//
you're reading...
Human being, Pendidikan, Review

Pertanyaan ? Tentang Parenting

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Ada seorang Ibu bertanya

Assalamu’alaikum wr wb

Terkait parenting saat ini, tentu akan jauh lbh baik jika kita merujuk pada siroh Rasulullah saw. Pertanyaan saya, bagaimana dgn teori2 parenting dr ahli2 non-Muslim, seperti Sigmund Freud, Piaget, Erickson, dll. Apakah kemudian penemuan mereka menjadi salah semua, Pak? Misal, teori kognitif Jean Piaget, dll

Terima kasih sebelumnya, Pak

Jawaban saya

Wa’alaikumusalaam wr wb, 😊🙏

Bunda yang baik, dalam ranah ta’lim (pengilmuan), ada yang disebut “alkitaaba wa- lhikmah”.

AlKitab yang dimaksud tentu adalah alQuran dan alHadits termasuk Siroh (ayat Qoulyah)
Hikmah yang dimaksud adalah pendapat ulama, sains, hasil riset, pengalaman, intuisi dsbnya.(ayat Kauniyah).

Baik ayat Qouliyah (firman) maupun ayat Kauniyah (sains) keduanya adalah Ilmu Allah, hanya yang membedakan adalah proses dan derajat kebenarannya. Ayat Qouliyah disampaikan oleh Allah melalui wahyu via Jibril kepada NabiNya kemudian kpd Sahabat2 Nabi dstnya sampai kepada kita.

Sementara ayat Kauniyah, diberikan Allah kepada siapa saja, baik Muslim maupun NonMuslim, melalui ilham, dengan syarat melakukan mubasyaroh atau riset atau penelitian dengan sungguh sungguh

Ayat Qouliyah derajat kebenarannya mutlak, sementara ayat Kauniyah derajat kebenarannya relatif atas waktu dan tempat. Keduanya saling melengkapi, dengan ayat Qouliyah (Kitabullah) kebenaran menjadi tepat dan akurat, dan dengan ayat Kauniyah (sains) kebenaran menjadi luas dan mendalam.

Tidak ada pertentangan dari keduanya, hubungannya adalah bahwa ayat Qouliyah menjadi isyarat atau ontologi sebagai landasan fundamental bagi manusia untuk meneliti dan menemukan hikmah (ayat Kauniyah atau sains), dan kemudian sains harus menjadi bukti (burhan) bagi kebenarannya ayat Qouliyah (Kitabullah).

Jika secara empirik atau penemuan sains di lapangan tidak sesuai dengan isyarat Kitabullah maka sains dinyatakan salah atau keliru sehingga harus diperbaiki lagi. Misalnya jika fakta empiris lapangan ditemukan ada lelaki, perempuan, dan waria tetapi alQuran hanya menyebut manusia diciptakan hanya untuk jenis lelaki dan perempuan, maka fakta empirik penelitian terbantahkan.

Sains diperlukan untuk menggali hikmah2 lebih dalam dan luas dari dari pokok2 isyarat atau ontologi di dalam Kitabullah, misalnya jika Kitabullah mengatakan susui bayi selama 2 tahun, perintahkan sholat ketika 7 tahun, pukul jika tidak sholat ketika usia 10 tahun serta pisahkan kamar anak lelaki dan perempuan lalu berikan izin berperang setelah usia 14-15 tahun, maka penjenjangan usia dalam perkembangan manusia harus merujuk pada angka 2, 7, 10, 14.

Lalu berangkat dari ontologi di atas maka sains harus menggali hikmah2 terpendam dengan beragam riset atas informasi ini, misalnya mengapa menyusui sampai usia 2 tahun, ada perkembangan apa selama 2 tahun itu, apa yang harus dilakukan orangtua, apa efeknya jika 0-2 tidak optimal dsbnya. Begitupula usia 3-6, 7-10 dan 11-14 tahun.

Hikmah ini bisa merujuk pada pendapat ulama, pendapat saintis, intuisi dan firasat ahli hikmah, hasil riset orang lain dengan metode yang benar atau hasil riset dan pengalaman sendiri dsbnya.

Tidak setiap yang diperoleh dari alQuran atau alHadits itu details, sering ada bagian2 yang manusia dibiarkan atau dipancing untuk menelitinya lebih lanjut, begitupula hikmah2 yang diperoleh dari Sahabat maupun Ulama, memerlukan konteks waktu dan tempat ketika diterapkan.

Inilah mengapa Allah berikan kita fitrah, diantaranya fitrah belajar dan bernalar, agar manusia mengembangkan kemampuan berfikirnya (growth mindset) untuk bersemangat menggali dan mendalami hikmah2 tanpa ragu.

Inilah yang menyebabkan selama beratus2 tahun Sains dalam peradaban2 Islam berkembang pesat, karena inilah wilayah yang diserahkan kepada kita untuk mendapatkan konteks ruang dan waktu, atau lokalitas dan zaman.

Maka sesungguhnya sepanjang tidak kekuar dari Ontologi atau Isyarat isyarat pokok dalam alKitab, kita bebas melakukan penelitian mendalam, melahirkan ilmu2 baru yang bermanfaat bagi manusia dan memudahkan orang menjalani Kitabullah dalam semua aspek kehidupan.

Ulama dan cendekiawan Islam selama ratusan tahun membangun tradisi ilmiah yang hebat, melahirkan karya2 hebat tanpa ragu bagi peradaban tidak hanya bidang agama juga bidang lainnya, padahal tidak ada perintah Nabi untuk membuat ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqh, dsbnya.

Hari ini kelemahan kita adalah di riset dan takut serta curiga pada riset barat, tetapi tidak pernah menyodorkan riset yang lebih bagus kecuali memprotes dan mengkritik atau menutup mata sama sekali

Maka saran saya, mari kita mulai menyusun ontologi dan menstrukturkan pengetahuan dari Kitabullah sebagai fondasinya sesuai bidang yang ingin kita kembangkan misalnya parenting, kemudian menggali hikmah baik dengan melakukan riset riset mendalam atau mencari referensi riset yang relevan dari manapun sepanjang sesuai dengan ontologi dan struktur pengetahuan yang kita bangun dari Kitabullah sebagai fondasinya di atas.

Salam Pendidikan Peradaban

About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: