//
you're reading...
Creativity, Ekonomi, Kemandirian, Lingkungan, Pendidikan, Perubahan, Review

Pertumbuhan Ekonomi dan Penguasaan Iptek untuk atasi Kesenjangan Sosial ? – Thomas Piketty Capital in the Twenty Century

Jusman Syafii Djamal

Pertumbuhan Ekonomi dan Penguasaan Iptek untuk atasi Kesenjangan Sosial ? : Thomas Piketty Capital in the Twenty Century

Masalah kesenjangan ekonomi terus akan membayangi Policy Maker dimasa kini dan masa depan. Thomas Piketty A young professor at the Paris School of Economics, adalah salah seorang ekonom yang terus menerus melakukan riset dan kajian tentang kesenjangan untuk memahami fenomena ini. He is one of a handful of economists who have devoted their careers to understanding the dynamics driving the concentration of income and wealth into the hands of the few.

Ia menulis buku menarik berjudul “Capital in the Twenty-First Century,” Dalam buku tersebut Piketty mencoba menjelaskan sejenis teori terintegrasi tentang kapitalisme “a sort of unified theory of capitalism”.

Ia mecoba menemukan teori tentang fenomena kapitalisme secara komprehensif. Ia bermaksud membawa pembaca untuk menempatkan masalah kesenjangan pendapatan dalam satu wilayah jadi focus. Ia mengamati kesenjangan yang awalnya selalu dianggap sebagai latar belakang tak penting oleh para policy maker macro economy harus diubah menjadi focus perhatian dan jadi “front page”. Issue Strategis.

Piketty melalui Risetnya ingin membawa problema ” Income inequality moved with astonishing speed from the boring backwaters of economic studies to “the defining challenge of our time.”

Terutama ia ingin melihat bagaimana struktur dan mekanisme yang bekerja yang menyebabkan fenomena kesenjangan antara kaya dan miskin tersebut terjadi. Membesar atau mengkerut. Bagaimana wujutnya dan apa bahayanya. Ia berharap dengan penjelasannya para pengambil kebijakan fokus pada upaya memotong rantai kesenjangan ini. Dan mewujutkan pemerataan,

Ketika Eduardo Porter’s Economic Scene column menulis “the transcript of an email interview” Piketty yang dimuat dalam Source economic.blogs.nytimes.com ; ada potongan pembicaraan atau dialog wawancara begini :

Eduardo bertanya kepada Piety dalam emailnya “Mengapa anda hawatir sekali dengan Kesenjangan. Padahal ekonom lain bilang tidak usah takut. Sebab, sampai kapanpun kesenjangan akan terus hadir. Mengapa tidak percaya pada kekuatan mazhab “Ekonomi Pasar ? ”

Toh pada akhirnya — lanjut Eduardo — akan melalui policy yang didasarkan pada konsepsi Ekonomi Pasar pasti kemakmuran bersama akan terwujut. Jika semua bangsa sudah naik Kapal bernama “Market Economy”, pastilah kemiskinan akan dapat dientaskan, dan kesenjangan hilang. Apa bukan begitu?

For much of the last century, economists told us that we didn’t have to worry about income inequality. The market economy would naturally spread riches fairly, lifting all boats. Is this not true? Are you arguing that income inequality could grow forever? How so?

Piketty menjawab :” Sebetulnya ketika saya menulis buku ini, awalnya saya hanya mencatat peristiwa yang terjadi dalam sejarah pertumbuhan ekonomi saja. Saya mencoba mengumpulkan data perihal peta kekuatan ekonomi suatu bangsa dalam satu wilayah ekonomi. Melalui peta itu saya ingin menemukan sebab sebab utama mengapa kesenjangan kaya miskin itu dapat lahir menyertai pertumbuhan ekonomi. Mengapa ada kesenjangan menganga. Mengapa ada yang menyempit. ”

Saya — kata Piketty — mencoba membangun “equation of motion” dari kesenjangan disuatu wilayah. Mana faktor dominan dan variabel utama institusi dan kebijakan yang mampu mempersempit kesenjangan ekonomi disutau wilayah . Agar dapat dikembangkan oleh para “policy maker”.

Pada akhirnya, Saya — lanjut Piketty — amati kesenjangan sangat bergantung pada seberapa jauh kemampuan suatu bangsa mengakuisisi iptek. Kesenjangan menyempit jika ilmu pengetahuan , teknologi dan keterampilan rekayasa dan rancang bangun serta produksi barang dan jasa dapat ditumbuh kembangkan disuatu wilayah. Jika tidak kesenjangan melebar.

Saya — Piketty sambil menekankan — amati dari data dan fakta yang ada muncul korelasi amat kuat diantara kemampuan penguasaan iptek suatu bangsa dengan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan atau equality.

Tanpa kekuatan produktip dan tanpa memiliki “critical mass” , tak mungkin kesenjangan dapat dipersempit. Selama masyarakat hanya pintar membeli barang dan tak mampu membuat produk kesenjangan akan terus terjadi. Kekuatan pasar yang tidak berdiri diatas kekuatan produktip masyarakat pastilah menjadi mekanisme penguras sumber daya lokal untuk jatuh kepangkuan mereka yang menguasai pasar tersebut.

History tells us that there are powerful forces going in both directions. Which one will prevail depends on the institutions and policies that we will collectively adopt. Historically, the main equalizing force — both between and within countries — has been the diffusion of knowledge and skills. However, this virtuous process cannot work properly without inclusive educational institutions and continuous investment in skills. This is a major challenge for all countries in the century underway.

Pada jangka panjang kekuatan dominan yang mempengaruhi apakah kesenjangan akan terus menganga lebar atau tidak, amat sangat tergantung pada dua hal berikut :

Pertama Kemana arah kecepatan pertumbuhan kapital menuju ? Bagaimana laju pertumbuhan kapital yang lebih besar dari pertumbuhan ekonomi diarahkan ? Apakah laju pertumbuhan kapital > laju pertumbuhan ekonomi ? Jika laju pertumbuhan kapital jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi, kemana larinya “capital accumulation tersebut” ?

Apakah kapital tetap menetap dan berputar pada wilayah ekonomi dan berputar dalam siklus bisnis masarakat , dan tumbuh menjadi kekuatan produktip diwilayah tersebut atau terpompa keluar wilayah ??

Kedua Pertumbuhan ekonomi adalah indikator kekuatan ekonomi masyakarat disuatu wilayah. Masalahnya apakah pertumbuhan ekonomi mampu ditransformasikan menjadi lapangan kerja tidak ? Apakah pertumbuhan ekonomi merupakan indikator dari konsumsi masyarakat ? Kekuatan Eksport ? Kekuatan Investasi ?

In the very long run, the most powerful force pushing in the direction of rising inequality is the tendency of the rate of return to capital (r) to exceed the rate of output growth (g).

That is, when r exceeds g, as it did in the 19th century and seems quite likely to do again in the 21st, initial wealth inequalities tend to amplify and to converge towards extreme levels.

The top few percents of the wealth hierarchy tend to appropriate a very large share of national wealth, at the expense of the middle and lower classes. This is what happened in the past, and this could well happen again in the future.

Eduardo bertanya lagi pada Piketty dengan emailnya :”Kesenjangan ekonomi di negara negara industri cenderung turun pada abad ke 20.Bagaimana kesenjangan itu bisa turun di negara Industri ? Mengapa bisa turun ? Apakah data dan fakta ini bukan menjadi bukti empiris bahwa kesenjangan dapat diatasi melalui pembangunan industri ? Berarti ada argumen tandingan bahwa Inequality bukan masalah yang tak ada solusinya ?

Inequality declined in the so-called industrial world through much of the 20th century. How did that happen? Does this not argue against the notion of ever-increasing inequality?

Sebuah dialog yang menarik dalam tulisan tersebut yang menyebabkan buku Thomas Piketty berjudul “Capital in the Twenty Firts Century” yang diterjemahkan oleh Arthur Glodhammer dan diterbitkan oleh Belknap Press of Harvard University Press, Cambridge Massachusetts London England than 2014, tepat untuk ditelaah.

Buku ini memiliki bab yang antara lain berjudul Income and Capital, Growth :Illusions and Realities, The Metamorphosis of Capital, Structure of Inequality . Bagus dibaca sebagai latar belakang pembuka persfektip oleh para ekonom muda yang fokus pada macro economy. Tebal buku 685. Saya memerlukan waktu delapan bulan lebih untuk membaca. Itupun hingga kini banyak hal yang tidak saya mengerti. Terlalu berat buat dicerna sambil bekerja yang lain.

Selain itu buku ini sebetulnya mudah dibaca karena penulis dan penterjemahnya telah berupaya keras menemukan kalifaat dan diksi agar ia mudah.

Tapi mencerna dan memahami apa yang ditulis dalam tiap paragraph dan membayangkan “equation of motions” nya bekerja dalam realitas masa kini yang kompleks amatlah sukar.

Ada sarang laba laba yang seolah bikin saya tetap terperangkap dalam goa pemikiran masa lalu yang mungkin telah kadaluarsa.

Ambil contoh dihalaman 173 – 178 ada topik : Beyond Bubbles : Low Growth , High Saving. Disini Piketty membahas mekanisme pertama yang muncul dari interaksi diantara pertumbuhan ekonomi yang rendah dengan tabungan masyarakat yang tinggi.

Korelasi laju pertumbuhan ekonomi dengan laju “private saving” ditujuh negara maju dari tahun 1970 hingga 2010 dianalisa dan ditemukan “equation of motion”. Bisa mangerti ketika dibaca dua kali.

Tapi ketika berkunjung ke Jepang Negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi amat rendah, laju tabungan tinggi, suku bunga rendah dan deflasi apa yang digambarkan Piketty dalam bukunya seolah mesti ditafsirkan tersendiri.

Begitu juga ketika berkunjung ke China menemukan kawasan industri, kota kota baru dengan pelbagai infrastruktur yang telah terbangun baik dan masyarakat yang kini doyan belanja. Pengertian tentang “buble” economy, berupa property yang kosong tanpa penghuni dan perlambatan ekonomi saat ini punya tafsir berbeda.

Membaca buku memang beda dengan berhadapan dengan realita. Mungkin itu yang menyebabkan Sukarno dulu sering minta generasi muda untuk jangan terkotak dan terjebak menjadi “textbook thinker”.

Pemikir berdasakan buku manual tanpa berdialog dengan realitas.

Menurut saya, buku ini bagus dibaca oleh sahabat generasi muda yang sedang merancang arah pembangunan ekonomi.

Dari buku ini saya kira, paling tidak generasi muda Indonesia dapat memahami mengapa fikiran Bung Hatta tentang Demokrasi Ekonomi, Pemikiran Bung Karno tentang Pancasila , Marhaenisme versus Kapitalisme yang tertuang dalam tulisatentang Sarinah dan Berdikari, HOS Tjokroaminoto, Hasyim Assari, Soedirman,Syharir dkk serta Ekonomi Kerakyatan nya Prof Sarbini Soemawinata, yang semua nya berfokus tentang Keadilan sosial, lahir sebagai gagasan utama.

Melalui buku ini saya bisa mengamati Pemikiran Founding Fathers NKRI yang dituangkan dalam UUD45 dan menjadi fokus dan arah kebijakan ekonomi Bangsa Indonesia selama 70 tahun Indonesia Merdeka, dalam persfektip masa kini.

Ternyata para Founding Fathers Indonesia memiliki visi yang jauh kedepan. Apa yang mereka fikirkan lebih dari 8 dekade lalu menembus zaman nya.

Sejak awal pergulatan pemikiran para Founding Fathers Kemerdekaan kita itu, adalah soal Keadilan Sosial bagi semua. Mencerdaskan kehidupan bangsa, demokrasi ekonomi dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah fokus ruang pemikiran generasi pendiri Republik ini.

Dan perjuangan mereka belum selesai. Inequality atau kesenjangan sosial dan keadilan sosial masih saja merupakan masalah terbesar kita yang belum tuntas ditemukan solusinya.

Mohon Maaf jika keliru. Salam.

ECONOMIC.BLOGS.NYTIMES.COM

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: