” penciptaannya, sesuai alasan keberadaannya di muka bumi yang merupakan kehendak Allah. Maka temukanlah “purpose penciptaan”nya dengan sungguh sungguh.

Tiada perbuatan manusia yang Allah paling ridha kecuali jika manusia itu hidup sesuai maksud Allah menciptakannya, sesuai purpose yang Allah kehendaki. Bukan hanya purpose umum untuk beribadah, purpose untuk memakmurkan bumi, purpose untuk memberi manfaat bagi zamannya tetapi juga purpose khusus yaitu menjalani peran unik sesuai keistimewaan dan kekhasannya yang telah Allah takdirkan untuk membuat peradaban manusia yang lebih baik.

Yakinlah bahwa tiap anak pasti sangat berharga bagi alamnya, sangat berharga bagi zamannya, sangat berharga bagi masyarakatnya dstnya, karenanya temukan kekhasan anak anak kita agar memberi nilai bagi dirinya, alamnya dan masyarakatnya.

Maka lepaslah ego menguasai dan berhentilah dari rutinitas kosong dan palsu tanpa makna, berhentilah mendidik tanpa mendalami purpose. Banyak diantara kita menjalani pendidikan anak dengan mengikuti arus semata, hanya hadir semata namun tidak menyadari dan menjalani hidup dan kehidupan sesungguhnya.

Setiap hari banyak orang bergerak robotik, bangun sebelum subuh, beribadah, membangunkan anak, membuat sarapan anak, menyiapkan seragam anak, mengantar anak ke sekolah, menghabiskan waktu menunggu, menjemput pulang, antar jemput les, memeriksa PR, menyuruh tidur, dstnya. Besok berulang kembali, begitu seterusnya sampai anak tamat SD.

Setelah itu, berlanjut menyiapkan anak masuk Sekolah Menengah atau pesantren atau boarding school, lalu menyiapkan anak masuk kuliah, wisuda, mencarikan pekerjaan dstnya. Lalu anak anak kita bekerja, mencicil rumah dan kendaraan sebagaimana umumnya kebanyakan kita sampai menunggu pensiun atau wafat dan uzur.

Pola yang sama, begitu terus sejak dua sampai tiga generasi urban yang lalu. Pola ini memicu masalah global yaitu kekosongan spiritual baik pada orang relijius maupun orang sekuler, agamis maupun atheis, umumnya sama saja. Apakah anak kita harus menjalani hidup tanpa purpose penciptaan sebagaimana generasi terjajah sebelumnya?

Kita habiskan banyak waktu yang kita sebut dengan pendidikan, tanpa pernah menggali mendalam purpose penciptaan anak anak kita pada alamnya dan pada zamannya. Kita ikuti arus ambisi menyiapkan professor sejak taman kanak kanak. Pengegasan yang merusak fitrah penciptaan apalagi tujuan penciptaan.

Kita menjalani pendidikan tanpa pernah melepas ego kita bahwa mendidik adalah bukan tentang kita atau tentang anak anak kita, tetapi tentang membuat dunia menjadi semakin baik, membuat peradaban lebih damai dan hijau.

Kita berpacu pada pacuan yang tidak menuju kemana mana. Kita ikuti arus tanpa pernah mempertanyakan apakah arus ini menuju purpose penciptaan atau ego orangtua agar anaknya terlihat shalih dan pandai atau ego negara agar memenuhi target kelulusan dan industri? Apakah status shalih dan pandai serta jumlah kelulusan serta serapan industri adalah tujuan penciptaan?

Ketahuilah bahwa sesungguhnya tujuan pendidikan terbaik adalah selaras dengan purpose penciptaan, selaras dengan tujuan penciptaan spesifik tiap anak anak kita, selaras dengan tujuan keberadaan manusia di muka bumi, yaitu membuat bumi semakin hijau dan damai.

Maka lepaskanlah ego sejak hari ini, hadapkanlah wajah kita pada agama yang lurus, tetaplah pada fitrah Allah, yang menciptakan manusia dari fitrah itu. Inilah purpose penciptaan.
Salam Pendidikan Peradaban

‪#‎pendidikanberbasispotensi‬
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: